Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Kekecewaan Alana


__ADS_3

'Aku udah berhasil membuat Kak Arkan merasa aneh? Maksudnya apa ya?' batin Yura, oernyataan dari Arkan tadi berputar-putar dalam otaknya. Sosok Arkan yang asyik bermain dengan bolanya juga berputar-putar di ufuk matanya.


'Dan lagi, sebenarnya aku ini suka sama siapa ya? Masa aku suka sama dua-duanya, aneh!' dia merutuki dirinya sendiri dalam hati sampai Arkan melempar bola dengan tangan kirinya dan bolanya melenceng ke tiang ring


DUK, pantulannya malah tepat mengenai kepala Yura, Yura cukup kesakitan saat bola bermassa 650gram itu menghantam kepalanya.


"Aaw!" dia meringis dan tahu-tahu Arkan sudah mendekat kearahnya dengan panik.


"Sorry sorry!" ucapnya lalu dia usap-usap kepala Yura dengan tangannya sampai beberapa saat.


"Gak apa-apa kak!"


"Gue gak sengaja!"


"Iya gak apa-apa."


"Pusing gak?"


Dan lagi-lagi mata mereka saling bertemu, Yura terjebak dalam tatapan mata Arkan begitupun sebaliknya.


'God! Save me!' batin Arkan yang merasa ingin diselamatkan dari jerat pesona Yura yang semakin terpampang nyata dan jelas di depan matanya.


'Ya Tuhan, apa ini lebih dari sekedar rasa suka?' batinnya lalu Yura segera menundukan kepalanya.


"Gak kak, aku baik-baik aja kok!" sangkalnya lalu Yura segera menjauhkan wajahnya dari Arkan, sampai mereka lagi-lagi merasa salah tingkah.


Beruntung Nara datang dengan dua gelas minuman dan berbagai macam kue-kue buatannya untuk Yura dan Arkan dengan begitu situasi canggung itu berakhir secara otomatis.


"Keita sama Vano mana?" tanya Nara mencari sosok Keita dan Vano.


"Mereka gak jadi datang Bu," sahut Yura yang baru lepas dari perasaan canggung.


"Lho kenapa?"


"Kak Keita mau antar mamanya belanja katanya." sahut Yura lagi,


"Oh ya, baik banget deh Keita .... Vano?"


"Ada Oma Opanya dari luar kota!"


"Oh, ya udah deh, kalian berdua aja disini!"


Nara berlalu lagi meninggalkan Yura dan Arkan berduaan lagi saja. Yura segera teguk minumannya untuk menghilangkan rasa nervousnya.


"Itu serius kepala lo sakit gak?" tanya Arkan lagi selepas Mamanya berlalu.


"Iya sih, sedikit!" akui Yura pada akhirnya.


"Pasti, bandana lo aja sampe menceng begitu, heh." kata Arkan lalu tertawa pelan saat dia dapati bandana kain yang Yura kenakan sudah tak rapi lagi di tempatnya.


'Iiih, ternyata Kak Arkan ini usil juga ya, gemes deh!' batinnya lalu perlahan dia tanggalkan bandanya itu.

__ADS_1


"Nanti kalau Kak Alana udah pulang ke Jakarta, kita bisa jalan sama-sama." ucap Yura yang kembali membangun topik tentang Alana dan rasanya Arkan kesal mendengarnya, dia ingin sekali mengatakan kalau saat ini 'Just you and me! Nobody else!'


"Kita juga bisa ajak Vano sama Alika!" cetus Yura.


"Udahlah, mending kita serius belajar dulu! Ngapain sih mikirin pacar-pacaran!" kritiknya kekik, Yura jadi malu.


"Iya sih."


"Emang lo udah ngarep banget ya resmi jalan sama si Kei?" lagi-lagi Arkan lontarkan pertanyaan itu untuk memancing jawaban jujur Yura.


"M, gak tahu kak, aku benar-benar gak tahu!"


"Kelihatannya sih ngarep banget!" cibirnya.


"Mungkin iya, soalnya ini pertama kalinya aku merasa diperhatikan se-intens ini sama anak laki-laki, hehe," jawabnya lalu terkekeh, Huh, Arkan hanya mendengus mendengarnya. Dia teguk air minumnya berharap rasa sesak di dadanya ikut mengalir.


Dan hanya itu yang mereka lakukan sampai acara Arisannya selesai dan Yura pulang bersama Lulu.


***


Hari minggu yang cerah ceria ....


Arkan jadi bingung sendiri, dia sudah janji akan menjemput Alana di Bandara tapi dia ingat kalau tangan kanannya masih merasa linu, dia tak akan mampu mengendarai motor atau mengendalikan kemudi dengan tangan se-sakit itu.


