Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Shocking morning


__ADS_3

Yura terbaring sendirian di ruang ICU, benturanndi kepala bisa saja membuatnya mengalami trauma dan sudah hampir pagi dirinya belum memberikan respon.


Kini ada beberapa luka lebam di bagian wajahnya, dikhawatirkan dia mengalami pembekuan darah tapi Dokter yang menanganinya bekerja semaksimal mungkin, berharap tak ada syaraf atau jalan darah yang tersumbat.


Betapa malang nasib Han Yura, dia terbaring sendirian dengan alat-alat medis yang membelenggunya.


Ini hari minggu ....


Belum ada yang tahu kondisi Yura saat ini, Nara dan Arkan masih menikmati hari-hari langka mereka bersama Azka. Mereka sarapan di meja makan dengan sajian istimewa yang Bi Marni siapkan pagi ini.


"Rencananya kita mau kemana?" tanya Nara memulai obrolan, "Nonton?" saran Arkan.


"Memangnya udah film baru?"


"Kita ke puncak, gimana?" saran Azka.


"Wah ide bagus!" setujui Nara.


"Oke, Arkan juga setuju!"


"Maaf non," tiba-tiba Bi Marni hadir mengusik sarapan pagi istimewa itu.


"Iya, kenapa bi?" tanya Nara.


"Anu non, di depan ada Pak Ardi!"


"Oh, ya udah saya ke depan, bentar ya Mama ke depan dulu," pamit Hanna dan menemui Pak Ardi, Pak Ardi adalah pria yang semalam membawa Yura ke rumah sakit.


"Selamat pagi Bu Nara maaf saya mengganggu," ucapnya menyapa.


"Pagi juga Pak, gak apa-apa kok. Silakan duduk" persilahkan Nara dan mereka duduk di teras rumah, Pak Ardi membawa semacam map, mungkin dia sedang menggalang dana untuk biaya rumah sakit Yura.


"Maaf sekali ya Bu saya mengganggu, tapi ini cukup urgent, ada kecelakaan semalam yang menimpa salah satu warga komplek kita, dan sayangnya dia seorang yatim yang saat ini membutuhkan bantuan untuk biaya perawatannya." kata Pak Ardi to the point, Nara mengerutkan dahi dia hanya belum tahu kalau yang Pak Ardi maksud adalah Yura.


"Oh, siapa Pak? Kecelakaan kenapa?" tanyanya antusias.


"Saya belum tahu pasti kronologinya karena semalam itu terlalu panik melihat anak itu tergeletak di dasar tangga, ibunya bilang dia terjatuh tapi banyak hal-hal janggal yang akan segera kami usut, hanya saja saat ini keadaan korban lebih penting untuk kita utamakan! Maa kalau saya lancang, dia seorang yatim yang tak punya penyokong biaya untuk perawatannya makanya saya dan beberapa masyarakat berinisiatif untuk menggalang Dana!"

__ADS_1


"Astaga, jatuh dari tangga? Bagaimana bisa?"


"Belum ada yang tahu sampai nanti korban sadar Bu, kami juga ingin melaporkan perkara ini ke pihak berwajib tapi saya pikir, sebaiknya kita menunggu kondisinya stabil!"


"Ya Ampun, ya sudah tunggu sebentar ya Pak!" kata Nara lalu dia beranjak ke dalam rumah, mungkin dia ingin mengambil sejumlah uang untuk ikut menyumbang dana untuk perawatan Yura di rumah sakit.


"Siapa ma?" tanya Arkan, Nara mengambil uang dari dalam tasnya yang terletak meja di dekat meja makan.


"Pak Ardi, lagi menggalang dana buat salah satu warga yang semalam kena musibah," sahut Nara.


"Kenapa?"


"Katanya jatuh dari tangga rumahnya, kasihan, ditambah lagi dia anak yatim, gak ada yang sanggup membiayainya makanya warga berinisiatif buat membantu!" kata Nara lalu kembali ke teras rumah menemui Pak Ardi.


"Dia mulai sadar? Aaah syukurlah, ya ya nanti saya segera kesana, jumlah yang terkumpul sudah cukuo banyak, mudah-mudahan cukup untuk membayar biaya administrasi, ya ... saya akan segera kesana!" saat Nara kembali Pak Ardi sedang mengobrol via telphon mungkin dengan seseorang yang berjaga di Rumah sakit.


