Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Di Malam ke-7


__ADS_3

Yura masih bertahan di kamar mandi, dia buka bathrobes-nya dan dia sudah siap dengan lingerie nakalnya. Tapi, dia masih begitu ragu untuk keluar dari kamar mandi itu.


"Huh, kenapa harus malu, Kak Arkan kan sudah sempat melihatnya?" gumamnya, lalu dia tanggalkan bathrobes itu dan kini dia sudah benar-benar tampil seksi dengan lingerie hitam yang menerawang itu.


Sekali lagi Yura tatap dirinya di cermin, lalu dia kibas-kibaskan rambutnya yang masih setengah basah, sembari mempersiapkan diri, dia juga mempersiapkan hati dan mental.


"Yes! Sekarang saatnya!"


CKTTT, Yura buka kan pintu kamar mandi dan itu dia! Arkan sedang menunggu dengan gawai di tangan dan saat Yura keluar dengan penampilan se-hot itu, fokusnya langsung teralihkan sampai dia tak sadar kalau dia kalah dalam permainan itu.


Yura berjalan, mendekat dengan hati berdebar dan rasa gugup yang semakin memberatkan langkahnya. Tapi Yura terus mencoba melawan perasaan itu dan terus melangkah sampai dia sampai di dekat Arkan.


"M ... gimana menurut Kak Arkan? Ini ... ini lingerie pemberian Alika! Sayang kalau gak dipake!" dalihnya, Yura masih saja mencoba mencari alasan.


"Bagus! Bagus banget!" puji Arkan yang tak lepas memandang Yura, tapi Arkan fokus menatap wajah malu-malunya, dia tak fokus dengan lekuk tubuh indah Yura karena dia pikir kalau Yura pasti akan memberikannya malam ini, tak mungkin gagal lagi, tak mungkin ada penghalang lagi.


"Heum ...."


"Kemarilah!" Puk puk, Arkan menepuk-nepuk pangkuannya sebagai isyarat agar Yura naik ke atasnya. Aaah baru juga dimulai, Arkan sudah minta yang luar biasa mendebarkan.


"I-iya!" Tapi mau bagaimana lagi, Yura turuti saja apa mau Arkan. Yura duduk di pangkuan Arkan, mereka saat ini begitu dekat, tak ada jarak lagi.


"Sekarang udah boleh?" bisik Arkan, sepertinya hasratnya kembali terpacu melihat penampilan Yura malam ini.


"Iya Kak," sahutnya.


Arkan endus wangi tubuh Yura, wangi sekali sempai membangkitkan hasrat yang beberapa hari terakhir ini dia simpan rapat-rapat. Yura bisa merasakan hembusan nafas Arkan yang secara spontan membuat bulu kuduknya berdiri.


Kecupan di bawah dagunya, jilatan di area lehernya dan permainan kecilnya sudah merangsang yang tertidur untuk segera terbangun.


Yura mengubah posisi duduknya, dia menyilangkan kakinya sampai kini dia ada tepat di hadapan Arkan, di hadapan suaminya yang ingin tenggelam dalam birunya malam ke-7 sebagai ganti malam pertama yang gagal total.


Karena tak cukup saling berpandang saja, Arkan pun segera memulai dengan tarikan liar di bibir bagian bawah istrinya, saling merebut dengan sengit sampai hanya tangan yang mampu berbicara. Saat ciuman itu semakin liar tanpa sadar Yura tengah asyik mengacaukan tiap helai rambut Arkan dan Arkan sudah meraba-raba merangsak masuk melewati kain lingerie yang tipis tanpa permisi.


5 menit, 10 menit, dan itu masih berlangsung sengit. Tangan Arkan yang awalnya ada di tengkuk istrinya perlahan turun, turun sampai ada di bagian pinggul dan paha mulus Han Yura, aaah, malam ini benar-benar biru.


"Aku ... aku gak tahu kak, aku harus gimana lagi? Aku gak tahu caranya ...." gumam Yura yang tersipu sesaat mereka melepaskan pagutan bibir mereka, bernafas sejenak dari pemanasan yang intens.


