
Sampai pagi menjelang, Azka masih bertahan dalam mobilnya yang terparkir tepat didepan rumah lama Nara.
Nara membuka tirai jendelanya, dia ingin sinar dan hangatnya mentari pagi menyapa ruangan itu. dan saat melihat mobil Azka standby didepan gerbang Nara terpaku, sedikit demi sedikit hatinya terenyuh.
'sejak kapan Azka disana?' batinnya.
Walau masih ada sisa-sisa rasa kesal dan cemburu Nara putuskan untuk pergi keluar, sebelum benar-benar keluar dia tidak menemukan Ibu dan Nadia, pasti mereka masih tidur' pikirnya. itu memang sudah jadi kebiasaan mereka, mereka pantang bangun pagi, sejak dulu hanya Nara yang sigap bangun di pagi buta dan bergegas memebereskan seisi rumah.
Nara tak peduli, dia pergi begitu saja dari rumah.
Samar-samar Nara melihat Azka terlelap didalam mobilnya, dia terlihat kedinginan dan Nara jadi kasihan pada suaminya itu.
Cukup lama Nara berdiri bengong didepan gerbang sampai Azka terbangun dengan sendirinya.
Melihat ada Nara didepannya Azka langsung kehilangan rasa kantuk seketika, dia segera keluar mobilnya lalu menghampiri Nara yang masih saja menekuk wajahnya.
"kita pulang sekarang ya?" ajak Azka setengah memohon, Nara hanya berjalan begitu saja menuju mobil dan masuk lalu duduk dijok belakang.
Azka tidak peduli dengan sikap judes Nara, dia sudah sangat senang Nara akhirnya mau pulang tanpa banyak perdebatan lagi.
Saat masuk kedalam mobil Nara kaget karena disana ada sebucket mawar, pikirannya melabur kembali, banyak sekali spekulasi di otaknya.
'ini bunga siapa?' pikirnya skeptis lagi dan lagi, yang ada dipikirannya sekarang adalah bunga itu untuk Kalyla, mukanya semakin cemberut.
Azka sudah siap didepan kemudi.
__ADS_1
"Bunganya lupa kamu kasih ke Kalyla?" tanya Nara sinis, Azka hanya mencoba mengelus dada, dia mencoba sabar menghadapi tuduhan-tuduhan Nara yang belum juga reda sampai pagi ini.
Azka menoleh kebelakang, lalu tersenyum..
"itu buat kamu.." kata Azka, Nara malah tersenyum kecut dan tampangnya semakin sinis.
"heh.. alibi.." gumamnya , Azka hanya tersenyum menghadapinya, dia akan mencoba membiasakan diri dengan sikap sarkas istrinya.
Azka segera tancap gas dari sana.
Sepanjang perjalanan tidak ada suara sedikitpun, Azka merasa serba salah kalau dia jelaskan sekarang, dia yakin kalau Nara tidak akan percaya begitu saja dengan kejadian sebenarnya.
Azka sedang merancang kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kesalah fahaman kemarin, dia tidak mau salah berucap, dia benar-benar tidak mau menyinggung perasaan istrinya lagi.
"aah, akhirnya non Nara pulang..." sapa bi Marni girang, Nara hanya menukas dengan senyuman lalu dia duduk diruang tengah, tak lama setelah itu Azka masuk dan duduk disamping Nara.
"maaf ya.." kata Azka lalu menarik jari jemari Nara dengan lembut, Nara malah memalingkan wajahnya.
"kemarin itu cuma salah faham, kamu baca pesan dari Kalyla kan?" tanya Azka, Nara belum menjawab.
"Lyla salah kirim, untuk pesan buat managernya.." kata Azka menjelaskan perlahan-lahan.
"oke.." sahutnya pelan dan datar.
"selama ini, gak ada yang aku pikirkan selain kalian berdua.." kata Azka manis, lalu dia usap-usap Babybump Nara, Nara masih jutek.
__ADS_1
"jangan marah-marah terus yaa.."
Nara mulai melunak, dia melirik kearah Azka lalu dia tatap matanya dengan lekat. sebenarnya tidak ada keraguan di sorot mata Azka, pria ketus itu.. yang beberapa bulan lalu masih menjadi bossnya yang bossy dan menyebalkan, kini dia sungguh-sungguh mencintainya, bahkan mengorbankan keangkuhannya hanya untuk terus mencoba memahami perubahan hormon dan moody pada diri Nara.
Nara sadar selama ini dia selalu dihantui rasa insecure, yang dia tahu.. Azka adalah orang yang sangat mencintai Kalyla, tapi kini tak ada wanita lain selain Nara di hatinya, itu pasti.
" sudah bertahun-tahun sejak ayah meninggal, aku merasa gak ada yang menyayangiku dengan tulus dan sungguh-sungguh, aku lupa rasanya disayangi seperti itu.. mungkin.. aku dapatkan lagi itu sekarang, aku cuma takut.. aku kehilangan kasih sayang itu dengan cepat..aku takut.." Nara mengungkapkan kegundahannya selama ini, Azka semakin mengerti kenapa Nara bersikap ketus padanya sejak pertama mereka bersama dalam ikatan pernikahan walaupun awalnya hanya pura-pura.
"aku gak akan kemana-mana.. aku akan tetap disana, dalam hati dan benakmu yang terdalam.." kata-kata Azka sungguh manis, Nara terharu.. ternyata Nara sudah sukses merobohkan dinding keangkuhan yang selama ini melekat pada diri Azka.
"maaf.." kata Nara lalu menunduk lugu.
"buat apa?"
"buat sikap rewelku selama ini.."
Azka tersenyum mendengarnya.
"dimaafkan!" ujarnya , Nara merasa lebih baik, akhirnya masalah ini sudah selesai dan tak berlarut-larut lagi.
Dalam hati Azka berjanji untuk selalu setia, dan dalam benak Nara ,dia berjanji untuk menjaga kesetiaan Azka, dia akan memperbaiki sikapnya.
Bi Marni sampai terbawa suasana dan terhanyut dalam obrolan manis itu, tak terasa air matanya meniti saat mendengar Azka dan Nara sudah baikan lagi, dia sungguh senang melihatnya.
Bersambung.
__ADS_1