
"Kembalikan handphone saya!" kata Yura dan dia masih berusaha meraihnya.
Saat ini Ahsan dan Yura sudah sampai di depan tokonya. Ahsan masih menahan handphone milik Yura. Dia kelihatan begitu licik pagi ini.
KRIIIING, dan tiba-tiba ponsel yang dipegangnya itu berdering. Dan tentu saja yang menelphonenya saat ini adalah Arkan.
"Kebetulan! Sepertinya Arkan udah lihat postingan kamu barusan!" kata Ahsan, Yura semakin cemas, dia tahu kalau saat ini keadaannya sangat kacau dan Yura sudah yakin kalau Arkan pasti akan bertanya pasal postingan Ahsan beberapa saat lalu.
"Kembalikan!" hardik Yura, dia sudah tak tahan lagi dengan sikap Ahsan.
"Gak semudah itu sayang!" Tut, dengan lancang Ahsan mematikan ponsel Yura menguatkan dugaan Arkan yang kini tengah meradang di antara pertanyaan-pertanyaan liarnya.
"Cukup! Saya gak akan diam lagi! Kamu sudah sangat keterlaluan! Kak Arkan akan tahu yang kebenarannya!" kata Yura tegas.
"Oh ya? Kalau saya lempar ponsel kamu keluar sampai hancur, apa kamu masih bisa mengklarifikasinya dengan cepat?"
Kemarahan Yura sudah sampai di ubun-ubun. Baru kali ini Yura terasa ingin meludahi seseorang tepat pada mukanya. Ahsan sudah sangat keterlaluan.
"Kamu harus ingat! Kepicikan tuh gak akan berbuah manis! Suatu hari nanti, kamu akan dapat balasannya!" kata Yura dalam sekali, dia sudah merutuki Ahsan dengan sempurna dan Ahsan malah menyepelekan rutukan Yura. Dia menyambutnya dengan senyum sinis.
"Huh, entah kenapa saya harus berurusan dengan kamu! Tapi intinya, ini karena kamu sudah mengusik ketenangan Alana! Kamu sudah merebut kebahagiannya! Ini masalah serius, jangan anggap saya main-main Han Yura!" balas Ahsan.
"Lakukan saja! Usaha kamu akan sia-sia!"
PRAAAK, Ahsan ternyata tak main-main, dia melempar ponsel Yura keluar mobilnya, tepatnya ke lantai beton sampai membuat ponsel Yura hancur berkeping-keping, sudah pasti tak akan bisa diselamatkan lagi.
'Tolong balas dia Tuhan! Balas perbuatannya ini, dengan cara apapun!' harap Yura dalam hati, dia kerahkan rasa marah, kecewa dan sedihnya dan memohon pada Tuhan dari dalam lubuk hatinya.
"Turun!" perintah Ahsan.
"Tuhan akan membalas perbuatan kamu!" kata Yura lalu dia turun dari dalam mobil Ahsan. Yura juga membanting pintu mobil dengan sangat keras.
Ahsan nyalakan lagi mesin mobilnya dan sungguh dia diluar batas, Ahsan bahkan menggilas bangkai ponsel Yura saat ia memutar balik arah mobilnya. Yura tak habis pikir, kenapa ada orang seperti Ahsan. Kenapa orang-orang di sekitarnya begitu jahat.
Yura kelu, dia juga sulit sekali menggerakan tubuhnya yang kaku saking membuncahnya amarah yang ada di dalam dirinya itu, sampai Alika datang dan menyaksikan kekacauan yang baru saja terjadi dari kejauhan.
"Bener-bener sakit jiwa orang itu!" rutuki Alika lalu dia membantu Yura memunguti puing-puing ponselnya yang hampir tak berbentuk lagi.
"Kenapa ... kenapa orang-orang begitu jahat sama aku Al? Apa ... apa aku gak berhak bahagia?" tanya Yura dengan berderai air mata, jelas sekali kalau saat ini mentalnya sangat down.
"Stt ... stt, gak boleh ngomong gitu! Yakin aja, orang-orang seperti mereka akan segera dapat balasannya! Sekarang kita masuk, dan kita akan pikirkan langkah selanjutnya! Yuk, jangan biarkan ini semua melemahkan kamu Yur, kamu harus makin kuat!" kata Alika, dia sangat berusaha membuat pertahanan Yura semakin kuat.
