
Azka menemui Nara dan Arkan di hotel tempat mereka menginap, Coach memberi izin pada Azka untuk pulang bersama keluarganya. Ibu memang berencana untuk menikmati hari terakhir mereka untuk berlibur santai bersama keluarga menuju salah satu tempat wisata populer di kota yang dijuluki Paris van Java ini.
Nara sedang menyiapkan kebutuhan Arkan untuk perjalanan nanti, dan Azka sedang asyik menggoda Arkan yang sudah mulai menyunggingkan senyum setiap diajak berinteraksi. Azka memang bukan sosok pengasuh yang andal, dia hanya bisa menunjukan pouty facenya dan walau hanya begitu Arkan selalu menyambutnya dengan tawa bayi dan hentakan kaki yang membuatnya semakin atraktif.
"Rencananya mau kemana?" tanya Azka dan dia biarkan jarinya jadi mainan untuk Arkan yang sejak tadi anteng menghentak-hentak kaki.
"Belum tahu, kita ikuti saja kemana ibu pergi..." sahutnya dan dia sudah selesai, Nara berjalan mendekat lalu duduk di samping kanan Arkan, sementara Azka ada di samping kirinya.
"Lihat dia!" kata Azka yang belum juga mengalihkan pandangannya pada buah hati tercintanya itu.
"Ya, kenapa?" tanya Nara.
"Entahlah, entah kata-kata apalagi yang bisa menggambarkan dia, lihat wajahnya..."
Nara malah memandangi wajah Azka, dan kembali dia ingat kata-kata Kalyla kemarin. Dia ingin ungkapkan rasa cemasnya tapi Nara tidak ingin merusak momen manis yang tengah Azka rasakan pagi ini.
"Dia mirip papanya! mungkin karena, mamanya sangat mencintai papanya itu!" kata Nara dengan nada bergurau, dia hanya ingin menghilangkan ketegangan yang beberapa saat ini selalu dia rasakan. Azka tersenyum...
"Aaah, jadi ingat malam itu..." kata Azka membuat Nara penasaran.
"Malam kapan?"
"Malam dimana seorang gadis malang menuntut untuk mendapatkan kembali kafenya! kamu ingat?" kenang Azka, Nara ingat betul! dia jadi malu...
"Aaah, kesan pertama yang buruk!" gerutunya malu.
"Tapi setelah itu, semuanya berubah dengan cepat! gak ngerti lagi deh, andai saja waktu itu aku gak bergerak cepat, mungkin akan ada orang lain yang mendapatkan kebahagian ini..." kata Azka, dia juga sebenarnya terus memikirkan kata-kata Yuki kemarin saat latihan.
Sebenarnya saat ini, Nara maupun Azka sedang di hantui rasa takut karena orang-orang lama yang pernah mencoba mendekati keduanya seperti kompak menyusun rencana untuk merangsak masuk kembali dalam dunia pernikahan mereka.
"Maksudnya?" tanya Nara kebingungan dengan maksud Azka.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, oh iya...udah siap kan?" Azka menjawab singkat lalu dia malah mengajak bersiap seperti ingin mengalihkan perhatian Nara.
"udah,"
"Oke, papa gendong kamu ya..." Azka segera membawa serta Arkan dalam dekapan hangatnya.
"Hati-hati..." peringatkan Nara, Arkan memang belum begitu terbiasa ada dalam gendongan papanya.
Ternyata apa yang Nara dan Azka khawatirkan memang bukan hanya praduga saja. Siang ini Kalyla dan Yuki juga menghabiskan waktu santai mereka di Bandung. Mereka sedang menikmati secangkir kopi di Lereng anteng panoramic coffe, sebuah kafe berkonsep unik yang menyuguhkan pemandangan indah lereng perbukitan yang menghijau dan memanjakan mata.
Mereka duduk di sebuah teras dan mereka duduk lesehan dengan santai, Kalyla maupun Yuki benar-benar menikmati suasana cozy yang sulit mereka dapatkan jika sudah sibuk menjalani aktifitas mereka di Jakarta.
