
Diam-diam ada yang rindu pada Istri orang lain. Dia lah yang menjaga jodoh Arkan selama 3 tahun. Liburan kali ini Keita pulang ke Jakarta. Dia akan memanfaatkan liburannya untuk melepas rindu pada teman-temannya, walau tak munafik juga dia ingin bertemu dengan Han Yura.
Keita tak memiliki niat jahat, dia hanya ingin melihat Yura bahagia walau menyakitkan. Sangat manusiawi jika ia ingin menatap senyum kebahagiaan mantan kekasihnya, tapi satu yang dia pegang teguh, Keita bahagia dengan kebahagiaan Yura walau menyakitkan.
Mami dan Papinya menyambut.
Makan malam spesial sudah menyambutnya. Walau lelah setelah melakukan berjam-jam perjalanan udara, Keita hargai sambutan orang tuanya. Dia makan cukup lahap semua menu yang tersedia.
"Berapa lama kamu di Jakarta sayang?" tanya Mami sembari terus menyendok makanan kesukaan Keita ke atas piring Keita.
"Satu pekan Mi," sahutnya.
"Oke, Mami akan memanjakan kamu selama kamu disini sayang!"
"Thanks Mi!"
"Heum, kamu tahu kan kalau Han Yura sudah menikah sama Arkana?" tanya Mami mulai membahas hal sensitif untuk Keita. Keita menukas dengan anggukan kepala dan senyum getir.
"Let it go Kei, kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari dia!" semangati Mami.
"Tuhan tak menjadikan kalian berjodoh karena Tuhan tengah merancang yang lebih baik untukmu Nak!" tambah Papi, kedua orang tua Keita tahu betul kalau putera mereka sangat mencintai dan menyayangi Han Yura.
"Iya Mi, Pi!" sahut Keita mencoba terlihat tegar di mata keduanya. Keita rapuh, Keita hancur tapi ia tak ingin siapapun tahu kalau saat ini hatinya belum bisa move on dari Yura.
'Kalau boleh meminta, gue gak butuh yang lebih dari Han Yura, cukup Han Yura saja! Dan gue tahu mungkin gak akan ada yang seperti dia lagi!' batin Keita lirih. Ternyata tetap sulit memudarkan bayangan Yura dalam ingatan tapi sekuat hati dia selalu mencoba ikhlas dan mendo'akan yang terbaik untuk Yura dan Arkan.
***
Alana kembali drop, kebahagiaan Arkan bersama Yura masih menjadi siksaan untuknya. Beda halnya dengan Keita yang berusaha ikhlas, Alana masih tak mampu menerima kenyataan ini.
"Harusnya aku yang ada di posisi Han Yura! Kenapa? Kenapa ini begitu menyakitkan Tuhan?' batinnya, masih terlalu berat untuk move on. Arkan adalah satu-satunya lelaki yang berhasil menaklukan angkuhnya seorang Alana. Sepanjang dia merasakan apa itu cinta, hanya Arkan saja yang ada di dalam hatinya, benar-benar hanya Arkan.
TOK TOK
"Permisi Kak!" Pegawainya membuyarkan lamunan Alana, Alana yang telah menitikan air mata sejak tadi segera menyeka pipinya yang basah itu lalu bergegas bangkit.
"Kenapa?"
"Ada tamu yang mau ketemu Kak Alana!" jawab sang pegawai.
"Siapa?"
"Mbak Keyla!"
"Oh, suruh dia masuk saja kesini!"
Alana seka lagi sisa-sisa air matanya, dia tak ingin Keyla melihatnya.
"Hai Kak ...." sapa Keyla, mereka langsung saling menyapa dengan cium pipi kanan pipi kiri. Walau sudah diseka berkali-kali, tapi bekas kesedihan yang tergambar di raut wajah cantiknya tak bisa disembunyikan.
"Are you okay Kak?" tanya Keyla lalu dia fokuskan perhatiannya pada wajah Alana.
"Its okay not to be okay," sahutnya sembari tersenyum getir, getir sekali.
"Apa karena kabar kehamilan Han Yura?" tanya Keyla mencoba memancing.
"Apa lagi yang mungkin bisa membuat aku sedih seperti ini! Walau aku cinta dan sayang sama Arkan, tapi kalau dia bahagia dengan orang lain, rasanya itu masih terlalu berat untuk diterima, terlalu menyakitkan!"
"Tenang lah Kak! Kesedihan ini akan segera berlalu kok!"
"Semuanya akan berlalu kalau Arkan berpaling! Cuma itu jawabannya!"