Akhirnya Yura mau melangkah maju, mereka masuk ke dalam ruang toko dan Yura hanya terduduk lemas di kursi di dekat meja kasir, sementara itu Alika membuatkannya segelas teh berharap itu bisa membuat Yura merasa sedikit lebih tenang.
"Minumlah, dan tetap berpikir positif!" kata Alika lalu dia letakan cangkir tehnya di atas meja.
"Kamu udah lihat postingannya tadi kan? Kak Arkan juga pasti udah lihat, tapi dia sempat menelpon tapi orang gila itu malah menolak panggilan Kak Arkan, dan lihat ... dia bahkan menghancurkan handphone-ku Al!" tutur Yura di antara isakan lirihnya.
"Bener-bener orang itu! Gila!"
"Aku bisa apa? Kak Arkan pasti udah over thinking! Pasti dia, terpengaruh ...."
"Gini deh, coba lihat, sim card kamu masih aman kan?" tanya Alika lalu dia mencoba melihat perangkat dari ponsel Yura yang hancur. Dan, damn! Bahkan sim card Yura patah dan tentu saja tak akan bisa digunakan lagi untuk sekarang ini.
"Eeugghh, sial! Dia ... dia udah bikin kamu rugi banyak Yur! Rugi materi, dan secara moril tentunya! Tapi tenang dulu, tenang dulu ya! Kita tahu kan kalau kejahatan itu gak akan pernah berbuah manis! Sabar dulu Yur, kita akan cari solusi ini sama-sama!" kata Alika, dia tampak sigap menangani mental down Yura.
"Aku takut, aku takut kehilangan Kak Arkan! Jujur aja Al, aku takut kehilangan dia!" ungkap Yura semakin lirih dan Alika bisa merasakan ketakutan Yura. Sudah terlalu banyak pengorbanan Yura selama ini, dan Alika tak ingin Yura terus-terusan berkorban.
"Gak ada cara lain Yur! Kamu harus ke Surabaya sekarang juga!" kata Alika dan Yura pikir itu benar.
"Tapi ...."
__ADS_1
"Gak ada pilihan lain Yur! Cuma itu satu-satunya cara! Kamu harus yakinkan Kak Arkan dengan klarifikasi kamu sendiri! Tunjukan kesungguhan kamu!" dorong Alika.
"Apa aku gak akan terlambat?"
"Gak! Gak akan terlambat! Pokoknya kamu harus pergi! Sebentar, aku carikan tiket kereta express ya ... mudah-mudahan ada jadwal sebelum siang nanti!" Alika begitu sigap, dan Yura merasa sedikit lebih tenang berkat dukungan dan dorongan sahabat terbaiknya itu. Yura janji kalau dia juga akan kuat, dia akan jadi seperti Alika yang begitu gigih menguatkannya.
"Aaah, emang jodoh Yur! Ada nih, tiket ke Surabaya di jam 11 siang ini! Kamu punya waktu satu jam buat bersiap! Aku udah pesan tiketnya! Sebentar, nunggu barcode-nya dulu ya! Pokoknya kamu bawa aja hapeku ini!"
Yura sangat terharu dengan sikap dan pengorbanan Alika. Dia tahu, kalau orang seperti Ahsan tak layak dia takuti, toh Yura punya banyak teman dan tameng yang selalu melindunginya dari keputus asaan.
"Akhirnya, dapat Yur! Sekarang, sekarang kamu pergi ke stasiun! Ini tiket elektriknya ... baik-baik disana! Cepet! Gak ada waktu lagi!" dorong Alika.
"Makasih banyak Al!"
"Ya! Pergilah, urusan toko, biar aku yang handle! Kamu berhak bahagia Yura! Jangan hiraukan lagi orang-orang gila itu! Kamu harus berpikir dan bergerak lebih cepat dari mereka! Pergilah!"
"Oke! Aku bawa ponsel kamu ya!"
"Ya, kamu pasti berhasil meyakinkan Kak Arkan!"
GAP, Yura tak kuasa, sebelum pergi dia ingin memeluk bestie sejatinya itu terlebih dulu. Dan ya, energi-energi positif dari dalam diri Alika terasa mengalir begitu saja ke dalam diri Yura.
"Pergilah!"
Yura bersiap! Dia seka air matanya dan dia bergegas pergi. Walau perjalanannya begitu mendadak tapi Yura sudah menguatkan niat dan tekad untuk sampai di Surabaya dengan selamat dan segera menemui kekasihnya.
