Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Anxious moment


__ADS_3

Benar kata Nara, baby Arkan memang layaknya pangeran tidur. Dia bisa terjaga dalam pangkuan ibu diantara hiruk pikuk gor Citra Arena yang sudah dipadati oleh ribuan supporter yang tak sabar untuk menyaksikan laga bergengsi antara Sunrise dan tim kebanggaan warga kota Bandung.


Wajah imutnya terlelap meski seruan yel-yel dan sorakan histeris bergema didekatnya, Arkan sungguh sangat menggemaskan. Apalagi saat ini dia mengenakan jumper dengan tema basket bahkan nomor punggungnya adalah nomor punggung papanya sendiri, dan yang lebih lucunya lagi tertera nama 'Azka jr' diatas nomor punggungnya.


Seluruh pemain dari kedua team sudah memasuki Arena, mata Azka menyasar ke setiap bangku penonton dan dengan mudah dia temukan letak duduk keluarganya, Azka langsung semangat.


Azka langsung melambaikan tangannya, tapi malah di sambut histeris oleh gadis-gadis genit yang duduk di sekitar Nara, Nara hanya geleng-geleng kepala menerima kenyataan kalau suaminya itu memang pria yang sangat digilai oleh para supporter.


"Kamu ini bener-bener ya nak, di suasana riuh begini kamu malah tidur pulas..." kata ibu yang mendapati Arkan masih terlelap nyaman dalam dekapannya.


"Duplikat Azka waktu bayi ya.." tukas ayah yang malah memainkan jari-jari Arkan dengan lembut.


"Iya, Azka juga seperti ini 27 tahun yang lalu, hehe..." sahutnya lagi sembari mengenang, Arkan memang jelmaan baby Azka 27 tahun lalu, like father like son.


Nara menoleh ke sisi kirinya, tak sengaja matanya menemukan sosok Kalyla di blok yang tak jauh dari tempatnya duduk. Kalyla kelihatan sangat bersemangat, dan hati Nara semakin menduga kalau Kalyla mulai merancang sesuatu yang buruk untuk mendapatkan perhatian Azka lagi.


Waktu berjalan...


Sejak melihat Kalyla, Nara jadi tidak fokus dengan pertandingan. Dia bahkan tidak sadar kalau pertandingan sudah berjalan 2 quarter, dia juga tidak sadar kalau suaminya sudah mencetak banyak poin. Pandangan Nara kosong dan pikirannya melabur jauh, dia terus memikirkan Kalyla dan kata-katanya yang penuh teka-teki kemarin.


'Apa mungkin Kalyla serius dengan kata-katanya? siapa orang lama yang dia maksud? apa itu...Azka?' batinnya resah, walau matanya memandang lurus kearah lapangan tapi Azka bisa tahu kalau saat ini Nara sedang tidak memperhatikan laganya di lapangan. Azka jadi cemas, tapi dia berusaha fokus menyelesaikan pertandingan yang tinggal tersisa beberapa menit lagi.


"Yee, akhirnya kamu bangun...lihat, siapa itu? halo papa, semangat ya papa..." kata ibu menyapa saat Arkan menggeliat dan membuka matanya, Nara tersadar dari lamunannya.


"Kamu bangun, sini..sini.." ayah mengambil alih Arkan dari pangkuan ibu, mereka memang selalu berebut untuk bisa memeluk Arkan lebih lama.

__ADS_1


"Ya udah deh, sama kakek dulu ya sayang..."


"M...bu, aku ke toilet dulu ya..." Ijin Nara yang sepertinya tak tahan ingin ke toilet.


"Iya, perlu ibu temenin?" tawarkan ibu.


"Gak usah, titip Arkan aja ya bu..."


"Arkan aman bersama kami!" kata ibu.


Nara pun bangkit dan keluar dari tempat duduknya, diam-diam Kalyla juga memperhatikan Nara sejak playoff tadi, dia malah ikut bangkit pamit pada managernya untuk pergi menyusul Nara ke toilet, entah apalagi rencananya.


Nara sudah selesai dengan urusannya di kamar kecil, saat dia keluar dari area toilet dia dikejutkan dengan sosok yang dia takutkan selama ini, Kalyla berdiri menunggunya di koridor yang sepi.


"Hai, kamu mau ke toilet juga?" tanya Nara yang selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depan Kalyla walaupun sebenarnya dia sangat terintimidasi.


