
Kenangan adalah bagian dari sejarah, hitam adalah bagian dari sang putih, bahagia tak akan terasa memuaskan jika tak pernah ada luka. Semua yang bertentangan akan berjalan beriringan, selalu.
Yura merasakan banyak hal dalam hidupnya yang telah berlangsung panjang. Kehidupan benar-benar seperti roda berputar, ia mengalami banyak nestapa namun kemudian semuanya berubah menjadi kesejahteraan yang hakiki. Kesabarannya berbuah manis.
Dulu ia hanya seorang yatim piatu yang dijajah oleh Ibu dan saudara sambungnya. Ia harus menanggung beban serupa gunung di atas pundaknya yang rapuh tapi dia selalu menghadapinya dengan kesabaran maksimal. Ia tak tahu Ibu kandungnya, ia kehilangan Ayah kandungnya di usia belia sampai satu peristiwa tak diduga mengawali serentetan kebahagiaan yang tak henti-henti walau di selingi dengan ulah jahil orang-orang yang iri dengki padanya.
Tak terhitung entah sudah berapa banyak air mata yang tercurah sepanjang hidup Han Yura tapi dia juga sungguh tak dapat menghitung berapa banyak kebahagiaan yang ia dapatkan sepanjang hidupnya, benar apa kata Nara, 'tak mungkin kita akan merasakan bahagia jika kita tak pernah merasakan luka!'.
2 minggu jelang kelahiran anak pertamanya ....
Yura berjalan dari ujung kanan ke ujung kiri di sebuah kamar yang sudah didesain dengan segala pernak-pernik bayi yang menggemaskan. Cat biru langit mendominasi membuat pandangan mata begitu teduh dan luas.
Tap ... tap ... tap, kakinya yang semakin berat melangkah sampai 5 langkah lalu kembali ke sisi sebaliknya, satu tangan menopang perut yang semakin membuncit dan tangan lainnya mengusap-usap layar ponsel, entah apa yang dilihatnya disana.
"Alodya! Aaah, kurang greget ya sayang ... heum ... Zeus? Haha, Mama pikir itu terlalu strong juga!" gumamnya, ternyata dia sedang mencari-cari nama yang baik dan menarik untuk si jabang bayi. Ya, beberapa pekan terakhir hanya itu lah kesibukan Han Yura, selain menghias kamar calon puteranya, ia juga sibuk menyiapkan nama untuknya.
CKTT, ada yang membuka kan pintu dan siapa lagi kalau bukan Arkan. Arkan sepertinya baru pulang latihan. Dia masih memakai pakaian latihannya, aah itu dia, peluh Arkan adalah candu untuk Yura. Gelagat anehnya saat ngidam kembali, belakangan Yura suka dengan bau keringat suaminya.
"Kak Arkan, kapan kamu datang?" sapanya, dia menghentikan acara mondar-mandirnya kala Arkan datang menghampirinya.
"Barusan, emangnya kamu gak dengar aku buka gerbang rumah?"
"Sama sekali gak terdengar!"
"Lagi apa sih? Dicari-cari ternyata disini," tanya Arkan yang segera melingkarkan tangan-tangan atletisnya di pundak Yura, Yura langsung mengendus dada Arkan, heum, wangi tubuhnya adalah candu yang selalu ia rindukan setiap detiknya.
"Apa kamu sudah punya nama buat si Junior?" tanya Yura lalu agak mendongakkan kepalanya sampai Arkan bisa melihat wajahnya yang manis itu dari atas.
"Belum, tapi ada beberapa sih yang sempat terpikir! Aku serahkan semuanya sama kamu, pilihan Mama-nya pasti yang terbaik!"
"Entahlah, aku masih bingung!"
"Gak usah bingung-bingung, kamu bisa bikin list, trus seleksi beberapa nama yang paling kamu suka!"
"Duh ...." Tiba-tiba Yura meringis membuat Arkan panik.
"Kenapa?" Dengan sigap ia langsung menghadap pada Yura yang masih merasakan sesuatu yang mendesak di area bawah perutnya.
"Gak kok," sangkalnya mencoba membuat Arkan tetap tenang.
"Aku perhatikan sejak pagi kamu meringis kayak gini, bicaralah! Jangan disembunyikan kalau kamu merasa sakit! Gimana kalau si Junior udah mau lahir hari ini?"
"Gak mungkin, perkiraan Dokter kan masih sekitar 2 minggu lagi! Aw ...." Yura masih mencoba menyangkal tapi kemudian kontraksi itu terjadi lagi. Sebenarnya benar kata Arkan, sejak pagi tadi dia mulai merasakan kontraksi namun masih terasa jarang-jarang dan berjeda.
"Sini ... sini, duduk dulu!" Arkan segera meminta istrinya untuk duduk di sofa di tengah ruang kamar itu. Yura mencoba tetap terlihat tenang, dia tak ingin membiarkan Arkan panik.