"Huh, aku harus punya waktu lebih banyak! suasana ini benar-benar nyaman ya..." kata Kalyla yang masih mengagumi panorama sederhana nan indah yang bisa dia nikmati dengan leluasa.
"Gak perlu liburan mahal ke luar negri kan untuk sekedar menikmati waktu luang?" tanya Yuki yang juga cukup takjub dengan suasana sejuk khas pedesaan yang tersaji apik di hadapannya.
"Ya, itu betul sekali!" sambut Kalyla.
"Aku ngerti!" sahut Kalyla beberapa detik kemudian.
"Jadi, apa rencana kita?" tanya Yuki, pembicaraan mulai serius.
"Sudah jelaskan, kalau sebenarnya...kita punya tujuan yang sama!" ujar Kalyla.
"Iya! tapi, aku gak bisa melakukannya! biarpun ini sakit, tapi...aku gak mungkin merusak kebahagian mereka!" kata Yuki yang masih memilih sisi baik dalam dirinya.
"Yakin?" tanya Kalyla mencoba mempengaruhi.
"Entah..." gumamnya bimbang.
"Dulu aku sangat tertarik sama kamu, sampai aku lupa kalau Azka ternyata mengharapkan sesuatu yang lebih dari persahabatan denganku! aku gak peduli sama perasaan Azka waktu itu, dan sampai akhirnya Azka berpaling dan menyerah. Saat itu, aku sadar bahwa sesuatu akan sangat terasa berarti saat kita kehilangan hal itu!" kata-kata Kalyla begitu dalam dan Yuki juga merasa apa yang dia dengar itu benar.
__ADS_1
"Saat Azka memberikan perhatiannya untuk gadis lain, aku sadar kalau aku sangat kehilangan dia! bodoh!!! seharusnya aku berhenti mengharapkanmu saat itu, heh..." kenang Kalyla lalu tersenyum getir.
"Jadi kamu akan benar-benar merebut perhatian Azka lagi?" yakinkan Yuki.
"Ya!" jawabnya tegas dan lugas.
"Heh..." Yuki tersenyum dilematis.
"Sepertinya kamu juga gak bisa berpaling dari dia kan? dari sekian banyak wanita yang ada di dunia ini aku pikir gak ada yang bisa membuatmu tertarik selain dia, iya kan?"
"Itu benar!"
"Jadi tunggu apa lagi? tujuan kita sama! kita bisa mendapatkan kebahagiaan yang kita harapkan dengan cepat kalau kita bersama-sama menjalankan rencana ini!" Kalyla terus mencoba memberikan doktrin-doktrinnya pada Yuki.
"Keanggunan kamu membalut pikiran licikmu selama ini!" cibir Yuki sarkas.
"Udahlah, gak usah munafik lagi! hasrat kita untuk apa yang kita inginkan saat ini sungguh sangat besar, bahkan sulit untuk dibendung lagi! jika kamu mau, lakukan! untuk saat ini, sudah gak ada lagi waktu untuk berpikir!" pikiran jahat Kalyla sudah jelas nampak di hadapan Yuki saat ini, dia sedikit tidak percaya kalau ternyata Kalyla punya sisi liar yang siap menghancurkan biduk rumah tangga orang lain.
Yuki tidak tahu pasti, yang pasti saat ini hatinya berdebat hebat, di satu sisi dia sangat ingin mendapatkan Nara dan di sisi lainnya dia tidak mungkin mengkhianati Azka dan mengancurkan kebahagiaan wanita yang sungguh sangat dia cintai selama ini.
"just let it flow.." kata Yuki.
"Heh, se-simple itu?"
"Kita lihat saja nanti!"
Apa yang sebenarnya mereka inginkan dan rencanakan adalah hal jahat yang tak sepatutnya mereka lakukan, apapun yang dipaksakan tidak akan lebih indah dari sesuatu apapun yang didasari dengan ketulusan. merenggut kebahagiaan orang lain adalah hal terbodoh yang suatu hari akan di sesali oleh pelakunya.
Lalu bagaimana Kalyla menjalankan misi liciknya itu? Akankah dia berhasil mendapatkan kebahagiaan yang dia coba rebut paksa dari Nara?
Akankah?
__ADS_1
Bersambung.