
Ibu sudah mengemasi barang-barangnya, dia sudah out dari rumah itu. Mereka akan mengarungi babak baru mereka tanpa rumah dan tanpa Yura.
Ibu dan Lulu sudah menandatangani kesepakatan di atas materai dan kini Yura benar-benar sudah resmi jadi anak angkat Lulu dan Yuki.
Setelah berhari-hari Yura sudah merasa lebih baik, dia sudah bisa duduk dan kepalanya sudah tak berat lagi. Tapi Kakinya masih akan dipasangi gips untuk beberapa pekan kedepan.
Alika datang menjenguk, dia merasa prihatin sekaligus bahagia saat ini. Prihatin dengan kondisi Yura dan bahagia dengan kehidupan baru yang Yura dapat.
"Kayaknya pihak sekolah belum ada yang tahu Yur! Ibumu cuma mengkonfirmasi kalau saat ini kamu cuma sakit demam!" cerita Alika.
"Ya, biarin aja! Jangan sampai orang-orang tahu yang sebenarnya! Biar Tuhan saja yang membalas perbuatan mereka!" sahut Yura pelan.
"Dan sekarang, kebahagiaan kamu sudah di depan mata! Selamat ya!" kata Alika lalu dia memeluk Yura dengan hangat dan Yura merasakan kehangatan itu.
Hm, Tiba-tiba ada yang datang membukakan pintu dan menggretak melepaskan pelukan hangat antara kedua sahabat itu, dan yang datang Keita dengan berbagai cemilan.
Alika langsung memicingkan matanya dan menaruh curiga pada Yura, Alika curiga kalau keduanya sudah resmi pacaran.
"Apa ada sesuatu yang gak aku ketahui?" bisik Alika.
"Apa? Gak ada kok!" sahut Yura malu-malu.
"Pesanan kamu!" kata Keita lalu meletakan satu box donat di atas pangkuan Yura, manis sekali.
"Waah, perhatian banget sih." goda Alika.
"Harus lah!" sahut Keita tegas membuat Yura tersipu terus menerus.
"Ya udah deh aku pulang kalau begitu!" pamit Alika.
"Kok cepet-cepet sih," tahan Yura.
"Aku gak mau mengganggu momen kebersamaan kalian! Ditinggu ya kabar baiknya, hihi!" goda Alika lalu dia benar-benar bersiap untuk pulang.
"Hati-hati ya!" pesan Keita yang diam-diam senang karena Alika sangat mengerti dengan keinginannya, tinggal mereka saja.
"Waaah, topingnya ...." kata Yura saat dia membuka box donat itu dan Keita senang melihat Yura senang karenanya.
"Habiskan ya! Oh iya, tante Lulu sama Om Yuki mana?" tanya Keita.
__ADS_1
"Mereka lagi ngurus beberapa berkas penting ke notaris, aku gak ngerti sih, tapi semoga keputusan ini adalah keputusan terbaik!" jawab Yura lalu dia berharap.
"Ini sudah pasti yang terbaik!"
"Kakak gak latihan?"
"Nanti sore! Kita udah sampai di semifinal! Satu langkah lagi menuju final!" jawab Keita penuh semangat.
"Selamat ya! Tropi juara semakin dekat dengan kalian!"
"Semoga! Kalau lo menyempatkan diri buat nonton di final nanti, gue akan bermain ekstra semangat!"
"Aku usahakan ya!"
"Sejak hari itu si Tania gak kembali ke sekolah!" kabari Keita dan Yura sangat yakin kalau Ibu dan Tania pasti sudah angkat kaki dari rumah. Yura sangat yakin kalau Rumah itu sudah resmi jatuh ke pihak Bank.
"Mungkin dia resign dari sekolah." sahut Yura.
"Jadi, apa dugaan orang-orang benar?"
"Maksud Kak kei?"
Sejenak Yura terdiam lalu dia menatap ke luar jendela, dia melihat betapa birunya langit siang itu. Sebenarnya dia tak ingin mengingat apapun yang terjadi malam itu, bagaimana Ibu menamparnya berkali-kali, bagaimana Tania melempar sepatunya tepat ke tubuhnya dan puncaknya dia tak ingat pasti, tapi saat itu yang terakhir Yura lihat adalah wajah Tania yang menatapnya dengan penuh kebencian.
