
Yura menghampiri Arkan yang menunggu di bench di bengkel itu.
"Hai, kak ..." sapanya malu-malu.
"Sepedanya lagi dibenerin!" sahut Arkan lalu dia kembali fokus dengan gawainya, sejak tadi Arkan memang sedang asyik main game di hapenya dan sesaat saat Yura datang dia stuck untuk beberapa detik, mungkin Yura cukup pangling dengan penampilannya sekarang.
Yura duduk di samping Arkan.
"Tapi sepedanya bisa beres hari ini juga kan?" tanya Yura harap-harap cemas, dia takut dia tak bisa membawa sepedanya hari ini juga.
"Pak amir, masalahnya serius gak?" tanya Arkan agak berseru.
"Gak kok, 10 menit lagi beres! Cuma benerin stangnya doang!" sahut pak Amir sang pemilik bengkel.
"Ah, syukurlah ...." gumam Yura.
Kembali mereka menunggu, Yura diam-diam sedang membayangkan nanti saat dia bisa mendapat pekerjaan paruh waktu. Dia bisa mendapat uang jajan lebih dan hidupnya gak akan nelangsa lagi.
"Nyokap lo emang se-galak itu ya?" tanya Arkan memulai topik pembicaraan baru, dia simpan gawainya dalam saku hoodinya.
"M, sebenarnya dia itu Ibu sambungku," sahut Yura.
"Oh, pantesan!"
"Maaf ya tadi dia menuduh yang nggak-nggak sama kak Arkan," ucap Yura malu-malu, jujur saja Yura merasa malu karena tadi Ibu memberi kesan pertama yang sangat buruk di depan Arkan.
"Gue sih gak masalah, tapi dia sama sekali gak panik saat tahu tadi pagi lo jatoh dari sepeda, dia malah ngomel-ngomel heboh sama lo kan?"
Yura mengangguk pelan, dan akhirnya Arkan tahu betapa malang dan beratnya hidup yang Yura jalani selama ini.
"Orangtua kandung lo kemana?" Arkan memulai obrolan lagi.
"Mereka sudah gak ada," jawab Yura pelan sekali, hal itu mungkin cukup sensitif dan Yura selalu terkenang kalau sudah membahas tentang orangtuanya. Arkan berdecak, dia tahu fakta lainnya dan dia cukup bersimpati dengan nasib yang Yura alami. Arkan menoleh ke sisi kirinya dan mendapati seorang gadis malang menunduk lesu di sampingnya.
__ADS_1
"Oh, sorry ...."
"Tapi kadang Ibuku itu baik kok, cuma dia memang sedikit cerewet!" sangkal Yura, dia tak mau orang-orang menganggap Ibu tirinya sebagai orang yang buruk. Ya, Yura memang gadis berhati emas, dia selalu berusaha untuk tidak mengeluh dengan segala kesedihannya.
Yura sadar betul, jika dia mengadukan perlakuan Ibu tirinya itu, dia akan mendapat masalah rumit. Yura tak ingin mencari-cari masalah dan dia lebih suka menikmati setiap momen dalam hidupnya.
Sepertinya sudah selesai diperbaiki, Arkan cek sekali lagi dan benar saja sepeda Yura sudah kembali ke semula, sudah siap untuk Yura gunakan lagi. Dan setelah Arkan membayar biaya bengkelnya, dia membantu Yura memapah sepedanya. Potret mereka saat ini manis sekali, berjalan di jalanan komplek sambil menuntun sepeda dan Yura berjalan di belakangnya.
"Makasih banyak ya Kak," ucap Yura.
"Ya, gue juga minta maaf ya, harusnya tadi gue lebih hati-hati!" sahut Arkan, Yura menatap punggung seorang anak lelaki pujaan gadis-gadis di sekolahnya. Ternyata Arkan tak seangkuh yang orang-orang pikir. Mungkin Arkan merasa terganggu dengan sikap dan kelakuan siswi-siswi di sekolah makanya dia sering memberikan respon negatif terhadap mereka.
'Ternyata Kak Arkan tuh baik, gak seburuk yang orang-orang pikir!' batinnya sambil senyum-senyum sendiri.
