Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
RUMIT


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Alana masih belum bisa menghentikan derai air matanya. Apa yang dia rasakan begitu menyakitkan. Arkan mulai merasakan dilema yang cukup besar di dalam hatinya.


"Aku kira, sejak awal kita saling kenal, kamu bisa jadi pasanganku di masa depan! Bertahun-tahun aku nunggu, dan sepertinya ada orang yang lebih dulu masuk ke ruang hatimu yang terdalam Arkana!" ucap Alana di antara isak tangisnya. Arkan kini bertambah dilema, dia juga merasa cukup bersalah. Ya, satu-satunya yang bersalah dalam hal ini adalah hatinya, hatinya yang tak mampu memilih dengan tegas.


"Aku menunggumu sekian lama, dan sialnya, aku gak mau dan gak bisa menyerah menunggu kamu!" ungkap Alana lirih, makna dari setiap kata yang ia tuturkan begitu dalam sampai membuat Arkan semakin dan semakin gamang.


"Usap air mata kamu!" kata Arkan lalu dia sodorkan selembar tissu pada Alana, tapi Alana malah berpaling, hatinya masih terlalu sakit.


Arkan menepikan mobilnya, dia lepaskan kemudinya lalu menarik sebelah pipi manis Alana dengan lembut sampai kini Alana tak bisa bersembunyi lagi. Arkan tatap matanya dan ada luka yang dalam yang tersirat di dalamnya.


"Maaf!" ucapnya lalu sebelah tangannya mengusap air mata yang mengalir dari ujung mata gadis berparas ayu itu. Alana belum bisa menyembuhkan lukanya, kata maaf Arkan belum begitu jelas. Arkan tak menjelaskan apa maksud permintaan maafnya.


"Untuk apa?"


"Mungkin aku sudah membuat kamu menunggu lama, itu pasti mengesalkan! Maaf untuk itu!" kata Arkan lalu dia lepaskan tangannya dari wajah Alana.


"Apa kamu akan meneruskan kesalahan kamu itu? Kamu akan membuatku menunggu terus menerus?" tanya Alana dan netranya semakin berkaca-kaca lagi, ternyata air matanya belum surut begitu saja.


"Tunggu sampai kompetisi selesai! Itu perjanjian awalnya kan?"


"Heh, Arkana! Kamu berhasil mempermainkan perasaanku!" rutuki Alana lalu kembali berpaling.


"Kamu tahu kan kalau aku gak pernah main-main! Aku sedang memantapkan hatiku! Karena yang aku pilih, bukan untuk aku permainkan nantinya, aku mau dia adalah perempuan pertama dan terakhir yang jadi pacar untuk kemudian jadi isteriku di masa mendatang!" ucapnya dalam sekali, Arkan begitu bijak dan dewasa dan hal itu kembali berhasil membeli hati Alana yang sedari awal memang tak bisa berpaling darinya.


"Heh, 2 bulan lagi ya?"


Arkan lanjutkan perjalanannya, dia kembali fokus mengemudi sembari sesekali memikirkan Yura di dalam benaknya. Dia pikir akan mudah memiliki seorang Han Yura, ternyata aral dan rintangnya masih begitu berat. Masih ada hati yang harus dia jaga, benar-benar rumit.


"Semoga aku masih bisa bersabar dan semoga ada keputusan baik yang tak akan mengecewakan aku dan membuat penantianku ini terasa sia-sia!" cetus Alana. Benar sekali, sekarang ataupun nanti, apakah Arkan akan mampu merubah hatinya?


***


Ayah Alana adalah seorang konsulat Indonesia untuk negara Swiss, beliau tinggal disana bersama Bunda-nya Alana. Dan hari ini mereka pulang ke Jakarta. Menemui gadis kecil mereka yang sejak dulu lebih memilih untuk hidup mandiri. Bahkan Alana malah memilih untuk kuliah di Korea dibanding di Eropa. Alana memang lebih suka menuruti apa kemauannya yang kuat, sama halnya seperti kemauannya untuk tetap menunggu Arkan sampai bertahun-tahun lamanya.


