
Kabar kecelakaan Kalyla sudah menyebar dengan cepat, Media dan masyarakat dibuat penasaran dengan skandal yang belakangan ini Kalyla alami dan beruntungnya skandal ciumannya di bar bersama Azka tenggelam begitu saja.
Nara sebenarnya mulai merasa kasihan pada Kalyla, karena ambisi butanya kini Kalyla menjadi pihak yang paling kalah. Tapi bagaimanapun Kalyla tetaplah orang yang berusaha menghancurkan rumah tangganya.
Nara hanya duduk di tempat tidurnya dan pandangannya menerawang keluar jendela, sementara Arkan asyik sendiri bermain dengan bola-bola kecilnya.
'Seharusnya dia sadar sejak awal, kalau niat buruknya pasti akan berakhir nestapa!' batin Nara dan dia masih melaburkan lamunannya memikirkan bagaimana nasib Kalyla setelah ini.
Azka keluar dari kamar mandi, badannya fresh sekali tapi kemudian dia heran melihat Nara yang malah tampak lesu...
"Kenapa?" tanya Azka yang langsung duduk di samping Nara sembari mengibas-ngibaskan rambutnya yang belum kering.
"Kalyla..." sahut Nara pelan, Azka terlihat malas menanggapinya.
"Gak usah pikirkan dia!" sahut Azka tegas.
"Tapi, lama-lama aku kasihan juga sama dia..."
"Pikirkan bagaimana dia berusaha menghancurkan kebahagiaan kita!"
"Iya sih, tapi..."
"Kamu mau aku datang temui dia terus merasa iba lagi sampai kita salah faham lagi, begitu?" tanya Azka sewot, Azka sepertinya tak mau terjebak lagi dalam permainan Kalyla.
__ADS_1
"Ya gak gitu juga sih, tapi setidaknya kita memberikan dia rasa empati kita,"
"Gak usah!" kata Azka tegas, lalu dia mengangkat tubuh mungil Arkan lalu menggodanya dengan membuat wajah lucu untuk anaknya itu sampai Arkan tertawa terbahak-bahak.
'Bener juga sih...' pikir Nara yang sejak tadi tampak dilema antara mengabaikan atau menengok keadaan Kalyla yang tengah terluka parah saat ini.
"Hari ini papa main, kamu nonton lagi ya...biar papa semangat!" kata Azka pada Arkan, gemas sekali! Nara hanya menatap keduanya dengan harapan kebahagiaan ini tak terusik lagi.
"Kamu pake jersey papa lagi ya..."
"Iya, nanti Arkan pake jumper dengan nama papa di punggungnya," sahut Nara yang ingin masuk larut dalam keseruan obrolan Azka dan baby Arkan.
"Kamu juga ya..." pinta Azka.
"Biar orang-orang seisi venue tahu kalau kalian ini orang-orang kesayangan papa Azka!" Azka membalas, Nara benar-benar merindukan momen indah ini. Bisa berkumpul dan tertawa bersama suami dan anak tercintanya.
"Oh iya, pertandingan nanti itu pertandingan terakhir sebelum libur paruh musim kan?" tanya Nara.
"Iya,"
"Oh..."
"Kita liburan ya, berdua saja!" bisik Azka, Nara jadi tersipu malu.
__ADS_1
"Baby Arkan?"
"Kamu ditinggal dulu sama Nenek,kakek sama kakek buyut ya, mama sama papa mau pergi dulu!" goda Azka pada Arkan.
"Kenapa gak bertiga aja sih..."
"Kita butuh honeymoon, berdua saja!!!" tegaskan Azka.
"Ya ampun..." cibir Nara yang jadi sedikit salah tingkah, Cup.. Azka malah mengecup pipi Nara dengan manis di depan Arkan yang malah tampak senang melihat kedua orangtuanya akur dan mesra kembali, Arkan tertawa riang lalu menghentak-hentakan kakinya.
"Ya ampun, kamu sayaang...tahu aja deh," ujar Nara, siapa yang tak merasa bahagia melihat potret keluarga kecil yang manis seperti ini, semoga tak ada lagi racun dalam kehidupan mereka.
Bagaimana keadaan Kalyla sekarang?
Dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan, tapi kondisinya masih sangat lemah. Dia tak bisa bebas bergerak, Kakinya sudah dipasangi gips, sepertinya kakinya patah, selain itu kepalanya juga sudah dibebat perban, sepertinya kecelakaan semalam memang cukup parah.
Matanya menyipit, dia tatap kesekitar dan yang dia lihat hanya Shita dan ibu. Dia tak bisa memberi respon apapun, pergerakannya terbatas karena dia terbelenggu dengan berbagai alat medis.
Ibu sebenarnya tak tega melihat Kalyla seperti itu, tapi dia lebih tak tega kalau rumah tangga Azka dan Nara hancur berkeping-keping.
"Aaah, syukurlah..." ujar shita begitu melihat Kalyla membuka mata, tapi Kalyla tak bisa memberi respon berarti selain gerakan mata yang terbatas.
Akankah kecelakaan ini mampu menyadarkan Kalyla dari semua kesalahannya?
__ADS_1