Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
RESTU


__ADS_3

Ya, kebusukan Dara memang sudah terkuak tapi ternyata hal itu tak bisa menyelamatkan jalinan cinta Keita dan Yura. Keita kadung kecewa, dia kecewa pada semua orang, dia juga kecewa pada banyak hal.


Dia pun batalkan rencana cuti panjangnya, dia akan kembali fokus menjalani study-nya di London. Cinta yang menyakitkan mendorongnya untuk enyah dari lingkungan yang dulu amat ia rindukan itu.


Arkan berlari di lobi Bandara. Rencana kepergian Keita kembali ke London baru dia ketahui dan dia ingin mengucapkan selamat jalan kembali kepada sahabatnya itu.


"Kei!" Arkan datang di saat yang tepat, Arkan menahan langkah Kei yang baru saja akan memasuki terminal keberangkatan.


"Bukannya lo mau cuti satu semester bro?" tanya Arkan dengan nada gurauan, Arkan bersikap seolah Keita tak tahu kalau dirinya memiliki perasaan yang sama terhadap Yura.


"Gue mau fokus, biar bisa kayak lo!" jawab Keita, dia juga mencoba menyembunyikan rasa kecewanya.


"Heum, oke lah kalau gitu, good luck ya!" semangati Arkan, Keita hanya tersenyum hambar.


"Lo juga! Semoga semakin sukses! Jadi pemain terbaik!"


"Aah, iya! Jaga diri ya, jangan sampai, si Dara mempengaruhi lo! Dia itu ular, berbisa!"


"Ya, harusnya gue tahu dari awal!"


"Its okay Kei, karena pada akhirnya terbongkar juga kan?"


"Ya! Apapun yang tersembunyi pasti akan terbongkar!" Keita mencoba menyentil Arkan dan ya! Arkan merasa tersindir.


Tap tap tap, decit suara sepatu melangkah cepat juga sampai terdengar mendekat, Arkan maupun Keita menoleh. Yura datang, Yura datang di menit terakhir sebelum Keita masuk ke dalam pesawat.


"Kaak ...." Yura kini ada di antara kedua pria tinggi yang sama-sama mencintainya. Yura datang dengan rasa yang masih tertinggal. Rasanya tak rela membiarkan Keita pergi begitu saja sebagai pihak yang paling dirugikan dari rencana busuk Dara ini.


"Jaga diri baik-baik ya!" kata Keita masih menunjukan perhatiannya pada Yura.


"Kakak juga!" kata Yura dengan mata berkaca-kaca, ya memang sulit rasanya menahan air mata dalam sebuah perpisahan.


"Jangan takut, Arkan bisa menjaga kamu sepenuhnya sekarang!" kata Keita lalu dia belai lagi rambut Yura, mungkin belaian itu benar-benar untuk yang terakhir kalinya sekarang.


"Maafin aku kalau aku tanpa sadar udah nyakitin kamu ya Kak, aku gak pernah berniat buat melukai kamu tapi ...."


"Iya, aku ngerti kok! Ar!" Keita menarik tangan Arkan, Arkan masih belum mengerti mengapa Keita sepasrah ini, dia jadi merasa bersalah.


"Gue sayang sama Yura, tapi gue gak bisa ada di dekatnya setiap saat. Kuliah di luar negeri itu pilihan gue, dan ini gak bisa gue lepas begitu saja! Yur ...." kata Keita lalu kemudian Keita meraih tangan Yura, dan tahu kah apa yang dia lakukan? Keita menyatukan tangan keduanya. Arkan maupun Yura sama-sama terhenyak.


"Aku benar-benar sayang sama kamu! Tapi aku harus kejar mimpiku jauh disana! Kamu adalah salah satu perempuan terbaik yang pernah aku tahu, senang rasanya pernah jadi bagian penting di hidup kamu! Banyak yang iri dan berniat jahat sama kamu, so ... kamu sangat butuh pelindung yang nyata yang bisa selalu dekat sama kamu!"


Yura mau pun Arkan benar-benar tak mengerti apa maksud Keita. Dia menyatukan tangan keduanya seperti sebuah tanda kalau Keita menyerahkan Yura pada Arkan, benarkah demikian?


"Lo akan cepat pulang kembali Bro!" kata Arkan.


"Gak, gue mau fokus sampai gelar Magister gue selesai! Lo jaga Yura ya, baik-baik!"


"Kei!"


