Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Masuk Angin


__ADS_3

Waktunya bergulat memadu kasih. Setelah hasrat itu tertunda beberapa hari, akhirnya malam ini Arkan bisa kembali menumpahkan kerinduannya terhadap manisnya tubuh istri kesayangannya.


Dimulai dengan permainan kecil, saling merebut bibir, bertukar saliva, bersilat lidah bersama pergerakan tangan yang menjelajah memantik nafsu yang semakin terpacu.


Terjangan Arkan yang luar biasa berkejaran dengan desah manja kala sang pemilik tubuh yang ranum itu digelitiki lidah si atlet basket. Yura sampai tak kuasa dengan serangan intens yang kini menjalar ke area sensitifnya. Cumbuan liar di bagian dada dan permainan lain di area paling intinya. Tangan Arkan memang tampak nyaman diam di satu titik paling vital milik istrinya. Apalagi saat ini Yura ingin dominan dan duduk di atas tubuh tegap Arkan yang terbaring di atas ranjang.


"Cukup!" desah Yura, dia tak tahan, Arkan terlalu mengeksploitasi gairahnya malam ini. Walau sudah lewat berminggu-minggu, tapi indahnya masih sebanding dengan indahnya malam pertama.


"Oke, kita selesaikan ya!" Suara Arkan yang parau dan rendah malah semakin menambah erotisme malam ini, semuanya terdengar biru, semuanya terlihat biru.


Arkan tak tega melihat Yura begitu kelelahan, dia pun mengambil alih part terakhir ini, dia membiarkan Yura pasrah berdiam diri, biar dia yang menyelesaikan segmen terakhirnya.


"Ini akan cepat, kita keluar sama-sama ya," racau Arkan bersiap dengan gaya misionarisnya.


"Ya, semoga yang ini berhasil!" sahut Yura, mereka saling berbalas racauan di ujung klimak mereka.


"I love you!" satu kata cinta terlontar di tengah desahan manja Han yura.


"Love you more!" balas Arkan yang masih berusaha memastikan massanya sudah masuk dengan nyaman, tinggal siapkan sisa tenaga untuk memompa seluruh sel bakal buah keturunannya menyeruak masuk ke dalam ruang rahim si pemilik hati.


***


Aaaah, Yura meremas perut. Rasa mual sangat mengganggu tapi belum ada dorongan untuk segera dimuntahkan. Rasa mualnya bermain-main di dalam perut hingga dadanya.


"Kok mual banget ya? Pusing lagi!" keluhnya, lalu dia menepi ke atas sofa. Dia simpan mopnya dan dia tinggalkan pekerjaannya untuk sejenak. Rasa pening dan mual bekerja sama membuatnya sungguh lemas siang ini.


Sayang Arkan sedang tidak ada di rumah, jadi tak ada orang yang bisa dia ajak berkeluh kesah. Rasa tak enak badan itu semakin kuat dan menjalar.


"Apa masuk angin ya? Gak enak banget ya ampuun!" gumamnya lalu dia elus-elus perutnya itu. Rasanya memang hampir menyerupai kala ia merasakan gejala masuk angin.


Dan sampai sore harinya ....


Yura masih menikmati rasa sakitnya. Dia sangat lemas sampai untuk sekedar mengambil ponselnya di kamar pun sungguh tak kuasa, malas melanda. Pekerjaan rumah yang belum selesai pun terbengkalai begitu saja.


Dan hari ini ada pertandingan lanjutan. Sebelum bertanding Arkan ingin memastikan istrinya menonton lagi di tribun paling depan, tapi sampai panggilan ke-3, Yura masih belum menjawabnya, Arkan heran dan malah jadi sedikit cemas.


'Kamu dimana sayaang?' gumam Arkan cemas, tapi dia harus segera menyingkirkan rasa cemasnya karena sekarang dia harus fokus pada pertandingan. Arkan hanya belum tahu kalau istrinya sedang mengalami gejala masuk angin yang luar biasa sampai terbaring lemas di atas sofa sejak siang tadi.