Mereka bertiga sedang makan bersama dengan sajian nusantara. Hidangan lokal adalah favorit Ayah dan Bundanya, karena selama bertahun-tahun tinggal di Swiss, rasanya sulit sekali menemukan makanan khas Nusantara yang otentik.


"Aku sengaja undang chef yang kompeten di bidang kuliner Nusantara Bun, Yah ... buat menyambut lidah kalian yang pasti kangen banget kan sama masakan rumahan ...." kata Alana membuat Ayah Bundanya begitu bangga.


"Makasih ya Sayang, andai Abangmu juga ikut pulang! Tapi dia lagi sibuk-sibuknya mengurusi projek barunya bersama beberapa temannya di German!" kata Bunda sembari dia lahap sendokan nasi dan kuah soto lamongan di depannya.


"Tapi Bang Ahsan sehat kan?"


"Dia selalu sehat jangan cemaskan dia!" sahut Bunda.


"Kami yang mencemaskanmu Alana," kata Ayah kali ini sembari dia paut potongan daging sate dari tusukannya dengan mulutnya. Ayah Bunda makan begitu lahap, Alana senang melihatnya.


"Jangan cemaskan aku!"


"Non ... ada tamu!" Bi Asih datang beserta anak lelaki jangkung di belakangnya. Alana terpaku.


Arkan? Arkan akhirnya datang tanpa dia paksa tadi sore. Dasar Arkan! Pintar sekali menarik ulur perasaan seseorang.


"Waah, siapa ini? Apa ini Arkana? Anak lelaki yang sering kamu ceritakan pada Bunda?" sambut Bunda agak menggoda.


Arkan berjalan mendekat dan dengan penuh kesopanan dia memberi salam hormat kepada kedua orang tua Alana. Alana sampai speechless, dia pikir Arkan tak akan datang.

__ADS_1


"Duduk lah!" persilakan Ayah, dan Arkan pun duduk di samping Alana bergabung di acara makan malam spesial itu. Alana melirik lalu menatap Arkan dengan penuh tanda tanya.


"Heum, pantas saja anak Bunda sampai berbunga-bunga sekali kalau bercerita tentang kamu," kata Bunda lagi-lagi menggoda, membuat Alana semakin tersipu malu, Arkan hanya menanggapinya dengan senyuman simpul yang semakin memikat siapapun yang melihatnya. Lesung pipit di sisi kiri pipinya sungguh mempesona.


"Apa benar kamu sudah masuk club basket profesional?" tanya Ayah.


"Iya, Om!"


"Waah, hebat sekali!" puji Ayah, ya, Ayah Bunda Alana memang sangat welcome sejak awal.


"Heum, menarik sekali ...."


"Kak Arkan mau makan apa? Kamu bisa request, chef Anto akan memasak apapun yang kamu mau malam ini!" kata Alana mencoba mengalihkan godaan-godaan sang Bunda yang membuatnya semakin salah tingkah dan canggung.


"Apa aja," sahutnya ringan tanpa jawaban pasti.


"Huh, pantas saja kamu tak mau ikut kami ke Swiss, jadi sekarang Bunda udah tahu apa alasan konkrit kamu sayang!" goda Bunda lagi-lagi.


"Iih Bunda, aku kan memang mengurusi usaha kecilku di Jakarta, kalau aku ikut kalian, gimana dengan butikku, huh?" sangkal Alana, Ayah mau pun Bundanya hanya tersenyum melihat tingkah malu-malu Alana. dia begitu menggemaskan.


Dan setelah beberapa menit berlalu, acara makan malamnya sudah berakhir. Arkan hanya menjawab sebisanya setiap Ayah dan Bunda bertanya seputar obrolan ringan mereka. Arkan memang orang yang tak bisa berbasa-basi.


"Saya pamit Om, Tante, saya harus kembali ke Mess!" pamit Arkan, walau sebentar tapi kedatangannya sudah membuat Alana sangat senang.


"Iya Arkan, terima kasih ya sudah mau datang di acara jamuan kecil ini," kata Bunda.


"Dan terima kasih juga sudah membuat putri kami begitu senang malam ini," sambung Ayah dan semakin membuat Alana tersipu.


"Iiih ayaaah, ya udah aku antar dulu Arkan ke depan ya!"