"Gue tahu, lo udah sayang dia sejak lama kan?"


Arkan terpojok, hatinya berkata iya tapi dia tak mungkin dia tegaskan itu di hadapan Keita secara langsung. Kini Yura mengerti, dia yakin kalau hari itu Keita benar-benar mendengar pengakuan Arkan soal perasaannya, Yura benar-benar merasa sangat bersalah.


"Gak ada dendam Ar! Justru gue senang kalau lo bisa jaga Yura dengan sepenuh hati lo, banyak orang yang mau melukai dia, lo harus jaga ... bisa?"


Pengumuman keberangkatan nomor penerbangan Keita sudah berbunyi, dia harus segera masuk ke dalam pesawat. Keita benar-benar merekatkan tangan Arkan dan Yura, dia mencoba berbesar hati dan berlapang dada, walau berat, tapi ia benar-benar sudah merelakan Yura untuk sahabatnya itu.


"Semoga hubungan kalian berjalan mulus! Gue sangat mendukung! Gue cabut ya, Yura ... aku sayang kamu!" itu lah kata-kata terakhir dari Keita sampai akhirnya dia berlalu dari hadapan kedunya.


Yura sama sekali tak mengerti kenapa Keita menyerahkannya pada Arkan begitu saja. Tapi apapun keputusan yang Keita ambil, Yura akan selalu mendoakannya, Yura akan mendo'akan yang terbaik untuk mantan kekasih terbaiknya itu.


"Kayaknya Kak Keita dengar kata-kata Kak Arkan waktu kemarin ...." kata Yura menduga.


"Jadi kalian sudah resmi putus?" tanya Arkan, Yura memicingkan matanya, Yura curiga kalau Arkan senang dengan kandasnya hubungan Yura dan Keita.


"Apa Kak Arkan senang?" tanyanya Kekik.


"Huh, gue kan cuma nanya!" sahutnya tak kalah ketus.


'Heh, sering bilang cinta tapi sikapmu masih gak bisa selembut Kak Keita! Memang ini karakternya kali, huh ... gak kebayang gimana jadinya kalau benar kita jadian!' batin Yura lalu dia mengambil langkah pertama dan meninggalkan Arkan yang masih menunggu Keita sampai dia benar-benar tak terlihat lagi.

__ADS_1


Yura terus melangkah, berat menyaksikan kepergian Keita. Terlebih saat ini dirinya bukan siapa-siapanya Keita lagi.


GAP, setelah belasan langkah terpacu, Arkan menyusul dan memegang tangannya secara ilegal sampai membuat Yura terkaget.


"Gue udah dapat restu dari si Kei!" kata Arkan innocent sekali, Yura tak habis pikir.


"Heh, apa gak ada rasa bersalah sedikitpun di hatimu itu Kak?" tanya Yura kekik.


"Gue kan gak merebut lo!"


"Terus ini maksudnya apa?" tanya Yura sembari menaikan genggaman tangan mereka.


"Ikatan yang sudah direstui!" jawab Arkan ringan.


"Heh, ikatan apa? Kita kan gak punya ikatan apa-apa!"


"Ayolah kita pulang! Sore ini gue bertanding! Lo harus menonton di tribun paling depan!"


Sepanjang perjalanan Yura menatap ke luar jendela di sisi kirinya. Seperti itulah kehidupan. Kehidupan adalah perjalanan, dia sudah meninggalkan banyak hal dan kini dia harus meneruskan tujuan selanjutnya. Biarkan Keita bahagia dengan keputusan besarnya, dan Yura hanya berharap semua pihak mendapat keadilan termasuk dirinya.


Sesekali Arkan memperhatikan lamunan Yura, sembari dia mencuri kesempatan, dia senang memandangi Yura diam-diam. Wajahnya yang manis adalah candu yang mulai menjalar di diri Arkan, ya! Nyatanya Arkana sudah benar-benar jatuh cinta pada Han Yura. Walau dia sadar kalau jalannya tak akan mulus, karena walau pun Keita sudah merelakannya, tapi masih ada satu hati lagi yang harus dia jaga, yakni hati Alana.


"Han Yuraaa," panggil Arkan, Yura hanya menoleh.


"Tunggu 2 sampai 3 tahun lagi!" tambah Arkan, Yura merasa kalau Arkan sedang meracau, dia tak begitu menanggapi, dia kembali memalingkan wajahnya.


"Kita akan menikah!" cetus Arkan.


