
MEOOOW
Saat Yura sampai di depan rumah tiba-tiba ada seekor kucing menghampirinya, setelah menyimpan sepedanya Yura langsung hampiri kucing itu.
"Kamu tersesat?" tanya Yura lalu dia tengak tengok kanan kiri, dia pikir kucing itu tersesat karena selama ini Yura tak pernah melihat kucing itu.
Meow meow
Kucing itu terus mengeong dan bermanja di tangan Yura, Yura senang sekali melihatnya tapi saat ini dia sangat lelah, dia tak bisa bermain lebih lama lagi karena dia ingin segera istirahat.
"Kamu disini aja ya, maaf aku gak bisa bawa kamu ke dalam, Tania alergi kucing, bisa-bisa kamu kena omel Ibu, hihi!" kata Yura pelan lalu dia letakan kucing mungil itu di salah satu sudut teras rumah.
Yura masuk ke dalam rumah dan seperti biasa, disana agak sepi. Mungkin Ibu dan Tania sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.
Yura berjalan di anak tangga dan di ujung anak tangga Ibu sudah menunggunya dengan muka merah padam, Yura mulai tak enak hati. Posisi Ibu sama persis dengan semalam saat dia menunggunya pulang dari acara jalan-jalan bersama Keita dan kawan-kawan. Yang berbeda saat ini Ibu kelihatan sangat marah dan jujur saja Yura merasa takut melihatnya.
"Bu," sapa Yura.
PLAK, sapaan itu dibalas dengan tamparan telak yang Ibu daratkan dengan mulus tepat di pipi kiri Yura, Yura terbungkam dan hanya memegangi pipinya yang langsung meninggalkan tanda merah.
"Dasar gak tahu diri!" rutuki Ibu lalu dengan tega dia juga memberikan toyoran di kepala Yura, Yura diam saja dan mencoba mendengarkan apa omelan Ibu selanjutnya.
PLAK, sekali lagi Ibu tampar Yura, kini mengenai tangannya yang masih mencoba melindungi pipinya dari telapak tangan Ibu yang cukup lebar dan kasar.
"Aku sudah mengurusmu selama ini dan apa yang kamu lakukan pada anak kesayanganku, huh? Apa?? Apa kamu membencinya? Jawan Yura, apa kamu membenci anak kesayanganku, huh?" bentak-bentak Ibu tepat ke arah telinga Yura yang langsung menangis ketakutan saat itu juga. Dia tak tahu harus berbuat apa, dia memang tak bisa melawan kalau Ibu tirinya itu sudah murka kepadanya.
__ADS_1
"Kamu mau mempermalukannya di sekolah, huh? begitu?" hardiknya lagi lalu kali ini dia menjambak rambut Yura sampai kepalanya mendongak ke belakang dan Yura sangat kesakitan.
"Ampun bu ampun! Ampun Ibu!" ratapnya.
"Gak ada ampun buatmu! Kamu sudah membuat Tania menangis tadi pagi, apa? Apa yang kamu lakukan sampai dia mencoba untuk bunuh diri, apa Yura? Apa?" hardiknya lagi penuh emosi bahkan Ibu menangis juga kali ini.
Yura dengar semuanya, apa? Tania mencoba bunuh diri? Apa benar kejadian tadi pagi sudah membuat Tania sangat tertekan sampai ingin melakukan hal konyol untuk mengakhiri hidupnya?
"Maaf ibu aku gak tahu!" ratap Yura yang sudah terduduk berjibaku di bawah kaki Ibu, bahkan dia menunduk seperti sedang meminta ampun dan berlutut pada Ibu tiri kejamnya itu.
"Jangan pura-pura gak tahu! Kalau gak terjadi apa-apa kenapa Tania sampai seperti ini, kenapa Yura, jelaskan padaku!"
Tak lama Tania datang, wajahnya pucat sekali, entah apa yang terjadi selama Yura tak ada di rumah hari ini. Yura tak tahu karena dia terlalu sibuk bekerja.
