
"Yur, lakukan sesuatu! Bentar lagi mereka pasti berantem!" bisik Alika panik, dia sangat panik melihat dua anak lelaki yang sedang sama-sama tersulut emosi berdiri saling menunjukan taji dan ego mereka.
"Sorry ya Bro! Gue lagi malas ribut-ribut! Gue masih banyak urusan!" kata Zahran lalu dia kembali menaiki sepeda motornya, Yura agak lega saat Zahran mencoba menghindari kekacauan ini.
"Heh, pecundang lo!" cibir Keita.
"Goodnite sayang!"
GRUUUUUUNG, Zahran tancap gas dan suara motornya yang berisik seperti sebuah provokasi untuk Keita yang semakin dan semakin membenci. Dan setelahnya, matanya memicing tajam pada Yura yang masih dan selalu gamang.
"Pengkhianat emang pantas buat pecundang!" desis Keita tajam dan wajahnya menyeringai pada Yura. Rasanya baru kali ini Yura melihat Keita semarah itu. Apa yang bisa dia lakukan? Dia memang masih belum bisa beranjak dari kebodohannya. Andai saja itu mudah, sudah sejak tadi Yura mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi nasi sudah menjadi bubur.
"Kak tolong ampuni aku!" Yura tak tahan akhirnya dia memberanikan diri untuk meraih tangan Keita.
"Untuk apa? Untuk pengkhianatan yang sempurna ini?" Bentak Keita, sakit terasa menusuk ke jantung hatinya.
Alika gemas sekali, ingin sekali rasanya dia katakan yang sebenar-benarnya tapi Alika juga sadar kalau situasi dan kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan.
"Iya, aku harap setelah ini kita masih bisa berhubungan baik sebagai teman! Maafkan aku kak, karena aku gak bisa menghindari ini!"
"Heh, aku benci kenapa aku harus cinta sama kamu! Cinta sedalam ini! Kalau ada satu hal yang paling aku sesali seumur hidupku, itu adalah cinta dan percaya sama kamu! Aku menyesal Han Yura!"
Keita hempaskan tangannya sampai tangan Yura juga tampak terpelanting begitu saja. Sakit sekali tapi memang ini lah resiko terbesar mengikuti skenario Dara, dibenci oleh orang yang sempat sangat mencintai.
Keita menarik langkahnya, dia segera naik kembali ke dalam mobilnya dan pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Malam yang menyesakkan. Alika cuma bisa merasa gemas. Dan Yura semakin hari semakin terlihat bodoh.
"Dia pasti sangat berharap sama kamu Yur makanya dia kecewa dan marah seperti itu! Entahlah! Aku gak tahu aku harus ada dipihak siapa, yang pasti korban dari kebodohan kamu saat ini adalah Keita! Cuma Keita!" kata Alika jujur, dia ikut larut dalam kisah cinta Yura yang semakin hari semakin rumit.
"Iya itu benar ...." gumamnya penuh penyesalan.
"Nah itu sadar!"
"Tapi semuanya udah sangat terlambat Al!"
"Nikmati saja Yur, sumpah! Kadang aku tuh kesel sama kamu!" cibir Alika, Yura hanya tersenyum getir. Dia tak bisa marah, karena memang dirinya lah yang bersalah.
"Udah dong Al ...."
"Ya udah mau bagaimana lagi? Ayo! Kita masih punya urusan lain! Semangat! Semangat! Semangat!"
***
Keita, Arkan dan Vano tengah bercengkrama santai di sebuah cafe di dekat asrama Arkan. Mereka saling menyapa, berbagi cerita dan pengalaman. Sudah cukup lama mereka tak duduk bertiga dalam satu meja seperti itu.
Dalam situasi seperti ini, Keita bisa sedikit melupakan kesedihannya. Dia bisa sedikit tersenyum lepas walau masih ada tersisa getir di sela-sela tawanya.
"Kenapa lo ambil cuti 1 semester Kei?" tanya Vano memulai obrolan serius mereka, obrolan yang ditemani tiga cangkir kopi dan cemilan-cemilan ringan.
"Gue butuh rehat Van! Konsentrasi gue buyar!" sahutnya.
"Iya sih, lo udah cukup belajar keras, lo emang butuh istirhat!" sahut Vano.
