Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
DEMI CHIYO part.2


__ADS_3

"Ini! Ambil lah!"


Zahran mengangkat wajahnya, dan ada sejumlah uang tiba-tiba tersaji tepat di depan matanya. Bukan Dara yang yang memberikannya, tapi Yura.


Zahran tak mengerti kenapa Yura memberi uang itu.


"Tebus obatnya!" tambah Yura lalu semakin mendekatkan uang itu ke arah Zahran. Zahran kelihatan sangat malu. Karena bukan Dara yang kini menolongnya, tapi malah orang yang dia dzolimi yang kini menyodorkan bantuan yang nyata untuk adiknya.


"Bukannya lo mau pulang?" tanya Zahran dan dia belum menerima uang itu, dia kelihatan sangat malu terhadap Yura.


"Cepat tebus obatnya! Semoga uang ini cukup dan bisa menjamin kesembuhan Chiyo!" kata Yura.


Zahran bahkan malah menangis, dia menyesal karena dia tak bisa menjadi Kakak yang baik untuk Chiyo, dan malah Yura yang memberinya bantuan berarti seperti ini.


"Kenapa lo lakukan ini Han Yura!" gumamnya, Zahran benar-benar menangis karena malu sekaligus terharu dengan Yura.


"Kalau aku bisa bantu, kenapa aku diam saja? Ini gak seberapa, mungkin hanya cukup untuk menebus obatnya saja! Ambil lah! Jangan cengeng! Kamu semakin jelek cengeng begini!" kata Yura lalu sedikit bergurau berharap situasi kembali mencair.


Zahran menerima uangnya. Sebenarnya dia malu tapi saat ini tak ada lagi yang bisa ia andalkan. Bahkan Dara terasa sangat mempermainkannya.


"Semoga kamu sadar, kalau yang kamu lakukan ini salah, apapun alasannya!" kata Yura.


Zahran diam, dia seperti terbungkam. Dia tak mampu berkata-kata dengan semua kebaikan dan pengorbanan yang Yura berikan padanya.


"Semoga aku mendapat keadilan! Gak apa-apa kalau Kak Keita gak bisa menerima aku lagi sebagai pacarnya, tapi setidaknya, dia tahu kalau aku selama ini gak pernah mengkhianati dia!" lanjut Yura berharap Zahran mendengar dan mengerti.


Zahran tetap diam, mungkin dia sedang mempertimbangkan semuanya.


"Aku pulang ya, tolong sampaikan salamku buat Chiyo!" kata Yura lalu dia juga memutar langkahnya untuk benar-benar pulang dari Rumah sakit yang dingin itu.


Zahran masih terdiam, dia saksikan langkah Yura yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya lalu kemudian ia pandangi sejumlah uang yang Yura berikan tadi. Jumlahnya cukup banyak, sepertinya cukup untuk menebus obat.


Apakah Zahran akan tetap menuruti Dara? Atau ia akan mulai mempertimbangkan keadilan untuk Yura?


***


"What? Kamu kasih tabungan sama sebagian uang modal kamu buat si Zahran?" hentak Alika saat Yura bercerita tentang kejadian semalam di Rumah sakit.


Ya, uang yang Yura berikan semalam adalah uang tabungan dari hasil penjualan kookiesnya selama ini bahkan Yura mengambil sebagian uang modalnya, uang modal yang Yuki berikan sebelum dia pergi ke Australia.


"Iya," sahut Yura santai.


"Oh my God! Hatimu ini terbuat dari apa sih Yuraaa? Kenapa ada orang sebaik kamu?"


"Aku gak tahan lihat keadaan adiknya! Mereka yatim piatu Al, sama kayak aku!" dalih Yura.


"Iya tapi kamu harus ingat, siapa si Zahran? Dia itu orang yang sudah membuat hubungan kamu sama Keita hancur berantakan! Dia udah memanfaatkan kelicikan si Dara buat dapat uang Yur? Astaga, dimana nalarmu Han Yuraaa!" kata Alika, dia kelihatan gemas sekali dengan sikap murah hati Yura.


"Aku yakin dia akan bantu aku buat mengungkapkan ini semua, nanti! Pasti, suatu hari!"


"Kapan? Kalau Keita udah benar-benar benci sama kamu?" tanya Alika kekik. Yura diam.


