Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Di Antara Dua Hati


__ADS_3

Operasinya berjalan lancar, Chiyo tinggal menunggu masa pemulihan sampai dia bisa benar-benar beraktifitas seperti anak-anak lainnya.


Kini wajahnya sedikit merona, tak pucat seperti mayat hidup lagi. Yura harap sel kanker itu benar-benar pergi dan segala dampak dari perawatan kemo juga sudah benar-benar ditangani dengan baik.


Zahran juga bahagia sekali, dia terus menerus menatap adiknya yang sedang terbaring dan tertidur nyaman di brankarnya itu.


"Thanks ya Yur! Lo udah kehilangan banyak waktu, tenaga dan uang pastinya! Tapi, gue gak akan pernah lupa, gue akan menggantinya sebisa gue nanti!" kata Zahran tak henti-hentinya mengucap kata terima kasih pada Yura.


"Gak perlu, apa yang aku berikan untuk Chiyo datang begitu mudah, mungkin ini udah rezekinya dia melalui tanganku!"


"Apapun itu, sekali lagi makasih ya!"


"Iya! Aaah iya, Dara gak ada ngontak kamu lagi?" tanya Yura, Yura heran, setelah kejadian di rumahnya beberapa minggu lalu, Dara seperti hilang di telan bumi.


"Gak ada! Dia cape kali berbuat jahat terus! Tapi kabarnya dua hari yang lalu dia berangkat ke London lagi!"


"Oh, huh ... semoga Kak Keita baik-baik saja disana!"


Dengus Yura, lalu dia membuang nafas. Banyak sekali yang terjadi sampai dia harus kehilangan cinta dari Keita tapi Yura juga merasa hari-harinya cukup berarti karena telah berhasil memberi andil penting dalam kesembuhan Chiyo. Zahran menoleh ....


"Jadi, lo beneran udah putus sama dia?" tanya Zahran, dia bertanya hati-hati sekali dan jujur saja, rasa bersalahnya masih kokoh bertengger dalam hatinya, bagaimana pun juga, dirinya adalah awal dari kehancuran hubungan Yura dan Keita walau di akhir cerita semunya sudah terungkap.


"Iya," jawab Yura lalu tampak lesu.


"Tapi dia benar-benar tahu kejadian yang sebenarnya kan?"


"Tahu, kan kamu yang cerita!"


"M, maksud gue, dia mengerti sama posisi lo saat itu kan? Apa, dia kecewa karena merasa lo terlalu lemah dan mengalah sama si Dara?"


"Nggak kok, dia tahu dan ngerti posisiku saat itu! Cuma, mungkin dia terlanjur larut dalam masalah ini, dia mau fokus kuliah dulu dan aku dukung pilihannya itu!" tutur Yura mencoba memberi pengertian pada Zahran yang tampak antusias dengan status hubungannya dengan Keita, macam watrawan infotainment yang kepo dan terus mengulik intrik dan masalah seorang selebriti.


"Mungkin ini salah gue!" kata Zahran lalu menunduk malu dan penuh penyesalan.


"Nggak lah! Aku hargai kejujuran kamu, kita syukuri aja, ini semua sudah berlalu dan Chiyo benar-benar sembuh!" ucapnya menenangkan Zahran, seperti biasa, itu lah Han Yura.


Selepas dari Rumah sakit, Yura pulang dengan sepeda motornya. Dia pulang dan sepanjang perjalanan banyak sekali yang dia pikirkan. Tapi selebihnya adalah rasa syukur. Bersyukur ini semua sudah berlalu dan berjalan seperti semula, hanya saja sekarang dia tak bisa memiliki Keita lagi. Setelah ini, saat nanti dia merindu, dia tak bisa mencurahkan kerinduannya itu lagi.


***


Lalu bagaimana dengan Arkan sekarang? Dan bagaimana pula dengan Alana?


Alana menunggu, menunggu kedatangan Arkan di cafe langganan Arkan yang terletak tak jauh dari markas Sunrise. Sekarang meluangkan waktu untuk Alana semakin sulit. Selain waktu, tapi hatinya pun kini kian terbagi, bahkan Arkan sudah hampir melupakan perasaannya itu.


Akhirnya dia datang. Lelaki tinggi yang masih tampak sporty dengan jersey latihan beserta keringat yang membasahi bagian tubuhnya, perfectly sexy!