"Duh udah sore ternyata ... huh, kayaknya aku gak bisa nonton pertandingan Sunrise sore ini! Ya ampun, kenapa mualnya semakin hebat!" keluhnya lagi, bahkan untuk sekedar bangkit dari posisi terbaring saja terasa begitu berat.


Bahkan, Alika juga cukup kewalahan hari ini. Beruntung Zahran libur dan dia ikut membantu. Zahran memang selalu mendedikasikan hari liburnya untuk stand by membantu Yura, selain karena ingin membalas kebaikan Yura di masa lalu, Zahran juga sedang mencuri kesempatan untuk selalu dekat dengan Alika. Dia sudah mulai bucin dengan sahabat terbaik Han Yura itu.


"Yura kemana ya? Dari tadi siang kok susah banget dihubungi?" kata Alika, dia masih mencoba menghubungi Yura tapi tetap tak ada jawaban.


"Dia tuh tahu situasi dan kondisi!" sahut Zahran.


"Maksudnya?"


"Dia sengaja kali ninggalin kita berdua biar chemistry kita makin dekat gitu, makin lekat!"


"Heh, ngarang! Ini masalahnya dia gak angkat telphonku sejak siang tadi lhoo! Takut ada apa-apa!" cemaskan Alika.


"Mungkin aja dia sibuk, terus mungkin dia udah stand by di gedung olah raga buat nonton si Arkan tanding! Mungkin suasana gor udah rame makannya dia gak sempat angkat telponnya!"


"Heum, mungkin! Tapi kita punya banyak pesanan dan stok kita habis! Tapi, mudah-mudahan dia ke toko deh besok!"

__ADS_1


"Sekarang biar kita aja yang jadi tuan dan nyonya di toko ini! Iya gak?"


"Iih, makin hari kamu makin genit sih?" cibir Alika.


"Siapa yang bisa nahan ada di dekat cewek secantik kamu, Alika!" goda Zahran.


"Iiiiidiiih, gak banget deh! Klasik banget rayuannya!"


"Rayuan maut, mau?"


"Heh, gak usah! Gak ngaruh!" Alika melengos, karena kecapean, tingkat keketusannya meningkat dan Zahran menanggapinya dengan tawa geli. Tak peduli seperti apa Alika bersikap, dia tak peduli, dia terlanjur jatuh cinta dengan Alika.


'Han Yura! Pertemuan sama lo banyak melahirkan kebahagiaan baru buat gue! Lo adalah orang baik! Lo seperti bidadari yang Tuhan kirim buat kehidupan gue! Buat Chiyo, dan sekarang ... gue malah menemukan bidadari lainnya! Makasih ya Han Yura, gue selalu mendo'akan yang terbaik buat lo!' batin Zahran. Harapannya begitu mengalir dan tulus. Dia sudah merasakan sendiri kebaikan hati seorang Yura.


"Sayaaaang!" panggil Zahran.


"Jangan panggil sayang-sayang!" sambar Alika dari arah dapur di belakang toko, Zahran malah semakin tersenyum geli, dia memang hobi sekali menggoda Alika.


Kembali ke keadaan Yura ....


Alhasil dia hanya bisa menikmati pertandingan Arkan lewat layar kaca saja. Dia juga masih merasakan rasa pusing dan mualnya. Sayang sekali dia tak bisa ikut ber-euforia di dalam gedung olahraga padahal sore ini Arkan bermain begitu luar biasa seperti biasanya.


"Kamu hebat banget Kak, bangga deh jadi istrimu! Tapi maaf sore ini aku gak bisa datang, aku benar-benar gak enak badan!" gumamnya sembari matanya tak lepas kemanapun kamera menyorot Arkan.


Dan satu orang yang tak pernah absen menonton pertandingan secara live di tribun adalah Alana. Tak peduli walau kakinya masih agak cedera setelah kecelakaan beberapa minggu yang lalu, dia selalu meluangkan waktu di antara kesibukannya mengurus butiknya.