'Bukan hanya kamu yang merasakan nestapa ini Kak! Aku juga! Aku juga sangat mengharapkan Arkan! Sial memang, sial kenapa harus Han Yura yang mendapatkan hatinya!'
"Duduklah, aku senang kamu datang, aku snagat butuh teman untuk berkeluh kesah saat ini!" kata Alana lalu mempersilakan Keyla untuk duduk.
"Oke Kak, aku akan mendengarkannya dengan baik!" sambut Keyla penuh perhatian walau pada kenyataannya, Keyla sendiri sangat ingin mencurahkan dan menumpahkan rasa galaunya saat ini.
"Makasih ya Key, kamu selalu ada disaat aku butuh teman!"
"Iya Kak, kita kan berteman!"
'Dan sejujurnya aku pun ingin mencurahkan rasa galauku ini, sama persis dengan apa yang kamu rasakan Kak!' batinnya lirih.
Dan mereka menghabiskan waktu sore mereka yang kelabu dengan saling bertukar cerita, tentang Arkan.
***
Ya, walau banyak yang terluka, tapi Yura dan Arkan berhak bahagia. Hari-hari yang sudah mereka lewati dengan manis semakin membuat romansa manis terjalin semakin indah di antara keduanya, apalagi saat ini mereka dapat satu kebahagian ekstra saat tahu kalau Han Yura hamil.
Arkan selalu sigap, apapun yang Yura inginkan selalu Arkan penuhi. Tak peduli malam-malam, pagi-pagi, saat dia di waktu senggang dia akan siap siaga melaksanakan apa pun keinginan istrinya itu.
Seperti malam ini, jam 11.45 malam tiba-tiba Yura ingin martabak pinggir jalan. Susah payah Arkan mencarinya, bahkan dia harus membujuk abang-abang penjualnya yang sudah mau tutup lapak untuk membuatkan satu saja untuk Yura.
"Saya bayar 2 kali lipat deh!" bujuk Arkan.
"Aduuh, gimana ya ... udah diberesin gini juga Mas!" sang penjual masih tampak berat menerima permintaan absurd Arkan.
__ADS_1
"Saya beli satu tapi saya bayar 5 kali lipat deh, pleas lah Bang, istri saya pengen banget martabak ini, udah 5 hari dia gak mau makan, nah ... sekarang dia mau makan martabak! Mau ya bikinin!" Arkan benar-benar memohon. Dia tak mempedulikan gengsinya, dia hanya ingin memenuhi apapun keinginan istrinya.
"Istrinya lagi ngidam ya?"
"Iya Bang, bikinin ya ...."
15 menit kemudian Arkan kembali masuk ke dalam mobil dan Yura yang sudah menunggu dengan sabar, sungguh ia sangat bahagia.
"Waah, baik banget Abang-abangnya langsung dibikinin, padahal udah beres-beres kan?" Yura langsung unboxing martabak keinginannya.
"Ya, makanya lama, karena harus bongkar lagi barang-barang yang udah diberseskan!"
"Heum! Makasih ya ... sayang!" ucap Yura genit.
"Iya sayang!" sahut Arkan tulus.
"Yumm, enak banget ... kenapa ya? Padahal sebelumnya aku gak pernah lho mau sesuatu sampai se-mendesak ini," Yura sudah melahap martabaknya.
"Bawaan dedek bayi mungkin!"
"Mungkin, maaf ya Kak sudah beberapa terakhir ini kamu kerepotan karena keinginan absurdku."
"Its okay ! Apapun demi kalian!"
Aaah, sweet deh, pikir Yura. Yura sangat bahagia. Selain hasrat makannya terpenuhi, dia juga sangat bahagia karena Arkan selalu siaga untuknya.
"Cobain deh, ini enaak banget Kak!" Yura suapi Arkan yang sudah bersiap untuk mengemudi kembali.
"Ya, ini manis, kayak kamu!"
"Ah Kak Arkan ... bisa aja!" Yura tersipu.
"Udah kan? Gak pengen apa-apa lagi kan?"
"Iya, udah! Sekarang aku ngantuk!"
"Ya udah, sekarang kita langsung pulang ya!"
Arkan nyalakan mesin mobilnya lalu berlalu dari jalanan yang sudah sepi itu.
Seperti itu lah, sudah berhari-hari Arkan selalu menahan rasa kantuknya, berjaga kalau-kalau istrinya ingin sesuatu. Walau masih terbilang belum begitu matang, tapi Arkan sangat berusaha memenuhi apapun keinginan Han Yura. Rasa sayang yang terpatri membuatnya tak ingin melewatkan apapun tentang Han Yura bahkan saat ini dia semakin protektif karena ada dua orang yang harus dia jaga.