"Kita biarkan saja semuanya terjadi secara naluriah, kamu sayang kan sama aku?" tanya Arkan lalu dia membelai rambut Yura yang masih duduk di atas bagian sensitifnya, yang mungkin sudah siap untuk memasuki surga yang dimiliki Han Yura.


"Sayang! Kamu?" jawab Yura lalu ia balik bertanya.


"Sangat!" tegas Arkan lalu ia kembali mencumbu area dada Yura, aaah, sudah tak bisa ditahan lagi. Tak ada lagi yang bisa Yura lakukan selain melancarkan desahan manja sebagai cara untuk mengkonversi rasa luar biasa yang Arkan berikan malam ini. Gelitikan lidah di sekujur area dadanya itu membuatnya serasa tergulung oleh gelombang nafsu yang kian lama kian menenggelamkan.


"Aaaah, lakukan yang lebih lagi Kak!" racau Yura yang ternyata begitu menikmati sentuhan Arkan, Arkan benar-benar tertantang, dia lucuti lingeri tipis itu bahkan dia sedikit merobeknya karena tak tahan ingin segera menanggalkan kain tipis yang menutupi keindahan di hadapannya itu.


Saat Arkan bermain-main dengan pucuk keindahan milik Yura, Yura menatapnya dari atas dan merasakan betapa indahnya bercinta dengan orang yang paling ia cintai saat ini. Sudah tak ada lagi rasa ragu, sudah tak ada lagi rasa takut, sudah tak ada lagi rasa malu, Yura akan pasrahkan semuanya malam ini, dia akan membiarkan Arkan menjamahnya sesuka hati Arkan.


'I love you Kak, jadi seperti ini rasanya? Kamu benar-benar memperlakukan aku dengan luar biasa, aku akan memasrahkan segalanya, rasakanlah! Nikmatilah!' racaunya dalam hati sementara suaranya hanya mampu mendesah pelan namun tak karuan. Arkan menggila, menggila di malam ke-7 ini.


"Sekarang!" ujar Arkan lalu dia juga melepaskan satu persatu pakaiannya, dia sudah cukup bermain-main, ini sudah tak bisa ditahan lagi, ini sudah saatnya menumpahkan rasa menggebunya.


Sementara Arkan melucuti pakaiannya sendiri, Yura terbaring kelelahan, padahal dia belum menyelesaikan bagian terpenting dalam sebuah pergulatan pengantin baru.


Melihat Arkan naked, Yura semakin hanyut lagi. Baru kali ini matanya melihat sebuah keperkasaan seorang lelaki. Matanya ternoda tapi itu bukan masalah, ini memang sudah seharusnya, tak ada lagi yang mampu membatasi keinginan liar keduanya, semuanya sudah boleh, sudah halal.


"Sekarang ya?" tanya Arkan yang sudah bersiap, sudah benar-benar siap. Yura yang terbaring lemas hanya mengangguk sambil tersenyum manis.


Yes, akses masuk dari si mpunya sudah didapat, tak ada lagi yang membuat Arkan menunda pelepasan puncak hasratnya.

__ADS_1


Yang pertama Arkan lakukan tentu saja melihat, lalu membuka gerbangnya dengan perlahan dan penuh kasih sembari mengelus pangkal kaki Yura yang masih tegang berharap ini akan berjalan baik.


"Apa ini akan sakit Kak?" tanya Yura malah sedikit gentar lagi.


"Mungkin, tapi jangan takut, nanti aku masukan pelan-pelan ya!"


Yura mengangguk lagi, perlahan dan perlahan mereka saling bertemu dan selanjutnya .....


***


Kenangan semalam masih lekat, tapi Yura tak ingin hanyut di dalamnya. Dia harus melanjutkan tugas lainnya sebagai istri. Pagi-pagi dia bangun dan membereskan beberapa sudut rumah. Dan setelahnya dia segera pergi ke dapur untuk memasak sarapan.


Sembari mengiris bahan masakan, pikiran Yura melabur membayangkan bagian tersakit dari peristiwa semalam.


'Sakit tapi itu yang paling membahagiakan Kak Arkan!' batinnya meracau. Apa yang terjadi semalam adalah pengalaman pertama yang tak mudah dilupakan.


Tak tak tak tak, dia terus mengiris beberapa sayuran sampai dering telepon mengganggu acara memasaknya itu, KRIIIING.