"Tolong jangan tuntut mereka." ungkap Yura dan Keita kini semakin yakin dengan asumsi liar orang-orang.
"Heh, mereka hampir merenggut nyawa lo Yuraa!"
"Lupakan saja! Sekarang kan aku akan segera punya kehidupan baru! Aku sudah gak mau ingat apapun tentang mereka!"
"Jadi lo akan anggap ini semua clear?"
"Ya!"
"Heh, ayolah Yura! Pikirkan ini matang-matang! Mereka harus dapat balasan setimpal!"
"Please Kak, gimana pun juga mereka pernah jadi bagian dari kehidupanku! Biar Tuhan saja yang membalas perbuatan mereka!"
Keita tatap lagi Yura dan dia melihat ketulusan dari sorot matanya, Yura ingin memaafkan walaupun ada sedikit dendam yang tergambar di raut mukanya. Tapi ketulusannya menutup rasa dendamnya itu.
__ADS_1
Tak lama Lulu datang, dia datang sendiri tanpa ditemani Yuki. Keita langsung memberi salam pada Lulu yang tampak bahagia setelah Yura memutuskan untuk ikut pulang dengannya.
"Eh, ada Keita, udah lama?" sapa Lulu.
"Baru kok Tante,"
"Dokter bilang kamu cuma perlu menghabiskan cairan infus dari labu yang terakhir ini, kita akan segera pulang!" kata Lulu antusias, Yura juga senang karena dia akan segera pergi dari rumah sakit.
"Waah, baguslah!" sambut Keita.
"Sambil nunggu Ayah kamu pulang ya," kata Lulu excited, mendengar nama Ayah Yura sampai berdecak dan apa yang Lulu maksud itu adalah Yuki?
"Ayah?" tanya Yura terheran.
"Iya, jadi mulai sekarang kamu harus mulai membiasakan diri yaa, panggil saya Ibu dan panggil suami saya Ayah, bisa?"
Yura tersenyum mendengarnya, suasana hatinya langsung berbunga-bunga begitu mendengar pernyataan Lulu, dia sangat terharu dan Keita juga ikut merasakan energi positif yang Yura rasakan saat ini.
"Terserah kamu deh, mau panggil kami Ayah Ibu, atau Mami Papi, apapun asal kamu bahagia!" kata Lulu lagi dan Yura sampai speechless untuk menanggapinya.
"Hm, saya pamit dulu Tente." kata Keita yang bersiap untuk undur diri, dia ingin membiarkan Yura menikmati momen-momen bersama Ibu angkatnya.
"Makasih ya udah nemenin Yura," ucap Lulu ramah sekali.
"Iya sama-sama Tante! Yur, gue cabut ya, bye!" kata Keita lalu setelah berpamitan pada keduanya Keita berlalu meninggalkan kedua perempuan yang sedang mencoba membangun bonding sebagai Ibu dan anak walau Yura masih agak malu-malu dan ragu, karena hal baru ini sungguh tak pernah Yura bayangkan sebelumnya.
"Keita baik ya, bahkan dia membawakan kamu donat." goda Lulu lalu mendekat dan duduk di sisi kiri Yura.
"I, iya ... m, ayo kita makan sama-sama ... Bu." kata Yura lalu dia memulai untuk memanggil Lulu dengan sebutan itu dan Lulu sangat senang mendengarnya.
"Iya sayang! M, mungkin semua ini berlangsung begitu cepat tapi saya harap kamu akan segera merasakan kenyamanan ada di antara kami," ungkap Lulu lalu dia belai rambut Yura dengan lembut.
Yura rasakan sentuhan itu, belaian yang sudah lama sekali tak dia rasakan. Hanya mendiang Ayah yang sering melakukannya dulu dan kini, setelah sekian lama dia rasakan lagi kasih sayang yang nyaris sama.
"Semoga saya bisa banyak membantu ... Ibu dan ... Ayah nantinya!" kata Yura dan memang, setiap kali dia mengucap sebutan 'Ibu dan Ayah', dia tampak canggung dan malu-malu tapi sungguh, itu adalah hal sederhana yang membuat Lulu sangat bahagia saat ini.
Mereka sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk saling melengkapi, Yura butuh kasih sayang Lulu dan Lulu juga butuh kehangatan dari seorang anak.
Bagaimana kehidupan baru Yura setelah resmi menjadi anak angkat Lulu dan Yuki?
__ADS_1