"Kamu pasti cape kan?" kata Alana penuh perhatian lalu dia seka keringat di dahi Arkan dengan tissu, Arkan sebenarnya tak nyaman dengan perhatian itu tapi tak mungkin juga dia hempaskan tangan Alana begitu saja, itu kasar sekali.


"Kamu udah lama disini?" tanya Arkan berbasa-basi.


"Belum sih, baru sekitar 15 menit!"


"Oh!"


"Malam ini kamu free kan?"


"M, ya, emang kenapa?" tanya Arkan lalu dia minum minuman yang sudah Alana pesan sejak tadi.


"Ayah Bundaku lagi ada di rumah, aku mau mengenalkan kamu secera resmi, selama 3 tahun ini, kamu belum pernah sempat ketemu mereka secara langsung kan?"


Arkan terdiam, bertemu orang tua Alana? Aah, pasti acaranya akan terasa canggung. Lagi pula dia belum siap menjalankan komitmen dengan Alana, terlebih saat ini Arkan sedang mencoba memantapkan hatinya untuk Yura.


"Kenapa? Bisa gak?"

__ADS_1


"Sebenarnya, malam ini aku rencananya mau haunting rumah!"


"Rumah? Rumah buat siapa?"


"Buatku lah! Tinggal di mess kurang nyaman, aku mau beli rumah sendiri!"


Alana semakin tertarik, dia merasa Arkan sedang merancang rumah masa depan bersamanya. Alana sudah sangat optimis.


"Wah, memangnya nilai kontrak kamu sudah cukup buat beli satu unit rumah?"


"Aku cuma bayar separuh, sisanya aku minta diskon sama Papa!"


"Aah iya, Papa Azka kan punya deretan cluster buat dipasarkan! Heum, jadi kamu benar-benar pengen tinggal mandiri?"


"Heum, sebentar lagi ... aku juga harus mulai memikirkan masa depan lainnya kan?"


Alana tersipu, dia pikir Arkan benar-benar sedang merancang masa depan bersamanya. Sungguh malang nasib Alana, tanpa dia tahu kalau Arkan sedang menyiapkan hati dan masa depannya bersama Yura. Entah bagaimana reaksinya jika ia tahu hal itu.


Dan secara kebetulan, Yura baru saja memasuki cafe yang sama. Matanya langsung tertuju pada meja Arkan dan Alana. letak meja keduanya memang cukup strategis. Yura rasanya menyesal masuk ke dalam cafe itu, tapi dia terlanjur membuat janji dengan pelanggannya disana.


"Han Yura?" gumam Alana yang sudah menyadari kedatangan Yura yang sedang mencari kursi kosong di ruang cafe yang cukup luas itu.


Sontak Arkan menoleh, dan ya! Itu dia, gadis yang dia pikirkan belakangan ini. Alana melihat sorot mata Arkan, dia lihat ada sesuatu yang berbeda dan sungguh ia kecewa melihat kenyataan itu.


Karena terlanjur saling menyadari keberadaan masing-masing, Yura pun akhirnya berjalan menghampiri kedua mantan Kakak kelasnya itu. Yura terlihat agak canggung tapi dia terlanjur mendekat.


"Ngapain disini?" tanya Arkan sembari menyodorkan kursi untuk Yura. Alana hanya diam, dia melihat cara Arkan menatap dan menyapa Yura, dia benar-benar merasa ada yang berbeda.


"M, aku lagi buat janji sama seseorang disini, tapi kayaknya dia belum datang!" jawab Yura dan pada akhirnya dia duduk bergabung bersama keduanya.


"Oh, urusan bisnis?"


"Ya!"


"Heum, gue kira urusan yang lain!"


"Ar, gimana? Nanti malam kamu bisa kan?" Alana cepat-cepat mengganti topik pembicaraan lagi, beralih pada tujuan utama pembicaraannya seperti di awal tadi.


"M, ya udah, masalah rumah, bisa aku urus nanti!" setujui Arkan, dia merasa tak enak kalau harus menolak tanpa Arkan sadari kalau dirinya sudah memberikan harapan palsu pada Alana.