Arkan juga tak bisa menghubungi Alana karena nomor luar negeri yang Alana pakai kemarin pasti sudah tak bisa digunakan, Sepertinya Alana sudah menonaktifkannya.


Dan Alana baru saja keluar dari lorong kedatangan luar negri, dia tatap satu-satu orang yang sedang menunggu kedatangan para penumpang pesawat yang baru landing itu.


Mata bulat Alana menjelajah dan ya, usahanya sia-sia , dia tak menemukan sosok Arkan, sosok yang sudah berbulan-bulan ini dia rindukan.


Akhirnya setelah satu jam menunggu dia putuskan untuk pulang dengan taxi dengan berjuta rasa sesal dan kecewa di hatinya.


Saat di dalam taxi, Alana segera memasukan SIM card nomor lokalnya, dia segera mencari nomor kontak Arkan, walau kesal karena merasa diabaikan tapi akhirnya dia kalah juga, dia segera hubungi nomor mantan adik kelasnya itu.


"Al, Alana ..." sapaan penuh kepanikan menyambut, Alana masih memajang muka jutek.


"Sebel! Kamu ingkar!" gerutu Alana.


"Sorry! Ada satu hal yang gak kamu tahu,"


"Apa sih maksudnya? to the point aja, kamu udah gak peduli sama aku? kamu udah gak sayang sama aku, gitu?" omelnya sewot, sampai driver taxi ikut tertarik dan sesekali melihat ekspressi kemarahan Alana lewat kaca spion di atas kepalanya.


"Bukan gitu, tanganku luka!" akui Arkan tapi Alana tampaknya kadung marah dan tak mempedulikan alasan apapun yang Arkan berikan.


"Oke, ya udah. Aku cape! Aku jetleg! Aku pengen cepet-cepet nyampe rumah!" sahutnya ketus.


"Ya udah, kamu istirahat aja! Nanti sore aku ke rumah kamu!"


"Heh, simple banget hidupmu Ar! Byee!" gerutunya lagi lalu dia akhiri sambungan telphonnya dengan rasa kesal. Dia merasa Arkana tak antusias lagi padanya, dan dia mulai curiga kalau Arkan punya gebetan lain selama dirinya menimba ilmu di negeri k-pop itu.


Arkan sebenarnya merasa bersalah tapi dia tak pernah menunjukan hal itu, dia bukan tipe orang yang ekspresif. Dia turun dari kamarnya ....

__ADS_1


"Makan siangnya udah siap den, makan dulu yaa," kata Bi Marni yang sedang membereskan area dapur.


"Iya bi, Mama udah berangkat?" tanya Arkan.


"Udah barusan,"


Arkan duduk di meja makan lalu menghubungi seseorang, mungkin Keita.


"Kei!" sapanya.


"Heum,"


"Dimana?"


"Di jalan nih," jawab Keita dan Arkan memang mendengar suara bising jalanan dari dalam telphonnya.


"Mau kemana?"


"Jalan lah!"


"Sama Yura?"


"Iya, sama siapa lagi coba?"


"Tadinya gue mau minta bantuan!"


"Apa? bilang aja!"


"Alana pulang!"


"Oh ya?" sambut Keita girang.


"Heum, gue mau ketemu dia tapi tangan gue masih ngilu, belum bisa bawa motor sendiri,"


"Oke, gue jemput lo deh, tapi gue jemput Yura dulu ya."


"Jadi,"


"Udah, simple aja, kita double dating aja hari ini! Gue mau ke rumah pohon di Jatiasih,"


"Apa gak akan kesiangan? Udah keburu macet bro!"


"Gak lah, gue udah atur waktunya, ini kan jam 12 siang, kita nyampe 2 jam kemudian, yaa nongki-nongki disana 1-2 jam, terus bawa pulang lagi Yura dengan selamat sebelum malam!" jawab Keuta penuh semangat dan kalau harus jujur, Arkan tak kuasa membayangkannya.


"Oh ...."


"Lo telphon si Alana buat siap-siap! Jadi pas gue jemput nanti tinggal berangkat!"


"Ya!"


"Cepet ya, gue udah nyampe depan rumah Yura nih."

__ADS_1


"Ya!"


Arkan akhiri obrolan itu, dia antara semangat dan tak semangat. Dia cukup excited bertemu Alana tapi entah kenapa, rencana double date yang digagas Keita rasanya akan membuat hatinya sesak lagi, apa benar Arkan sudah jatuh cinta pada Yura? Hanya dirinya dan Tuhan saja lah yang tahu.


__ADS_2