
Kalyla mulai menyusun rencana busuknya, hari ini dia kembali mengajak Azka bertemu di kafe yang tak jauh dari markas Sunrise. Azka memang kesulitan menolak permintaan itu, tapi dia juga agak ragu karena sudah berkali-kali Nara marah padanya jika Azka masih berhubungan dengan Kalyla.
Azka datang dan langsung menemukan letak duduk sahabat kecilnya itu. Saat Azka datang Kalyla sampai stuck untuk beberapa saat. Pria itu, pria yang pernah dia abaikan kini menjadi alasan kuat Kalyla untuk bertindak bodoh. Penyesalan selalu menghantuinya sampai mendorongnya untuk merebut kembali perhatian Azka dengan cara apapun.
"Ada apa? Apa kamu baik-baik aja?" tanya Azka menyapa lalu duduk, saat datang dia disuguhi raut wajah penuh kekecewaan dari Kalyla.
"Itu sebabnya aku pengen ketemu kamu!" sahutnya manja.
"Kenapa? masalah Yuki?"
"im so lonely..." ujarnya dengan muka memelas, siapa pula yang tahan dengan sikap manja Kalyla. Dulu Azka selalu tak bisa menahan perasaannya tapi saat ini hatinya sudah kokoh untuk Nara dan Arkan.
"Jangan siksa diri kamu sendiri seperti ini! kalau Yuki masih gak bisa berkomitmen, coba buka hati buat yang lain!" kata Azka bijak, kedewasaannya malah membuat Kalyla semakin tergila-gila.
"Gak bisa!" sahutnya.
"Harus bisa!"
"Heh, kamu gak ngerti! sejak menikah, kamu sudah sangat berubah!" kata Kalyla lalu memalingkan wajahnya.
"Ayolah jangan seperti itu!"
"Kamu juga gak bisa lama-lama duduk disini kan?"
"Ya kamu kan tahu kalau sekarang selalu ada yang menungguku pulang,"
"Aku benar-benar kehilangan sosok sahabat yang dulu selalu ada mendengarkan keluh kesahku! menemani dunia sunyiku!" Kalyla bicara penuh emosi dan itu cukup mengaduk emosional Azka. Dia sadari hal itu, dulu Kalyla memang selalu berlindung padanya dan kini Azka sudah melupakan peran itu sejak mengenal dan jatuh hati pada Nara.
"Aku tahu, aku memang gak berhak menuntut apapun! tapi aku cuma pengen kamu tahu, kalau peran kamu dalam kehidupan aku tuh sangat besar! kamu tahu itu kan?" tambah Kalyla, Azka mencoba tetap tenang dan tak terbawa arus suasana.
"Aku ngerti, tapi kamu harus hargai posisi aku sekarang!" tukas Azka.
"Oke! kamu benar-benar ingin mengakhiri persahabatan ini?" ancam Kalyla, Azka semakin dilema apalagi sebagian pengunjung kafe mulai memperhatikan mereka.
"Ayo pulang!" ajak Azka.
__ADS_1
"Duluan aja! aku mau tunggu Shita jemput!" sahutnya, Azka mulai merasa bersalah karena Kalyla berakting sempurna petang ini. Kalyla belagak sebagai pihak yang benar-benar terluka sampai menggerakan hati Azka untuk bersimpati padanya.
"Aku antar kamu pulang!" ajak Azka lagi.
"Pergilah, gak usah hiraukan aku lagi! fokus saja urus keluarga kecil kamu! aku senang kok lihat kamu bahagia walaupun akhirnya itu jadi penyebab utama hancurnya persahabatan yang sudah kita jalin bertahun-tahun lamanya!" Kalyla kembali melancarkan kalimat saktinya dan tampaknya itu sukses membuat Azka semakin merasa bersalah.
"Jangan bersikap begitu! persahabatan tetaplah persahabatan!"
Azka mengulurkan tangannya, dan Kalyla tahu kalau ini adalah kesempatan untuknya. Dalam hatinya dia bersorak karena dia merasa sudah berhasil menarik simpati Azka sedikit demi sedikit.
"Aku takut nanti Nara salah faham lagi!" kata Kalyla kembali menarik ulur rasa simpati Azka.
"Ayolah!"
Akhirnya Kalyla meraih tangan Azka, mereka pergi bergandeng tangan dan tanpa Azka sadari kalau saat itu ada paparazi mengintai dan mengambil potretnya dan Kalyla dari sudut yang strategis, ini pasti akan jadi berita menggemparkan di jagat hiburan tanah air. Semua orang mengenal Kalyla sebagai pribadi yang tertutup, dan saat ini mereka menemukan fakta tentang Azka.
Dalam perjalanan, Azka fokus mengemudi...
"Huh, laper!" keluh Kalyla mencoba kembali menarik perhatian dan reaksi Azka.
"Takeaway aja ya!" kata Azka membujuk Kalyla untuk membeli makanan lalu membawanya pulang agar Azka tidak perlu menemani Kalyla makan di restauran.
"Manja!" cibir Azka dan Kalyla senang Azka mulai sedikit mencair lagi untuknya.
"Ah iya, sebenarnya aku mau menunjukan sesuatu sama kamu!" kata Kalyla mengejutkan.
"Apa?"
" Skill memasakku!"
"Heh, sejak kapan kamu bisa masak!"
"Huh, ketahuan kamu belum nonton film terbaruku kan?"
"Belum sempat!"
__ADS_1
"Akukan berperan sebagai assistent chef disana! aku belajar banyak, dan aku mulai suka memasak!"
"Oke, menarik!" tanggapi Azka, dia hanya mencoba menghargai cerita Kalyla.
"Berarti kamu mau ya nyobain masakanku malam ini?" bujuk Kalyla.
"M... kayaknya gak bisa!" tolak Azka.
"Huh, sudah ku duga!" ujarnya penuh kekecewaan.
"Aku pengen ketemu anakku! takutnya dia keburu tidur kalau aku telat pulang!" dalih Azka, Kalyla tidak menjawab.
"Lain kali aja..." tambah Azka.
"Gak usah sekalian!" gerutu Kalyla.
"Lain kali pasti!" yakinkan Azka.
"Janji?!"
"Ya! mungkin sekali seumur hidup harus coba masakan artis terkenal seperti kamu!" goda Azka, dia hanya tidak ingin Kalyla merasa kecewa.
"Janji ya? aku pegang kata-kata kamu!"
Tak lama akhirnya sampai didepan rumah Kalyla, Azka menepikan mobilnya didepan gerbangnya.
"Makasih banyak ya!" kata Kalyla, Azka hanya mengangguk.
"Sebenarnya banyak yang pengen aku curahkan sama kamu! sejauh ini, cuma kamu sahabat yang selalu mendengarkan keluhanku dengan baik!" tambah Kalyla, dia mencoba menciptakan suasana haru, dia ingin menarik Azka kedalam suasana itu.
"Masuklah!" kata Azka, Kalyla kesal.
" Huh, bahkan kamu pengen cepat-cepat menyudahi pertemuan kita ini!" kata Kalyla ketus.
"Kamu pasti cape, sana istirahat!"
__ADS_1
Kalyla segera lucuti safetybeltnya lalu dia turun dan berlalu tanpa pamit, dia memang sengaja bersikap seperti malam ini. Dia sedang menganalisa reaksi Azka dan dia cukup puas malam ini, karena setelah sekian lama akhirnya sikap Azka sedikit mencair lagi padanya.
Bersambung.