"Alikaa ... halo Al, ada apa?" sapa Yura.


"Dari semalam kamu kemana aja sih, susah banget dihubungi!" gerutu Alika kesal, Yura memang sengaja mematikan ponselnya semalaman agar tak ada yang mengganggu.


"Heum, semalam lupa gak sempat charge hape Al, maaf!" dalihnya.


"Heum, bilang aja semalam lembur, iya kan?" goda Alika.


"Iiiih Alika, apaan sih!"


"Ini lho Yur, ada pesanan dalam jumlah besar buat dikirim ke luar kota! Stok di showcase juga udah hampir habis! Kita harus memproduksi lagi sebanyak-banyaknya! Dan aku lihat kemarin stok bahan di pantry kosong!"


"Oalaaah, gitu ya? Ya udah, habis ini aku langsung ke super market beli bahan! Aku stay deh di toko sampe petang nanti!"


"Tapi minta izin dulu sama Pak Suami!"


"Ya udah, itu aja sih!"


"Iya Al, sampai jumpa di toko ya!"


Setelah sambungan telepon berakhir, Yura kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan setelah beberapa menit dia tinggal menyelesaikannya dan menunggu masakannya matang.


Tap tap tap, dan saat Arkan turun dari lantai atas semua hidangan sarapan pagi ini sudah siap tersaji di atas meja makan. Senyum rekah dan kepulan asap dari makanan yang dibuat istrinya menambah semangat ekstra untuk sang Atlet.


"Heum, kamu bangun pagi banget ya?" sapa Arkan yang menahan Yura di tepi meja makan sampai Yura tak bisa beranjak dari sana, tangan Arkan melingkar dipinggangnya, membuat kenangan biru semalam terusik lagi di benak Yura.


"Iya, aku kan biasa bangun pagi Kak!" sahutnya lalu kembali menata meja makan dengan rapi.


Yura menoleh, Arkan memakai jersey latihan dan sepatu basketnya.


"Kak Arkan mau kemana?"


"Hari ini udah mulai latihan rutin lagi, hari ini juga ada launching jersey baru, entahlah ... pasti hari ini aku pulang agak telat!"


"Oh, semangat ya!"


"Iya istriku." Kiss, jawab Arkan lalu menuntaskannya dengan kecupan manis di pipi kiri Yura.


"Ya udah, ayo makan ... hari ini aku banyak pekerjaan di toko! Aku juga kayaknya bakalan pulang telat deh!"


"Kamu juga semangat ya!" kata Arkan.

__ADS_1


"Iya suamiku!" sahut Yura membalas kata-kata manis Arkan.


"Terus?"


"Terus apa?"


"Kiss-nya mana? Tadi kan aku jawab kayak gitu sambil kasih kamu kiss disini, kayak gini ...." Kiss, lagi-lagi Arkan mengecup pipi kanan Yura, pagi yang teramat manis.


"Harus ya?"


"Ya lah!"


"Heum!" Kiss, mereka berbalas mengecup pipi masing-masing walau Yura harus berjinjit karena Arkan terlalu tinggi bahkan walaupun dia sedikit membungkukan badannya.


Begitulah cerita manis di pagi hari di rumah pengantin baru.


Sesuai rencana, Yura terlebih dulu pergi ke Super Market membeli beberapa bahan. Barang belanjaannya sangan banyak sampai satu troli penuh. Setelahnya, dia segera memesan taksi online agar begitu dia selesai membayar di meja kasir, dia bisa segera pergi dengan taksi itu.


Dan Yura memang sepertinya ditakdirkan untuk bertemu dengan Ahsan di kesempatan yang bahkan tak terduga seperti ini. Entah ini kebetulan atau entah Ahsan sudah mengikutinya sejak awal.


Yura mempercepat geraknya, dia masuk-masukkan tas belanjaannya yang banyak ke dalam bagasi taksi dibantu oleh sopir taksi tapi Ahsan sudah menyadari kehadirannya dan Ahsan mendekat meninggalkan mobilnya yang sengaja dia parkir di belakang taksi yang akan Yura tumpangi itu.


"Yura!" usik Ahsan sembari merebut lengan Yura.


"Apa lagi sih?" hentak Yura sembari menghempaskan tangannya agar terlepas dari Ahsan.


