
Semua orang sudah duduk dimeja makan ditambah ada Kalyla. Kalyla sangat mudah berbaur dengan keluarga Azka karena mereka sudah saling mengenal sejak lama, sedangkan Nara? dia merasa jadi kambing congek yang tidak mengerti dengan apa yang mereka obrolkan.
"Udah lama ya kita gak kumpul begini..kamu terlalu sibuk.." kata Ibu memulai topik pembicaraan.
"iya, jadwalku memang cukup padat.." tukas Lyla.
"hati-hati, jaga kesehatan.. jangan sampai lupakan itu." kata Kakek.
"iya kek.."
Lyla masih saja terlihat sinis saat melirik kearah Nara yang diam saja karena gak tahu harus ngobrol apa.
"aku gak nyangka lho.. Azka memutuskan untuk menikah secepat ini, bahkan aku gak tahu siapa Nara, tapi..hehe.. kita memang sudah lama ya gak berbincang dan bertukar cerita, tahu tahu kamu udah punya istri.." Kalyla beralih topik, Azka gak terlalu menanggapi ,dia hanya makan, begitu juga dengan Nara.
"Tante juga, ya.. kami semua juga gak ada yang menyangka.." kata Ibu.
"itulah jodoh, jodoh itu misteri..gak ada satupun orang yang tahu takdirnya.." tambah kakek.
Makan malam hanya milik Ibu,kakek dan Kalyla, yang lain diam gak banyak bicara.
Selesai makan malam, Nara duduk ditepi kolam renang dibelakang rumah. tiba-tiba Kalyla datang menghampiri ..
"azka kemana?" tanya Lyla lalu mencari sosok Azka.
"m..mungkin naik ke kamarnya.." jawab Nara.
Lyla duduk disamping Nara lalu mencoba menikmati malam bersama.
"banyak yang menyangka kalau dulu kami punya hubungan spesial, ya! sebenarnya iya! kami berteman sejak kecil, kami melindungi satu sama lain.. tapi, sejak kita dewasa dan punya kesibukan masing-masing, kita gak bisa saling mengawasi lagi.." Tiba-tiba Lyla bercerita, dia mengenang masa-masa indahnya bersama Azka, Nara hanya menyimak.
"sejujurnya, perasaan kami ini seperti ambigu.. saling sayang tapi takut untuk jadi lebih dari sahabat.. "
Deg, perasaan Nara mulai cemas lagi, ternyata benar kalau Kalyla punya perasaan yang sama dengan Azka.
"aku coba dekati pria lain, tapi tidak ada yang bisa menggantikan perhatian Azka.."
Nara makin takut dengan kata-kata Kalyla, dia takut Azka tahu kejujurannya ini, dengan begitu Azka hampir sampai pada cinta sejatinya dan itu artinya hubungannya dengan Azka akan segera berakhir.
'apa maksud dia..' batinya.
"kamu beruntung.. sangat beruntung! bahkan..aku lihat Yuki juga tertarik padamu.." Kata Lyla penuh emosi, Nara makin terkejut.
"sulit menaklukan hati Yuki, tapi.. entah kenapa aku merasa kalau dia menaruh perhatian yang besar padamu.."
Nara simak Kalyla, dia terlihat menyesal.
'Yuki?' batin Nara.
Ibu datang dengan 2 teh hangat, menghentikan pembicaraan kalyla yang emosional.
"disini dingin lho.. ini tante buatin teh hangat.. buat kamu juga Nara.." kata Ibu.
"aduh, makasih banyak tante.. tapi, Kalyla harus pulang.. ini udah cukup larut.." Kalyla malah bersiap untuk pulang.
"kamu gak nginap aja disini?"
__ADS_1
"kapan kapan ya.."
"ya udah, minta Azka buat antar aja.. biar nanti pulangnya Azka naik taxi.." tawarkan ibu, Lyla melirik kearah Nara.
"gak usah, makasih.. Lyla pamit ya.." setelah memberi salam, Kalyla pergi tinggal lah Ibu dan Nara disana.
"kalian nginep aja disini.. bi ija udah bereskan kamar Azka.." kata ibu datar tidak seperti bicara pada Lyla.
Nara hanya mengangguk.
***
Sejak kejadian semalam, Nara tidak peduli lagi dengan jarak.dia hanya pasrah saja dengan apapun yang Azka inginkan.
Mereka tidur diranjang yang sama bahkan Azka memeluk Nara dan dia sudah tertidur pulas. tidak dengan Nara, dia gak bisa tidur. banyak sekali yang mengganggu pikirannya.
Dia pandangi wajah Azka yang terlelap dengan lekat. tidak bisa dipungkiri lagi, saat ini Nara sudah jatuh cinta padanya. lalu dia ingat kata-kata Kalyla, dia takut kalau Kalyla akan merebut Azka darinya.