"Gue udah liat orangnya, gue gak ngerti apa yang si Yura lihat dari cowok ******** itu! Gue rasa dia gak lebih baik dari gue!" kata Keita, suasana mulai melow lagi, Arkan pribadi juga sampai tak habis pikir dengan apa yang Yura lakukan walau sebenarnya ada gelagat Dara dibalik ini semua.
"Gue juga gak nyangka! Kalian sama-sama udah cukup lama! Malahan gak pernah sekalipun dia bersikap mencurigakan! Rapi banget apa yang dia lakukan ini!" kata Vano.
"Dan lo gak tanya alasan konkritnya?" tanya Arkan.
"Bosan! Itu aja, singkat! Padat! Jelas! Gue merasa itu bukan dia yang sebenarnya, tapi ya ini kenyataannya! Sial memang!" jawab Keita lalu menggerutu.
"Namanya Zahrankan? Dia kerja di sebuah bengkel kecil deket kampus gue dulu!" jelaskan Arkan.
"Kerja di bengkel kecil? Lah lah, apa sih yang lo cari Han Yura? Apa kurang jelas kalau masa depan lo lebih cerah Kei, Astaga ... kenapa dia jadi seperti ini?" Vano sampai berdecak dan tak percaya.
"Mungkin dia dapat kepuasan!" cibir Keita, padahal dalam hati dia tak rela melontarkan jawaban itu, tak kuasa membayangkan gadis yang dia anggap baik selama ini melakukan hal di luar batas seperti yang ada dalam benaknya.
"Huh, gak habis pikir gue ...."
__ADS_1
"Harusnya gue curiga waktu pertama dia tiba di London. Malam itu, dia beda! Dia agresif! Pernah gue ceritakan sama lo kan Ar?" tanya Keita, Arkan hanya mengangguk.
"Gue heran, kenapa dia duluan kiss gue, bahkan sebelumnya dia sering kali malu-malu! Harusnya gue curiga kalau ternyata dia sudah biasa melakukannya dengan pria lain di belakang gue!" tambah Keita.
DEG, mendengar pernyataan itu Arkan sedikit tersindir dan tersentil. Arkan juga pernah merasakan ciuman manis seorang Han Yura.
"Aah, benar-benar di luar dugaan!" cetus Vano.
"Huh, sial gue sepertinya gue gak akan bisa move on cepat-cepat!" akui Keita lalu dia tampak lesu.
"Semangat Kei! Kalau ada sesuatu yang gak beres, pasti suatu saat akan terungkap kok! Kita lihat aja apa yang sebenarnya terjadi sampai dia tega mengkhianati lo seperti ini!" kata Vano mencoba memberi suntikan semangat.
"Iya Kei! Tetap semangat!" tambah Arkan.
"Thanks guys!"
"Gue harus cabut nih, beberapa menit lagi masuk jam latihan rutin!" kata Arkan yang seperti bersiap untuk pergi.
"Iya, lo juga semangat ya Ar!" kata Vano.
"Semangat bro!" sambung Keita.
"Pasti! Besok nonton ya pertandingan gue!"
"Oke bro!"
"Gue cao yaa!" Setelah saling bersalaman Arkan benar-benar berlalu dari sana meninggalkan Keita dan Vano saja.
"Oh iya Kei, rencananya lo mau ngapain selama cuti?" Vano memulai topik baru.
"Gak tahu, yang pasti gue pengangguran!"
"Ikut Papi lo aja ngurusin bisnis keluarga!"
"Heum, mungkin! Tapi buat sekarang, gue sangat kehilangan spirit! Gue malas mau ngapa-ngapain!"
"Dari pada galau-galau terus mending lo move on! Buka mata, buka hati buat gadis-gadis lain, biarkan si Yura menikmati pengkhianatannya, dia pasti bakalan nyesel kok!"
"Ayolah, semangat ma-men! Lo ini cakep, keren, tajir pula, gak akan ada yang bisa nolak pesona lo!"
"Lebay lo!"
"Tapi gue bicara fakta! Huh, masa lo gak ngerasa sih, ini bukti nyata kalau si Dara aja sampai bucinin lo sampai bertahun-tahun, sampai ngikutin lo kuliah ke UK, terus pas lo cuti dia juga ikut-ikutan cuti! Dia cakep loh Kei, lo sama sekali gak tertarik sama dia?"