Alana tak pernah lelah. Dia masih berusaha dan berharap Arkan akan kembali berpaling kepadanya. Tapi itu rasanya sangat tidak mungkin, mengingat Arkan sudah sangat mencintai Yura, begitu pun sebaliknya. Mereka sudah berjanji untuk selalu saling percaya.


Matanya juga selalu fokus pada satu objek saja. Bukan bola yang Alana perhatikan. Sepanjang pertandingan hanya Arkan yang dia perhatikan, tak peduli Arkan sedang duduk di bangku cadangan, tapi Alana memang tak peduli dengan pertandingannya, dia hanya peduli pada Arkan.


Dan Arkan, walau sore ini dia bermain prima dan total tapi pikirannya masih tertuju pada Yura yang hari ini lepas kontak sejak siang tadi. Arkan jadi cemas, saat duduk di bangku cadangan, Arkan berkesempatan untuk memikirkannya karena saat dia ada di dalam lapangan, dia mencoba tetap profesional dan hanya fokus dengan pertandingan.


Sesekali Arkan menoleh ke bangku penonton, dia menyisir dari ujung ke ujung dan dia tetap tak menemukan istrinya. Saat dia menoleh, malah para supporter lain yang histeris dan menganggap pandangan Arkan adalah serupa sapaan padahal dalam kenyataan Arkan tengah mencari kesayangannya.


'Kamu kemana sih? Apa kamu di toko dan toko begitu sibuk sampai kamu gak sempat mengangkat telepon dari suamimu ini?' batin Arkan penuh kegelisahan.


Dan dua orang julid yang mencibir Yura sebagai seseorang yang halu hari ini kembali hadir di tribun. Mereka masih ingat bagaimana Yura tiba-tiba masuk ke dalam mobil Arkan beberapa hari lalu.


"Jadi benar ya, cewek yang waktu itu duduk samping kita tuh istrinya Arkana?" tanya yang satunya.


"Bisa jadi, soalnya, waktu itu, hampir di sepanjang pertandingan Arkan selalu melirik ke arah kita. Sial! Kita kira dia menyapa para fans-nya, ternyata dia memang melirik dan curi-curi pandang sama istrinya!" sahut yang satunya.


"Iya sih! Huh, beruntung banget cewek itu ya!"


"Iya, tapi sore ini kayaknya dia gak datang! Nah, lihat gestur Arkana ... sedari tadi dia selalu menyisir tribun penonton! Apa doi lagi marahan sama istrinya sampai istrinya gak datang menonton sore ini?"


"Heum, jangan-jangan gara-gara gosip sama Keyla tuh, makanya mereka marahan!"


"Aaah iya, bisa jadi! Duh, rumit banget deh kalau udah urusan sama Artis, jadi kebawa-bawa kan?"


"Heum, aku pikir Arkan itu pria yang setia! Ternyata tergoda juga akhirnya sama pesona Keyla!"


"Tapi menurutku istrinya juga gak kalah cantik kok!"


"Lah iyaa, gak nyangka banget kalau orang sedingin dia malah ke-gap selingkuh!"

__ADS_1


Keduanya malah bergosip ria, dan orang yang mereka gosipkan nyatanya sedang terbaring lemas, masih terbaring lemas di tempat yang sama sejak tadi sore. Masih cukup berat melangkah dari sana. Dan sampai pertandingan selesaipun, Yura tetap disana. Jangan kan untuk menyiapkan makan malam untuk Arkan nanti, untuk mengambil air minum untuk diri sendiri pun terasa sangat berat.


"Ya ampun, ini kenapa ya? Padahal semalam masih baik-baik saja," gumamnya sembari mencoba bangkit, tapi penglihatannya malah kabur dan kepalanya pun terasa berputar hebat.


Dan selepas pertandingan ....


Arkan cepat-cepat membereskan ranselnya. Dia ingin segera mencari Yura. Dia kini yakin kalau istrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Ada apa Bro? Buru-buru amat?" tanya Rado yang heran dengan Arkan yang terlihat tergesa-gesa.