"Oke deh! And semoga kamu sudah mulai bisa menetapkan jawaban kamu, sebentar lagi musim kompetisi akan berakhir!" ingatkan Alana. Ya, Arkan pernah berjanji di awal musim kalau ia akan membuat keputusan atas hubungannya dengan Alana jika musim debutnya bersama Sunrise sudah berakhir dan tanpa terasa kompetisinya sudah bergulir setengah jalan. Hanya ada waktu satu sampai dua bulan lagi untuk memberi kepastian.


Bisakah? Sedangkan kini Arkan tengah mengharapkan sambutan dari Yura. Kini Arkan sedang duduk di antara dua gadis, yang satu tengah menunggu jawabannya dan yang satunya lagi adalah yang sedang dia incar saat ini.


"Oh iya Yura, kamu jualan kookies ya? Gimana usaha kamu? Lancar?" tanya Alana yang akhirnya mau menyapa Yura, tapi jujur saja, nada pertanyaan Alana terdengar agak sinis, mungkin dia pikir usaha kecil yang Yura rintis saat ini tak sebanding dengan usaha butik miliknya.


"M, iya Kak, lancar sih, lumayan sedikit-sedikit tapi udah lumayan berkembang," jawabnya.


"Heum, kenapa gak buka gerai? Aku lihat strategi dagangmu di media sosial cukup gencar, mungkin kalau kamu punya tempat usaha resmi, usahamu bisa berkembang pesat."


"Tunggu beberapa bulan lagi mungkin kak, pelangganku belum begitu banyak, kalau aku sewa toko, aku butuh tambahan modal lagi, banyak juga anggaran yang harus aku siapkan! Jadi, sembari menunggu pasarku meluas, aku kumpulkan saja dulu dari hasil penjualan secara online ini!" tutur Yura lugas, sampai tanpa sadar Arkan menyimaknya dengan tatapan bangga dan Alana bisa melihat itu dengan jelas. Alana yakin, pasti ada yang tidak beres dengan perasaan Arkan terhadap Yura.


"Oh gitu ya!" jelas sekali kalau Alana kecewa saat ini, dia seperti sedang menerima pil pahit. Sakit sekali rasanya melihat lelaki yang ditunggunya menatap gadis lain dengan tatapan yang dalam sementara ia sendiri tak pernah mendapat tatapan seperti itu dari Arkan.


"Aaah itu dia, pelangganku udah datang, aku tinggal ya!" kata Yura lalu dia pamit kemudian menghampiri seorang perempuan yang baru saja datang melewati pintu cafe.


Alana masih meradang, kini rasa cemburu itu kembali timbul dan menggebu-gebu. Arkan bahkan tak menyadarinya. Menatap dan mengagumi pesona Yura adalah sesuatu yang alami yang dia sendiri tak tahu kalau ia tengah menatap Yura dan Alana memperhatikan hal itu.


"Kalian semakin akrab!" cerus Alana ketus lalu dia mainkan sedotan di dalam gelas jusnya, dia kelihatan kecewa sekali dan ia tak bisa menyembunyikan.


"Biasa saja!" sangkal Arkan singkat.


"Kamu mengaguminya?"

__ADS_1


Arkan mengangkat wajahnya lalu menatap Alana tajam sekali, tak seperti saat ia menatap Yura.


"Kenapa kamu tanya begitu?"


"Ya, tatapan kamu sama dia tuh beda aja! Kayak ada sesuatu yang kamu sembunyikan!"


Arkan memalingkan wajahnya. Dia tak ingin Alana semakin menyadari apa yang tengah disimpannya saat ini. Arkan merasa tersentil, dia merasa kalau Alana tahu tentang perasaannya terhadap Yura walau hanya lewat gestur sederhana.


"Pantas aja di Dara sampai menggila! Aku rasa dia memang punya magis yang bisa menyihir hati lelaki manapun!" katanya dengan nada sarkas.


"Kok kamu ngomongnya gitu sih?"


"Bener kan? Kamu juga tersihir bukan? Udahlah, aku malas! Kita batalkan aja rencana nanti malam! Moodku udah sangat rusak!" Tanpa aba-aba Alana marah, dia menarik tasnya lalu beranjak.


Arkan awalnya diam saja, dia sangat kesal dan tak nyaman dengan situasi ini. Tapi kemudian dia susul langkah Alana.