"Jangan panik! Aku baik-baik saja kok, cuma ...." tenangkan Yura tapi dia malah kembali merasakan desakan itu. Jangan-jangan benar kalau petang ini dia sudah merasakan kontraksi yang intens sebagai tanda-tanda kalau bayinya akan segera lahir.
"Oke, oke, aku gak panik! Kamu coba inhale, exhale ya ... biar aku siapkan barang-barang yang harus dibawa ke Rumah sakit, kita akan ke Rumah sakit sekarang!"
"Sekarang?"
"Iya! Coba, apa yang kamu rasakan sekarang?"
__ADS_1
"M, sedikit mulas! Dan, sakit pinggang!" akuinya.
"Tuhkan! Sebutkan, apa saja yang harus dibawa!"
Yura malah bengong memandangi Arkan yang menarik tas besar dari atas lemari dan siap untuk mempersiapkan barang-barang untuk dibawa ke Rumah sakit, Arkan benar-benar siap siaga, bahagia sekali melihatnya, rasa sakit tak begitu berarti melihat perhatian Arkan.
"Sayang!" sadarkan Arkan, dan Yura tersadar dari lamunananya.
"Tenang dulu, kontraksinya hilang lagi kok! Gak usah panik, sini deh!" ujarnya lalu meminta Arkan untuk kembali mendekat ke arahnya. Arkan memang terlalu panik, wajar saja karena ini adalah pengalaman pertamanya, dia sungguh sangat protectif dan selalu berekasi saat Yura meringis, padahal Yura sudah mendapat nasihat dari Dokter bahwa di masa-masa ini dia akan mengalami banyak kontraksi palsu, bukan berarti hari persalinannya akan terjadi hari itu juga.
"Gak panik gimana coba, sejak pagi kamu kayak kesakitan, tapi kamunya diam aja! Aku gak mau terjadi sesuatu yang buruk sama kalian!" kata Arkan lalu berjongkok tepat di depan Yura yang terbang tersanjung sampai ke awang-awang.
"Maaf ya, aku gak bermaksud bikin kamu panik! Tapi, ya memang, belakangan aku merasakannya, itu bukan apa-apa kok! Aku tahu saat nanti waktunya sudah tiba, rasa sakitnya bukan sekedar sakit biasa, tapi, aku sudah mempersiapkan semuanya, jiwa, hati dan raga! Please, jangan panik lagi yaa!" tutur Yura mencoba memberi pengertian pada suaminya yang mulai over thinking.
Arkan menghela nafas, dia tatap senyum rekah Han Yura dan dia mulai merasa tenang. Senyuman Yura membuatnya sangat tenang.
"Kamu jangan main-main dong sayang, jangan bikin Mama-mu kesakitan ya," bisik Arkan sembari bermain-main dengan perut Han Yura.
"Iya Papa! Papa gak usah panik, Mama itu kuat kok, dia sudah siap menyambut kelahiranku, mungkin dua minggu lagi!" Yura membalas penuh canda. Mereka tertawa besama lagi.
"Ya udah, makan yuk! Gimana kalau kita makan di luar, kamu lagi pengen makan apa?" ajak Arkan.
"Apa ya? Heum, apa aja lah!"
"Ya udah, Yuk!" Arkan membantu Yura bangkit perlahan, sangat hati-hati.
"Duh, sebentar!" Lagi dan lagi, sepertinya perkiraan Dokter akan meleset. Yura malah merasakan desakan lagi, bahkan sekarang sakitnya malah semakin kuat. Dia berpegangan pada Arkan dengan erat, ada satu rasa sakit yang baru pertama kali ini dia rasakan.
"Sebentar, tunggu sampai rasanya reda!" gumam Yura yang sepertinya sudah tak bisa melangkah lagi, seperti ada cengkraman di area pinggangnya, sakit sudah pasti.
"Kita telpon Mama aja ya?" usul Arkan, Yura hanya mengangguk, kini ia menyerah, rasa sakitnya semakin kuat.
Dan dengan sigap pula Nara datang, tak sampai 45 menit, dia sudah sampai di rumah anaknya dan menantunya yang tengah kesakitan terduduk lemas di sofa di ruang tengah.
"Kamu merasakannya sejak pagi?" tanya Nara sembari dia elus pinggang Yura, Yura nyaman sekali dengan elusan itu, Yura hanya mengangguk.
"Sekarang mulai intens? Gak ada jeda?"
"Heum!"
"Ya sudah, Arkan! Siapkan mobil! Kamu bawa Yura duluan ke Rumah sakit ya, biar Mama siapkan barang bawaan!"
"Oke Ma!"
Benar-benar hari yang penuh dengan kepanikan. Walau tangan Arkan begitu bergetar hebat, tapi dia bisa mengemudi dengan mulus menerjang kemacetan jalanan Ibu Kota.