***
Dengan semangat Nara membantu Bi Ija menyiapkan sarapan didapur. Nara merasa satu-satunya yang bisa diajak bicara dirumah ini hanyalah bi Ija. mereka sudah tampak akrab.
"waktu masih tinggal disini.. den Azka paling senang dibuatkan pie susu atau pancake yang disiram sirup maple.." kata Bi ija disela sela kesibukannya.
"oh ya?"
"iya.. waktu dia putuskan untuk tinggal sendiri , bibi sempat khawatir tidak akan ada yang memperhatikan pola makannya.. bibi sangat sayang sama dia.."
Nara tersenyum mendengar cerita Bi ija.
Azka hadir mencicipi beberapa menu yang sudah selesai Bi ija buat.
"kamu kangen kan sama masakan bibi.." tanya Bi ija lagi, Azka hanya tersenyum.
"lumayan.. tapi, sekarang ada yang masakin saya lebih enak dari masakan bibi.." kata Azka menggoda lalu melirik kearah Nara yang masih fokus mengiris beberapa sayuran.
"oh ya? siapa yang bisa mengalahkan masakan bibi?" Tanya Bi ija dengan Nada gurauan. Azka cuma tertawa kecil, dia memang cukup akrab dengannya.
Bi ija senang melihat Azka tumbuh dewasa dan menemukan kebahagiaannya, dia juga terkesan dengan kesederhanaan Nara.
Tak lama kemudian Ibu datang menghampiri,bergabung dengan keseruan yang ada didapur.
" kamu sudah bangun? tumben.." sapa Ibu pada Azka.
"sejak kapan kamu bantu bi ija?" tanya Ibu kearah Nara, Nara agak gugup dengan Ibu.
"sejak tadi, malahan non Nara bantu saya beres-beres di rumah.." jawab Bi ija, kenyataan itu lumayan membuat ibu terkesan.
"sudah, biar Bi Ija aja yang kerjakan semuanya.." kata Ibu.
"ya, saya juga suruh non Nara istirahat aja, tapi.. malah terus bantuin saya, tapi saya sangat terbantu.. makasih ya non.."
Nara hanya tersenyum.
"dia terbiasa bangun pagi dan beres-beres dirumah.." kata Azka membantu membuat Ibu terkesan lagi.
__ADS_1
***
Setelah sarapan mereka pulang.
"gue mau mampir ke cafe, masih banyak yang harus dikerjakan.." kata Nara, Azka tidak menggubris dan hanya mengantar Nara sampai ketempat tujuannya.
Nara sampai didepan cafenya dan disana sudah ada Lulu menunggu.
Azka pergi setelah berpamitan. Nara segera hampiri Lulu lalu mereka masuk kedalam cafenya.
"tunggu apa lagi, kita udah bisa buka besok kan ??" tanya Lulu.
"ya, kita mulai lagi besok.."
***
Nara sedang memasukan pakaian dan kebutuhan Azka kedalam koper, besok Azka dan team harus menjalani game lanjutan seri ke-4 di bandung.
"selesai.. mudah-mudahan gak ada yang terlewat.." kata Nara lalu menutup kopernya.
"sepertinya ..gue akan merindukan lo selama disana.." Goda Azka.
"kenapa belakangan ini lo bersikap manis begitu ??" tanya Nara, Azka menatapnya lekat.
"mau lo apa?" tanya Nara ,lalu dia membalas Azka dengan tatapan genit.
Ya, akhir-akhir ini Azka memang seperti lupa dengan perannya, sepertinya dia mulai terpikat dengan pesona Nara.
"udah selesai ya! gue balik ke kamar.." Kata Nara lalu hendak beranjak, tapi Azka yang masih duduk ditepi ranjang tiba-tiba menahan tangannya.
"mulai sekarang lo tidur disini!" kata Azka tegas
"inikan kamar milik lo.."
"mulai sekarang ini milik kita!" kata Azka lalu menarik Nara sampai Nara duduk diatas pangkuannya.
'secepat ini lo terpikat sama gue? apa benar gue seprecious ini?' batin Nara.
"sepertinya gue jatuh cinta sama lo!" kata Azka, saat ini mereka sangat dekat.
"oh ya? secepat ini?"
Kalau sudah begitu, gelap malam jadi tampak biru untuk mereka.
"entahlah.."
Azka sapa bibir manis Nara dengan ciuman hangatnya.
"apa lo sedang membual?" tanya Nara yang tidak percaya begitu saja dengan kata-kata Azka.
"apa gue kelihatan seperti membual?"
"Gue gak tahu.." Nara hendak pergi lagi tapi Azka menahannya lagi.
"jangan pergi.." tahan Azka.
__ADS_1
"jangan kasih gue kenangan manis lagi, gue gak akan bisa melupakannya..setelah semua ini selesai, lo mungkin saja bisa dapatkan Kalyla..tapi gue? gue gak akan bisa melupakan lo.." kata Nara sangat dalam, dia mencoba jujur dengan perasaannya.
Bersambung.