
Beberapa bulan kemudian ...
Yura sedang packing, ternyata rencana liburan antara keluarga Lulu dan Nara terwujud juga. Yura senang bukan main, semenjak menjadi bagian dari keluarga Lulu, dia merasakan banyak sekali perubahan signifikan dalam hidupnya.
KRIIIIING, ponselnya berbunyi dan tentu saja yang menelphonnya adalah Keita yang sayangnya tak bisa ikut serta dalam liburan ini.
"Kak Kei ...." panggil Yura manja, dia menyesal karena Keita tak bisa ikut serta.
"Semoga kalian bersenang-senang ya," harap Keita dengan berat hati.
"Ya, semoga selanjutnya kita bisa liburan sama-sama juga," lanjut harap Yura.
"Iyaa, aku udah titipin kamu sama Arkan kok! Dia bakalan jagain kamu di Bali!" kata Keita.
"Iya kak,"
"Have a nice trip!"
"Makasih Kak."
"Yuraaa, sayaaang!" Lulu memanggil dari luar rumahnya.
"Ibu manggil,"
"Ya udah, bye."
Mereka sudahi percakapan itu dan Yura segera menghampiri Lulu yang berseru dari arah dapur.
"Iya Bu,"
"Packingnya udah? Gak ada yang ketinggalan kan?" yakinkan Lulu yang sedang asyik menyiapkan makanan di dapur.
"Sudah Bu, m ... aku boleh izin keluar sebentar gak?" pinta Yura. "Memangnya kamu mau kemana?"
"M, aku mau menemui Ibu sama Tania." ungkap Yura, sejenak Lulu terdiam lalu menatap Yura dengan tatapan aneh.
"Kamu sudah tahu kabar mereka?" yakinkan Lulu.
"Iya bu, aku cuma mau melihat keadaan mereka, bagaimana pun juga, kami pernah menjadi keluarga."
Lulu mengangguk lalu tersenyum, dia bangga dengan kebaikan hati Yura, walau dia sempat hampir terbunuh karena ulah saudari tirinya itu tapi Yura masih sempat memikirkan keadaan mereka.
"Tapi Ibu gak bisa antar,"
"Gak apa-apa, aku pergi sendiri aja, gak akan lama kok," Imbuhnya lalu bersiap untuk pergi. Saat ini Yura sudah lepas dari tongkatnya dan dia bisa berjalan normal lagi seperti biasa. Bahkan dia bisa mengayuh sepeda kesayangannya lagi.
__ADS_1
Yura kayuh sepedanya menuju suatu tempat yang dia yakini sebagai tempat tinggal Ibu dan Tania saat ini. Daerahnya cukup kumuh dan sangat padat. Yura tak yakin kalau Tania sanggup tinggal di daerah seperti ini.
"Permisi!"
Tok tok tok
Yura berhenti di depan satu pintu dan langsung mengetuk pintu usang sebuah rumah petak itu.
"Permisi!"
"Sebentar, siapa yaa ..."
Yura yakin itu suara Ibu, suara Ibu semakin mendekat dari dalam rumah dan CKTT saat pintunya terbuka ....
Setelah beberapa detik saling berpandangan akhirnya Ibu mempersilahkan Yura untuk masuk. Ibu tampak sangat kumal, tak seperti saat dia masih menguasai rumah Yura. Kini sekian bulan sudah berlalu dan Ironi itu semakin jelas terlihat.
"Kamu bahagia kan tinggal bersama mereka?" tanya Ibu tanpa melihat ke arah Yura sedikitpun.
"Iya, mereka sangat baik bu."
"Syukurlah!"
"M, Kak Tania mana?" tanya Yura lalu dia tengak tengok kanan kiri mencoba mencari sosok Tania.
Ibu memang sepertinya merasakan beberapa hal sekaligus saat ini. Rasa malu karena sudah berlaku jahat selama bertahun-tahun pada Yura dan rasa iri juga karena saat ini Yura mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik lagi.
"Oh, apa Ibu masih jualan kue?"
"Udah nggak! Alat-alatnya sudah Ibu lelang bersama barang-barang lain di rumah kita! Uangnya Ibu pakai buat kebutuhan sehari-hari, kamu gak usah nuntut uang jatah ya, uangnya sudah habis!" kata Ibu, seperti biasa sinis dan judes.