Sampai di halamannya yang luas, di dekat mobil Arkan terparkir, Alana jadi salah tingkah.


"Apa benar ini kamu? Apa benar ini Arkana yang aku kenal?" tanya Alana sembari memicingkan matanya pada Arkan yang tampak lega, karena setidaknya kedatangannya sudah menghibur gadis yang telah sabar menunggu ketidak pastiannya selama bertahun-tahun itu.


"Iya, sorry ya Arkana gak ada duplikatnya!" sahut Arkan dengan nada gurauan, Alana tertawa masam tapi dia sangat senang.


"Yes, kamu itu langka! The one and only! Menyebalkan!" rutuknya kekik.


"Jangan marah lagi ya, jangan bikin aku merasa bersalah!" kata Arkan.


"Emang kamu salah kok!" sambar Alana.


"Heum, ya udah, aku pulang ya!" kata Arkan lalu dia mulai bersiap masuk ke dalam mobilnya tapi tiba-tiba Alana menahan dan menarik ujung blazernya. Arkan menoleh. Alana mendekat dan apa yang terjadi? Alana berjinjit kaki dan KISS, dia tak dapat menahan lagi, Alana kecup bibir Arkan walau hanya beberapa detik saja tapi Arkan sampai stuck dan terdiam dibuatnya.


"Good night, byee!" Alana malah setengah berlari meninggalkan Arkan yang masih cukup terkaget dengan ciuman Alana.


Gadis itu, gadis itu mulai berani merebut bibirnya. Arkan saksikan kaki indah Alana berlari menjauh masuk ke dalam rumahnya. Aaah, apa mungkin hal ini akan semakin memberatkan pilihan Arkan.


Arkan hanya geleng-geleng kepala setelahnya. Dia masuk ke dalam mobilnya, dan bersiap di depan kemudinya. Dia pergi, meninggalkan rumah besar Alana.


Lalu selepas dari sana, kemana kah Arkana pergi?


Ternyata Arkan pergi menuju rumah Yura. Ada apa dengan Arkan?


Yura menyambut dan mereka duduk di teras rumah. Menikmati sekaleng minuman di bawah langit yang gelap.

__ADS_1


"Ternyata semuanya tetap gak mudah!" cetus Arkan dan dia tatap langit gelap itu. Segelap hatinya yang tengah dilema. Yura tak mengerti apa maksud Arkan tapi dia mencoba untuk mendengarkannya dengan baik.


"Gue menunggu seseorang, dan seseorang sedang menunggu gue! Terlalu kejam kalau gue lepaskan dia tanpa jawaban, tapi ... perasaan gue ini masih gak bisa dibohongi!" lanjut Arkan, malam ini dia kembali terasa berbeda, dia sangat berbasa-basi.


"Kak Alana?" tanya Yura.


Arkan melirik lalu menatap Yura, Yura mencoba menghindarinya, dia tak ingin terjebak di dalamnya.


"Lo tahu kan? Selama bertahun-tahun ini dia menunggu kepastian dari gue, dan sialnya, selama bertahun-tahun pula gue menunggu kesempatan buat bisa memiliki lo! Saat kesempatan itu ada ... ternyata itu tetap gak mudah! Sial!" kata-kata Arkan begitu emosional. Sepertinya dia mencurahkan semua perasaannya malam ini pada Yura yang masih setia mendengarkan.


"Jangan kecewakan dia!" kata Yura pelan namun tegas tanpa membalas tatapan Arkan.


"Apa itu artinya lo gak peduli dengan penantian gue Han Yura?" tanya Arkan agak menuntut. Yura tak mengerti lagi kenapa Arkan seperti ini.


"Kak, aku gak mau bahagia di atas kekecewaan Kak Alana! Itu gak adil buat dia!"


"Dalam hal ini gak akan ada yang merasa adil!"


"Kak, sedalam itu kah perasaan kamu sama aku? Benarkah? Apa benar itu cinta? Atau hanya nafsu?"


Akhirnya Yura memberanikan diri untuk menatap Arkan yang sedang mengalami dilema yang sangat besar malam ini. Cinta rumit ini telah mengganggu fokusnya, mengusik ketenangannya, yang awalnya dia rasa biasa-biasa saja, kini semuanya semakin menjadi kemelut.