***
Ting tong
Untuk beberapa detik Yura terpaku, itu dia ....
"Hai!"
"Kak Keita," gumam Yura hampir-hampir tak percaya. Ternyata Keita yang datang.
Mereka saling memandang, mungkin wajar saja itu terjadi. Sebelum hubungan mereka harus berpisah secara paksa, mereka adalah dua insan yang saling mencintai, saling mengasihi. Keita tatap seraut wajah yang dulu sempat menjadi cita-cita dan harapan dan mungkin saja harapan itu masih tertinggal. Dan Yura? Ya, tak bisa dipungkiri, Keita juga sempat menjadi kekasih hatinya yang merajai hatinya sebelum Arkan datang menginvasi hatinya.
"Arkan ... ada di rumah?" tanya Keita menyadarkan Yura yang untuk beberapa saat hanya terdiam bengong.
"Ada Kak, masuklah!" persilakan Yura.
"Makasih!"
Situasi menjadi agak canggung, tapi jujur saja, kalau mudah, sungguh Keita ingin menarik dan merebut Yura kembali, tapi Keita tak se-ekstrem itu, hanya pikirannya saja yang kadang membuatnya seperti itu.
"Kapan pulang dari London Kak?" tanya Yura berbasa-basi sembari berjalan menuju ruang tengah.
"Kemarin malam," jawabnya singkat.
"Duduk dulu, aku panggilkan dulu ya, tadi sih masih di kamar mandi!" izin Yura, Keita hanya mengangguk.
Yura pergi menuju kamarnya di lantai atas hendak memanggil suaminya untuk mantan kekasihnya. Perasaan yang terlupakan malah mencuat perlahan, tapi Yura pastikan itu bukan apa-apa. Untuk saat ini, hanya ada satu orang saja yang menempati ruang di hatinya, benar-benar tak ada yang lain, hanya Arkan!
Lain halnya dengan Keita, sembari menatap sosok Yura menjauh menuju lantai atas, pandangannya begitu fokus sembari berpikir, 'Bisakah gue melupakan dia? Sungguh, sampai saat ini cuma dia yang berhasil mengambil alih perasaan cinta yang gue miliki!'.
Ironis memang, karena keserakahan Dara, Keita harus melepaskan Yura dan merelakannya untuk sahabatnya tapi setidaknya Keita yakin kalau Yura sudah mereguk kebahagiaan yang nyata bersama sahabatnya itu, walau perih, tapi asal Yura bahagia. Itu saja sudah cukup!
Yura juga tak bisa menentukan perasaannya begitu tadi ia membuka kan pintu untuk Keita. Rasa yang terlupakan kembali tergugah, tapi 'No!' serunya dalam hati, Yura tak akan terbawa perasaan lagi. Untuk saat ini dan seterusnya, dia hanya akan fokus dengan Arkan dan calon buah hati yang ada di dalam rahimnya saat ini.
Saat masuk ke dalam kamar, Arkan sudah siap, sudah segar dan berpakaian rapi.
"Siapa yang datang?" tanya Arkan sembari menatap cermin dan membereskan rambutnya yang setengah basah.
"Kak Keita," jawab Yura pelan, Arkan juga cukup terkejut.
"Keita? Benarkan?" yakinkan Arkan.
"Iya, turunlah, temui dia!"
Arkan melihat sesuatu yang berbeda dari sikap Yura, tapi dia mengerti akan hal itu, bagaimana pun juga istrinya pernah menjalin hubungan serius dengan Keita selama 3 tahun lamanya, tentu itu tak mudah untuk diterima.
__ADS_1
"Kita turun sama-sama!" tegas Arkan.
"Tapi, rasanya ...."
"Kenapa?"
"Aku ...."
"Masih sayang sama Keita?"
"Bukan gitu! Ya, gak enak aja Kak!"
"Hubungan kamu sama dia kan udah lewat, justru kalau kamu menghindar ada kesan lain yang terlihat! Kita turun ya, siapkan minum buat dia, bisa?" bujuk Arkan, Yura menghela nafas dan akhirnya dia mau, Yura pikir apa yang Arkan katakan ada benarnya. Kalau ia menghindar maka itu akan memberi kesan berbeda di mata Keita.
Akhirnya mereka pun turun bersama, Arkan menggandeng tangan Yura dengan erat dan Keita bisa melihat itu dengan jelas. Rasa jealous menyusup secara ilegal ke lubuk hati Keita, tapi sekuat hati dia mencoba menyingkirkannya.
