Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Salah faham pt.2


__ADS_3

Sudah berjam-jam Azka tidak bicara pada Nara sampai akhirnya malam telah larut dan Nara sudah tak dapat menahan kantuknya, dia tertidur sendiri di kasur dan Azka masih asyik duduk di sofa di pojok kamarnya main game online di ponselnya.


Matanya buram tapi rasa kantuk tak kunjung datang. Dia merasa bosan dan jujur saja, hatinya pun masih terasa kesal pada Nara yang tak mencoba menjelaskan pertemuannya tadi siang bersama Yuki.


Azka bangkit, mencium pipi Arkan yang tertidur di box bayi lalu memicingkan matanya kearah Nara yang terbaring di tempat tidur tanpa selimut. Lama-lama Azka tak tahan membiarkan istrinya seperti itu, dia pun menarik selimut untuk Nara.


Karena tak kunjung mengantuk, Azka pun memutuskan untuk pergi keluar dari kamarnya. Diam-diam Nara belum begitu terlelap, dia tersipu saat tadi Azka menyelimutinya.


'Uuuuh, so sweet...' batinnya, lalu bangkit dan hendak menyusul Azka yang sepertinya menepi ke tepi kolam renang di belakang rumah.


Nara juga menyempatkan diri untuk membuatkan teh hangat sebelum menghampiri Azka di kolam belakang, dia buatkan teh dengan penuh kasih dan sayang berharapa sikap diam Azka bisa sembuh dengan itu.


'Aku tahu kamu gak bisa diemin aku lama-lama, hihihi..' batinnya sembari mengaduk gula dalam secangkir teh hangatnya itu.


Azka memang duduk sendiri di tepi kolam, setengah kakinya tenggelam dalam dinginnya air di malam ini. Dia sedang mencoba berpikir positif, dia yakin kalau Nara tidak mungkin bermain hati dengan Yuki di belakangnya.


Kriiiiing...Kriiiiing...


Ponselnya berdering, dia tatap ponselnya dan yang menelphone adalah Kalyla. Awalnya Azka tak peduli dan mengabaikan panggilan itu tapi..


Kriiiing...Kriiiiing...


Ponselnya terus berdering, Azka pikir pasti ada sesuatu yang penting dan akhirnya diapun mau mengangkat telphon dari Kalyla itu.


"Halo La, ada apa?" sapa Azka.


"Aku lihat barusan kamu masih online, apa kamu belum tidur?" tanya Kalyla.


"Belum..."


"Kenapa? aku tiba-tiba ingat kamu dan tangan ini gatal rasanya ingin menghubungi kamu dari tadi!" Kalyla mulai kembali melancarkan jurus-jurus mautnya.


"Gak ada apa-apa kok, kamu sendiri kenapa jam segini belum tidur? istirahatlah!"


Nara sudah berdiri di belakang Azka sejak beberapa detik lalu, dia menahan langkahnya saat tahu Azka sedang asyik menelphone Kalyla. Dia malah berspekulasi kalau Azka sengaja menepi ke kolam belakang untuk dapat berbincang dengan Kalyla di belakangnya. Nara hanya belum tahu kalau yang menghubungi lebih dulu adalah Kalyla. Kesalah fahaman kembali terulang...


"Besok libur, jadi gak harus bangun pagi..." kata Azka yang masih belum menyadari kalau Nara sudah mulai curiga lagi padanya, Nara tak tahan melihat hal itu diapun mengurungkan niatnya untuk menghampiri Azka dan dia simpan tehnya kembali di meja dapur. Dia kesal, sangat kesal! pikirannya kembali terganggu dan kecurigaannya kembali datang menyerang kepercayaannya.

__ADS_1


Nara setengah berlari di atas tangga menuju kamarnya, dia menutup pintu rapat-rapat lalu terbaring kembali dengan rasa sesak di dadanya.


***


Nara meninggalkan Azka yang masih tertidur nyenyak, Nara sudah siap untuk kembali ke cafe pagi ini. Dia juga sudah memandikan Arkan, kemudian dia turun menuju ruang makan menemui seluruh anggota keluarganya.


"Morning honey...Uuuh, udah seger banget ya kamu... sini...sini..." sambut Ibu yang segera mengambil alih Arkan dari pangkuan Nara.


"Bu, aku titip Arkan lagi ya...kayaknya aku masih butuh satu sampai dua hari lagi untuk menyelesaikan pekerjaan di cafe," ujar Nara meminta ijin.


"Iya, Arkan biar ibu saja yang jaga...kamu sarapan dulu gih!" sahut ibu.


" Azka mana?" tanya kakek.


"Masih tidur kek..." sahutnya.


"Oh, kalau begitu kamu minta diantar sama mang Diman saja..." kata Kakek.


