Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Jangan cemaskan aku, Kak.


__ADS_3

"Sepatu yang aku belikan semalam dipakai sama saudara tirinya itu!" jawab Arkan, Nara semakin terbelalak dan dia kesal, dia menggerutu dalam hati, dia merutuki Ibu dan saudara tiri pegawainya itu.


"Benarkah?" tanya Azka yang semakin dan semakin tertarik juga dengan babak baru kisah seorang Yura.


"Aku, Keita sama Vano masih menduga-duga sih! Yang bikin dugaannya kuat itu pas tadi pagi Keita jemput Yura ke rumahnya, dia juga melihat si Tania keluar dari rumah Yura!" cerita Arkan.


"Tania? Tania itu yang diduga saudara tirinya?" tanya Nara, dia perhatikan anaknya dengan seksama.


"Iya, dia satu kelas sama Arkan!"


"Wah, kok bisa kamu baru menduga hal itu sekarang?" tanya Nara lagi.


"Arkan kan awalnya gak peduli, lagian siapa sih si Yura? Si Tania? Bukan urusanku kan? Tapi yang bikin aku tertarik, tadi pagi si Tania pakai sepatu yang sama persis dengan sepatu yang Arkan belikan buat Yura, dan dugaan itu semakin kuat lagi karena tadi pagi Yura memang gak pakai sepatunya! Bahkan dia menghilang begitu saja di jam istirahat!" jelaskan Arkan, mendengar Arkan bercerita serasa mendengarkan kesaksian seorang saksi kunci untuk sebuah kasus rumit.


"Apa benar begitu? Tadi mama gak perhatikan dia pakai sepatu yang mana."


"Si Tania juga tiba-tiba pulang di jam pertama tadi, mungkin dia merasa terdesak, mungkin dia pikir sepatu baru Yura bukan pemberian dari Arkan dan Mama!"


"Ya ampun, Yura! Kenapa Mama sedih dengernya," kata Nara dan tanpa terasa matanya sudah berembun, Azka lihat hal itu lalu dia genggam tangan Nara, mencoba menguatkannya.


"Mungkin dia cuma bisa mengalah, mungkin dia takut karena dia merasa gak punya pembela di rumahnya!" kata Azka dan semakin membuat Nara emosional.


"Ya! Sama seperti yang aku alami dulu!" tukas Nara dan kali ini airmatanya benar-benar meniti, Arkan merangkulnya. Dia merasa lebih baik karena kedua pria kesayangannya menguatkannya.


"Mama jangan sedih, sekarang kan Mama udah bahagia sama kita!" kata Arkan manis sekali, Nara semakin terharu saja.


"Iya sayaang! Kehadiran kalian sudah mengubur masa lalu kelam itu! Mama sangat, sangat, sangat bahagia saat ini! Tapi sungguh, saat kenal yura, Mama jadi ingat lagi semuanya!" kata Nara dan tiba-tiba dia terisak karena tak kuasa membayangkan nasib Yura saat ini.


Azka semakin mengeratkan genggaman tangannya dan Arkan juga semakin erat merangkulnya.


"Kita do'akan saja semoga dia juga bisa mendapatkan masa depan yang baik, sepertimu!" kata Azka, Nara mengangguk lalu tersenyum.


Sampai akhirnya maincourse mereka sudah siap, mereka akhiri saat-saat sendu itu dengan senyum dan do'a untuk Yura.


Yura ....

__ADS_1


Gadis malang itu mengayuh sepedanya di antara gelap malam yang dingin. Dia lelah dan ingin segera menepikan tubuh kecilnya yang lelah di atas kasur. Dia sudah melewati gerbang komplek dan hanya tinggal beberapa blok lagi dia akan sampai.


TIDIIIT TIDIIT


Suara klakson lantang sekali berbunyi beberapa kali di belakangnya, Yura sejenak berhenti dan menoleh, Yura belum bisa melihat siapa yang mengejarnya karena sorot lampu sepeda motor itu menyilaukan matanya.


"Yura!" ternyata itu Keita, dan Yura akhirnya merasa terjebak, dia tak bisa menghindari Keita lagi kali ini. Keita bahkan masih memakai jersey team sekolah karena sepulang pertandingan dia langsung berniat untuk menemui Yura.


"Kak,"


Keita mensejajarkan sepeda motornya dengan sepeda Yura yang menepi di pinggir jalan, begitu dekat Keita langsung menatap Yura dengan tajam dan Yura tahu apa itu artinya.