"Ya! Gue sangat bernafsu buat bisa memiliki lo! Sejak lama!" tegas Arkan.


"Gak bisa, gak bisa seperti ini!"


"Apa lo masih mengharapkan si Keita?"


"Heh, kenapa kamu se-picik ini Kak? Kalau kayak gini, apa bedanya kamu dengan Kak Dara? Apa ini yang kamu inginkan? Apa diam-diam kamu mau aku berakhir seperti ini? Iya? Kamu senang melihat kami berpisah dengan cara seperti ini?" Yura kerahkan unek-uneknya, dia tahu saat hatinya mendua, hal seperti ini tak bisa ia hindari.


Antara dirinya, Arkan, Keita dan Alana menjadi pertautan yang tak ada ujungnya. Sayangnya, Arkan dan Yura saling bertemu dalam ikatan yang rumit. Mana mungkin Arkan bisa mengabaikan Alana dan melangkahi sahabatnya sendiri, meski secara jelas Keita memberinya restu saat di Bandara.


Kali ini Arkan menjadi sangat egois, karena cintanya pada Yura, dia menjadi sangat egois. Perasaannya telah melukai banyak hati, secara langsung atau pun tanpa dia sadari, dan Yura tak ingin menjadi bagian dari keegoisan Arkan.


"Kamu mau tahu bagaimana perasaanku kak?" tanya Yura, malam ini obrolan mereka begitu emosional. Arkan hanya diam, memikirkan apa yang tengah terjadi saat ini.


"Jujur saja! Aku juga tak memiliki hati yang sempurna! Asal kamu tahu, hatiku juga mendua! Untuk Kak Keita dan untukmu Kak!" ungkap Yura, Arkan melirik lagi mendengar pengakuan Yura itu.


"Tapi karena aku sedang bersama Kak Keita, aku selalu mencoba melawan perasaanku terhadapmu! Aku bisa, aku bisa menghindarinya tapi kemudian kamu datang dan mengusiknya lagi!"


Sejenak Yura menghela nafas, masih banyak unek-unek yang ingin dia katakan pada Arkan.


"Dan ingat, satu malam kamu pernah merebut ciuman dariku! Kamu tahu apa yang aku rasakan kala itu? Aku ingin marah karena tindakanmu itu kembali mengusik perasaanku! Aku sampai merasa bersalah berhari-hari! Aku bahkan terpaksa harus melakukan yang sama pada Kak Keita untuk menebus rasa bersalahku! Kamu sudah membuat semuanya menjadi kacau!"


"Selesai? Udah selesai marah-marahnya?" Arkan malah bertanya seperti itu dan itu sungguh menyebalkan.


"Sudahlah! Sana pulang, ini sudah sangat malam!" Yura bangkit dari duduknya dan ingin segera mengakhiri obrolan penuh emosi itu tapi tentu saja ia tak akan mudah, Arkan menahan tangannya.


"Sudah cukup Kak! Kak Alana akan lebih mengerti kamu! Dia lebih pantas buat kamu, bukan aku!" kata Yura dan dia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arkan.


"Duduk, sebentar!"


Akhirnya Yura mau, Yura turuti permintaan Arkan, Yura ingin obrolan ini segera berakhir. Dia tak ingin larut dalam suasana mengharu biru yang Arkan ciptakan sejak tadi.


"Mungkin lo bisa membagi perasaan lo itu buat beberapa hati, tapi asal lo tahu Han Yura! Perasaan gue, sudah gue simpan selama bertahun-tahun ini, cuma buat lo! Entahlah gimana ini nanti jadinya, lo cuma perlu tahu, gue sangat mencintai lo!" akui Arkan lalu setelah itu kini dia benar-benar beranjak tanpa menunggu Yura menyuruhnya.

__ADS_1


Kata-kata terakhir Arkan sangat meresap ke dalam hati dan jiwanya. Tapi, mau bagaimana lagi? Begitu banyak hati yang akan sangat terluka jika suatu hari ARKAN dan YURA menjadi satu.


__ADS_2