
Nara berdiri di tepi kolam renang privat di belakang kamar resortnya, angin malam membuainya. pemandangannya langsung mengarah ke laut lepas, masa-masa indah ini memang pantas dia dapatkan.
Tak lama Azka datang, memeluknya dari belakang, memberi kehangatan dan kenyamanan yang nyata. Pelukannya semakin erat, menggambarkan kalau Azka tak akan menyia-nyiakan wanita dalam pelukannya itu lagi.
Bahkan Azka memberikan satu earphonenya dan memasangkan langsung di telinga Nara, apa yang mengalun dari dalam earphone itu? yang pasti itu membuat Nara tersenyum tersipu malu.
'*If you're not the one then why does mysoul feel glad today...
If you're not the one then why does myhand fit yours this way..
If you're not mine then why does your heart return mycall..
If you're not mine would i have the strenght to stand at all..
I never knew what the future bring but i know you are here with me now, we'll make it through and i hope you are the one i share mylife with...
I dont want to runaway but i can make it i dont understand, if im not made for you then why does myheart tell me that i am
Is there anyway that i can stay in your arms...
-If you're not the one, Daniel bedingfield*-
Dari dalam earphone yang barusan Azka pasangkan mengalun lagu evergreen dari Musisi favorit Nara. Lirik lagu yang dalam dan romantis semakin membuainya dalam dinginnya malam ini. Azka benar-benar romantis malam ini, Nara sampai terhanyut dalam kata-kata yang seolah-olah menggambarkan perasaan Azka saat ini.
"Kamu adalah wanita terindah yang pernah aku temui!" bisik Azka setelah lagunya berakhir.
"Aku harap itu benar!" sahut Nara.
Nara berbalik, lalu kini mereka saling berhadapan.
__ADS_1
"Kita harus bersyukur dan berterimakasih pada takdir yang sudah mempertemukan kita! bagaimanapun prosesnya tapi inilah yang akhirnya kita dapat!" kata Nara dan tangannya sudah melingkar tinggi di leher Azka yang harus sedikit membungkukan tubuhnya yang tinggi.
"Ya, itu benar!" sahutnya, tangannya memegang erat pinggang ramping Nara.
"Aku mau seperti ini selamanya!" harap Nara.
"Aku juga!"
Nara harus sedikit berjinjit kaki untuk bisa mengecup bibir Azka, tapi Azka semakin merendahkan tubuhnya, mereka berciuman bermandikan sinar rembulan. Sungguh biru malam ini, benar-benar honeymoon yang sempurna.
"Mau mengulangi lagi malam biru di dalam bath up?" bisik Nara menggoda, membangkitkan gairah Azka seketika, tanpa berkata-kata Azka mengangkat tubuh Nara dan membawanya menuju bath up yang sudah siap sedia, di setiap sudutnya di hiasi lilin-lilin aromatheraphy.
Tak usah di ikuti lagi, biarlah malam ini jadi milik mereka.
***
Yuki menepi di cafe, dia memang pelanggan setia cafe, kursi di sudut cafe adalah tempat favoritnya dan secangkir espresso adalah minuman pesanannya pagi ini.
Ada hal yang tidak lulu sadari, tali sneakernya terburai dan saat sudah sampai didekat Yuki..
BYAR, BRUK...
Kakinya keserimpet dan tentusaja dia terjatuh, Kopinya tumpah mengenai dada Yuki beruntung tak mengenai wajahnya. Lulu panik, dia benar-benar malu dan merasa bersalah pada Yuki.
"Aaah, sorry..sorry..." kata Lulu lalu lekas menarik tissu dari meja Yuki lalu mengelap dada kokoh Yuki yang basah karena ulahnya.
"Its okay, gak apa-apa..." sahut Yuki yang juga melakukan hal yang sama, sampai tangan Lulu juga tak sengaja dia pegang. Lulu terdiam, dia deg-degan, detak jantungnya tak beraturan.
"Ma..maaf ya..." ucap Lulu yang merasa salah tingkah sekali, Yuki hanya tersenyum.
__ADS_1
"Lain kali hati-hati ya, tangannya gak luka?" tanya Yuki perhatian sekali, membuat Lulu semakin nervous.
"Gak kok, gak apa-apa...aku...buatin lagi espressonya ya," kata Lulu lalu beranjak dari sana bersama hatinya yang berbunga-bunga.
Yuki hanya tersenyum melihat tingkah Lulu yang salah tingkah dan polos, Yuki malah ingat bagaimana dia bertemu Nara untuk pertama kalinya, keluguan Lulu membuatnya mengingat momen itu.
Lulu menepi di belakang, jantungnya masih berdegup kencang dan tatapan sekilas yang Yuki berikan padanya tadi sungguh membuatnya tak bisa berkonsentrasi.
"Ya ampun! Yuki... dia benar-benar membuat gue hampir kena serangan jantung! dia itu...soft, aaaaahh, dia benar-benar pria yang lembut," gumam Lulu, dia rasanya jatuh hati pada Yuki dan sifat lembutnya.
Ya, siapa juga yang tahan dengan sikap manis seorang Yuki...
Beberapa menit kemudian Lulu kembali dengan cangkir yang baru, lalu dia letakan diatas meja Yuki.
"Sudah lama sahabatan sama Nara?" tanya Yuki saat Lulu hendak pergi, Lulu pun menahan langkahnya.
"M..iya, sejak masih kecil!" sahut Lulu.
"Oh..."
"Iya! sejak dulu...dia adalah gadis yang baik, yang selalu bermimpi dinikahi seorang pangeran tampan, dan aku rasa sekarang dia sudah mendapatkannya!" kenang Lulu, Yuki kembali tersenyum tapi kali ini senyumannya agak miris, mungkin dia menyesal karena pangeran tampan itu bukan dirinya.
'Apa lo masih mengharapkannya??? sebaiknya lo lihat ke sekitar lo, ada gue...yang bersedia menggantikan posisi si Nara di hati lo! heh, ngarep banget gue...' harap Lulu, berharap sekali.
Yuki melirik kearah Lulu yang malah bengong memandanginya...
"Makasih ya, kopinya..." kata Yuki membuyarkan Lulu, dia jadi malu.
"Oh, iya..iya...selamat menikmati," kata Lulu lalu dia buru-buru beranjak dari sana. Lulu sepertinya jatuh cinta pada sikap lembut Yuki, tapi itu memang wajar, karena sejak lama Lulu adalah fans fanatik team Sunrise.
__ADS_1
Mungkin memang agak mustahil, akan butuh waktu yang cukup lama untuk menggantikan posisi Nara yang sudah sangat lekat dalam hati dan ingatan Yuki, tapi takdir siapa yang tahu? jodoh itu adalah rahasia tuhan yang mutlak.