BRUK, Tania melempar sepasang sepatu baru Yura tepat ke muka Yura, keterlaluan sekali. Ya, dan sepatu itu adalah awal konflik yang hampir membongkar identitas Tania di depan teman-temannya.
Yura hanya menangis perih, dengan pipi merah dan rambut acak-acakan di hadapan Ibu dan saudara tirinya yang berdiri mengecam dan mengancamnya.
"Kamu jangan takut ya sayaang, Ibu gak akan membiarkan si Yura sampai mempermalukan kamu!" kata Ibu berubah drastis menjadi sangat lembut saat bicara pada Tania.
'Ayaah, Ayah tolong aku, aku takut!' batin Yura, dia sangat ketakutan saat ini.
"Gue harap teman-teman gue gak tahu apa yang terjadi sekarang! Seharian ini gue sengaja mematikan ponsel gue karena gue gak kuasa kalau kalau teman-teman gue bertanya tentang yang sebenarnya terjadi!" kecam Tania lagi dan lagi.
"Hey Yura! Lo gak bilang apa-apa kan sama Keita?"
__ADS_1
Yura menangis semakin lirih dan ketakutan karena dia memang sudah mengungkapkannya pada Keita dan menguatkan dugaan Keita.
"Yura! Ngomong dong, lo gak bilang apa-apa kan sama Keita!" desak Tania.
Yura memegang kaki Tania, dia ingin meminta ampun karena kenyataannya kini keita tahu kalau dia adalah saudara tirinya, Yura tahu apa dampaknya dan dia hanya bisa meminta ampun.
"Maaf, maaf!" ucap Yura berkali-kali.
"Apa maksud permintaan maaf lo ini, heh?"
"Maaf, Keita sudah tahu kalau kita saudara tiri!" ungkap Yura lalu dia semakin erat mendekap kaki Tania, Tania terbungkam! Marah dan amarahnya langsung naik ke ubun-ubun, Ibu hanya menonton saja karena dia memang tak begitu mengerti dengan permasalahan kedua anaknya itu.
"Mati lo Han Yura!" desisnya, sisi jahat dalam diri Tania muncul bersamaan dengan nafsu yang menggebu-gebu, dengan tega dia hempaskan tubuh Yura yang saat ini duduk si ujung anak tangga, tahukah apa yang selanjutnya terjadi?
"Sayaaaang!" hentak Ibu lalu dia mencoba mencegah tangan Tania yang hendak mendorong Yura ke belakang dan semuanya terlambat ....
Yura terhempas dalam posisi yang tidak sempurna sampai dia terbanting beberapa kali di anak tangga tanpa sempat menyelamatkan diri dan tubuhnya menghempas di dasar anak tangga dengan telak.
Tak ada rasa bersalah di wajah Tania, dia seperti seorang Phsyco saat ini, dia tersenyum puas saat Yura terguling dan tergeletak tak berdaya di dasar tangga, sedangkan Ibu? Dia terkaget! Dia terbelalak dan mulutnya terbungkam, dia tak percaya kalau putri kandungnya tega melakukan hal se-fatal itu.
Belum ada respon dari Yura, tubuhnya tertelungkup dan tak ada gerakan susulan, apakah Yura mengalami luka serius?
"Sayaaang," hentak Ibu lalu dia tatap anaknya yang malah berkali-kali melempar senyum puas.
"Apa bu? Dia pantas mendapatkannya! Dia sudah membunuh karakterku di depan teman-temanku! Dan aku rasa aku harus memberi pelajaran padanya!" kata Tania dan tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun dia berlalu masuk kembali ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Ibu merasa lemas, hatinya takut, sangat takut, dia takut kalau Yura benar-benar meninggal. Walau lutut dan kakinya bergetar dia perlahan susuri anak tangga dan mendekati tubuh Yura yang tak bergerak lagi.
Apa yang akan terjadi pada Yura? Dan apakah Tania akan mendapat pelajaran dari tindakan kejinya ini?