Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Nothing's Girl like You


__ADS_3

Arkan sudah memesankan sebuah kamar hotel untuk Yura. Dan dia sendiri harus segera pergi karena waktu yang diberikan pihak Sunrise sudah hampir habis.


"Good night!" ucap Arkan di depan pintu kamar hotel Yura, Yura menukas dengan senyuman manis.


"Makasih banyak ya Kak!"


"Masuk, istirahat lah!"


"Iya Kak!" Yura buka pintu kamar hotelnya dan setelah Yura sudah ada di dalam, Arkan melangkah pergi. Arkan merasa kekasihnya sudah aman dan sudah mendapat kenyamanan dengan begitu Arkan bisa pergi dengan tenang.


Yura kunci kembali pintu kamar hotelnya, dia berjalan menuju tempat tidur yang nyaman dan menjatuhkan tubuhnya yang lelah di atasnya. Ya, walaupun tubuhnya sangat lelah, tapi hatinya begitu berbunga-bunga.


"Menikah muda? Gimana rasanya yaa?" pikir Yura sembari terkekeh sampai dia menikmati sebuah lamunan indah ....


CKTT, Arkan membukakan pintu kamar pengantin lalu membaringkan Yura yang sejak tadi ada dalam gendongannya dengan perlahan. Mereka masih mengenakan baju pengantin. Arkan begitu gagah dengan stelan tuxedo warna hitam mengkilat dan Nara juga bagai princess disney dengan gaun panjang putih bersihnya.


"Kamu harus siap ya! Sekarang kita sudah menikah! Kamu adalah istriku dan aku adalah suami kamu! Kamu harus mau melayani aku!" kata Arkan sembari dia lucuti tuxedonya itu, perlahan dia juga menarik dasinya dan bahkan mulai melepaskan kancing-kancing kemejanya sampai membuat Yura ketakutan.


"Ja-jangan sekarang Kak! A-aku masih belum siap!" sangkal Yura lalu dia menarik mundur tubuhnya dengan rasa takut yang memuncak.


"Gak bisa, kita akan melakukannya sekarang! Coba kamu buka gaun kamu itu," kata Arkan lagi, dia sudah membuka kemejanya sampai kini ia bertelanjang dada di depan Yura yang masih ketakutan.


"Jangan!"


"Aaah, biar aku aja yang lepaskan!" Arkan mendekat, memaksa Yura untuk melepas gaunnya, Yura? Semakin ketakutan.


"Jangan Kak! Jangan sekarang!"


"Harus sekarang!"


"Kaaak ...."


"Sekarang sayang!"


"Kaak, aaaaaahhhh ...."


Yura tersadar! Adegan gila itu ternyata hanya mimpi spontannya. Ternyata lamunannya terbawa sampai ke alam mimpi. Yura jadi malu, beruntung saat ini dia hanya bermimpi dan tak ada yang melihat tingkah anehnya.


"Huh, kenapa harus mimpi aneh begitu sih!" gerutunya lalu dia tutup seluruh tubuhnya dengan selimut, bahkan Yura juga menutup seluruh kepalanya dengan selimut itu. Mungkin Yura malu dengan sinar rembulan, dia malu karena sudah bermimpi yang tidak-tidak dengan kekasihnya.


***


Tanpa Ahsan tahu kalau dari kemarin Yura sudah pergi ke Surabaya. Pagi ini dia mencoba menemui Yura lagi ke rumahnya, tapi tak ada respon. Dia pikir Yura sudah pergi ke tokonya. Ahsan pun segera meluncur kesana.


Dan saat masuk ke dalam toko, Ahsan juga hanya mendapati Alika yang sedang melayani seorang pelanggan. Ahsan heran dan Alika cukup ketakutan. Ahsan sepertinya menunggu Alika sampai ia selesai melayani pelanggan itu.


"Terima kasih banyak Bu," ucap Alika pada pelanggan itu dengan ramah walau sebenarnya saat ini hatinya sedang sangat ketakutan.


"Iya," ucapnya lalu berlalu melewati pintu toko meninggalkan Alika dan Ahsan berdua saja.


"Han Yura mana?" tanya Ahsan.


"Ada perlu apa sama Yura?" tanya balik Alika, dia mencoba menghadapi Ahsan untuk melindungi sahabatnya.


"Katakan saja dimana dia sekarang! Saya ada perlu!" desak Ahsan.


"Dia gak ada disini!"


"Terus dimana? Tadi saya ke rumahnya gak ada juga!"


"Dia ke Surabaya! Nemenin pacarnya bertanding!" tegas Alika, seketika Ahsan berdecak. Ahsan jadi kesal, karena dia merasa dibodohi dengan perginya Yura. Dia pikir Yura gak akan nekat untuk pergi secara mendadak.


