Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
SEASON 2 COMING : ARKANA's Life


__ADS_3

"Ma, aku berangkat ya!" Teriak Arkan lalu dia tarik sandwich selai kacang dari atas meja makan lantas dia beranjak keluar dari rumah dengan terburu-buru.


"Arkaaan!", Nara setengah berlari di anak tangga, dia ingin memastikan kalau anak remajanya itu sudah berpakaian rapi dan membawa semua alat-alat sekolahnya dengan lengkap.


Dan ya, Arkan meninggalkan buku PRnya dan baru saja Nara melihat putranya berlalu dengan sepeda motornya.


"Huh, Arkana ..." gumamnya.


Nara tak ingin Arkan melewatkan apapun, dia pun berjalan menuju gerbang dan berharap seseorang yang memakai seragam dan atribut sama dengan anaknya lewat depan rumah. Nara ingat kalau beberapa anak di komplek perumahannya ada juga yang sekolah di SMA yang sama dengan Arkan.


Nara menunggu sampai hampir 5 menit lamanya dan akhirnya, Nara lihat dari kejauhan ada seorang gadis manis bersepeda sebentar lagi sampai di depannya. Nara julurkan tangannya seperti orang meminta angkot untuk menepi di pinggir jalan. Gadis itu berhenti tepat di hadapan Nara.


"Kamu sekolah di SMA Harapan Bangsa?" tanya Nara pada gadis manis itu.


"Iya tante," sahutnya santun.


"Aaah kebetulan sekali, tante boleh minta tolong gak?"


"Boleh, apa yang bisa saya bantu?"


"Kamu kenal Arkana?" tanya Nara, beberapa detik gadis itu berpikir dan setelah ingat dia malah seperti berdecak.


"Ar, Arkana?" yakinkan gadis itu agak terbata.


"Iya sayang, dia sekolah disana juga dan pagi ini dia meninggalkan buku tugasnya! Tante pikir ini tugas yang penting, kalau kamu gak keberatan tante mau minta tolong berikan buku ini pada anak tante, Arkan!" pinta Nara to the point.


"Iya Tante," setujui gadis itu, Nara tatap nametag di dada sebelah kirinya ...


"Han Yura?" tanya Nara sembari membaca nama yang tertera di dada gadis itu.


"Hehe, iya saya Yura ..."


"Oke, makasih banyak ya Yura, nanti tante telphon Arkan kalau bukunya ada sama kamu!"


"Iya tante!"


"Terimakasih banyak ya, hati-hati di jalan!"

__ADS_1


Setelah berpamitan gadis itu kembali mengayuh pedal sepedanya dengan semangat. Menempuh jarak sekitar 1 kilometer menuju sekolahnya dan dia lakukan itu setiap hari.


"Yura!"


Baru saja Yura melewati gerbang dan seseorang meneriakan namanya, Yura menoleh dan seorang siswi berambut ikal sebahu setengah berlari menghampirinya.


"Morning Alika," sapa Yura lalu dia turun dari sepedanya dan setelah itu dia tuntun sepedanya menuju tempat parkir.


"Ada PR kan? Aku lupa lho, ayo cepat-cepat ke kelas, aku mau nyontek boleh ya?" ucap Alika penuh kepanikan.


"Hiliih, masa siswa unggulan nyontek-nyontek sih," cibir Yura dengan nada gurauan.


"Ayolah, masa siswa unggulan sampai gak ngerjain PR sih, apa kata dunia nanti!"


"Iya, iya. Duluan aja nih, aku ada urusan bentar!" Yura mengambil buku yang Alika minta, "urusan apaan?" tanya Alika penasaran.


"Aku dapat tugas dari calon mama mertua," sahut Yura masih dengan nada gurauan, pagi ini dia tampak sangat berbunga-bunga. Sepertinya permintaan Nara untuk memberikan buku milik Arkan adalah penyebabnya.


"Ha?", Alika bengong tak mengerti apa maksud perkataan Yura.


"Aku mau antar buku Kak Arkan!"


"Jangan banyak tanya dulu, mau ikut aku ke kelas Kak Arkan atau mau pergi duluan ke kelas kerjain PR, huh?" tanya Yura memberi opsi.


"Ya ikut kamu ke kelas Kak Arkan lah!" jawab Alika yakin.


