
Mereka masuk mengendap-ngendap untuk menghindari kecurigaan asisten rumah tangga di rumah Keita. Dan mereka berhasil, mereka berempat sampai di kamar Keita.
Yura malah merasa senang terlibat dalam petualangan Arkan, Keita dan Vano.
"Nih Ar, pake!" kata Keita lalu dia memberikan satu stel blue jeans dan t-shirt miliknya untuk Arkan.
"Thanks ya!" ucapnya lalu dia menerimanya dan lekas-lekas beranjak ke kamar mandi Keita.
"Sini, duduk sini!" kata Keita lalu menarik tangan Yura dan membiarkannya duduk di ujung tempat tidurnya. Kamar Keita ini memang cukup luas dan nyaman.
"Emang rencananya tadi kalian mau kemana sih?" tanya Vano yang duduk selonjoran di lantai bersama Keita sementara Yura tetap duduk di atas kasur karena kakinya yang masih terluka membuatnya kesulitan untuk duduk sama seperti kedua Kakak kelasnya itu.
"Kemana ya? Gak tahu sih," sahut Keita salah tingkah.
"Sorry ya udah buat rencana kalian gagal!" kata Vano penuh rasa sesal.
"Gak apa-apa, keadaan kalian tadi lebih penting dari apapun!" sahut Yura. " Tul!" pungkas Keita.
"Thanks ya, oh iya nih jajanan kita tadi, makan yuk!" kata Vano lalu dia unboxing satu box donat yang tadi sama-sama mereka beli dari sisa uang mereka.
"Oh iya, kalian laper banget kan? Kita bikin mie instan cup aja, mau?" tanya Keita.
"Mau mau!" sambut Vano dengan mulut penuh.
"Lo mau?" tanya Keita lalu melirik kearah Yura.
"Boleh!"
"Hey Van, ayo bantuin! Jadi pas nanti Arkan selesai ganti baju, mie-nya udah siap buat kita semua!" ajak Keita.
"Ayook!"
"Sebentar ya!"
Keduanya meninggalkan Yura sendiri, dia mencoba menikmati suasana kamar Keita yang teduh dan nyaman sampai akhirnya Arkan keluar dan dia belum berpakaian dengan sempurna. Sepertinya dia kesulitan memasukan tangannya yang luka ke lubang tangan t-shirt itu.
"Yang lain kemana?" tanya Arkan.
__ADS_1
"Mau bikin mie instan dulu!" sahut Yura, dia tak bisa menghindari pandangannya, Arkan memperlihatkan perutnya karena dia masih kesulitan memasukan bajunya dengan tuntas.
"Oh,"
"Kak Arkan kesulitan? Sini aku bantu!" kata Yura yang lama-lama merasa tak tega dengan kondisi sulit yang Arkan alami.
"Sorry ya," ucap Arkan lalu duduk di samping Yura.
"Gak apa-apa," jawab Yura lalu perlahan dia menarik tangan kanan Arkan yang luka dan membantunya memakai t-shirt itu sampai tuntas. Yura memastikan lukanya itu tertutup sempurna dan tahukah? Dalam jarak sedekat itu Arkan tak bisa menghindari pandangannya dari wajah Yura yang hanya berjarak beberapa inci saja darinya sekarang.
Beberapa detik mereka saling berpandangan dan deg deg deg, hampir saja detak jantung Yura terdengar saking kencangnya. Yura hanya gadis biasa yang belum bisa menentukan perasaannya untuk siapa. Arkan begitu mudah untuk dicintai tapi Keita juga sudah memberikan perhatian yang sangat luar biasa dan membuatnya terkesan sampai sejauh ini.
Dan begitulah, Yura tak tahu pasti dia lebih suka pada Arkan atau Keita?
"Makasih ya!" kata Arkan lalu berpaling, diam-diam dia juga tak tahan bertatapan lama-lama dengan Yura.
"Yaa,"
Sejenak situasi menjadi sangat canggung, kontak sederhana tadi membuat mereka sama-sama salah tingkah.
"M, tadi itu kejadiannya gimana sih?" tanya Yura mencoba mencairkan situasi beku itu.
"Ya ampun, gimana jadinya kalau Bu Nara sampai tahu ini semua?"
"Makanya jangan dulu kasih tahu dia ya, dia pasti bakalan shock berat. Gue gak mau dia merasa cemas sampai berlebihan!" pinta Arkan.
"Tapi kalau dia tahu gimana?"
"Ya mudah-mudahan nggak! Jangan kasih tahu kejadian ini sama siapapun, sama Tante Lulu atau Om Yuki juga! Ini cuma rahasia kita berempat!"
Yura hanya mengangguk dan dia mencoba mengerti niat baik Arkan.
Tak lama Vano dan Keita kembali dengan 4 cup mie instan yang sudah mereka seduh dan siap untuk mereka nikmati.
"Yuhuuuu, makanan kita datang!" kata Vano.
Melihat pengorbanan teman-temannya Arkan merasa terharu sekaligus menyesal. Dia merasa sudah menghabiskan waktu dan uang mereka terlebih Keita. Keita lah yang paling banyak berkorban, dia telah mengorbankan waktu kencannya bersama Yura bahkan Keita juga mengorbankan uangnya untuk biaya perawatannya tadi.
__ADS_1
"Sorry ya, gue benar-benar mengacaukan acara penting kalian!" kata Arkan.
"Udahlah! Yang penting sekarang lo baik-baik aja!" sahut Keita lalu menepuk pundak Arkan.
"Terus, baju lo yang kotor dan robek rencananya mau di kemanain?"
"Itu mah urusan gampang, tar gue bakar aja di belakang rumah buat ninggalin jejak!"
"Sip lah! Sekarang kita makan aja, biarpun...."
Drdddd .... Drrrddd ....
Getaran ponsel Arkan menyela ucapan Vano dan yang membuat Arkan agak panik adalah yang menelphonenya saat ini Nara.
"Sttt ..." Keita meminta teman-temannya yang lain untuk diam.
"Halo ma?" sapa Arkan.
"Kamu masih dimana sayang? Malam ini mama pulang agak larut ya, ada urusan!" kata Nara to the point dan hal itu malah membuat ke empat orang anak remaja itu merasa lega.
"M, aku lagi di rumah Vano!"
"Oh, kamu gak kenapa-napa kan? Kok perasaan Mama gak enak gini ya?"
"Nggak kok, gak ada apa-apa, ini aku lagi nyalin catatan punya Vano Ma!"
"Oh, ya udah deh, cepet pulang ya!"
"Oke ma!"
Setelah menahan nafas beberapa detik, mereka kembali merasa lega. Ternyata Nara tak bertanya secara detail dan Arkan senang karena itu artinya dia bisa benar-benar lolos dari rasa curiga Nara hari ini.
"Huh, syukurlah!" dengus Keita.
"Jadi nanti tuh gini aja, Gue antar Arkan pulang sekalian juga gue antar Yura, nah Vano, lo tolong bawain motornya Arkan yaa, nanti gue tunggu di rumah Arkan terus lo pulangnya gue anterin juga!" Keita kembali mengatur strategi.
"Setuju, ide bagus!"
__ADS_1
"Udah, sekarang kita makan dulu!"
Mereka merasa sudah menyelesaikan masalah mereka hari ini. Persahabatan yang indah memang saat mereka saling membantu satu sama lain tanpa merasa ada yang lebih penting dari persahabatan mereka.