"Gak usah, aku udah pesan taxi kok kek..."


"Mau berangkat bareng sama ayah?" tawarkan ayah, Nara jadi canggung, wibawa ayah memang selalu membuatnya canggung.


Nara senang dengan perhatian seluruh anggota keluarga Azka, dia merasa tak kesepian lagi sejak menikah dengan pria angkuh dan ketus itu, walaupun demikian saat ini Nara sudah benar-benar merasa lengkap.


Beberapa jam kemudian Azka baru terbangun, dia merasakan pusing yang luar biasa karena bangun terlalu siang, dia mencari Nara dan Arkan di sekitarnya tapi dia tidak menemukannya. Dia tatap jam digital dimeja samping kasurnya dan dia sadar kalau ini sudah sangat siang.


Setelah membersihkan diri dan tampil segar dia turun dari kamarnya dan segera bergabung dengan ibu dan kakek yang sedang asyik bermain bersama Arkan.


"Nara mana?" tanya Azka yang heran karena tidak menemukan Nara di sekitar rumahnya.


"Dia ke cafe, katanya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan..." sahut ibu.


"Kapan?"


"Tadi pagi,"


"Memangnya dia gak bilang sama kamu?" tanya ibu, Azka hanya menggeleng malas. Dia malah semakin kesal dengan Nara karena pergi tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"Mungkin dia gak tega membangunkanmu," ujar kakek mencoba menjadi penengah.


"Iya, mungkin dia gak mau ganggu kamu tadi pagi! udah sana kamu sarapan dulu!" tambah ibu.


Azka sudah terlanjur kesal, dia pergi tanpa sarapan terlebih dulu, dia yakin kalau saat ini Nara sedang bersama Yuki dan otaknya mulai terprovokasi lagi oleh pikiran-pikiran buruknya sendiri.


Azka langsung meluncur menuju cafe istrinya, dia sudah tak tahan lagi dengan rasa curiga dan rasa cemburunya. Dia tak ingin membiarkan siapapun mengambil kesempatan untuk merebut Nara dari pelukannya tanpa dia sadar bahwa penyelesaian masalah dengan emosi tak akan menyelesaikan masalah itu sendiri.


Saat sampai benar dugaan Azka, dia mendapati Yuki ada di dalam cafe tengah berbincang hangat dengan Nara, mereka memang seperti sedang merancang konsep bersama. Nara tahu Azka datang dengan rasa marah, dia pun segera bangkit dan mendekat menghampiri Azka.


"Baru bangun?" tanya Nara, Azka tidak membalas pertanyaannya, Azka masih mencoba menelan pil pahitnya sendiri, dia tak bisa menahan rasa cemburunya melihat ada Yuki di dekat Nara.


"Hey, coba lihat...menurut lo konsep usulan gue bagus gak?" sapa Yuki yang tak merasa bersalah sedikitpun, dia malah dengan bangganya ingin menunjukan hasil kerjasamanya berasama Nara.


Azka berjalan mendekat lalu duduk bergabung bersama Yuki, Nara cukup merasakan ketegangan tapi sepertinya Azka masih menahan emosinya, dia mencoba tenang duduk bersama Yuki.


"Gue yakin, ini akan berhasil!" kata Yuki excited ,


"Bagus!" tanggapi Azka walau hatinya sangat ingin menghancurkan konsep yang sedang Yuki rancang itu. Nara duduk diantara mereka...


"M...aku gak tahu kalau ternyata Yuki ini desainer grafis yang sangat handal, lihat...baguskan?" tanya Nara lalu mencoba meminta pendapat Azka, Azka menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.


"Bagus sekali!" sahutnya, tapi terselip Nada sarkas dalam kata-kata Azka barusan. Nara tahu situasi ini mulai tak kondusif.


Yuki juga sadar kalau situasi mulai menegangkan, dia gak tega melihat Nara yang agak terpojok karena sikap sarkas Azka.


"M.. Nar, kita lanjutkan besok ya...gue harus pergi!" kata Yuki yang malah memutuskan untuk pergi, Nara senang karena Yuki mengerti dengan posisinya saat ini.


"Iya, makasih banyak ya..." sahut Nara.


"Oke, gue cabut ya Ka!" pamit Yuki pada Azka, dia hanya mengangguk lalu Yuki segera pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ayo pulang!" ajak Azka tegas.


"Tapi..."


"Pulang!" ujarnya semakin tegas lalu Azka juga langsung beranjak kembali menuju mobilnya, Nara semakin serba salah, sepertinya Azka ingin bicara tapi bukan di cafe karena disana cukup ramai dengan pengunjung.

__ADS_1


Apa mereka bisa menyelesaikan kesalah fahaman ini dengam cepat? atau Azka akan mengedepankan ego dan emosinya?


Bersambung.


__ADS_2