Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
The best friendship


__ADS_3

Arkan sudah ditangani dokter ahli, lukanya sudah di bebat tapi tetap saja pakaiannya masih berlumuran darah.


"Orangtuanya mana?" tanya dokter, Keita, Yura maupun Vano hanya saling berpandangan karena sejak tadi Arkan meminta untuk tidak cepat-cepat menghubungi Nara dulu.


"M, anu, lagi ... di luar negri dok!" sahut Vano ngasal.


"Lukanya gak parah kan dok?" tanya Keita cepat-cepat mengalihkan topik pertanyaan awal sang dokter.


"Lukanya cukup lebar tapi beruntung gak terlalu dalam, tak ada jaringan otot yang robek!" sahut sang dokter.


"Aah, syukurlah, terus sekarang teman saya mana dok?" tanya Keita saat Arkan belum keluar dari ruang perawatan.


"Dia masih ditangani suster, lukanya harus di jahit sampai 15 jahitan! Tunggu saja ya!" kata dokter itu lalu dia berlalu dari hadapan anak-anak remaja yang dilanda kepanikan itu.


"15 jahitan? Iiih ..." Yura sampai ikut meringis kesakitan.


"Terus rencana kita selanjutnya gimana? Tante Nara pasti panik banget kalau tahu ini semua!" tanya Vano.


"Iya, apalagi lihat dia berdarah-darah begini!" sahut Keita yang juga sedang memikirkan cara agar Arkan bisa pulang tanpa membuat Nara panik.


"Tapi kita harus tetep kasih tahu Bu Nara!" cetus Yura.


"Tante Nara tuh panikan, pas si Arkan jatuh dari sepeda motor aja dia sampe pingsan lho padahal cuma luka lecet doang! Nah gak kebayang gimana reaksinya kalau liat kayak sekarang ini?" sahut Vano.


Yura tahu hal itu, saat Arkan tak sengaja menabraknya beberapa waktu lalu juga Nara sangat terlihat panik, kini Yura mengerti.


"Bentar, kita cooling down dulu! inhale exhale!" kata Keita, hari ini dia bijak sekali, dia benar-benar merawat Arkan dengan sangat baik.


Mereka melakukannya, tarik nafas dalam-dalam lalu buang nafas bersama-sama.


"Aaah gue ada ide!" cetus Vano.


"Nah benarkan, kita harus tenang dulu!" sahut Keita bangga karena caranya menenangkan diri menghadirkan solusi.


"Gini, kita buang baju si Arkan, yang penting dia gak kelihatan berlumur darah dulu! Kalau emang dia gak mau kasih tahu kasus ini sama tante Nara kita juga bantu Arkan menyembunyikan lukanya! Lukanya kan di lengan bagian atas? Nah pake t-shirt juga ketutup kan? Mudah-mudahan lukanya bisa cepat pulih dalam beberapa hari!" saran Vano.


"Bisa bisa!" setujui Keita.


"Tapi awal akhir juga pasti ketahuan kan?" tanya Yura.

__ADS_1


"Iya, tapi seenggaknya kalau lukanya udah agak kering dan hampir sembuh tante Nara gak akan terlalu shock! Iya gak?"


"Iya bener! Si Arkan selalu berusaha menjaga biar tante Nara gak cemas dan shock! Kita harus bantu dia!" timpali Keita.


Yura salut dengan niat baik dibalik sikap bohong mereka ini. Yura juga salut dengan persahabatan indah yang terjalin diantara mereka, mereka memupuk solidaritas dengan sangat baik dan Yura merasa sangat senang berada di antara mereka bertiga.


"Kei lo ada duit berapa?" tanya Vano.


"Buat biaya perawatan kayaknya cukup sih," kata Keita lalu dia hitung uang dalam dompetnya.


"Gue ada sisa duit jajan nih cukup gak ya buat beli baju baru buat si Arkan!" kata Vano lalu dia juga merogoh saku celananya.


"Aku ada nih, gak banyak sih semoga cukup!" Yura pun ikut berkontribusi dengan menyumbang beberapa lembar uang jatah jajannya dari Lulu.


"Waah, makasih banyak yah Yur, lo jadi ikut-ikutan terlibat dalam kekacauan ini." kata Vano.