"Iya gak apa-apa! Aku kesini juga karena pengen tahu keadaan kalian!"
"Heh," Ibu malah menganggap Yura sedang mentertawakannya, padahal Yura benar-benar hanya ingin melihat keadaan mereka.
"Walaupun sekarang kita berjauhan, tapi aku tetap memikirkan kalian."
"Sudahlah Yura! Jangan pancing kami, jangan harap kami akan menyesal dan meminta maaf padamu! Tertawa saja! Tertawa saja sepuas hatimu, saat ini kamu sudah menang!" Ibu tiba-tiba tersulut emosi, padahal Yura tak ada maksud seperti itu sedikitpun.
"Bu,"
"Cukup Yura! Kamu sudah menyiksa kami secara moril! Kami memang telah menganiayamu secara fisik! Cukup Yura! Pergi lah! Pergi!" Ibu juga malah mengusir Yura.
"Maksud Ibu apa? Aku sama sekali gak ada maksud lain bu, aku hanya ingin memastikan Ibu sama Kak Tania baik-baik saja disini!"
Keadaan menjadi agak kacau, Ibu tak terima kedatangan Yura padahal tak ada maksud lain Yura benar-benar ingin menengok keadaan Ibu dan Tania. Ibu mungkin sudah sangat salah mengartikannya.
__ADS_1
TOK TOK
"Bu Dharma! Bu!"
Ada yang mengetuk-ngetuk pintu sembari berseru memanggil nama Ibu, Yura sampai terkaget.
"Pulanglah! Jangan tertawa melihat apa yang kami alami sekarang ini!" kata Ibu lalu bangkit dan membukakan pintu. Yura tahu kalau saat ini kehidupan keduanya sangat sulit.
"Bayar sama tunggakan yang kemarin ya! Sesuai perjanjian!"
Yura menengok, ada seorang pria tinggi besar yang kini sedang berhadapan dengan Ibu di ambang pintu.
"Uangnya belum ada Bang! Nanti sore aja kesini lagi, gimana?" ucap Ibu pelan, dia terlihat sangat ketakutan dan Yura bisa langsung simpulkan kalau orang itu adalah penagih hutang.
"Gak bisa lah Bu Dharma! Nanti Bu Dharma sembunyi lagi kayak kemarin! Jangan main kucing-kucingan lagi lah sama saya! Saya cape ngejar-ngejar bu Dharma!"
"Saya janji sore ini saya bayar!"
"Gak bisa! Ambil saja barang berharga yang ada di rumah! Biarin lah dari pada usaha saya nihil! Bayar pake TV kek, apa kek ..." orang itu masih sangat memaksa, Yura tak tahan mendengarnya dan dia segera menghampiri Ibu di ambang pintu.
"Ada apa?" tanya Yura.
"Pulanglah!" bisik Ibu tampak sangat malu di hadapan Yura.
"Berapa uang yang harus Ibu saya bayar pak?" tanya Yura heroik sekali.
"Siapa dia? Boleh juga dijadikan jaminan hutang!" sahut si penagih hutang lalu menatap Yura dari ujung kaki sampai ke ujung kepala sampai membuat Yura risih.
"Saya anaknya Bu Dharma! Ini ambil apa ini cukup!" kata Yura tegas lalu dia rogoh kocek celananya dan menyerahkan seluruh uang yang ada di sakunya.
"Wah, ada pahlawan kesiangan nih!"
Orang tengil itu menghitung uang yang tadi Yura berikan. Dan jumlahnya memang tak banyak, itu hanya sisa uang jajan Yura beberapa hari, karena sejak tinggal bersama Lulu dia punya jatah uang jajan setiap harinya.
"Ini masih kurang buat bayar dua hari tunggakan hutang Bu Dharma!" kata orang itu nyeleneh.
"Nanti saya bayar sisanya, tolong jangan tagih ke Ibu lagi, biar nanti saya selesaikan!" tegaskan Yura, Ibu hanya diam dan dia mulai menangis, bisa jadi kalau tangisnya itu adalah tangis haru atas aksi heroik Yura.
"Heum! Baiklah! Minggu depan saya kembali tapi semua hutangnya harus lunas!" tuntut orang itu.
"Akan saya usahakan!"
"Oke! Saya gak mau tahu ya, minggu depan!"
Orang itu melengos meninggalkan Yura dan Ibu yang hanya bisa menangis di ambang pintu.
__ADS_1