Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Responsibility


__ADS_3

"Nih bro!"


Keita sudah kembali dari kantin dan bergabung dengan kedua temannya yang sudah menunggu di lapangan.


"Kok lama?" tanya Vano yang langsung meneguk air pemberian Keita senga segera.


"Gue harus sidak dulu!"


"Heh, sidak apaan?" tanya Vano penasaran.


"Biasa lah, si Amanda! Norak banget dia, hobi kok hobi nge-bully!" dengusnya.


"Oh, sepupu lo! Kasih tahu tuh tindakannya itu kagak baik!" sahut Vano lagi, sementara Arkan hanya diam dan mendengarkan percakapan kedua sohibnya itu.


"Udah berkali-kali gue bilang!"


"Cakep-cakep kok galak!" cibir Vano.


"Dan lo tahu gak Ar siapa yang jadi objek bully si Manda tadi?" tanya Keita pada Arkan kali ini,Arkan hanya menautkan kedua ujung alisnya dan itu isyarat untuk pertanyaan 'siapa?', Arkan memang sepertinya sedang malas mengeluarkan suaranya.


"Siapa siapa?" malah Vano yang heboh bertanya.


"Dia cewek yang tadi pagi jadi korban lo!"


Arkan lumayan tertarik saat tahu informasi itu, dia merasa menyayangkan sikap Amanda yang membully Yura dan sudah bisa dipastikan kalau alasan Amanda mengganggu Yura pasti karena hari ini Yura mendapat perlakuan istimewa darinya.


"Wah, sudah gue duga!" sahut Vano.

__ADS_1


"Huh, nyebelin banget si Manda! Gak ngerti gue kenapa dia bucin banget sama lo!" gerutu Keita.


"Apa mereka masih di kantin?" tanya Arkan.


"Kayaknya sih udah bubar, udah gue bubarin tadi!"


"Heh, lo udah kayak petugas satpol pp aja tuh!" goda Vano.


"Iyalah! Gue harus mengamankan segala bentuk perundungan! Enek banget gue sama tindakan itu!"


"Bagus, bagus!"


Kembali pada situasi Yura dan Alika, Yura kembali kekelas dibantu Alika. Dia tak ingin menambah kemarahan Amanda makanya dia pergi tanpa menunggu Arkan.


Bahkan saat bel tanda kegiatan belajar mengajar berakhir berbunyi Yura lekas mengemasi buku-bukunya dan dia ingin segera pergi sebelum Arkan kembali menjemputnya. Jujur saja kesenangan itu sudah berganti menjadi seperti sebuah ancaman saat tadi dia mendapat kecaman dari Amanda dan teman-temannya.


"Iya, aku gak mau ribut-ribut ah, aku gak mau bikin Amanda marah lagi!" sahutnya di koridor menuju keluar area kelas, dia berjalan diantara murid-muris lainnya.


"Tuh Kak Arkan! Kayaknya dia nyariin kamu lho!" tunjuk Alika saat melihat Arkan tengah menunggu di ujung koridor, Yura malah terlihat berat bertemu Arkan saat ini.


"Duh, bagaimana ini ..." dengusnya yang malah menghentikan sejenak laju langkahnya.


"Lho kok kamu malah bingung sih, ayo samperin! Ini tuh kesempatan langka tahu gak?" goda Alika, Yura tidak merasa ini sebagai sebuah kesempatan lagi. Yura hanya mencoba berpikir lurus, jika dia memanfaatkan kesempatan ini dia pasti akan berurusan dengan Amanda untuk waktu yang cukup lama. Yura tak ingin itu terjadi, dia tak ingin terlibat perselisihan sengan siapapun karena itu pasti akan mempengaruhi fokus belajarnya.


Tapi sialnya Yura tak bisa menghindar lagi, Arkan yang sudah menyadari keberadaannya segera berjalan menghampiri. Yura kembali merasa tidak nyaman, ternyata mendadak tenar dan jadi pusat perhatian itu sangat tidak berkenan untuk hatinya. Dia lebih suka jadi biasa-biasa saja.


"Kak Arkan," ucap Yura.

__ADS_1


"Heum?"


"Aku pulang naik angkot aja deh, kalau Kakak mau pulang duluan, pulang aja!" sahutnya.


"Tapi nyokap gue akan marah besar kalau dia tahu gue gak menjaga lo dengan baik!" dalih Arkan, ya! Arkan memang hanya tak ingin Nara tahu kalau dia sampai lalai atas tanggung jawabnya terhadap Yura.


"Oh, kenapa gak bilang aja kalau kita pulang sama-sama, mungkin beliau gak akan tahu kan?"


"Gue gak bisa bohong!"


Yura tak tahu lagi harus bagaimana, saat ini Arkan malah bersikeras melanjutkan tanggung jawabnya itu. Jujur saja, di satu sisi dia senang tapi di sisi lainnya dia merasa takut pada Amanda.


"Kenapa, lo takut?" tanya Arkan dan Hanna sampai berdecak, pertanyaan Arkan barusan seolah-olah Arkan bisa membaca hari Yura.


"M, takut? Takut kenapa?" tanya Yura.


Mereka masih berdiri di tengah-tengah koridor dan sebagian besar para siswa perlahan surut.


"Takut sama Amanda!"


Yura kembali berdecak, ternyata Arkan sudah tahu ketakutannya. Yura yakin kalau Keita tadi menceritakan kejadian si kantin di jam istirahat.


"Ayolah, gak usah takut! Sampai kaki lo pulih, gue akan melindungi lo!" ucap Arkan semakin membuat Yura terbawa perasaan.


Ya mau bagaimana lagi, akhirnya Yura tak bisa menolak lagi ajakan Arkan. Nikmati saja lah, kapan lagi bisa dilayani seorang Arkan seperti sekarang ini lagi pula Arkan juga menjamin akan melindunginya dari Amanda.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2