Ahsan merasa puas, dia temui Alana di butiknya. Ahsan pikir Yura akan jatuh dan menyerah, dia hanya belum tahu saja kalau saat ini Yura tengah bergegas menuju stasiun untuk menumpang kereta api express untuk menyusul Arkan ke Surabaya.
"Salut sih, tapi ... kenapa Bang Ahsan sampai melakukan ini semua?" tanya Alana, dia memang merasa kalau Ahsan sedang menunjukan sisi lainnya.
"Demi kamu!" jawabnya singkat, padat dan jelas. Tapi Alana malah menaruh curiga pada Kakaknya itu.
"Maksud kamu apa?"
"Ya, siapa tahu Bang Ahsan benar-benar suka sama dia dan berniat buat rebut dia dari Arkan!"
Heh, Ahsan menukas dugaan Alana dengan senyum super sinis, "gak mungkin! Abang gak mungkin suka sama dia!".
"Heum, okay! Bang Ahsan jangan sampai terjebak dalam pesona si Yura ya! Cukup si Keita sama Arkan aja, dan aku yakin kok, kalau Arkan juga sebentar lagi pasti akan mulai skeptis sama dia, semoga saja!"
"Gak mungkin!" sangkal Ahsan. Entahlah, entah bagaimana jadinya nanti, apakah Ahsan akan tetap berdiri di atas keangkuhannya atau mungkin dia juga akan jatuh hati pada Yura? Tapi, kalau dilihat dari sikap kasarnya selama ini, rasanya mustahil sekali Ahsan akan luluh oleh Yura yang terlanjur dia cap sebagai pengganggu di kehidupan Alana.
Sepanjang perjalanan Yura berdoa, kereta express super cepat sudah melaju sejak beberapa jam yang lalu. Jarak antara kota Jakarta dan kota Surabaya tidaklah dekat. Yura harus menempur ribuan mil.
'Tunggu aku Kak! Jangan biarkan apapun mempengaruhi kamu! Tetaplah konsentrasi dalam pertandingamu petang ini! Aku pastikan aku akan hadir di tribun!' batinnya sembari menghitung jarak yang sudah dia lalui, sudah ada puluhan kota yang dia lewati dalam perjalanan panjangnya itu.
Dan bagaimana kabar Arkan saat ini?
Benar saja, apa yang terjadi hari ini sudah membuat fokusnya buyar. Dan bahkan ia tak bisa menghubungi kekasihnya itu. Pikiran-pikiran negatif terlintas di benaknya. Padahal beberapa menit lagi dia akan menjalani pertandingan penting.
"Bro! Lo kenapa sih? Kayak gak fokus banget sejak latihan tadi?" tanya Rado yang mulai menyadari sikap Arkan yang berubah drastis sejak tadi pagi.
"Gak apa-apa!" jawabnya sembari ia teguk minumannya.
"Lo harus terap fokus ya! Lo harus cetak poin yang banyak!" dorong Rado, dan Arkan enggan menukasnya. Sikap dinginnya benar-benar membuat Rado cemas.
Dan Yura baru saja turun dari keretanya. Sejujurnya saat ini dia sedang tidak fit. Dia melupakan makan siangnya, dan tekanan yang begitu berat semakin membuatnya lemah. Hampir saja Yura ambruk di stasiun itu, tapi dia mencoba tetap bertahan. Dia ingin segera sampai di arena tempat Arkan bertanding saat ini. Tapi sekali lagi, kepala Yura begitu pusing, perutnya juga terasa sakit. Mungkin dia mengalami gejala maag.
'Gak! Aku harus kuat! Aku harus cepet-cepet ke tempat Sunrise bertanding hari ini!' tekadnya dan dia bergegas mencari taksi tanpa menghiraukan rasa sakitnya. Yura ingin cepat-cepet menemui Arkan, ia ingin cepat-cepat menjelaskan ke salah fahaman ini. Yura mungkin sudah belajar dari pengalaman, dia tak akan pernah mengorbankan kebahagiaannya lagi untuk orang-orang licik seperti Alana dan Ahsan.
Sementara itu pertandingan sudah berjalan 2 quarter penuh. Sementara ini Sunrise tertinggal beberapa poin. Sungguh, petang ini permainan Arkan diluar ekspektasi team. Mentalnya memang belum terlatih cukup baik, masalahnya pagi ini sangat mempengaruhi performanya.
