
"Ada tambahan order Yur, 12 toples varian bebas, mintanya 3 varian jadi masing-masing 4 toples!" kata Alika penuh semangat, Yura lebih semangat lagi. Belakangan orderan masuk banyak sekali, dan dengan begitu rezeki untuk Chiyo juga semakin intens dan banyak. Yura senang sekali.
"Ashiyaaap!" sambutnya penuh canda tawa. Alika juga turut senang melihat tawa dan semangat sahabat terbaiknya itu.
"Rezeki Chiyo nih, dua hari ini ada 79 order! Luar biasa!" kata Yura sembari dia fokuskan dirinya untuk menakar setiap bahan yang akan dia olah.
"Rezeki Chiyo melalui kamu! Bangga banget punya teman sebaik kamu Yur!" kata Alika yang tak lepas menatap Yura sejak tadi, tampak jelas kalau Alika sangat salut dan bangga pada sahabatnya itu.
"Heum, niat baik pasti akan dilancarkan! Entahkah Al, setiap lihat Chiyo, hatiku bener-bener sakit tapi kemudian aku semangat buat kumpulin uang yang banyak! Dia harus kuat, dia harus bertahan!" kata Yura, Alika makin bangga saja. Dia peluk Yura yang sedang sibuk menguleni adonan. Yura tersenyum.
"Aaaah, so proud of you!" kata Alika yang masih menggantungkan tangannya di pundak Yura.
"Kamu juga! Kamu juga membantu Chiyo secara tidak langsung!" kata Yura.
"Ini terlalu gak adil buatmu Yur! Kenapa si Dara masih bisa tertawa puas sekarang, seharusnya dia udah hancur tahu gak???" ucap Alika kesal.
"Dia akan segera dapat balasannya, secepatnya!"
"Iya sih, tapi aku bersyukur banget karena sekarang bukan cuma aku yang tahu! Mama-nya Kak Arkan, Kak Arkan, mereka tahu kalau ini cuma rekayasa!"
"Iya!"
Alika lepaskan pelukannya, dia tatap Yura sekali lagi.
"Semangat!"
"Oke, lanjut semangat!"
Setelah hampir setengah hari sibuk membuat kookies, Yura baringkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidurnya. Dia sedang membayangkan kalau Chiyo akan segera sembuh dan kelak ia akan menjadi teman kecil Yura.
"Chiyooo ...." gumamnya, dia ingat tawanya, matanya dan wajahnya yang pucat. Sakit memang, tapi Yura yakin kalau ia akan segera sembuh.
KRIIIING, ponselnya berbunyi. Yes, Yuki yang menelphone. Yura senang bukan main, dia sudah sangat merindukan Ayah angkatnya itu.
"Ayaah ...." sapanya.
"Yura, sudah makan?"
Yura tertawa kecil, itulah yang selalu Yuki tanyakan setiap ia menelphone Yura. Tapi, pertanyaan sederhana itu adalah simbol dari rasa kasih sayang Yuki terhadapnya.
"Udah Yah! Ayah baik-baik saja kan disana?"
"Baik! Jangan terlalu sibuk ya, kamu harus makan teratur! Ayah tak bisa menjagamu dari dekat, kamu harus menjaga dirimu sendiri dengan baik!"
"Iya Ayah, Ayah juga!"
"Sekarang, masalah itu sudah mereda kan?"
"Iya, sudah Yah, Kak Arkan sudah tahu!"
"Syukurlah! Jangan lawan orang seperti Dara, biarkan waktu saja yang mengungkap kebenarannya! Ayah sangat mengkhawatirkanmu!"
"Gak apa-apa kok! Aku yakin ini akan segera berakhir!"
"Ya! Ah iya, Ayah sudah kirim uang bulanan untukmu!"
"Iya, makasih banyak yah!"
"Jangan terlalu sibuk bekerja!"
"Iya Ayah!"
"Ya sudah, ini sudah larut kan disana? Tidurlah!"
__ADS_1
Satu lagi malaikat pelindung yang Yura miliki, tak ada ketakutan dan kekhawatiran setiap Yuki menghubunginya. Walau jauh, sayap-sayap Yuki selalu terasa memeluk Yura.
Yura cek akun tabungannya, ya! Sudah ada sejumlah uang masuk dari Yuki. Yura senang karena dia bisa memberikan sebagian besarnya untuk Chiyo. Saat ini Yura memang tak fokus dengan apapun. Dia hanya fokus dengan usaha kookiesnya dan pada Chiyo saja.
***
Yura heran, dia mengantarkan satu box kookies ke alamat yang ternyata itu adalah alamat markas sekaligus mess Sunrise. Yura langsung curiga kalau yang memesan adalah Arkan. Yura jadi malu sendiri, tapi dia juga terharu, setidaknya Arkan mendukung usahanya.
Yura segera hubungi Arkan berharap Arkan sedang santai dengan begitu dia bisa bertanya langsung padanya. Dan kebetulan sekali, Arkan memang baru saja selesai menjalani latihan. Dia baru sampai di loker room dan ponselnya yang dia letakan di dalam loker bergetar.