"Yura, orang macam si Zahran itu gak punya rasa simpati sedikit pun! Dia akan melakukan apa saja demi mendapat uang! Dia pasti akan tetap ada di pihak si Dara karena dia masih belum mendapatkan uangnya!"


"Semoga dia masih punya sisi baik dalam dirinya!" harap Yura.


"Aduduh Yura! Gak semua orang bisa kamu percaya, nah sekarang? Banyak pesanan masuk, modalnya mana? Huh? Heran deh aku, karena terlalu baik, kamu jadi tampak sangat bodoh Yur!"


Yura tersenyum, Yura sendiri tak mengerti dengan perasaannya. Tapi, dia merasa sangat senang telah membantu Chiyo, walau tak seberapa.


"Masih ada bahan kok, kita bisa optimalkan bahan yang ada!"


"Entahlah, aku gak ngerti sama kamu Yur!"


"Nanti Ayah Yuki juga pasti kirim uang lagi, kita bisa pakai itu buat modal awal lagi!"


Alika sudah tak mau menyimak Yura, Alika benar-benar tak habis pikir dengan kebaikan Yura. Alika merasa Yura sudah sangat berlebihan, tapi memang begitu lah Yura, sejak dulu dia sudah terbiasa untuk berkorban. Hatinya sudah terstimulasi sejak dia ada di bawah bayang-bayang ibu tiri dan saudara tirinya.


"Oh iya Al, aku juga buka donasi, kecil-kecilan sih, jadi ... aku akan sumbangkan 25% dari harga produk buat aku sisihkan dan hasilnya buat biaya pengobatan Chelsio!" kata Yura, Alika hanya geleng-geleng kepala tanpa melirik lagi ke arah Yura.


"Alika! Ayo semangat, bikinin banner promosinya ya, aku mau pasang di semua akun media sosialku, kamu juga!"


"Yuraa, Yuraaa!"

__ADS_1


***


Nara melihat banner promosi yang Yura pasang di media sosialnya.


"25% didonasikan untuk Chiyo, cancer survivor (pejuang kanker)?" Nara membaca ulang apa yang Yura iklankan, Nara masih belum mengerti apa maksud Yura.


"Siapa Chiyo?" gumamnya sangat penasaran.


Tak lama, Nara melihat ke arah tempat parkir di depan cafenya. Nara cukup senang karena dia melihat Arkan baru saja memarkir mobilnya disana.


"Halo sayang!" sapa Nara menyambut kedatangan putra semata wayangnya itu. Arkan tak menyahut apapun, dia tampak sangat malas dan tak bersemangat.


"Kamu kenapa sih? Lesu banget!" tanya Nara, mereka duduk bersama di salah satu sudut cafe.


"Gak ada orang di mess, aku bosan!" jawabnya, lalu ia sandarkan tubuh jangkungnya itu.


"Lho, memangnya teman-teman kamu pada kemana?"


"Entah!"


"Kalau gitu kamu balik aja ke rumah, ya ... gak usah tinggal di mess, tapi, kamu tetap bisa menjalani latihan tepat waktu!" bujuk Nara.


"M, aku mau beli rumah sendiri!" cetus Arkan.


"Wah, ya sudah, Mama dukung keinginan kamu ini!"


"Ya, aku mau beli dengan uang dari hasil keringatku sendiri!"


"Heum, boleh! Mama do'akan ya! Kamu bisa pesan satu unit rumah sama Papa, minta diskon yang besar!" goda Nara, Arkan hanya tersenyum.


Ya, saat ini Azka memang meneruskan kursi jabatan Ayah sebagai seorang Direksi di perusahaan properti yang digelutinya sejak lama.


"Oh iya, kamu tahu gak, siapa Chiyo?" tanya Nara, dia menanyakan tentang Chiyo pada Arkan, tentu saja Arkan tidak tahu.


"Siapa Chiyo?" tanya balik Arkan.


"Iya Mama juga gak tahu, makanya Mama tanya kamu, siapa tahu kamu kenal sama yang namanya Chiyo ini."


"Memangnya hubungannya sama Arkan apa?"


Arkan tak terlalu menanggapi, dia seperti malas membahas tentang Yura. Sepertinya Arkan sudah masuk dalam jebakan permainan Dara. Ya, memang ini lah tujuan utama Dara. Dia ingin orang-orang membenci Yura, dan kini usahanya itu mulai berhasil.


