Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Grown up so fast


__ADS_3

Arkan menandatangani kesepakatan kontrak dengan Sunrise. Mimpinya benar-benar terwujud, di usia yang masih terbilang cukup muda akhirnya dia bisa mencatatkan namanya sebagai bagian dari klub kebanggaan sang Papa.


Sedang Yura? Selepas lulus kuliah, dia rutin mengikuti cooking class. Sepertinya dia punya rencana untuk masa depannya. Setelah lulus dan menyandang gelas Sarjana Managemen Bisnis, Yura membekali dirinya dengan mengikuti kelas memasak, mungkinkah Yura berencana membuka usaha kiliner?


Bagaimana dengan Keita, Keita ternyata juga akan meneruskan study-nya. Dia akan mengambil kuliah pascasarjana untuk mengambil gelar magisternya di London. Dia memang serius menjalani kuliahnya di luar negri sepertinya Keita ingin meneruskan bisnis keluarga besarnya.


Tak terasa mereka tumbuh begitu cepat, dan berkat kegigihan dan kerja keras, mereka sudah hampir pada tujuan awal mereka.


***


"Huh, gagal terus!" keluh Yura, dia sedang melakukan trial di rumahnya, sepertinya Yura serius ingin memulai bisnisnya.


"Waaah, kuenya belum ada yang jadi?" sapa Yuki, dia bangga melihat anak angkatnya begitu semangat merajut mimpi-mimpinya.


"Ada sih yah, tapi hasilnya gak maksimal, coba deh ..." kata Yura lalu dia sodorkan sepiring kookies yang memang tampak agak gosong, dengan senang hati Yuki mencobanya.


Yuki tersenyum sembari mengunyah hasil karya Yura itu, Yura agak malu karena dia merasa masih ada banyak kekurangan.


"Masih sangat jauh dari ekspektasi, hehe," kata Yura lalu tersenyum nyengir memperlihatkan gigi-giginya.


"Ini sudah lumayan berhasil kok, kamu jangan menyerah ya!" semangati Yuki membuat Yura merasa terpacu untuk terus mencoba.


"Iya Ayah!"


"Ayah mau keluar sebentar, kamu tetap di rumah ya takutnya nanti Arkan kesini," kata Yuki.


"Arkan?"


"Iya, kemarin dia baru saja tanda tangan kontrak sama Sunrise, dia mau ngobrol-ngobrol ringan aja sama ayah,"


'Arkan? Aaah, udah lama gak ketemu dia! ' batin Yura, dia malah jadi agak deg-degan, karena kesibukan masing-masing mereka jadi jarang bertemu.


"Iya, nanti aku sampaikan,"


"Berangkat dulu yaa," pamit Yuki meninggalkan Yura sendiri dan fokusnya malah agak terbagi. Arkan, laki-laki kecil yang kini mulai beranjak dewasa dan karena Arkan fokus dengan kuliah dan trainingnya di Sunrise, Yura pun jarang memiliki waktu bersama dengan Arkan.

__ADS_1


'Aku harus buat sesuatu yang spesial buat dia, apa yaa?' pikirnya, tiba-tiba Yura merasa tertantang untuk membuatkan kue spesial untuk laki-laki yang sempat membuatnya deg-degan setiap mendengar namanya dan bahkan sampai sekarang pun masih.


KRIIIING, tiba-tiba ponsel dalam apronnya berdering. Yura segera mencuci tangannya yang sudah berlumur adonan dan segera mencari tahu siapa yang menghubunginya saat ini.


Keita? Baru saja dia mengingat Arkan, tiba-tiba Keita hadir via video call, Yura sampai merasa bersalah karena baru saja memikirkan Arkan secara ilegal. Yura menghela nafas, dia merasa seperti ke-gap secara tidak langsung oleh pacarnya itu.


"Hmm, hai ...."


Keita dengan muka bantal tampak dari layar ponselnya, mungkin saja Keita baru saja bangun.


"Selamat siang," sapa Keita.


"Ya, selamat pagi sayang," sapa balik Yura dan mereka malah ketawa-ketawa ringan, perbedaan ruang dan waktu membuat mereka berada dalam waktu yang berbeda.


"Lagi apa? Kenapa muka kamu putih-putih begitu?" tanya Keita saat dia dapati ada tepung di beberapa bagian wajah Yura, Yura jadi malu karena tak sempat merapikan penampilannya.


