
Ini adalah hari terakhir Yura menghabiskan waktunya di negeri Ratu Elizabeth itu. Yura maupun Keita menghabiskannya dengan bersenang-senang. Mengunjungi museum bersejarah dan tak lupa membeli beberapa cinderamata di kawasan Oxford Street.
Yura sampai kebingungan mencarikan oleh-oleh untuk beberapa orang di Jakarta. Tapi yang dia ingat hanya Alika, Arkan dan Nara.
"Cuma 3 orang itu aja, cuma mereka yang ada di kepalaku!" kata Yura sembari memilih-milih barang-barang unik bernuansa Inggris.
Yura tak memilih banyak barang karena dia takut Keita terlalu banyak mengeluarkan terlalu banyak uang untuknya.
Selepas itu Keita juga menyempatkan waktu untuk membawa Yura pada teman-temannya. Ada berbagai macam etnis. Ya, teman Keita banyak dan dari berbagai negara dan suku.
Yura senang karena Keita memperkenalkan dirinya dengan bangga. Walau Yura tak mengerti banyak tentang apa tanggapan teman-temannya itu tapi Yura yakin kalau Keita memperkenalkannya dengan bangga.
Dan lagi, Dara ada disana. Menelan kegetiran tak kala melihat Keita merangkul dan membawa Yura ke hadapan teman-temannya dengan bangga.
'Aku akan segera ada disana Han Yura! Aku yang akan ada dalam rangkulan Keita! Ini semua gak adil! Aku sampai harus menunggu 6 tahun lamanya! Tapi, lihat saja! Secepatnya aku akan segera menggantikan posisi kamu!' tekadnya.
Yura belum tahu, dia pikir Dara tak menyimpan tekad sebesar itu pada kekasihnya. Kini hubungan Keita-Yura benar-benar dalam ancaman yang nyata. Bukan hanya Dara, tapi masih ada pihak lain yang menginginkan kehancuran hubungan mereka.
Dan hari ini sudah selesai ....
Yura dan Keita pulang dengan seabreg barang-barang yang tadi mereka beli bersama-sama.
"Hehe, teman-teman kamu lucu-lucu deh Kak!" kata Yura sembari terkekeh.
"Ya, mereka sangat menghibur kalau aku tiba-tiba kangen sama keluarga dan teman-teman di Jakarta! Terutama kalau aku kangen sama kamu!" kata Keita penuh dengan kata-kata gombal yang membuat Yura kembali terkekeh.
"Tapi seneng juga sih disini ada Kak Dara, jadi kamu gak terlalu merasa asing dengan lingkungan disini Kak!"
"Dara? Ya sih, tapi tetap ya, gak akan ada yang bisa menggantikan kamu!"
"Heum, ya udah puas-puasin deh gombalnya! Kapan lagi aku dengar Kak Kei gombal secara langsung begini," goda Yura malah membuat Keita semakin gemas.
Saat ini keduanya sedang duduk di tepi ranjang. Yura sibuk mengemasi barang-barangnya dan Keita sibuk memuaskan matanya dengan memandangi Yura lekat-lekat.
"Aku akan sangat merindukan kamu lagi," kata Keita dan dia masih memandangi Yura, Yura hanya menoleh.
"Jangan cemas, aku akan selalu setia menunggumu lagi! 9 bulan lagi kan?"
__ADS_1
KRIIING, dering ponsel Keita tiba-tiba memecah suasana biru itu, Keita segera angkat teleponnya.
"Okay, i'll be right there! In 10 minutes! (Oke, aku akan segera kesana! Dalam 10 menit!)"
"Ada apa Kak? kelihatannya panik banget?" tanya Yura setelah percakapan singkat Keita berakhir.
"Aku lupa ada tugas yang harus segera dikirim! Aku lupa gak bawa laptopnya!"
"Oh, ya udah sana cepat-cepat selesaikan Kak!"
"Iya, kalau sempat nanti malam aku kesini lagi ya, kita makan malam di luar lagi!"
"Iya!"
"Bye!"
Kiss, sebelum beranjak Keita tinggalkan kecupan manis di pipi Yura. Yura hanya tersenyum. Kalau dihitung-hitung, sudah lebih dari lusinan kali Keita memberinya kecupan manis di pipi selama dia ada di London ini.