Satu jam, bahkan sudah 3 jam ....
Nara, Azka dan Bi Marni belum mendapat kabar dari dalam ruang bersalin. Ini benar-benar dejavu kembali, dejavu ke masa sekitar 23 tahun yang lalu. Dulu, Nara dan Azka lah yang ada di dalam sana, berjuang menanti Arkan kecil lahir ke dunia. Sekarang siklus itu kembali berputar, siklus alam yang akan selalu berjalan maju.
"Kok, aku merasa lebih tegang nunggu di luar kayak gini ya, dari pada jadi orang yang ada di dalam sana!" kata Nara dan dia hanya bisa mondar-mandir, mencoba menghangatkan tubuhnya yang panas dingin.
"Kamu tahu, di dalam sana bisa lebih tegang lagi, dulu aku kan nemenin kamu sampai Arkan benar-benar lahir!" sahut Azka mengenang.
__ADS_1
"Aaah iya, dulu kamu siaga sekali sayang! Sikap siagamu turun sama Arkan! Aaah, benar-benar berasa dejavu!"
"Setiap kamu pegang tanganku kuat-kuat, rasa sakitnya sampai ke tubuhku! Entahlah, ketegangan yang luar biasa, lebih tegang dari pada menghadapi apapun!" ungkap Azka masih mengenang. Nara mulai tak tegang lagi, rasa cemasnya terurai saat Azka membangun topik pembicaraan penuh kenangan itu.
"Dan kehadiran kamu di samping brankarku itu memberikan kekuatan hebat sampai akhirnya aku bisa mendorong Arkan kecil kuat-kuat, aaah, masa-masa yang mengharukan!"
"Han Yura juga pasti bisa! Kalian kan sama-sama kuat!"
"Iya, Yura pasti bisa! Ayo Yura sayang, kerahkan tenagamu, sebentar lagi kebahagiaan tak terkira akan lahir dari dalam rahimmu! Kuatlah sayang!" harap Nara yang terbungkus do'a. Azka merangkul Nara agar istrinya itu tetap tenang.
"Ya ampun, terakhir Bibi merasa seperti ini, ya waktu Den Arkan mau lahir, dulu Bibi nunggu sama Ayah Ibunya Den Azka! Ya ampuun, bener-bener berasa balik lagi ke masa itu!" kata Bi Marni, tak kalah merasa gugup.
"Iya Bi, waktu berjalan sangat cepat ya, gak kerasa!"
Itu dia ....
Suara tangis bayi sudah terdengar lantang dari dalam ruangan. Tangisnya lantang sekali sampai membuat hati Nara dan Azka serta Bi Marni terenyuh, bahkan Nara tak kuasa sampai buliran air mata bergulir begitu saja di pipinya, begitu pun dengan Bi Marni. Mereka mengalami emosi yang kuat, emosi kebahagiaan.
"Sudah lahir sayang, cucu kita sudah lahir!" kata Nara penuh rasa suka cita.
"Ya, itu dia!"
***
"Oh my god, Mama tuh kayak masuk ke lorong waktu lho, cucu Mama ini kenapa mirip banget sama kamu waktu bayi sayang ...."
Seisi ruangan serasa berwarna serupa warna pelangi. Kelahiran Arkan junior lah yang memberikan warna itu. Tak ada yang tidak bahagia tengah malam ini. Tak ada yang mengantuk pula, terlalu disayangkan melewatkan momen menatap Bayi mungil dalam cradle yang baru saja melewati perjuangan Yura selama berjam-jam di ruang bersalin.
Nara dan Azka serta Bi Marni sedang asyik menatapnya, sedangkan Yura dan Arkan menatap dari arah brankar tempat Yura terduduk relax.
"Im so Speechless!" ungkap Arkan.
"Bahagia?" tanyanya.
"Ya! Sangat!"
"Huh, rasanya ... gak pernah terbayangkan sebelumnya akan sampai pada kebahagiaan ini!"
"Ya, dan kamu yang memberikan kebahagiaan yang tak terkira ini! Makasih ya!"
"Iya, sama-sama! Terima kasih juga sudah membuat hidupku semakin bahagia Kak!"
"Anything for you!"
"Aku cinta kamu, Kak!"
"Aku lebih, aku lebih dari sekedar mencintai! Kamu ... dan anak kita, segala-galanya buatku!" Kiss, Arkan mengecup kening Yura.
Perjalanan panjang akan berlanjut tapi yang pasti saat ini hanya kebahagiaan yang terasa, tak ada ruang untuk perasaan yang lain.
Arkan, Yura beserta anak mereka telah menjadi lengkap. Mereka akan meninggalkan kenangan buruk di masa lalu dan selanjutnya, tentu saja akan menjelang kebahagian baru di depan sana.
They're really life happily ever after.
__ADS_1