Setelah sampai di depan gerbang rumah Arkan, Yura sempat heran karena Arkan tak berhenti dan malah terus berjalan.
"Lho, gak apa-apa kak, aku pulang sendiri aja." kata Yura, Arkan menoleh ....
"Maaf ya, merepotkan Kak Arkan seharian ini,"
"Sejak kecil gue diajari buat bertanggung jawab atas semua tindakan yang gue lakukan!"
"Wah," Yura kagum dengan aturan yang keluarga Arkan terapkan dan Yura memang merasakan dengan nyata pertanggung jawaban Arkan hari ini.
Tidiiiit ...
Ada suara klakson berbunyi menghentikan langkah Arkan dan Yura, ternyata itu Keita yang juga ikut berhenti menepi di dekat Arkan dan Yura. Mata Keita langsung tertuju pada Yura yang makin nervous berada di dekat dua cowok populer di sekolahnya.
"Hmm, apa ada sesuatu yang gak gue ketahui?" tanya Keita dengan nada menggoda.
"Apaan sih!" sahut Arkan ketus.
"Gue tunggu di rumah lo aja ya," kata Keita lalu dia memutar arah sepeda motornya.
__ADS_1
"Ya, gue antar dia sebentar!" setujui Arkan.
"Jangan lama-lama! Jangan ngapel dulu ya!" goda Keita lagi lalu dia melaju lagi masuk ke dalam gerbang rumah Arkan yang baru terlewat sekitar 3 rumah saja dari tempat Yura dan Arkan berjalan saat ini.
Mereka pun melanjutkan langkah mereka sampai beberapa menit kemudian sudah sampai di depan rumah Yura, Arkan berikan sepedanya pada Yura.
"Tugas gue selesai ya!" kata Arkan.
"Iya, terima kasih banyak Kak,"
"Gue pamit, sana lo cepet masuk!" kata Arkan dan sepertinya dia menunggu Yura untuk benar-benar masuk ke dalam rumahnya, Arkan ingin memastikan Yura selamat sampai di dalam rumah.
Yura pun mulai memasuki gerbangnya dan menyimpan sepedanya di depan teras rumah, dia lambaikan tangannya pada Arkan dan setelah setelah itu Arkan benar-benar berlalu dari depan rumah Yura.
"Bener-bener lo ya!", saat Arkan pergi Tania datang dari dalam rumah, sepertinya dia sengaja mengintai dari dalam rumah. Tania tak ingin siapapun tahu kalau dia adalah saudara tiri Yura.
Yura mengabaikan Tania, dia sedang memastikan sepedanya sudah bisa dia pakai lagi di esok hari.
"Hey Yura! Genit amat sih lo ini, gimana bisa Arkan bisa menaruh simpati sama lo! Lo pasti ngemis-ngemis kan minta dibantuin sama dia?", Tania melancarkan lagi omelannya, Ibu maupun Tania memang sama-sama suka mengomel dan Yura sudah terbiasa dengan hal itu.
"Apa sih Kak,"
"Apa sih, apa sih! Coba jelaskan bagaimana lo bisa menarik perhatian seorang Arkana putra Azka! Gue tuh gak ngerti, gue gak habis pikir! Ini semua gak rasional tahu gak?" ujar Tania, kata-katanya mengalir begitu saja dari dalam mulutnya macam penyanyi rapper.
"Cuma kebeltulan aja kok kak," sahut Yura ringan.
"Gak mungkin! Gak mungkin! Pasti lo modus banget kan tadi, atau jangan-jangan lo sengaja menabrakn sepeda lo ini ke sepeda motornya Arkan, iya kan? dugaan gue bener kan?"
"Gak!" jawab Yura tegas, lugas dan singkat lalu dia beranjak meninggalkan Tania yang masih sibuk mengomel, Yura jengah mendengar suara cempreng Kakak tirinya itu annoying sekali memang.
"Han Yura! Kagak ada akhlak banget sih lo, gue lagi ngomong lo malah melengos gitu aja! Awas ya!" rutuki Tania lalu dia ikuti langkah Yura.
Ya memang begitulah, itu bukan hal baru yang bisa membuat Yura sakit hati, dia sudah terbiasa dan dia tak pernah ambil pusing.
__ADS_1