"Lo sengaja menghindari gue di jam istirahat tadi kan?" tanya Keita dan Yura semakin terdesak. "Gak kok Kak, tadi itu aku sakit perut dan bolak balik ke toilet!"


"Kalau begitu, sekarang kamu bisa jelaskan semuanya!"


"Jelaskan apa kak?"


"Masalah si Tania, singkat aja, lo tinggal serumah kan sama dia?"


"Jawab aja, ya atau tidak!"


"Iya,"


Heh, Keita tersenyum kecut. Dia sudah menyimpulkan kalau sepatu itu memang sepatu milik Yura dan dia muak mengingat kejadian tadi pagi.


"Terus sepatu yang dia pakai itu, sepatu lo kan?"


Yura akhirnya pasrah, dia menganggukan kepalanya lalu menunduk lugu, dia tak berani melakukan kontak mata dengan Keita, dan Keita semakin muak dengan sosok Tania.


"Kok dia keterlakuan gitu sih? Kenapa dia tega merampas sesuatu dari lo? Jadi dia itu siapa?" Keita malah masih tampak emosi.


"Dia itu saudari tiriku Kak,"


"Heh, pantesan aja! Dia pasti iri sama lo, gue harus temui dia sekarang juga!" kata Keita lalu dia bersiap dan menyalakan lagi mesin sepeda motornya.

__ADS_1


"Kak Kei mau kemana?" tanya Yura dan tangannya juga sigap menahan tangan Keita, Yura tak mau Keita melabrak Tania karena itu akan berdampak panjang nantinya.


"Ya mau labrak si Tania lah!"


"Jangan kak jangan! Please!"


"Gue akan memperjuangkan hak lo sebagai anak juga! Mereka gak memperlakukan lo dengan baik kan?"


"Aku mohon jangan Kak, jangan!" Yura masih menahan, bahkan dia turun dari sepedanya, membiarkan sepedanya jatuh begitu saja dan dia memegang erat tangan Keita agar tak menarik gas sepeda motornya.


"Kenapa?"


"Gak perlu Kak! Tapi makasih, makasih buat kepedulian dan perhatian Kakak, tapi aku mohon jangan lakukan itu! Aku mohon jangan Kak!" Yura masih memohon bahkan matanya berkaca-kaca dan ketakutan, Keita bisa melihatnya dengan jelas.


"Lo takut?"


"Please! Kak Keita gak akan ngerti apa yang terjadi sama aku selama ini! Saat ini, aku cuma mau hidup tenang, bersama mereka! Aku gak kenapa-napa kok, aku baik-baik saja!"


"Yura! Lihat diri lo saat ini, lo tinggal bersama mereka, dan lo masih sempat-sempatnya bekerja sampai larut begini! Apa Ibu tiri lo juga melakukan eksploitasi terhadap tenaga lo?"


"Astaga Kak, nggak kok gak kayak gitu! Aku bekerja karena keinginanku sendiri! Gak ada paksaan dari siapapun! Yang Kakak lihat gak seperti yang Kakak pikirkan kok! Mereka baik, mereka gak pernah nyakitin aku!" Yakinkan Yura, dia benar-benar takut kalau Tania semakin terpojok dan Yura sudah tahu apa yang akan terjadi kalau sampai Tania marah dan Ibu melihat kemarahan itu.


"Yuraaa ...."


"Kak, gak usah cemas ya, aku baik baik-baik aja kok! Jangan berpikir yang enggak-enggak! Nanti kalau ada waktu, aku akan cerita semuanya sama Kei, aku akan ceritakan semuanya sampai detail!"


Keita mulai agak tenang sekarang, emosinya perlahan pudar saat Yura terus mencoba meyakinkannya.


"Kakak pasti cape, selamat ya, kalian masuk 8 besar, di final nanti aku akan usahakan untuk hadir langsung di tribun!"


Keita masih lekat menatap Yura yang masih berusaha terlihat baik-baik saja di depannya.


"Aku cape nih, aku pulang ya! Kakak juga pulang! istirahat!" kata Yura lalu dia tegakkan lagi sepedanya dan bersiap untuk kembali mengayuh.


"Kalau ada apa-apa, aku pasti bilang sama Kakak! Aku pulang ya, byee!" Yura kayuh pedalnya dan perlahan menjauh meninggalkan Keita yang tak bisa memaksakan lagi kehendaknya untuk melabrak Tania secara langsung. Dia pikir kalau dia lakukan itu, itu akan menjadi masalah baru untuk Yura.

__ADS_1


Setelah memastikan Yura menjauh dan hilang dari pandangannya, Keita pun putuskan untuk pulang.


__ADS_2