"Oh, kalau gitu duluan ya..." Nara hendak pamit, tapi...


"Boleh minta waktu sebentar?" tahan Kalyla, Nara menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Kalyla.


"M...boleh, ada apa? kita mau ngorol disini?" tanya balik Nara.


"Disini aja, gak lama kok...aku cuma gak tahan pengen membicarakan ini secara empat mata sama kamu, benar-benar di tempat yang sepi yang gak bisa di jangkau para wartawan!" suasana mulai menjurus tegang, Nara mencium gelagat yang sangat mencurigakan. Dia menduga kalau Kalyla akan membahas masalah Azka.


"Oh, oke! bicarakan saja!"

__ADS_1


Kalyla berjalan beberapa langkah mendekat pada Nara yang semakin dihantui rasa takut akan kehilangan Azka.


"Mungkin kamu belum pernah merasa kehilangan, seperti yang aku rasakan sekarang..." kata Kalyla memulai, Nara mencoba mendengarkan.


"Melihat Azka bisa bahagia dengan orang lain adalah perasaan paling menyesakkan yang pernah aku alami seumur hidup!" kata Kalyla to the point, dia tak ingin berbasa-basi karena dia takut akan segera ada orang yang datang menyadari pembicaraan emosionalnya ini.


"La, please! jangan ganggu kedamaian kami, oke...aku tahu kamu adalah orang yang pernah sangat berarti untuk Azka, tapi sekarang dia sudah memiliki kami, aku dan Arkan! aku harap, kamu cuma main-main dengan pernyataan ini!" tukas Nara mencoba tetap bersikap tenang.


"Aku sudah coba! aku sudah coba lupakan semua perhatian Azka, tapi gak bisa! aku butuh dia! sangat butuh dia!" kata Kalyla tegas, Nara hanya tersenyum kecut.


"Kamu harus sadar kalau yang kamu pikirkan itu salah!" kecam Nara, dia tidak tahan menghadapi Kalyla dan obsesi gilanya.


"Maaf Nara! aku cuma mau berusaha memperjuangkan kembali apa yang seharusnya jadi milikku! gak ada kata terlambat dalam kamusku! aku akan dapatkan kembali apa yang sempat hilang yang sekarang kamu rebut begitu saja!"


"Kami saling cinta kok! kami menjalaninya karena kami sadar kami saling membutuhkan! dan aku yakin, kalau perhatian Azka yang kamu harapkan sekarang, sudah gak tersisa lagi, tolong jangan ganggu kami!" tegaskan Nara, dia tak habis pikir kalau Kalyla memang benar-benar sudah dibutakan oleh rasa cemburunya sendiri.


"Bagaimana kalau kita lihat saja nanti?" ujar Kalyla lalu tanpa berkata apa-apa lagi dia pergi lebih dulu meninggalkan Nara yang hampir tak mampu menggerakan kakinya, langkahnya sungguh berat setelah mendengar secara langsung kata-kata yang akan meracuni rumah tangganya sebentar lagi.


'Ya ampun, kenapa ada orang seperti itu?! apa aku harus takut? bagaimana kalau dia sungguh-sungguh? aaah, tetap tenang! mana mungkin Azka akan meninggalkan aku dan Arkan demi orang yang pernah mengabaikannya dulu!' pikirnya, dia mencoba tidak peduli dan kembali menuju pertandingan, ternyata saat dia kembali laga telah usai, Azka cs menang telak.


Saat kembali Nara heran karena Arkan tidak ada bersama ayah,ibu maupun kakek. Lalu dia melihat ke tengah lapangan dan Arkan berada disana bersama Azka dan para rekannya yang sedang mengadakan briefing singkat di bench pemain.


Azka menggendong Arkan dengan bangga, pemandangan manis itu membuat orang-orang terpana. Arkan benar-benar menjadi bintang hari ini, banyak tangan usil para pamannya yang ingin mencubit pipi chubynya, semua orang gemas ingin berinteraksi dengan Arkan yang menatap mereka dengan mata bulat dan pupil hitam macam biji leci yang membuatnya tampil lucu maksimal.


Nara memandang kedua orang kesayangannya itu dari tribun penonton, dia malah kelihatan takut, dia takut kehilangan kebahagiaan yang saat ini dia rasakan. Dia merasa sudah ada sinyal negatif yang akan menerpa rumah tangganya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2