"Heh, menikah?" Yura hanya tertawa geli.


"Ya!"


"Kenapa Kak Arkan aneh sekali belakangan ini?"


"Aneh, jadi lo anggap perasaan gue sama lo itu, aneh?"


"Iya!"


"Ya, bagaimana bisa itu terjadi? Kita sudah tumbuh bertahun-tahun, aku ini milik sahabat kamu sendiri dan kamu milik orang lain."


"Itu lah cinta!"


"Heh, ini pasti akan sangat canggung!"


Arkan kembali merebut tangan Yura, Yura sampai harus menyadarkan dirinya sendiri berkali-kali. Arkan begitu aktif begitu mendapat restu dari Keita, dasar Arkan! Sahabat gak ada akhlak! cibir Yura.


"Gue akan menjaga lo untuk Keita!" tegasnya.


Yura tak tahu lagi, dia tak tahu harus merasa senang atau apa, ini semua terjadi begitu cepat. Arkan memang keterlaluan, pikirnya. Tapi, mencintai adalah hak setiap orang. Aah, sudahlah, Yura akan membiarkannya berjalan dan mengalir saja seperti air.


***


"Chiyo akan segera sembuh, setelah ini dia sedang menunggu untuk pencangkokan sumsum tulang belakang!"


Seperti biasa, Yura dan Alika berbincang sembari membuat kue pesanan. Tangan Yura sudah agak kering, dia bisa mengoptimalkan kembali produktifitasnya.


"Huh, semoga dia benar-benar sembuh! Terus, apa dia udah dapat donor sumsum tulang belakangnya?"


"Zahran! Dia akan mendonorkannya!"


"Heum, gak nyangka ya, cowok seperti dia ternyata sangat menyayangi adiknya!"


"Iya, makanya, kita sama sekali tak bisa menilai seseorang!"


"Nah kalau kamu, beneran cantik luar dalam Yur! Parasmu, hatimu, dan terbukti udah bikin dua kakak kelas populer di SMA sampai jatuh cinta sama kamu!" goda Alika.


"Aaah, kamu! Bisa aja!"


"Jadi Kak Arkan itu benar-benar mengakui cintanya sama kamu?" goda Alika lagi.


"Ih, kamu ini apaan sih, cepet packing kuenya, kita harus cepat-cepat anterin pesanannya!" sangkal Yura lalu dia tersipu malu.

__ADS_1


"Huh, yang aku ingat, ini semua berawal dari insiden kecil di pagi hari, bertahun-tahun lalu! Aku pikir, kalau pagi itu Kak Arkan gak nabrak kamu, kisah cinta yang rumit ini gak akan pernah terjadi!" kenang Alika, dan itu memang awalnya, oh takdir, Yura sudah terbawa sampai di masa ini. Masa-masa penuh intrik dan konflik yang menguras air mata.


Bagaimana dengan Dara sekarang?


Dia baru tahu kalau Keita kembali pergi ke London dan dia merasa kesal karena dia tak tahu hal itu.


"Tapi setidaknya kamu tahu kan kalau sekarang Keita sudah benar-benar putus dari si Yura?" tanya Keyla, keduanya sedang duduk bersama di salah satu sudut cafe.


"Entahlah, aku merasa masih ada hal besar yang sedang disembunyikan!"


"Take it easy! Nafas dulu, jangan tegang mulu!"


Keyla hanya belum tahu, kalau hal besar berikutnya adalah, dia yang kini harus benar-benar bersaing dengan Yura. Yura memang telah menjadi saingan untuk banyak orang. Sosoknya dan kesahajaannya telah mencuri banyak hati dan telah membuat banyak pihak iri, bahkan perempuan penting sekelas Keyla dan Alana.


"Terus, kabar kamu sama Arkan gimana? kok kamu selow sih, gak takut Arkan keburu tunangan sama Alana?" tanya Dara, Keyla tersenyum.


"Semuanya akan segera dimulai!"


"Apa rencana kamu?"


"Bikin skandal!"


"Heum, menarik! Kamu mau mafaatin popularitas kamu buat menjerat Arkan?"


"Gak tahu juga sih! Aku masih ragu, apa bisa aku mendapatkan Arkan dengan cara curang seperti ini!"


"Heh, kamu nyindir aku?"


"Kamu merasa tersindir?"


"Huh, akhirnya aku gak dapat apa-apa!" Dara mengeluh.


