Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Nostalgia singkat


__ADS_3

"Selamat sore, selamat datang di Sunkiss cafe!" Sapa Yura saat ada seseorang yang memasuki cafe, Yura katakan sapaan itu tanpa menoleh sedikitpun karena dia sedang sibuk membereskan meja yang kotor.


"Selamat sore Kak Lulu," sapa Danty, ternyata yang datang Lulu. Yura tidak tahu siapa itu Lulu, tapi melihat Danty begitu menghormatinya maka Yura pun ikut menyapa Lulu dengan senyum manisnya.


Lulu sampai stuck menatap Yura untuk beberapa detik.


"Kamu pegawai baru?" tanya Lulu pada Yura.


"Iya," jawabnya malu-malu, Lulu tersenyum menatap tingkah polos Yura.


"Hai, Lu udah lama?" tanya Nara yang berjalan di tangga dari ruangannya di lantai atas.


"Baru kok, baru aja datang!" sahut Lulu, sepertinya Lulu dan Nara berencana untuk pergi bersama. Lulu masih mencuri-curi pandang kearah Yura, tapi Nara sepertinya sudah bersiap untuk pergi.


"Saya pergi dulu ya!" pamit Nara pada Danty dan para pegawai lainnya.


"Iya, bu!"


"Ayo Lu!"


Sepanjang perjalanan, Lulu malah terus terbayang-bayang sosok Yura, entah apa alasannya. Dia duduk di jok di samping Nara yang sedang fokus mengemudi.


"Ada pegawai baru?" tanya Lulu memulai obrolan.


"Iya, freelance sih! Kasihan, dia pelajar adik kelas Arkan malahan!" sahut Nara, Lulu semakin tertarik.


"Oh ya? Kenapa dia bekerja?"


"Entahlah, tapi sepertinya dia memang gadis mandiri! Kenapa?" Nara sesekali melirik kearah Lulu yang mulai bersikap aneh sejak bertemu Yura tadi.


"Lo tahu? Gue malah merasa ada masa lalu lo di diri gadis itu, entah kenapa?" ungkap Lulu, Nara juga tertegun untuk beberapa detik. Apa yang Yura alami saat ini memang seperti yang dia alami di masa lalu, menjadi yatim piatu sejak dini dan tinggal bersama Ibu dan saudari sambung.

__ADS_1


"Lo benar Lu!"


"Benar? Maksudnya?"


"Kata Arkan, dia itu memang seorang yatim piatu dan saat ini tinggal sama Ibu tirinya! Gimana menurut lo? persis kisah gue kan?"


Lulu berdecak, dia semakin tertarik dengan Yura. Apakah Lulu berpikir untuk mendekati Yura secara personal?


Kemana Nara dan Lulu pergi saat ini?


Ternyata mereka hendak menonton pertandingan Arkan dan kawan-kawan. Mereka begitu semangat dan merasa bernostalgia. Sudah lama mereka tak menyaksikan pertandingan Basket secara langsung, sudah lewat bertahun-tahun lalu.


Venue Sunrise sudah cukup ramai oleh beberapa supporter kedua kubu yang akan bertanding saat ini. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak berseragam sekolah, tapi tak sedikit juga para orangtua siswa yang datang.


"Berasa nostalgia gak sih?" tanya Lulu lalu memilih tempat duduk paling depan.


"Iya, bedanya sekarang junior-junior yang akan bertanding!" sahut Nara tak kalah excited.


DRDDD, DRRRD ... ponsel dalam tasnya bergetar, Nara ambil dan betapa senangnya dia saat yang menghubunginya saat ini adalah Azka, bahkan Azka melakukan panggilan video saat ini, dengan semangat Nara mengangkatnya.


Penampakan Azka yang sedang bersantai di kamarnya, Nara senang sekali bersua dengan suami tersayangnya itu walau hanya via videocall.


"Kok, gaduh? Kamu udah di venue?" tanya Azka samar-samar.