Arkan segera mengangkatnya.
"Kak Arkan yang pesan? Tapi kemarin yang hubungi aku bukan nomor Kak Arkan deh!" begitu teleponnya tersambung, Yura langsung mengajukan pertanyaan.
"Heum, yang pesan Bang Rado!" jawabnya sembari membereskan tasnya.
"Oh, ya udah aku titip kuenya di pos satpam aja ya!" kata Yura.
"Jangan!"
Yura heran, apa maksudnya jangan? Apa Arkan ingin menerimanya secara langsung agar bisa bertatap muka dengan Yura?
"Terus?"
"Gue kesana sekarang! Lo udah di depan kan?"
"Iya, aku tepat di depan gerbang!"
"Ya udah, gue kesana sekarang!" putuskan Arkan. Dia bergegas dan memasukan ponselnya juga ke dalam tasnya.
"Cieee, semangat banget kayaknya nih!" goda Rado, Arkan tak menggubris, wajahnya memerah karena malu. Dia berlalu begitu saja tak peduli walau beberapa rekannya tampak curiga dengan gelagatnya.
Yura menunggu di bawah terik. Dia juga sebenarnya deg-degan. Setelah beberapa lama Arkan bersikap dingin dan sinis padanya, kini Arkan malah kembali bersikap manis.
CKKT, decit suara gerbang terbuka membuyarkan lamunan Yura. Dan ya, aaah anak lelaki jangkung itu. Arkan memakai jersey resmi Sunrise, dia terlihat sangat tampan. Apalagi tubuhnya yang berkeringat malah menambah keseksiannya dan itu sangat mengganggu konsentrasi Yura.
"Udah lama nunggunya?" sapa Arkan, semakin mendekat, pesonanya semakin Yura rasakan. Ya, harus Yura akui kalau Arkan masih saja membuatnya oleng dari perahunya bersama Keita dan saat ini Yura sedang sendirian dalam perahu itu, tak ada yang bisa mengimbanginya.
"Gak kok! M, ini isinya 10 ya, pembayarannya juga sudah selesai! Makasih!" kata Yura lalu dia serahkan box itu dan gesturnya sangat kaku dan canggung.
"Gak diantar kurir?" tanya Arkan yang sudah menerima pesanannya.
"Gak, aku kan nganggur, dari pada bayar kurir, mending aku antar sendiri kan?"
"Heum, strategi bisnis ya?" goda Arkan.
"Penghematan! Hehe!" Mereka mulai bercanda-canda lagi. Dan Arkan merasakan getaran itu lagi. Getaran yang juga sangat mengganggu pendiriannya selama ini.
"M, temani gue makan siang, bisa?" pinta Arkan, Yura terdiam sejenak. Mulai lagi deh, pikirnya.
"Kak Arkan kan harus makan di mess?"
"Sekali-kali boleh makan di luar! Tunggu ya! Gue titip ini dulu ke Pak Satpam!"
Yura tak bisa menolak. Saat-saat bersama Arkan selalu mengusik kembali kejadian biru malam itu di kamarnya. Yura juga selalu merasa bersalah pada Keita setiap dia ingat hal itu tapi saat ini dirinya free, sedang tak terikat hubungan apapun dengan siapapun.
Dan sial memang, momennya selalu kebetulan. Di saat Arkan mengambil alih sepeda motor Yura dan Yura duduk di belakangnya, secara kebetulan Keita baru saja melintas dan menyaksikan momen manis itu dengan mata kepalanya sendiri. Keita kehilangan konsentrasi. Maksud hati hanya lewat, tapi petir dan guntur semakin bergemuruh di dalam hatinya. Dia sangat tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya, Han Yura.
'Aku semakin gak ngerti sama kamu Yura! Ada apa denganmu???' batinnya kesal, dan beberapa kali dia bantingkan kepalan tangannya di setir mobilnya. Keita semakin marah dan kecewa sebelum dia mendapatkan penjelasan apa-apa dari Yura.
Pria tinggi seperti Arkan mengendarai skuter matik milik Yura dan itu sangat menggemaskan. Yura hanya tertawa geli di belakang punggungnya.
"Kenapa ketawa, huh?" tanya Arkan kekik.
__ADS_1
"Kak Arkan naik skuter matik-ku tuh kayak jongkok, iya gak sih? hihi!" Yura masih asyik tertawa.
"Heum, puas-puasin lah ketawa nya!" kata Arkan Kekik dan momen manis dan sederhana itu membuat Yura tertawa lepas, Arkan bisa melihatnya lewat kaca spionnya. Dia terpukau, tak bisa ditahan lagi, tak bisa dibendung lagi, Arkana benar-benar sudah jatuh cinta dengan Han Yura.
'Yura, gue tahu lo adalah orang baik! Sorry gue sempat meragukannya, tapi sekarang gue yakin kalau lo emang layak untuk diperjuangkan!' batinnya.
Mereka sampai di sebuah cafe tak jauh dari markas besar Sunrise. Arkan memarkir sepeda motornya dan mereka masuk bersama-sama dan duduk bersama-sama pula di pojok cafe.