"Jangan bohongi saya!"


"Siapa yang bohong? Dia pergi jam 11 siang kemarin! Mungkin sejak sore kemarin dia sudah sampai, dan pasti sekarang ini dia lagi nemenin pacarnya disana!" tutur Alika mencoba memanas-manasi Ahsan. Ya, Alika beranikan dirinya untuk menyentil Ahsan berkali-kali. Alika benci pada Ahsan karena sudah mencoba menghancurkan sahabat terbaiknya itu.


"Sial!" rutuk Ahsan lalu dia keluar begitu saja tanpa pamit, Alika hanya mencibir di belakangnya.


"Dasar sakit jiwa!"


Ahsan merasa dibodohi. Baru saja dia merasa senang karena mampu membajak ponsel Yura dan sekarang dia baru tahu kalau ternyata Yura begerak cepat dengan menerjang jarak ribuan mil untuk mengklarifikasi langsung pada Arkan.


"Aarrggghhh! Shit!"


Bug, dengan penuh emosi Ahsan menendang ban mobilnya. Rasanya baru sekarang dia merasa jengkel oleh seorang perempuan. Bahkan perempuan itu baru saja dia kenal dan kesan pertama pertemuan mereka begitu jauh dari kesan manis.


"Lihat saja Han Yura! Selama ini gak ada yang bisa lepas dari gue! Lo harus kalah! Gue akan mendapatkan lo sampai hancur!" tekad Ahsan, entah apa yang merasukinya sampai dia merasa begitu berambisi membuat Yura jatuh.

__ADS_1


Dan Yura tak merasa ketakutan lagi. Dia merasa kata-kata Arkan semalam sudah cukup untuk menguatkan hatinya.


Hari ini jadwal latihan Arkan kosong, dan seluruh pemain memiliki kesempatan untuk menikmati hari libur mereka. Arkan akan menghabiskan waktunya bersama Yura tentunya.


Setelah agak siang dia menjemput Yura ke kamar hotelnya langsung dan tiba-tiba surprised dengan kehadiran Arkan tapi Arkan bersikap biasa saja, layaknya bersikap pada teman biasa saja.


"Arkan, kamu menginap di hotel ini juga?" sapa Keyla.


"Nggak kok, team Sunrise chek in di Hotel Emerald," tukasnya santai.


"Terus, kamu ngapain disini?"


"Yura menginap disini!"


Seketika mood Keyla jatuh mendengar nama Yura keluar dari mulut Arkan. Ternyata benar kalau mereka pacaran? Pikirnya kesal.


"Oh ...."


"Duluan ya!" pamit Arkan lalu dia melanjutkan langkahnya memasuki ruang lift untuk naik langsung ke lantai yang Yura tempati saat ini. Keyla sampai tak bisa melepaskan matanya dari sosok Arkan yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya, dan hatinya meradang.


"Huh, Han Yura! Kenapa harus selalu dia! Kenapa?" gumamnya dengan penuh kebencian.


Tok ... tok ....


10 detik kemudian pintunya terbuka dan gadis yang Arkan cintai nampak tersenyum rekah di hadapannya. Semangatnya naik 10x lipat.


"Aku gak bawa apa-apa kemarin, makanya aku pake baju ini lagi," kata Yura malu-malu, dia malu karena dia tak ganti baju sejak kemarin.


"Ya udah, kita cari sekarang!" ajak Arkan.


"Iya, aku ambil tas dulu ya!"


Mereka siap saat Yura kembali dengan tas selempang kecilnya. Setelah Yura mengunci pintu kamar hotelnya, Arkan segera merebut tangannya dan menggenggamnya lagi dengan erat seolah ia tak ingin kehilangan Yura apapun yang terjadi nanti.


Dan ya, lagi-lagi Keyla harus berpapasan dengan Arkan di lorong yang sama. Sepertinya kamar hotel Keyla satu lantai dengan kamar hotel Yura. Keyla semakin meradang melihat dua tangan yang saling berpegangan itu.


"Lho, ada Kak Keyla juga disini?" sapa Yura dengan hangat, dia kelihatan senang bisa bertemu Keyla disana.


"Iya, aku ada beberapa acara disini," sahutnya malas.


"Oh, kebetulan sekali ya!"


"Gak tahu nih, Kak Arkan mau ajak aku kemana, kebetulan hari ini Kak Arkan off," sahut Yura lagi sementara Arkan diam saja.


"Oh ya sudah, silakan, selamat bersenang-senang!" kata Keyla walau dalam hati dia tak tahan ingin menyerang Yura dengan tangannya sendiri.