Dara lagi! Keita sebenarnya malas juga membahas Dara karena dia merasa kalau Dara selalu membuntutinya dan itu sangat tidak nyaman.
"Lo ngerasa gak kalau dia itu malah kayak obsesif!" kata Keita meminta pendapat.
"Iya sih, dia emang kayaknya bucin sejati! Sampe bela-belain ikut lo jauh-jauh ke Inggris!"
"Kadang dia juga bersikap berlebihan pas disana! Satu waktu dia pernah tiba-tiba ada di dalan kamar gue," cerita Keita.
"Oh ya? Lo gak pernah cerita ini!" Vano sampai terkaget dan antusias.
"Gue gak pernah cerita siapa-siapa karena gue merasa ini gak pantas untuk diceritakan!"
"Emang dia ngapain? Lo tanya alasannya kan?"
Huh, Keita menghela nafas, dia sepertinya ingin menceritakan satu hari yang menyebalkan bersama Dara. Satu peristiwa yang belum pernah dia ceritakan pada siapapun.
"Tapi lo janji keep peristiwa ini ya!" kata Keita.
"Ok, ceritakan saja! Gue penasaran tauuu!"
"Ceritanya ...."
Suatu hari di salah satu sudut kota London di sebuah gedung asrama para pelajar pertukaran. Kejadiannya sekitar dua tahun lalu, saat Keita sudah memasuki semester ke 4 di London.
Keita masuk ke kamarnya, hanya berukuran sekitar 4x4 saja. Tapi Keita menatanya dengan cukup rapi. Dia baru saja makan malam bersama beberapa teman-temannya, dia langsung menjatuhkan tubuhnya yang lelah ke atas kasur, saking lelahnya ia sampai lupa mengunci kamarnya. Dan di saat itu lah Dara datang, masuk dan duduk di tepi ranjang Keita, sama persis seperti saat dia duduk di samping Yura sebelum dia menerornya habis-habisan.
__ADS_1
"Keita, aku sangat mencintai kamu! Aku akan mendapatkanmu!" gumamnya kala itu sembari memandangi Keita yang terlelap begitu saja di atas kasurnya.
Ya, hal ini sepertinya sudah menjadi fetish untuk Dara. Dia senang diam-diam masuk menyelinap ke kamar orang. Bukan untuk mencuri tapi hanya duduk memandangi wajah Keita yang sama sekali tak menyadari kehadirannya.
Keita tak sadar sampai berjam-jam lamanya, dan saat tengah malam dia terbangun karena kehausan barulah dia sadar kalau Dara tiba-tiba ada terbaring di sampingnya. Tak ada kontak fisik apapun, Dara hanya terbaring berjarak beberapa inci tapi sungguh hal itu adalah horor yang nyata untuk Keita, seperti mimpi buruk.
"Dar! Dara!" Karena replek kaget, Keita langsung menghentak membangunkan Dara dan dia tersadar juga dari tidurnya.
"Kenapa sih Kei? Ganggu!" sahutnya malas.
"Kenapa? Lo yang kenapa? Kenapa lo ada disini, huh?" tanya Keita semakin skeptis.
"Udah, tenang aja, aku gak akan bilang siapa-siapa kok! Aku gak akan cerita sama si Yura kalau malam ini kita sama-sama ...." jawabnya bergumam tapi Keita bisa mendengarnya dengan jelas.
"Maksud lo apa sih? Sejak kapan lo disini? Bangun! Bangun dan jelaskan Dara!" tuntut Keita bahkan dia sedikit kasar dan memaksa Dara untuk bangun dengan paksa.
"Ya ampun Kei, kamu gak sadar kalau tadi itu kamu mabuk? Kamu jatuh di anak tangga lantai 2 dan aku bantu kamu sampai ke kamarmu ini!" jawabnya penuh fiktif. Keita semakin tak mengerti saja, dia ingat betul kalau tadi dia hanya makan malam bersama teman-temannya. Dia hanya minum softdrink dan tak mengkonsumsi bir sama sekali.