"Lo harus cepat bicarakan ini sama si Kei!" kata Arkan memulai obrolan santai mereka.
"Iya sih, tapi aku gak tahu harus mulai dari mana! Pasti, dia gak akan percaya begitu saja!" sahut Yura.
"Ya dia harus dengar semuanya dari lo langsung! Walau mungkin kalian gak bisa sama-sama lagi, setidaknya si Kei gak berburuk sangka lagi sama lo!"
"Iya itu benar!"
"Si Dara emang sakit jiwa! Gue aja sampai percaya dalam cerita yang dia karang! Sialan!" gerutu Arkan.
"Kalau pun nanti dia berhasil dapatkan hati Kak Keita, aku khawatir, karena aku rasa yang Kak Dara rasain tuh bukan cinta, bukan kasih sayang, tapi cuma obsesi!"
"Tenang aja, si Kei gak mungkin sampai jatuh cinta sama dia! Perilaku anehnya ini sebenarnya udah dimulai sejak SMA dulu! Tapi, sialnya ... gue tetap aja terjebak di dalamnya!"
"Huh, semoga aku bisa menjelaskan semuanya di saat yang tepat!"
"Biar gue atur pertemuan kalian, mau?" tawarkan Arkan, Yura pikir Arkan memang bisa jadi perantara yang baik walau sebenarnya Arkan juga kadang menjadi duri dalam hubungannya bersama Keita.
"Tapi, Kak Arkan kan sibuk ...."
"Nanti gue bisa atur waktunya!"
"Benarkah? Aku gak ngerepotin kan?"
"Gak lah, santai aja! Lagian, gue juga kan butuh kepastian!" ungkap Arkan, mulai membuat situasi canggung lagi.
"Ke-kepastian? kepastian apa?"
"Kalian lanjut atau nggak? Kalau lanjut, ya bagus, itu tandanya kalian jodoh!" jelaskan Arkan lalu dia seperti pasrah dengan takdir.
"Kalau gak lanjut?" tanya Yura sedikit memancing. Arkan diam untuk beberapa saat lalu menatap Yura dengan tatapan yang teramat dalam.
"Tunggu sampai karir gue moncer ya!" kata Arkan menjadi sebuah teka-teki besar di benak Yura.
'Tunggu? Apa maksudnya? Menunggu untuk apa?' batin Yura dan kembali, dia jadi salah tingkah.
"Lo tahu Yura? Sekarang ini, Alana sedang menunggu kepastian dari gue! Dan gue ... gue sedang menunggu kepastian dari lo!" ungkap Arkan. Lagi-lagi membuat Yura dalam posisi yang sulit. Yura tak tahu dia senang atau merasa bersalah kembali pada Keita. Ketidak tetapan hatinya membuatnya seperti buih yang terombang-ambing di lautan. Yura masih kadang bingung akan berlabuh ke dermaga yang mana, hati Keita kah? Atau hati Arkan kah? Ya, karena bagaimana pun, Yura tetaplah hanya gadis biasa yang masih sering menduakan perasaannya.
'Huh, mulai lagi deh Kak Arkan!' batinnya kesal.
"Yur, seandainya Keita gak pernah jadi pacar lo, lo mau kan terima gue sebagai pasangan lo?"
"Iiih Kak Arkan apaan sih, nanyanya aneh-aneh aja!" Yura mencoba mengalihkan pandangan dan perhatiannya, dia tak ingin melakukan kontak mata apapun dengan Arkan. Tapi Arkan terus mencoba menangkap sorot matanya.
"Jangan pura-pura lupa Yura! Lo tahu kan kalau gue suka sama lo sejak lama!"
"Jangan bahas ini lagi!"
"Heh, kenapa gue harus suka sama lo!" gerutu Arkan, Arkan akui kalau menyukai Yura adalah salah satu hal sulit untuknya karena ada satu hati yang harus dia jaga, yakni hati sahabatnya sendiri.
"Setelah ini, sebaiknya kita fokus dengan pekerjaan kita masing-masing, kita masih sangat muda! Jalan kita masih panjang!"
'Damn! I love you Han Yura!' batin Arkan kesal.
Dan obrolan itu tak bisa enyah dari benak Yura sampai malam harinya. Sudah larut dan lagi-lagi Yura terserang insomnia. Apa yang terjadi di hidupnya belakangan ini sungguh sangat menyita pikirannya.
__ADS_1
'Huh Kak Arkan, bagaimana bisa kamu jatuh cinta sama aku? Gadis cantik nan sempurna tengah menunggumu dengan sabar selama bertahun-tahun! Kenapa kamu masih saja menyimpan perasaan itu. Apa kamu benar-benar suka? Atau cuma sekedar nafsu?' pikir Yura, hal itu sangat menganggu sampai ia tak kunjung terlelap padahal jam sudah menunjukan pukul 01.39 dini hari.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta yang cukup rumit ini? Bisakah Arkan mendapatkan hati dan cinta Yura tanpa pertentangan apapun? Atau, dia harus mengorbankan jalinan persahabatannya dengan Keita?