Yura terdiam, dia pikir ada yang tidak beres dengan kebersamaan Alana dan Arkan barusan. Yura jadi tak enak hati, dia pikir ada hubungannya dengan dirinya.


"Waah yang barusan itu, Arkana ya? Pemain baru Sunrise?" tanya klien yang sedang mengobrol dengan Yura sampai ia tersadar dari lamunannya.


"Oh, m ... iya! Itu Arkana, Arkana putera Azka!"


"Heum, dari jarak dekat dia kelihatan lebih keren ya! Masih muda, ganteng, ya walau masih jarang dimainkan, tapi ... aaah, cowok basket memang selalu keren!"


Yura hanya tersenyum, ya! Cowok keren itu nyatanya pernah meminta hatinya dan tanpa Yura sadari, Arkan masih sangat mengharapkannya sampai detik ini. Arkan hanya sedang menunggu waktu yang tepat saja.


"Apa itu pacarnya? Kelihatannya lagi berantem ya?" tanya pelanggan Yura lagi, dia sangat kepo dan Yura hanya bisa menukasnya dengan senyuman. Sebenarnya Yura juga penasaran karena Alana keluar dari cafe itu dengan penuh kekecewaan.


"Cantik ya, huh ... saya kira dia brondong yang masih single! Hehe," ucapnya lagi, Yura hanya tersenyum geli.


"M, jadi ... bagaimana? Apa Mbak udah deal dengan harga yang sudah saya tawarkan?" tanya Yura cepat-cepat beralih ke topik awal mereka.


"Oh iya, iya ... kita sepakat ya, jadi saya ini reseller produk kamu sekarang, semoga orderan banyak, dan kita bisa saling menguntungkan!"


"Iya Mbak, makasih banyak ya sudah mau bekerjasama dengan saya, saya senang sekali punya mitra seperti mbak, semoga produk saya bisa lebih dikenal lagi!"


"Ya, awalnya kan saya emang pesan satu dua toples buat konsumsi sendiri, dan ternyata saudara-saudara saya suka karena kookies buatan mbak Yura ini enak dan dikemas dengan menarik! Makanya saya pikir ini bisa saya jadikan peluang usaha buat saya juga!"


"Iya, saling bantu ya mbak!"


"Dan bagaimana kabar Chiyo? Apa, dia sudah dinyatakan sembuh?"


"Sudah, berkat bantuan para pelanggan semua!"


"Aaah syukurlah, senang ya bisa berbisnis sembari membantu orang lain yang membutuhkan, semoga usaha kamu ini semakin berkembang pesat dan berkah pastinya!"


"Aaamiin aamiin, terima kasih banyak ya Mbak!"


Yura senang sekali. Karena bisnisnya ini, dia sudah bisa membantu seseorang, dia juga senang karena banyak orang yang mendo'akan yang terbaik untuknya.


Bagaimana kelanjutan kemarahan Alana?


Arkan berhasil menahan langkah Alana di halaman cafe. Alana kadung marah dan dia sudah bersiap untuk mencari taksi yang lewat.


"Al!"


"Cukup Arkana! Kamu jahat tahu gak? Gak berperasaan!" hentaknya penuh emosi, bahkan dia kini sudah mengeluarkan air mata. Rasa sesak dan rasa sakit hatinya sudah tak tertahankan lagi.


"Ayo aku antar kamu pulang!" Arkan malah menarik tangan Alana mendekat ke arah mobilnya.


Alana tak kuasa, Arkan memang sudah menarik ulur perasaannya seperti layangan. Tapi dia bisa apa? Sial sekali memang kalau saat ini Alana memang hanya mengharapkan Arkan saja. Tak ada lelaki lain yang dia harapkan dalam hatinya, hanya Arkan saja!


Yura melihat adegan manis itu dari dalam cafe, dari balik dinding kaca. Yura termangu, dia sedikit meragukan Arkan kali ini.

__ADS_1


'Huh, Kak Arkaan ... haruskah aku percaya padamu?' batinnya, dia terus perhatikan Arkan dan Alana sampai mereka benar-benar pergi dari area parkir.


Bisa kah Arkan menentukan pilihannya dalam waktu dekat ini? Atau dia akan terus-terusan menggantung perasaan Alana? Dan memendam keinginannya untuk memiliki Han Yura?


__ADS_2