Keberadaan dan alasan Dara membuat Keita terheran-heran. Rasanya apa yang Dara ceritakan sangat tidak masuk akal karena kenyataannya saat ini dia sama sekali tak mabuk. Dara sangat aneh, dia sangat menakutkan.
"Lo jangan bercanda Dar! Ini apa maksudnya?"
"Duuh, bisa gak ngomelnya besok aja, aku gak kuat ngantuk tauuu!"
BRUK, Dara lebih lancang lagi, dia jatuhkan kepalanya di atas pangkuan Keita. Dia benar-benar fetish. Keita sangat meragukannya.
"Gak! Lo harus pulang!" kata Keita lalu dia berusaha membangunkan Dara dan enyah dari atas pahanya.
"Ayolah Kei, kita gak ngapa-ngapain kan, ngapain panik sih?"
"Kita emang gak ngapa-ngapain tapi keberadaan lo benar-benar bikin gue takut!" akui Keita.
"Takut? Takut kenapa? Kamu takut Han Yura tahu?"
"Sekarang lo pulang! Telepon teman asrama lo! Suruh dia bawa lo kesini, kayaknya lo yang mabuk!" Keita bergegas bangkit, dia sama sekali tak ingin berada di atas kasur yang sama dengan Dara. Perbuatannya malam ini benar-benar membuat Keita ketakutan.
"Kamu ini tega banget sih Kei! Kenapa gak biarin aja aku nginap sampai pagi disini! Ini udah tengah malam dan di luar sangat dingin! Tega!" omel Dara, Keita hanya geleng-geleng kepala.
"Pokoknya, kalau kamu gak izinkan aku untuk tetap disini, aku akan sebar fakta kebersamaan ini sama orang lain, termasuk sama Han Yura, dia pasti akan berpikir yang enggak-enggak kan?" ancamnya lalu dia kembali menjatuhkan badannya dan berbaring kembali.
"Lo gila ya!"
"Dan lo kejam!"
"Tapi alasan apa yang membawa lo sampai tiba-tiba ada di kamar gue? Lo benar-benar menyeramkan Dara!" rutuki Keita dan Dara malah semakin bersikap menyebalkan. Dia berlindung nyaman di atas bantal milik Keita dan kembali memejamkan matanya seolah-olah tak terjadi apa-apa padanya.
Keita tak bisa memilih, dia takut dengan ancaman Dara dan benar, ini memang sudah dini hari. Dia tak ingin membuat keributan di asramanya, dan kalau sampai orang-orang tahu maka reputasinya sebagai lelaki yang setia akan coreng walau faktanya ini semua menang murni karena kelakuan aneh Dara.
Keita tak ingin berdebat lagi, dia menyingkir dari tempat tidurnya lalu pindah ke sofa kecil di salah satu sudut kamarnya. Dia juga membawa sebuah bantal dan selimut.
"Sial! Aneh banget nih anak!" gerutunya. Keita bahkan tak bisa memejamkan matanya lagi sampai pagi karena dia tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan dan menjadi fitnah yang mungkin akan sampai pada Yura.
Ini lah salah satu sebab kenapa Keita tak pernah bersikap baik pada Dara. Peristiwa itu sudah lama dan Keita selalu berusaha melupakannya. Dia juga selalu berusaha menghindari Dara.
Dan andai saja Keita tahu, kalau kandasnya hubungannya dengan Yura juga sangat erat kaitannya dengan obsesi Dara ini. Andai Keita menyadari hal ini pasti prahara ini tak akan mungkin berkelanjutan.
"Gitu ceritanya!"
Keita sudah menuturkan peristiwa menyebalkan itu dan Vano berdecak dan tak percaya.
"Ini beneran Bro? Kisah nyata?" yakinkan Vano.
"Cuma lo yang tahu! Gue selalu berusaha menyembunyikan ini, tapi sekarang gue gak peduli lagi karena kenyataannya, pacar yang gue banggakan selama ini malah melakukan hal yang lebih parah dari apa yang si Dara lakukan waktu itu!"
"Tapi lo harus tetap hati-hati Kei! Obsesi si Dara udah cukup keterlaluan menurut gue!"
"Ya! Itu bener ..."
"Ya ampun, Dara ... Dara ...."
__ADS_1
Keita tak peduli lagi, dia sudah melupakannya.