"Kita harus bicara!" kata Ahsan yang kembali merebut lengan Yura dengan lancang.


"Bicara apa? Kita gak ada urusan apa-apa lagi ya!" ujarnya tegas, Yura memang harus tegas agar tak ada yang memanfaatkan moment ini.


"Sebentar! Ada yang harus kamu selesaikan!"


"Apa? Apa yang harus saya selesaikan! Sejak awal kita gak seharusnya berurusan seperti ini! Saya menabrak kamu di Bandara, saya sudah minta maaf dan sejak saat itu urusan kita sudah selesai! Apalagi?" Yura benar-benar tegas, sepertinya dia sudah tak akan membiarkan para pelakor maupun para pebinor masuk mengusik rumah tangga indahnya bersama Arkan.


Dan sikap tegas Yura malah membuat Ahsan semakin terjebak. Saat ini Ahsan seperti orang yang sedang menyesal, mungkin dia menyesal membiarkan perempuan seperti Yura harus jadi milik orang lain sebelum dia sempat memilikinya. Sekarang ini bukan tentang Alana lagi, Ahsan sepertinya memiliki kepentingan pribadi bersama Yura.


'Damn! Kenapa gue harus jatuh hati sama lo Han Yura! Sial! Kenapa lo begitu berarti buat gue sekarang ini!' batinnya meracau. Tapi itu lah kenyataan yang ada di dalam hatinya.


"Sudah cukup ya!" kata Yura lalu sekali lagi menghempas tangan Ahsan agar terlepas dari lengannya, dan itu berhasil. Anehnya Ahsan tak melakukan perlawanan lagi, dia membiarkan Yura masuk ke dalam taksi dan berlalu begitu saja. Ahsan hanya bisa terdiam mematung melihat harapannya pergi begitu saja.


Ya, mau bagaimana lagi? Ahsan terlambat, dia amat sangat terlambat menyadari kalau Yura adalah perempuan istimewa yang telah merangsak masuk dan menguasai sebagian besar isi hatinya.


Yura kesal, dia meninggalkan Ahsan dengan rasa kesal. Yura hanya takut kalau kesalah fahaman sepele seperti barusan akan meruntuhkan kepercayaan Arkan. Yura tak kamu ada konflik rumit lagi, apalagi sekarang mereka sudah menikah.


'Jangan harap! Jangan harap kalian bisa menghancurkan kebahagiaan kami! Gak akan pernah!' batin Yura bertekad kuat.


Dan keadaan di sebuah ballroom hotel tempat diadakannya launching jersey baru Sunrise. Acara itu dihadiri seluruh pemain, official dan seluruh perangkat Sunrise. Tak lupa juga para sponsor dan beberapa media olahraga. Dan ternyata, tanpa disangka-sangka, salah satu pengisi acaranya adalah Keyla. Keyla hadir sebagai host saat ini. Ya, selain sebagai penyanyi, Keyla juga telah merambah profesi lainnya.


Di mata teman-teman Arkan, sosok Keyla begitu menawan. Tapi tidak untuk Arkan, saat ini, hanya Yura yang mampu menyejukan matanya.


"Dia teman SMA lo dulu kan?" tanya Rado.


"Iya Bang!" jawabnya singkat.


"Cakep! Lihat, sejak tadi dia flirting ke arah lo tuh!" goda Rado tapi Arkan sama sekali tak tergoda.


Ya, sembari memandu acara, Keyla memang sesekali melirik ke arah Arkan yang ada di meja tamu dan orang-orang malah menyadari hal itu. Bahkan beberapa media mengabadikan momen dimana Keyla terus melirik ke arah Arkan. Hal sekecil ini pun selalu dijadikan bahan berita, apalagi Keyla adalah salah satu entertainer yang sedang naik daun saat ini.


'Arkan, ayo dong, lihat ke arah sini! Kok kamu cuek gitu sih, kayak yang gak kenal aja sama aku!' batin Keyla diam-diam.

__ADS_1


Dan usaha Keyla sepertinya akan sia-sia, Arkan tetap dingin dan seolah-olah raut wajahnya mengatakan,


'Sorry, gue adalah pria yang sudah menikah!'.


__ADS_2