"Ini Pak Ardi, semoga bisa membantu ya!" kata Nara lalu dia sodorkan beberapa lembar uang di atas meja.


"Terimakasih banyak Bu Nara, saya terima uangnya, kontribusi Bu Nara akan sangat berarti untuk Yura!"


"Iya bu, Han Yura, putri dari almarhum Pak Dharma!" jelaskan Pak Ardi.


"Han Yura?" perjelas Nara, matanya masih terbelalak dan hatinya terasa dihantam oleh benda keras sampai membuatnya terasa sesak.


"Iya Bu Nara,"


Nara seketika terbungkam, dia kini tahu kalau gadis malang itu adalah Yura


"Saya terima ya Bu, saya harus segera kembali ke Rumah sakit, kabarnya Yura mulia memberi respon positif karena sejak semalam dia koma! Mohon do'anya juga!" ucap Pak Ardi dan dia bersiap untuk pamit.


"Iya Pak, saya juga akan menyusul!"


"Oh, iya Bu nanti saya share lokasinya yaaa,"


Nara semakin dan semakin tak bisa mengabaikan Yura, apa yang dia dengar barusan adalah hal tragis yang bahkan dulu tak pernah dia alami. Dan kini, dejavunya itu malah mengalami hal yang mengerikan dan dia tak kuasa membayangkannya.


Nara kembali ke area meja makan dengan wajah sedih dan risau sampai membuat Arkan maupun Azka heran bertanya-tanya.

__ADS_1


"Mama kenapa?" tanya Arkan.


"Kita tunda dulu acara kita ya." kata Nara penuh sesal.


"Memangnya ada apa?" tanya Arkan lagi.


"Yura dapat musibah!"


"Maksudnya?"


"Orang yang semalam mengalami musibah itu ternyata Yura, dia sampai koma, dia jatuh dari tangga di rumahnya, Ya Tuhan Yuraaa, apa yang terjadi padanya?" jawab Nara penuh emosi dan bahkan dia sudah tak mampu menahan airmatanya, dia menopang wajahnya dengan kedua belah tangannya.


Arkan maupun Azka juga terkejut dengan kabar mengejutkan itu, terutama Arkan, dia langsung menduga kalau masalah sepatu baru itu berdampak sampai menyebabkan kondisi Yura saat ini, dia yakin kalau ini semua ada hubungannya dengan Tania.


"Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang?" ajak Azka sigap.


"Iya, kasihan dia hanya ditemani Ibu tirinya! Kita kesana sekarang! Arkan, kamu ikut?"


"Nanti Arkan menyusul, aku mau kasih tau Keita sama Vano dulu!"


"Oke, Mama sama Papa duluan ya!" pamit Nara yang langsung bersiap dan bergegas.


Arkan tertegun, dia juga mulai memikirkan Yura, dia tak habis pikir kenapa ada anak dengan nasib se-malang itu. Dia malah sering tak bersyukur dengan hal-hal yang dia punya selama ini, kini dia ingin mensyukuri semuanya, dan sepertinya hatinya juga mulai tergerak untuk melindungi Yura.


"Kei, ada kabar mengejutkan pagi ini!", sambungan telphonnya kepada Keita sudah tersambung.


"Ada apa?" tanya Kei di sebrang sana.


"Si Yura kena musibah, semalam dia jatuh di tangga rumahnya!"


Tak ada respon dari Keita, tentu saja karena Keita sangat terkejut sampai dia speechless, Keita tak percaya dengan apa yang dia dengar pagi ini.


"Kita ke rumah sakit ya, sekarang gue ke rumah lo, sekalian jemput si Vano!" kata Arkan lalu dia akhiri telphonnya, Keita sampai lemas mendengar kabar mengejutkan itu.


Bahkan semalam dia masih berbincang dengan Yura, dan dia ingat bagaimana Yura memohon dengan mata berkaca-kaca agar Keita tidak melabrak Tania, Keita juga sepemikiran dengan Arkan, Keita menduga kalau kecelakaan yang Yura alami erat kaitannya dengan Tania.


Ya, semua orang sudah menduga hal itu, dan Tania sepertinya tak akan bisa menghindar lagi.

__ADS_1


__ADS_2