"Gak tahu!"


"Lho, terus siapa ya? Huh, mulia sekali hati Yura, dia bahkan menyisihkan rezekinya untuk yang membutuhkan!" puji Nara, Arkan malah tersenyum kecut.


"Mungkin itu cuma akal-akalan dia aja supaya usahanya laris! Strategi dagang!" cibir Arkan dengan nada sarkas.


"Kok kamu begitu sih? Mana mungkin Yura melakukan hal selicik ini untuk menarik pelanggan!"


"Gak semua orang bisa kita percaya! Dia udah mengkhianati Keita dengan sempurna!"


Nara semakin penasaran. Dia memang sudah lama tak mendengar kabar dari Yura.


"Maksud kamu apa?"


"Mereka sudah putus!"


"Oh ya? Kenapa?"


"Si Yura selingkuhin si Keita!"


Nara cukup terkaget, dia tahu kalau anak-anak itu sedang dalam masa transisi menuju fase dewasa mereka, tapi Nara rasa masalah ini cukup serius, terlebih Keita dan Yura sudah menjalani hubungan mereka selama 3 tahun lebih.


"Benarkah?"


"Heum."


"Kok bisa? Mana mungkin Yura kayak gitu?"


"Mama gak percaya kan? Arkan juga awalnya gak percaya, tapi setelah ditelusuri, ya, memang dia udah menduakan Keita sama cowok berandalan!"


"Masa sih?"

__ADS_1


"Iya, kita semua baru tahu kalau di balik sikap sok lugunya ternyata dia udah melakukan kebohongan besar!"


"Aah, Mama masih gak percaya!"


"Bukti-buktinya udah jelas kok! Bahkan dia mengakuinya sendiri sama Keita! Kasihan Kei, padahal dia udah berharap banget sama si Yura!"


"Heum, begitu ya ...."


"Iya, makanya Mama gak usah percaya dia 100%, huh ... Arkan hilang respect sama dia! Dia pembohong!"


Nara mencoba mengerti, dia janji tak akan mencampuri urusan anak-anaknya ini. Tapi, jujur saja, dia masih penasaran dengan sosok Chiyo yang menjadi objek promosi Yura. Kalau benar Yura berbohong, maka Nara juga akan sedikit meragukan kebaikan Yura selama ini.


Ya, permainan Dara memang luar biasa ampuh. Kini hampir semua orang yang mengenal baik kepada Yura sudah berubah menjadi meragukannya. Keita, Arkan, Vano, Alana ... dan masih banyak pihak-pihak lain yang kini berbalik membenci Yura.


Dan itu juga hampir membuat Yura benar-benar jatuh. Dia baru saja mendapat komentar negatif dari postingannya itu. Ada yang berkicau seperti ini:


'pembohong ulung jualan pake jurus memelas. Klasik banget, jual penderitaan orang untuk meraup keuntungan, busuk banget hati lo Han Yura! Semua kedok lo udah kebongkar, ternyata sejak dulu lo emang playing victim! Produk lo juga gak enak! #janganbelikookiesHanyura.'


Itu adalah salah satu komen teman sekolah Yura. Ternyata se-dhasyat ini pengaruh Dara. Yura sakit hati, bahkan masih banyak komen-komenan lain yang meramaikan tanda pagar itu sampai sempat menjadi trending di jagat maya.


Apa yang Yura bisa lakukan? Dia hanya bisa menangis. Kini dia hampir menyerah, ternyata kebaikannya tak bisa menghapus pengaruh buruk dari dramanya bersama Zahran. Kini semua orang memandang buruk kepadanya, apa yang bisa dia lakukan? Dia cuma bisa menangisi semuanya. Walau tak sedikit juga yang membela Yura dalam postingan itu dengan memesan kookies-kookiesnya dalam jumlah banyak.


'45 pesanan!' Yura catat jumlah pesanan yang terkumpul hari ini, dia mencoba fokus, dia akan abaikan komentar para netijen julid yang Yura yakini kalau itu adalah para buzzer yang dibayar oleh Dara untuk menjatuhkan citra dan usahanya.