"Cepat kejar dia lagi!"


"Entahlah! Aku malah semakin gak yakin! Gak mungkin aku dapatkan Keita dengan cara seperti ini, aku hampir menyerah!"


"Heh, seorang Dara menyerah?"


"Terus aku harus apa? Ternyata perjuanganku masih sangat panjang! Walau sekarang Keita udah resmi putus dari si Yura, tapi nyatanya aku tetap gak bisa mendapatkan dia dengan mudah!"


Dara sepertinya menyadari kelemahan dan kekurangannya. Dia semakin kesal saja dengan Yura. Dia merasa Yura adalah ancaman besar, karena walaupun dia tak melawan, tapi Yura tetap saja menjadi yang terbaik dan lebih baik dari dirinya.


"Beruntung si Yura gak laporin kamu ke pihak berwajib!" cibir Keyla. Dara tatap Keyla lekat-lekat, ingin rasanya dia katakan tentang pernyataan Arkan beberapa hari lalu. Tapi Dara tahu kalau itu pasti akan membuat Keyla marah dan sedih, tapi kalau dia diam saja, dia sama saja dengan membodohi sahabatnya itu.


"M, Key ... sebenarnya, ada sesuatu yang bisa menjadi alasan kuat kamu buat benci sama si Yura juga!" Akhirnya Dara membuka obrolan itu, Dara pikir Keyla harus tahu tentang pengakuan Arkan lantas Keyla juga akan sadar kalau Yura bukan hanya ancaman untuk Dara tapi untuknya juga.


"Apa itu?" tanya Keyla masih tampak santai, dia hanya belum tahu kalau kabar yang akan Dara sampaikan adalah hal paling sensitif untuknya.


"Nyatanya, Han Yura itu bukan cuma ancaman buatku saja, tapi buat kamu juga!"


"Maksudnya?"


Dara menghela nafas, berat rasanya tapi dia harus mengatakannya agar Keyla juga berhati-hati pada Yura, dan dengan begitu Dara juga punya kekuatan baru untuk terus menggempur Yura sampai Yura benar-benar menyerah.


"Im so sorry tapi kamu harus tahu, Arkan ternyata suka juga sama Han Yura!"


Mimik Keyla berubah 180°, dia yang awalnya tampak semangat dan menyemangati Dara langsung berubah dan mungkin saja Keyla langsung mati rasa.


"Sebenarnya, alasan aku gak nerusin ancaman dan seranganku sama si Yura itu karena Arkan! Dia tiba-tiba hadir, dan menghentikan kegilaanku bagai pahlawan!" tutur Dara, kini hati Keyla yang bergejolak.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"


"Biar kamu tahu juga bagaimana rasanya ada di posisi aku! Tapi selebihnya aku cuma mau kamu aware dari sekarang kalau si Yura itu sangat, sangat berbahaya!"


"Kamu jangan panas-panasin aku deh!"


"Buat apa sih? Ya udah sih kalau gak percaya, tapi yang penting aku udah kasih tahu ya, dan sepertinya Han Yura itu bisa lebih berat dari pada Alana!"


Keyla mulai kepanasan. Kenyataan yang menyesakkan ini ternyata menjalar juga pada perjuangan cintanya. Keyla tak habis pikir, bagaimana bisa adik kelas yang dulunya tak pernah dipertimbangkan itu kini menjelma jadi gadis penuh pesona yang sudah mencuri banyak hati.


Jika dilihat dari sisi penampilan saja, Yura memang jauh kalah dari Keyla, Alana maupun Dara. Yura hampir tak pernah memakai outfit dan barang-barang branded dan mahal tapi siapapun akan langsung jatuh cinta dengan hati lembut dan penyayangnya. Yura selalu memberikan perhatiannya pada orang-orang yang membutuhkannya tak peduli walau dia harus mengorbankan waktu bahkan tabungannya.

__ADS_1


Yura oh Yura, sayangnya, kebaikan hatinya masih saja menjadi momok menakutkan untuk orang-orang berpikiran dangkal seperti Dara, tapi pada akhirnya, kejahatan tak akan lama-lama bertahan jika dihadapi dengan kesabaran dan upaya tanpa berniat untuk saling menjatuhkan, seperti yang Yura lakukan sekarang ini. Dia tak mengeluarkan banyak tenaga untuk melawan kecurangan Dara, tapi semuanya pun terungkap dengan sendirinya.


__ADS_2