__ADS_1
"Semangat dong bro! Tuh lihat! Artis cantik sekelas Keyla aja sampai heboh banget loh mendukung lo! Dia pake jersey dengan nomor punggung lo tuh!" kata Rado sembari menunjuk ke salah satu sudut tribun dan disana memang ada Keyla yang menonton di antara ribuan supporter lawan.
Arkan tidak peduli, Arkan sama sekali tidak peduli dengan kehadiran Keyla.
Dan akhirnya Yura datang, dia mendapat akses masuk dengan tiket yang mungkin dia dapat dari calo dan Ya! Dia sudah tak bisa duduk di kursi tribun. Tapi setidaknya Yura senang karena dia sampai dan selangkah lebih dekat dengan Arkan.
'Itu dia! Kak Arkaaan ....' gumamnya, dan entah kenapa tubuh Yura melemah, dia tiba-tiba terkulai dan ....
"Mbak ... Mbak ... tolong! Tolong mas ada yang pingsan ini!" kata salah seorang penonton yang kebetulan ada di dekat Yura. Apa yang Yura alami? Dan bagaimana nasib Yura selanjutnya?
Yura langsung dikerumuni beberapa orang dan membantunya menepi ke tempat duduk.
"Ya ampun! Beneran pingsan ini!"
"Iya, bukannya di dalam ada poliklinik?"
"Tapi kan itu poliklinik khusus pemain?"
"Aaah iya, tapi kasihan loh ini si Mbaknya."
"Sebentar biar saya hubungi official team, saya kenal salah satu dari mereka agar mengizinkan si Mbak ini ditangani di poliklinik!"
"Iya ... iya!" Beruntung banyak orang yang sigap dan peduli pada Yura. Walaupun Yura adalah orang asing tapi banyak yang membantunya. Mungkin, kebaikan Yura selama ini kembali menolongnya di saat-saat genting seperti ini.
Beberapa pemain dan official menoleh ke sudut tribun paling belakang karena tampak ada keributan. Arkan yang kala itu ada di bangku cadangan belum sadar kalau orang yang baru saja pingsan di tribun adalah kekasihnya.
"Oh, oke ... oke, bawa aja ke poliklinik! Biarkan dia istirahat disana sampai kembali sadar!" Ada seorang team medis dari team lawan yang begitu sigap menginstruksikan Yura untuk diperbolehkan istirahat di poliklinik untuk sementara waktu.
"Ada apa sih?"
"Iya ada apa ribut-ribut di Tribun?" tanya teman-teman Arkan, Arkan malah cuek saja dan tak peduli dengan apapun yang terjadi di sekitarnya.
"Ada penonton pingsan! Tapi penonton tanpa atribut!" jawab seseorang di belakang Arkan.
"Aah, cewek apa cowok sih?"
"Cewek, dari kartu identitasnya sih orang Jakarta! Mungkin dia supporter Sunrise!"
"Bisa jadi!"
Arkan masih tak peduli, dan dia juga tak peka. Dia masih mencoba fokus dengan pertandingan walau sebenarnya dia masih saja memikirkan Yura.
Lalu bagaimana dengan Yura saat ini?
Dia sangat lemah, tekanan mental dan batin, kelelahan fisik adalah kombinasi yang membuatnya drop saat ini. Dia terbaring di brankar di poliklinik dingin itu. Tak lama seorang team medis datang.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" tanya team medis itu, Yura hanya sedikit meringis karena perutnya terasa semakin melilit.
"Mas, bisa minta tolong sesuatu gak?" pinta Yura.
"Boleh," sahutnya.
"Kalau pertandingannya sudah selesai, boleh minta beri tahu seseorang tentang keberadaan saya sekarang disini?"
"Memangnya siapa?"
"Arkan, pemain dari Sunrise!"
Team medis itu merasa ragu dengan Yura, dia malah curiga kalau Yura hanya main-main dengan rasa sakitnya dan sengaja mencuri kesempatan untuk menemui seorang pemain. Team medis itu pikir kalau Yura adalah fans nakal.
Apakah Yura akan berhasil menemui Arkan? Sementara dia sangat lemah dan handphone milik Alika juga kehabisan baterai. Tak ada lagi yang bisa Yura lakukan kecuali mengandalkan perannya sebagai pacarnya Arkan walau itu masih membuat team medis itu tak yakin.
__ADS_1