"Gue ada urusan, gue duluan ya!" pamit Arkan pada Rado dan pada seluruh rekannya yang masih ada di loker room. Arkan tak membuang-buang waktu lagi, dia masuk ke dalam mobilnya dan meluncur menuju toko istrinya. Arkan mencari Yura kesana terlebih dulu. Dia harap Yura sibuk hari ini sehingga ia tak sempat membalas pesan dan menelpone balik kepadanya. Itu yang Arkan harapkan.


'Semoga benar kalau hari ini dia hanya sibuk, semoga tak terjadi apapun yang buruk! Tuhan, tolong lindungi dia!' batin Arkan penuh harap di sepanjang perjalanannya menuju toko.


Hasilnya, Arkan malah mendapati Alika dan Zahran yang baru saja menutup dan mengunci toko. Mereka malahan sudah bersiap untuk pulang dengan sepeda motor Zahran.


"Lhoo, Kak Arkan gak sama Yura?" tanya Alika heran begitu Arkan turun dari mobilnya seorang diri. Arkan makin gak enak hati.


"Jadi dia gak disini?" tanya Arkan.


"Seharian ini Yura gak kesini kok, malahan gak ada kabar dan susah banget dihubungi! Duh, Yura kemana ya, bikin khawatir aja!" ungkap Alika.


"Lo udah pulang ke rumah?" tanya Zahran, tak kalah cemas.


"Belum sih, gue belum sempat pulang ke rumah! Ya udah, gue pulang! Mungkin dia di rumah!" Arkan tak menunggu lama, dia kembali masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pulang ke rumah.


Alika dan Zahran ikut heran dan terlebih merasa sangat cemas. Yura yang hanya ingin rebahan di sofa sepanjang hari ini sampai melupakan letak ponselnya berada telah membuat semua orang cemas.


"Duh Yuraa, kamu dimana sih?" gumam Alika penuh kekhawatiran.


"Semoga dia ada di rumah!" harap Zahran.


"Iya, semoga dia ada di rumah. Sibuk beres-beres sampai kecapean dan ketiduran! Semoga kayak gitu deh!" harap Alika.


"Semoga, ya udah nih helm-nya!" Zahran menyodorkan helmnya pada Alika yang sebenarnya masih merasa cemas.


"Pakein dong! Romantis kek dikit!" Alika merajuk membuat Zahran makin gemas.


"Heum, dipanggi sayaang gak mau, malah sekarang minta diperlakukan dengan romantis, emang bener ya ... perempuan tuh emang gak pernah salah!"


"Apa? Mau protes, huh?"


"Iya iya permaisuri!" Klik, Zahran memasangkan helmnya ke kepala Alika dengan baik dan benar.


Begitulah, Alika memang ketus-ketus manja, benci tapi rindu, gemas karena cinta dan sayang. Tapi Zahran malah suka dengan itu semua, dia suka apapun tentang Alika.


Arkan sampai di rumah dengan cepat. Rasa cemasnya mendorongnya untuk memacu kendaraan dengan speed maksimal. Arkan membuka gerbangnya lalu memasukan mobilnya di dalam gerbang.


Perasaannya tak menentu saat melihat tirai-tirai di rumahnya belum tertutup rapi. Bahkan Arkan semakin takut saat pintu rumah tak terkunci.


"Yuraaa ... sayaaang!" panggilnya, banyak yang membuatnya heran, bahkan televisi yang masih menyala membuat Arkan begitu skeptis.


"Aku disini Kak!" sahut Yura dengan lemas, seketika Arkan hampiri sumber suara dan dia mendapati istrinya berbaring lemas di atas sofa.


"Kamu kenapa?" dengan sigap Arkan menghampiri, duduk di dekatnya lalu meletakan telapak tangannya di kening Yura, Yura hanya tersenyum dengan wajah pucatnya, dan kini Arkan tahu kenapa Yura tak memberi kabar padanya sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2