"Ayo Yura semangat! Abaikan mereka! Ingat niat baikmu ini, jangan pedulikan mereka yang tak percaya padamu, yang penting niatmu sudah baik!"


Tiba-tiba Yura serasa mendengar suara Ayah berbisik, menyadarkannya. Kata-kata bijak itu pasti pesan mendiang Ayahnya untuk memotivasi Yura yang saat ini tengah dirundung masalah.


"Ayah," gumamnya.


Ya, Yura akan bangkit! Tak peduli dengan para haters, dia akan teruskan perjuangannya, demi Chiyo!


"Ya, demi Chiyo!" tegasnya, lalu ia bangkit dan menyiapkan tenaga dan semangat untuk mulai bergerak di dapur memenuhi pesanan para pelanggan yang masih setia mendukung usahanya.


Dara tersenyum puas! Semua kelicikannya sudah berjalan mulus, meluncur bagai mobil supercar melintas di jalan bebas hambatan. Bahkan dia terbahak-bahak saat postingan promosi Yura dibully habis-habisan oleh orang-orang suruhannya sampai membuat Yura seperti seorang pecundang sejati.


"Citra baik lo habis Han Yura! Sekarang hampir semua orang mengenal lo sebagai pengkhianat!" ucapnya, dia sangat puas. Entah balasan apa yang pantas untuk Dara nantinya, tapi suatu hari nanti ia akan benar-benar mendapatkan ganjaran atas perbuatan nistanya ini.


***


Kriiiiing, ponsel Yura berdering. Saat ini dia sedang sibuk memisahkan pesanan-pesanan yang sudah siap. Ada tas berisi 2 toples, ada yang berisi 3 toples dan lainnya. Walau tak begitu banyak tapi Yura tetap semangat.


'Bertahanlah Chiyo, Kakak akan membantumu untuk sembuh se-bisa Kakak!' batin Yura, dan jujur saja, senyuman di wajah pucat Chiyo adalah cambuk dan semangat untuk Yura.


Kriiiing, ponselnya berdering lagi. Yura pun simpan pekerjaannya lalu mengambil ponsel dari saku celananya.


'Bu Nara?' batinnya, ya, yang menghubunginya saat ini adalah Nara. Dia segera angkat.


"Halo Bu?" sapa Yura.


"Halo Yura, kamu sedang sibuk?"


"M, nggak kok Bu, maaf barusan gak langsung angkat teleponnya!"


"Gak apa-apa, apa saya masih bisa memesan? Saya tertarik dengan banner promosi yang kamu buat!"


"Oh, iya ... Bu Nara, mau kuenya untuk kapan? Kalau mau hari ini juga ada beberapa lagi yang ready, kalau mau pesan banyak paling besok soalnya stoknya tinggal beberapa toples, hehe!" sambut Yura penuh semangat tanpa dia tahu kalau Nara sebenarnya penasaran dengan penuturan Arkan kemarin tentang pengkhianatan dan kebohongan Yura.


"M, ya sudah ... saya beli semua stok yang ready ya, tapi, kamu yang antarkan langsung, bisa gak?" pinta Nara, Yura sangat senang.


"Iya Bu, saya akan antar langsung, ke rumah atau ke cafe?" tanya Yura semangat.


"Ke rumah saja, saya lagi di rumah kok!"


"Oke! Sekitar 1 jam lagi, pesanannya akan tiba!"


"Iya, makasih ya!"


"Iya sama-sama Bu!"


Yura senang lagi, semangatnya terisi lagi secara otomatis. Yura pikir, 10 orang baik seperti Nara jauh lebih berarti dari pada dia terus memikirkan 1000 orang seperti Dara.


Nara juga tak sabar menunggu kedatangan Yura. Sepertinya Nara ingin bertanya banyak dan dari hati ke hati dengan Yura. Nara yakin kalau saat ini Yura sedang tidak baik-baik saja. Nara yakin kalau Arkan hanya salah faham.

__ADS_1


'Han Yura, aku yakin dia adalah anak yang baik! Gak mungkin dia se-picik yang teman-temannya bilang! Aku harus mencari tahu kebenarannya!' batin Nara.


Apakah Yura akan menceritakan masalah peliknya saat ini pada Nara? Atau ia akan tetap memendamnya sendiri di ruang hatinya yang mulai rapuh dan nyaris runtuh?


__ADS_2