Yura lanjutkan pekerjaannya. Dia segera masuk-masukan pakaian dan barang-barang yang tak mungkin dia pakai lagi. Dia harus beres-beres karena jadwal kepulangannya ke Jakarta adalah besok, pagi-pagi pula.
TOK TOK, Yura agak kaget dan heran, siapa yang mengetuk pintu kamarnya? Apa Keita ketinggalan sesuatu? Pikirnya.
Yura bangkit, membukakan pintu dan yang datang adalah Dara. Yura sambut kedatangannya dengan senyuman hangat.
"Eh Kak Dara, masuk masuk!" persilakan Yura.
Dara masuk dan dia datang dengan sikap yang dingin. Sepertinya Dara sengaja menemui Yura saat Keita sudah pulang dari sana.
"Kak Kei baru saja keluar, sekitar 10 menit yang lalu!" kata Yura mencoba berbasa-basi. Dara masih diam dan duduk di kasur Yura, hanya itu yang bisa diduduki di ruang sempit itu.
"Duh, berantakan nih, maaf ya ...."
"Yura!" panggil Dara menyela kalimat Yura yang belum selesai, Yura menoleh, "iya Kak?".
"Aku masih mencintai Keita!"
Yura terpaku, pengakuan apa itu? Keluar dari mulut Dara tanpa ancang-ancang, tanpa aba-aba. Yura tatap Dara dan dia melihat kesungguhan di sorot matanya.
__ADS_1
"Kamu harus tahu hal ini!" tegasnya.
"I-iya, aku tahu Kak," gumam Yura, pelan sekali. Yura malah merasa risih dengan pengakuan itu tapi Dara sepertinya memang tak main-main.
"Kamu tahu sejak dulu kan? Sejak kita masih duduk di bangku SMA, iya kan?"
"Iya ...."
"Kamu tahu memendam perasaan sampai bertahun-tahun lama itu kayak gimana rasanya? Sakit Yura! Sakit!" emosi Dara meluap-luap.
'Kak Dara,' Yura hanya mampu menggumam dalam hati. Yura cukup shock dengan pengakuan spontan Dara yang tanpa basa-basi atau kata pembuka.
"Kamu gak tahu kan rasanya dibelenggu rasa iri selama bertahun-tahun? Aku iri sama kamu, Yura!"
"Kak, Kak Dara harus bisa buka hati buat yang lain! Kak Dara sangat berharga, banyak yang mengharapkan cinta dari Kakak di luar sana," kata Yura pelan-pelan, dia tahu kalau saat ini Dara sangat tidak stabil. Dia akan mencoba mengalah dan tak terprovokasi.
"Gak bisa Yura! Gak bisa!"
"Kak ...."
"Yura, bisa kan kamu berikan Keita buatku saja?"
Yura semakin tak mengerti, kenapa Dara bersikap seenaknya seperti itu. Yura pikir Dara sudah ada di luar kendali.
"Kak Dara, maksud Kakak apa?"
"Lepaskan dia! Karena dia gak mungkin melepaskan kamu, maka dari itu aku minta kamu yang mulai perlahan melepaskan dia!"
OMG, hanya itu yang dapat Yura katakan. Kenapa? Ada apa dengan Dara? Apa rasa cintanya pada Keita sudah begitu besar sampai tak dapat dibendung lagi. Yura sangat takjub dengan kejujuran Dara tapi mana mungkin dia merelakan Keita begitu saja? Its a no no! Big No! teguhnya dalam hati.
"Kak, apa yang kamu pikirkan? Ya aku tahu Kakak suka Kak Kei sejak dulu tapi sekarang ...."
"Waktu tiga tahun buatmu udah cukup kan? Aku sengaja memberimu 3 tahun dan sisanya, aku yang punya!"
Yura hanya geleng-geleng kepala, dia tak percaya dengan situasi ini, transisinya begitu cepat. Baru saja Dara sok tegar saat tadi Keita merangkulnya dengan mesra di depan teman-temannya. Sekarang dia malah mengakui seluruh isi hatinya tanpa basa-basi.
Bagaimana Yura bisa merasa tenang dengan pengakuan dan tekad Dara? Apakah Yura akan mengalah begitu saja?
__ADS_1