"Huh, aku tahu pasti itu jawaban kamu, ya sudah ....", akhirnya Yura mengajak Alika ikut serta menuju kelas Arkan.


Arkana, ya! Dia tumbuh sebagai remaja populer karena kesempurnaan ragawinya, Arkan juga dikenal sebagai anak Pebasket Nasional dan itu adalah nilai plusnya. Hampir seluruh gadis di sekolah mengidamkan Arkan untuk menjadi pacar mereka. Tampan, keren, kaya dan populer! Istilah kerennya Arkan itu Boyfriend material banget pokoknya.


Yura berada satu tingkat di bawah Arkan, ini adalah tahun terakhir Arkan mengenyam pendidikan di jenjang SMA sedang Yura masih kelas 11.


Yura deg-degan setengah mati, jarang-jarang dia berkesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan cowok populer bernama Arkana. Sebelum dia melewati pintu kelas 12b, Yura menyempatkan diri untuk merapikan rambutnya di depan cermin saku yang senantiasa dia bawa.


"Ciee, genit amat kamu Yur!" bisik Alika dan bahkan Alika juga melakukan hal yang sama.


"Idiiih, kamu juga ..." cibirnya. Setelah dirasa siap, Yura melangkah dan menahan dirinya di ambang pintu kelas Arkan. Kelas itu sebenarnya tempat berkumpulnya para pria keren di sekolah. Hampir seluruh anggota squad basket sekolah ada di kelas itu.

__ADS_1


Tok, tok, tok


Yura mengetuk pintu yang terbuka mencoba mengatakan permisi, seketika beberapa siswa yang ada di dalam kelas itu menoleh kompak kearah Yura. Ada yang peduli ada juga yang tidak, dan Arkan adalah salah satu murid yang tidak peduli. Ya! Arkan memang tipe cowok cuek, watak Azka memang diwariskan dengan sempurna kepada anak sulungnya itu.


"Ada apa?" tanya salah seorang siswi yang duduk di bangku depan, semua orang masih duduk santai karena jam pelajaran masih akan dimulai sekitar 10 menit lagi.


"Maaf kak, aku ada perlu sama Kak Arkan!" sahut Yura malu-malu dan seketika Arkan melirik kearahnya, Arkan mengerutkan dahinya, Arkan sama sekali tak mengenal adik kelas yang kini berdiri di ambang pintu.


"Yaela, si Arkan mulu yang dicariin, kali-kali gue napa sih," celetuk Vano, teman karib Arkan.


"Heh, modus apa lagi sih ini..." cibir beberapa orang yang ada di kelas itu, sebagian siswi-siswi memangdang aneh pada Yura, mereka malah menganggap Yura modus karena kebanyakan siswi selalu mencari-cari alasan untuk bisa berinteraksi dengan seorang Arkan.


Arkan bangkit dan berjalan menghampiri Yura di ambang pintu.


DEG,DEG,DEG


Frekuensi detak jantungnya naik drastis saat Arkan semakin mendekat, perut Yura juga tiba-tiba terasa mulas karena saking nervousnya, bahkan Alika juga berpegangan erat pada ujung rompi rajut Yura.


"Ada apa?" tanya Arkan,


"M, tadi Mamanya Kak Arkan menitipkan buku tugas Kakak yang ketinggalan, sebentar...." sahutnya dengan perasaan gugup tingkat dewi, tapi Yura segera ambil buku itu dari dalam tasnya.


"Oh," tukas Arkan.


"Ini Kak," Yura sodorkan buku itu dan kini orang-orang tahu kalau Hanna tidak modus.


"Thanks!"


"Iya Kak," Setelah itu Arkan kembali duduk di bangkunya bersama teman-temannya. Interaksi singkat itu sangat berkesan untuk Yura tapi sepertinya tidak sama sekali untuk Arkan.


Yura dan Alika memutar badan dan kembali melangkah menuju kelas mereka di ujung koridor.


"Ya Tuhan, dari jarak dekat juga gantengnya malah semakin kelihatan jelas!" gumam Alika.


"Kakak kelas idaman," sahut Yura.


Ya begitulah, buah memang tak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Arkana mewarisi unsur-unsur penting dari Papanya. Tampan, keren dan cuek dan hal itulah yang membuat gadis-gadis terpana dan tergila-gila pada sosoknya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2