Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Kebanggan Azka


__ADS_3

Sepanjang menjalani pekerjaannya hari ini, Yura terus memikirkan kata-kata Yuki dan Lulu. Yura merasa kalau arah obrolan mereka mengarah ke rencana untuk menariknya sebagai anak walau tadi mereka gak sempat mengungkapkannya secara gamblang.


Yura bisa saja tadi dia berkata jujur tentang sikap Ibu dan Tania selama ini, tapi hatinya tak mau mengungkapkan kejujuran itu karena dia tahu sesuatu yang buruk pasti akan terjadi setelahnya, ditambah lagi tinggal menunggu hari sampai rumahnya disita, Yura merasa sangat keterluan kalau dia pergi meninggalkan Ibu dan Tania begitu saja.


'Aaah, kenapa kepikiran terus sih? Om Yuki sama tante Lulu emang baik banget! Pasti aku akan jadi anak paling bahagia kalau aku ikut mereka, tapi mana mungkin? Mana mungkin aku tinggalkan Ibu sama Tania dalam keadaan seperti ini? Huh, Ayah juga pasti akan marah dan kecewa sama aku!' batinnya sepanjang dia mengayuh sepeda sepulang mengantar beberapa orderan online pelanggan.


CKTTT, sampai hampir saja sebuah mobil menghantamnya di sebuah pertigaan, Yura memang terlalu banyak melamun sampai dia lupa tengak tengok kanan kiri.


HUH HUH HUH


Detak jantungnya berdetak kencang tak karuan, nafasnya tersengal dan mungkin saja kalau si mpunya mobil terlambat sepersekian detik saja mungkin Yura sudah kritis atau bahkan tamat saat ini.


"Lihat lihat woy!" omeli si pemilik mobil, Yura juga yakin kalau dia sangat shock saat ini.


TIDIIIT ... TIDIIIT


Tak terasa sampai peristiwa itu menyebabkan kemacetan, Yura pun menepi ke pinggir jalan dan menangisi nasibnya yang hampir saja kena tabrak sebuah mobil, dia shock sampai menangis dan orang-orang baik di sekitar memberi Yura sebotol minuman agar Yura merasa lebih baik.

__ADS_1


"Hati-hati lho neng," kata seseorang, dan Yura mengangguk pelan tapi dia masih terisak karena merasa cukup trauma untuk meneruskan kembali perjalanan dan jujur saja setelah kejadian tadi perasaannya malah jadi resah tak menentu.


Yura merasa akan ada sesuatu yang besar terjadi setelah ini, dia tak kuasa menahan firasat buruknya ini.


Tapi Yura bukan tipe orang yang suka berlarut-larut, dia segera kembali ke cafe dan tak menceritakan apapun pada senior-seniornya.


"Yura, tapi Kakak pikir kamu itu bakalan diangkat anak lho sama mbak Lulu!" kata Danty memulai obrolan saat keduanya hanya santai karena cafe cukup lengang hari ini.


"Mungkin Kak, tapi aku gak enak. Kalau Ibu sampai tahu rencana ini, pasti dia bakalan marah besar, ditambah lagi ....", hampir saja Yura menyatakan masalah terbesarnya saat ini.


"Ditambah lagi, apa?" tanya Danty.


"Nggak sih kak, ya ... pokoknya Ibu pasti kecewa, aku gak mau nanti urusannya pasti akan jadi rumit dan panjang!" sahut Yura.


"Padahal Mbak Lulu sama Mas Yuki itu baik banget lho, kasihan mereka karena gak kunjung diberi momongan, makanya dia niat banget angkat kamu jadi anak! Kamu memang anak yang baik, gak heran banyak orang yang terkesan sama kebaikan kamu!"


Yura hanya tersenyum, dia merasa kalau dia hanya menjalankan pesan-pesan mendiang Ayahnya. Yura tak pernah berpikir untuk membalas perlakuan jahat siapapun karena setiap nasihat yang sang Ayah ucapkan selalu melekat dalam benaknya.

__ADS_1


Suasana lain di venue, Azka merasakan kembali atmosfere saat dia masih menjadi bagian dari Sunrise belasan tahun yang lalu. Dia tak sabar ingin menyaksikan anaknya bermain di lapangan yang sama, dia duduk bersama Nara, Lulu dan juga Yuki di antara para murid sekolah dari kedua tim yang akan berlaga sore ini.


"Kamu merasakan atmosfernya?" tanya Nara pada Azka.


"Berasa 20 tahun lebih muda, dan ternyata sensasi menonton di antara supporter seperti ini beda sekali yaaa," sahut Azka menikmati.


Dan seluruh pemain dari kedua team mulai memasuki Arena, Arkan belum menyadari kehadiran sang Papa, dia memang selalu berusaha konsentrasi jelang pertandingan dimulai tapi Keita malah melihatnya lebih dulu.


"Om Azka, Ar! Lihat di tribun! Bokap lo tuh!" kata Keita menyadarkan Arkan, seketika Arkan menyisir area tribun dan dengan mudah dia temukan letak duduk kedua orangtuanya, dia surprised sekali. Dia sampai speechless saat pria yang menjadi panutannya selama ini duduk dan melambaikan tangan ke arahnya.


"Papa!" kata Arkan penuh rona bahagia.


"Berarti harus lebih onfire lagi ya!" semangati Keita lalu dia tepuk pundak sahabatnya itu untuk memotivasi.


Azka memberikan standing applause buat putra kesayangannya tanda dia sangat bangga pada Arkan saat ini. Arkan manggut-manggut dari kejauhan, dia sepertinya berjanji kalau hari ini dia akan bermain total di hadapan Papanya.


"Lihat, potocopy Azka banget gak sih?" goda Lulu, dan Azka hanya tersenyum bangga.

__ADS_1


"Banget banget!" sahut Nara tak kalah bangga.


Ya, Arkan adalah kebanggaan Azka, dia benar-benar merasa sangat lengkap dan beruntung telah dikaruniai anak lelaki seperti Arkan.


__ADS_2