"M, ini ... oh iya lihat deh," Yura mengarahkan kameranya ke area dapur mencoba membagi kegiatannya siang ini, Keita tampak bangga dan rasa rindu itu semakin melanda.


"Huh, jadi pengen cepat-cepat pulang!" Keita mendengus.


"Tapi hasilnya gagal terus, semoga nanti pas kamu pulang aku udah andal deh bikin kuenya," keluh Yura lalu berharap.


"Kamu harus tetap semangat ya, raih hasil terbaik disana!"


"Iya sayang,"


Obrolan yang terbatas oleh ruang dan waktu tapi walau begitu Yura maupun Keita setidaknya bisa melepas rindu walau sekilas dan tak banyak. Selama lebih dari 3 tahun ini, Yura selalu setia pada Keita walau kadang Arkan kadang mengusik keteguhan hatinya.


"Udah dulu ya, aku ada kelas pagi!"


"Iya, semangat!"


"Kamu juga, byee," pamit Keita.


"Byee!"

__ADS_1


Yura akhiri sambungan telphonnya lalu dia masukan kembali ponselnya ke dalam apron. Dan dia lanjutkan kegiatan memasaknya.


Sampai Arkan akhirnya datang beberapa saat kemudian dan sebenarnya Yura belum selesai dengan acara memasaknya, saat Yura membukakan pintu dia disambut dengan Yura dengan muka cerong-cerong oleh tepung dan Arkan langsung tertawa geli dibuatnya.


Akhirnya, sembari menunggu Yuki pulang, Arkan ikut menemani Yura di dapur. Dia duduk di depan bench memasak Yura, sudah lama mereka tak bertemu dan mungkin saja Arkan juga merindukan sosok Yura.


"Udah berjam-jam dan belum ada hasil yang maksimal!" kata Yura sembari dia uleni adonan dan bowlnya. Mungkin itu adalah adonannya yang ke-tiga.


"Practice makes perfect! Terus aja coba," sahut Arkan mencoba menyemangati.


"Iya sih,"


"Ini hasilnya?" tanya Arkan pada sepiring kookies Yura yang gagal, Yura hanya tersenyum getir.


"Iya, gimana bisa aku buka toko kue coba kalau hasilnya kayak gitu," keluhnya lagi.


"Ini kan baru permulaan."


"Tapi aku gak sabar kak, gak sabar rasanya membuat banner besar 'LULU CAKE 'n COOKIES'," khayal Yura dan Arkan mengerti bagaimana perasaan Yura saat ini. Yura begitu gigih, dia ingin mendedikasikan hasil belajar dan usahanya untuk mendiang Lulu.


"Lo cuma perlu usaha, semua orang mendo'akan kok!" semangati Arkan lagi, Yura menyambutnya dengan senyum hangat.


Arkan perhatikan lagi sosok Yura yang begitu fokus membentuk adoanannya dan meletakannya berderet-deret rapi di atas loyang. Sayang sekali, gadis itu masih milik sahabatnya, perasaannya kembali tergugah dan Arkan harus rela untuk menunggu lebih lama lagi.


"Oh iya, selamat ya, Kak Arkan udah sampai pada tujuan Kakak, jadi kapan kamu debut bersama Sunrise Kak?" tanya Yura mengalihkan topik pembicaraan.


"Musim ini, musim baru kan akan dimulai beberapa pekan lagi," sahut Arkan.


"Waah, gak sabar rasanya, melihat kamu pakai jersey Sunrise terus berlaga mengarungi musim kompetisi, selamat ya!"


"Gue gak muluk-muluk sih, musim debut ini pasti gue lebih banyak duduk di bangku cadangan."


"Gak apa-apa, aku yakin nanti pelatih akan melihat potensi Kak Arkan dan bukan tidak mungkin Kakak bisa jadi team inti."


"Semoga!"

__ADS_1


Begitulah, saat kita berusaha meraih mimpi, usaha dan do'a adalah dua hal yang terpenting dan sisanya adalah keberuntungan. Yura menunjukan hal itu, sejak dulu dia selalu berusaha dan bersabar, dan walau dia belum benar-benar sukses tapi dia berhasil memukau orang-orang sampai membuat mereka menyayangi Yura sepenuh hati. Dan kunci dari segalanya adalah kesabaran.


Arkan tetap menemani Yura sampai akhirnya Yuki datang dan membuyarkan momen kebersamaan mereka itu.


__ADS_2