"Gak apa-apa, aku juga teman kaliankan sekarang?"


"Lebih dari teman!" kata Keita bangga lalu merangkul Yura dan Vano dengan erat, sampai membuat kebersamaan mereka semakin tampak dekat dan hangat. Yura senang sekali ....


"Ehemm, iya lah lo mah lebih dari teman! Eh by the way, kalian udah jadian nih?" tanya Vano membuat Yura dan Keita jadi salah tingkah lagi.


"Bro! Tenang ya, semuanya akan baik-baik aja!" kata Keita menyambut.


"Thanks ya buat kalian semua!" kata Arkan.


"Anytime bro! Yang penting sekarang lo baik-baik aja terus situasi juga tetap kondusif dan aman terkendali!" sahut Vano semangat.


"Maaf juga ya, udah merusak acara kalian berdua!" kata Arkan lalu bicara pada Yura dan Keita.


"Gak apa-apa lah! Urusan ini lebih penting kok, iya gak Yur?" jawab Keita lalu dia bertanya pada Yura sembari merangkulnya sekali lagi, entah kenapa rangkulan itu membuat Arkan sedikit tidak nyaman.


"Iya, yang penting Kak Arkan baik-baik aja!" sahut Yura.


"Silahkan selesaikan biaya administrasinya sebelah sini!" kata sang suster lalu mempersilahkan anak-anak remaja itu untuk segera menyelesaikan biaya administrasinya ke meja resepsionis.


"Iya Sus!" jawab Keita lalu dengan sigap dia mengikuti langkah sang Suster untuk membayar semua biaya perawatan Arkan.


"Tangan lo pasti lemes banget! Tadi lo kehilangan banyak darah!" kata Vano.

__ADS_1


"Iya sih! Jadi agak mati rasa," sahutnya lalu dia mencoba menggerakan tangannya.


"Sebaiknya jangan terlalu banyak gerak dulu Kak." kata Yura penuh perhatian.


"Sorry ya, jadi ganggu acara kencan kalian!" kata Arkan pada Yura.


"Nggak kok, gak apa-apa!"


"Sekarang kita cari baju sama celana baru buat lo! Biar tante Nara gak terlalu shock dengan luka lo ini." kata Vano.


"Oke, thanks sekali lagi!"


Dari kejauhan Keita melambai-lambaikan tangannya ,sepertinya uangnya kurang. Arkan dan yang lainnya menghampiri.


"Duitnya kurang Bro!" bisik Keita.


Arkan langsung merogoh saku celananya lalu mengeluarkan semua sisa uangnya bersama uang-uang pecahan kecilnya, Vano juga memberikan miliknya, begitupun dengan Yura.


"Sudah selesai, terimakasih ya, silahkan ambil obatnya di apoteker!" kata sang Suster dan masih ada sisa beberapa lembar uang lagi.


Setelah menebus obatnya juga, mereka segera berlalu dari dalam rumah sakit.


"Duit segini cukup gak beli t-shirt?" tanya Vano saat menunjukan sisa uangnya yang tak seberapa.


"Gak usah beli deh, kita ke rumah gue aja, lo pake punya gue, kita kan seukuran!" kata Keita menggagas ide baru.


"Nah iya, kenapa gak kepikiran itu aja ya." sambut Vano.


"Kebetulan di rumah lagi gak ada siapa-siapa, jadi gak akan ada yang curiga!" tambah Keita.


"Ide bagus sih!" sahut Vano, Arkan dan Yura juga manggut-manggut tanda setuju dengan gagasan Keita.


"Yuk cabut!" ajak Keita dan tak lupa dia masih sempat-sempatnya membukakan pintu untuk Yura. Arkan jadi sedikit tak nyaman lagi tapi dia mencoba tak menunjukan hal itu.


"Sisanya kita beli jajan aja yaa! Laper gue!" kata Vano sibuk sendiri.


"Iya iya, terserah lo lah!" sahut Keita.


Dan akhirnya mereka bersiap untuk menjalankan rencana mereka. Walaupun hari ini Yura dan Keita membatalkan acara penting mereka tapi menolong Arkan yang sedang ada dalam kesulitan terasa lebih penting bagi mereka.

__ADS_1


__ADS_2