"Udah dong, sama onty Lulu!" sahut Nara lalu menunjukan layar ponselnya kearah Lulu dan Lulu menyapanya dengan lambaian tangan.


"Pertandingannya belum mulai?" tanya Azka lagi.


"Sebentar ya, aku tunjukin Arkan lagi ngapain sekarang!" kata Nara lalu dia alihkan kameranya sampai yang ter-expose kini adalah Arkan yang sedang melakukan pemanasan di lapangan.


Azka terlihat sangat bangga melihat anaknya ada di lapangan yang dulu menjadi tempatnya berlaga.

__ADS_1


Saat Arkan menoleh, Nara melambai-lambaikan tangannya dan mengisyaratkan kalau saat ini Azka sedang menelphonnya. Arkan hanya membalas dengan senyum, cukup jelas walau dari kejauhan.


Lulu menatap potret hangat keluarga kecil sahabatnya itu. Ada rasa bahagia namun jujur saja, dia juga terkadang merasa iri. Bagaimana tidak? Belasan tahun membina rumah tangga bersama Yuki dan dia sudah kehabisan kesempatan untuk memiliki anak. Salah satu penyesalan Lulu adalah karena dia tak bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk pria se-sempurna Yuki.


"Ya ampun, gue kangen banget sama laki gue Lu," kata Nara saat dia selesai dengan obrolannya.


"I feel you ...." sahut Lulu.


"Gimana kalau pas nanti Azka pulang, kita holiday bareng!" usul Nara.


"Boleh!"


Yuki malah datang menghampiri, dia masih tampak mempesona walaupun sudah berkepala empat. Dia langsung menyapa istrinya dengan pelukan dan jabatan tangan untuk Nara. Walaupun dulu sempat ada cinta yang menggebu antara Nara dan Yuki tapi kini mereka menjalani dan menghargai kehidupan masing-masing.


"Lihat Arkan, gak sabar lihat aksinya!" kata Yuki pada Nara, Nara kembali tersenyum bangga.


"Pasti bakat Papa sama Omnya nurun dengan sempurna!" goda Lulu.


Persahabatan mereka begitu indah dan tak lekang oleh waktu. Walau sudah melewati berbagai aral melintang tapi mereka tetap bersama dalam kebahagiaan.


Sampai menit demi menit berlalu, seluruh perangkat pertandingan sudah bersiap di lapangan.


PRIIIIIT, playoff babak pertama sudah dimulai. Sorak sorai bergemuruh dan pertandingan antara 10 orang anak muda itu langsung berlangsung dengan sengit.


Yura mengantarkan pesanan terakhirnya kepada seseorang di sebuah perkantoran. Karena cukup lelah dia sejenak menepi di depan sebuah halte, dia duduk melepaskan penat lalu menggunakan topinya untuk menciptakan hembusan angin guna meredakan rasa gerahnya.


Dia lihat sebuah banner raksasa di salah satu sudut lampu merah, ada iklan tentang turnamen basket yang diadakan pemkot dan managemen Sunrise. Dia jadi ingat pada team sekolah yang saat ini sedang melakoni pertandingan itu, terutama pada Keita dan Arkan. Keduanya sudah cukup banyak melakukan interaksi dengan Yura dalam momen-momen yang cukup mendebarkan.


'Semoga mereka menang hari ini!' harapnya.


Yura memang tak bisa seperti anak-anak sebayanya yang bisa menikmati masa remaja dengan main dan keceriaan lainnya. Sekejap dia menyesalinya tapi kemudian dia ingat lagi kalau dia harus tetap semangat.

__ADS_1


Tak ada yang tidak mungkin, dia yakin kalau suatu hari hidupnya akan indah pada waktunya. Apalagi kalau dia tahu bagaimana kisah hidup Nara yang melewati banyak rintangan dengan sabar sampai akhirnya kini dia bisa mengecap manisnya hidup bersama suami dan anak yang menemani hari-harinya.


__ADS_2