"Buatkan minum ya?" bisik Arkan pada Yura di dasar tangga. Yura mengangguk dan mereka berpisah dari sana. Arkan menuju ruang tengah dan Yura menuju dapur.
"Apa kabar Bro? Kapan nyampe di Jakarta?" sapa Arkan hangat sekali, mereka berdua saling berpelukan melepas rindu sebagai sahabat sejati.
"Baik baik! Kemarin malam!"
"Liburan akhir tahun ya?"
"Iya, maunya gue pulang pas kalian married, tapi punya waktu libur agak panjangnya cuma sekarang aja, sorry ya gue gak datang waktu itu!"
"Its okay! Do'a lo dari London sampai kok, bisa kami rasakan!"
"Selamat ya!"
"Iya, thanks Kei!"
Arkan dan Keita berbincang hangat seolah mereka tak memiliki persaingan. Arkan menganggap kalau Keita sudah move on dari istrinya walau sebenarnya itu salah besar. Hanya Keita memang pintar sekali menyembunyikan perasaannya.
"Ini semester terakhir lo kan?" Arkan kembali memulai perbincangan.
"Ya, tahun depan gue lulus!"
"Wah, semoga lo lulus dengan nilai terbaik ya!"
"Aamiin, makasih Ar!"
Yura datang dengan dua cangkir teh hangat. Dia sajikan di depan mantan kekasih dan di depan suaminya. Situasinya kembali agak canggung saat Yura datang, tapi Arkan segera meraih tangan Yura untuk duduk di sampingnya, dan setelah Yura duduk pun Arkan tak melepaskan tangannya.
"Oh iya, gue lihat postingan lo di akun medsos lo sebulan yang lalu, apa benar kalian akan segera punya anak?" Keita kembali beralih topik pembicaraan.
"Iya, itu benar! Usia kehamilan Yura udah masuk minggu ke-8! Bahagia banget rasanya Kei!" tukas Arkan bangga dan excited.
"Pasti! Selamat ya, kehidupan kalian ini benar-benar sempurna! Gue bisa merasakannya!"
"Lo juga akan merasakan apa yang gue rasakan nanti Kei!"
"Semoga!"
"Sayaang, kamu udah kuat masak gak? Gimana kalau kita jamu Keita makan siang disini!" bisik Arkan.
"Bisa, ya udah aku mulai masak ya!"
"Gak usah repot-repot lah ...."
"Gak kok, gak repot Kak! Kalian ngobrol aja ya, aku akan masak cepat-cepat!" kata Yura.
"Lo harus merasakan masakan Han Yura!"
"Oke, menarik!"
Yura berlalu ke dapur, lagi pula sejak tadi Yura memang sudah mau lepas dari situasi canggung yang membelenggunya kala duduk di antara dua pria yang masih sangat mengharapkannya itu.
"Kei, sorry ya," kata Arkan mulai menjurus serius. Diam-diam Arkan merasa tak enak pada Keita sejak tadi, bagaimana pun juga dia setengah merebut Yura dari tangan Keita. Setelah Yura berlalu Arkan bisa mengungkapkan rasa tak enaknya itu.
"Sorry?"
"Ya, apa ... gue terkesan merebut kebahagiaan yang seharusnya lo dapatkan?"
Keita tersenyum hambar, Keita sebenarnya meng'iyakan dalam hatinya tapi tak mungkin pula ia katakan kejujuran hatinya di depan Arkan, Keita masih punya adab setidaknya.
"Ini semua udah terjadi, dan ini takdir Tuhan! Ini lah yang seharusnya terjadi, iyakan?" sahutnya, bijak sekali, Arkan lega dengan tanggapan bijak Keita.
"Syukurlah kalau pemikiran lo kayak gitu!"
"Gue cuma berharap kalian bahagia, gue ... gue ikut bahagia kalau kalian bahagia!" ungkapnya sedikit munafik tapi sekuat hati Keita mencoba merealisasikan ketulusan hatinya walau benar-benar terasa berat, sungguh berat.
"Makasih banyak ya Kei!"
"Ya, tetap jaga dia dengan baik! Jujur saja, gue masih sayang dia, tapi jangan khawatir, itu gak berarti apa-apa kok! Gue akan selalu mendo'akan yang terbaik buat kalian!"
Arkan senang sekaligus malu. Tapi memang begini lah adanya. Semua sudah terjadi dan Keita memang bukan tipe orang pendendam, walau berat tapi sungguh, dia berusaha untuk selalu tulus, tulus untuk kebahagiaan sahabat baik dan kebahagiaan untuk sang mantan kekasih.
__ADS_1