"Iya, makasih Kak!"


Keyla memacu langkahnya bersama api cemburu dan luka dalam yang dia dapat sekaligus.


Senang sekali rasanya menikmati kota Surabaya yang terik bersama kekasih. Terik pun terasa teduh. Yura bisa berlindung di balik tubuh Arkan yang tinggi menjulang.


Mereka memasuki pusat perbelanjaan, mencari outfit untuk Yura yang tak ganti baju sejak kemarin. Dan sebuah jumpsuit yang fit dengan tubuh Yura sudah dipilih, Jumpsuit berwarna navy dan rambut yang tergerai indah membuat Yura tampak manis sekali.


Arkan juga membelikan ponsel baru untuk Yura. Arkan benar-benar boyfriend material, dia ingin membahagiakan Yura sebisanya.


"Kak, aku bisa beli nanti! Aku bisa pake tabunganku sendiri kok," kata Yura yang merasa tidak enak karena Arkan sudah mengeluarkan uang cukup banyak untuknya hari ini.


"Udah, yang ini aja Mas!" Arkan tak mendengar dan malah telah menjatuhkan pilihan pada ponsel keluaran terbaru yang sama persis dengan miliknya.


"Kak, kalau mau belikan gak usah yang itu, yang biasa aja lah!" bisik Yura, dia benar-benar merasa tidak enak.


"Udah, kamu gak usah nolak! Kamu juga gak usah merasa gak enak begitu, aku ini kan calon suami kamu! Apapun yang kamu mau akan aku penuhi, selama aku mampu!" balas Arkan pelan berbisik dan mengalun lembut tepat di telinga Yura, lagi-lagi menambah kadar asmara di antara keduanya.


"Iyaaa, tapi ...."


"Sttt, gak boleh bantah ya!" sambar Arkan.


Yura akhirnya mengalah.


Setelah dari gerai ponsel itu, mereka pun selanjutnya menghabiskan makan siang di sebuah cafe. Hari ini adalah milik mereka.


"Maaf ya, aku gak bisa mendukung Kak Arkan di sisa dua pertandingan Kakak!" kata Yura penuh sesal sembari perlahan melahap makanannya.


"Gak apa-apa, aku udah pesan pesawat untuk penerbangan besok pagi!"


"Makasih banyak ya Kak."

__ADS_1


"Iya, pokoknya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku! Atau setidaknya hubungi Alika atau mungkin si Zahran! Gak apa-apa kok, aku percaya sama dia!" kata Arkan, Yura makin senang mendengar kepercayaan Arkan terhadap Zahran.


"Iya, mereka juga pasti akan melindungiku."


"Huh, sekarang aku bisa rasakan getirnya jadi si Keita! Aku bisa bayangkan gimana sakitnya dia, tapi ... sekarang kita semua sudah memilih!"


"Ya, walau kita udah putus, tapi aku selalu berharap Kak Keita mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari aku!" ungkap Yura.


"Gak akan ada!" tegas Arkan.


"Ha?" tanya Yura bengong.


"Ga ada yang lebih baik dari kamu!" jawab Arkan membuat Yura lagi-lagi menjadi salah tingkah.


"Heum ...."


"Ya, bahkan sampai bikin aku melangkahi sahabatku sendiri!" akui Arkan, Yura hanya tersenyum getir, ya itu memang benar. Arkan sampai harus menunggu dirinya putus dari keita. Sampai Yura bertanya dalam hatinya, 'Apa sebesar itu rasa sukamu padaku Kak?'.


"Mungkin, ini lah takdir kita semua!"


"Heum, aku senang karena takdirku itu kamu!"


'Aaaah, Kak Arkaan, kenapa kamu gak bisa berhenti membuat aku tersipu? Kenapa kamu semanis ini?' batinnya lalu Yura kembali menyembunyikan wajahnya karena terlampai salting.


"Jangan sembunyi! Kamu juga harus katakan itu, hey Han Yura ... apa kamu senang kalau takdir kamu itu adalah pria yang ada di depan kamu sekarang?" tanya Arkan menggoda, Yura malah melanjutkan makan siangnya tanpa menghiraukan Arkan. Sudah sejak kemarin Arkan menggodanya dan membuatnya nervous berat.


'Iya Kak, aku senang! Aku sangat senang!' ungkapnya dalam hati.


"Katakan, jangan jawab dalam hati!" kata Arkan membuat Yura berdecak, bagaimana bisa Arkan tahu kalau ia menjawabnya dalam hati, apa Arkan bisa mendengar suara hatinya? Pikirnya.


"Kok Kak Arkan tahu?" tanya Yura heran.


"Tahu apa?"


"Tahu kalau aku jawab dalam hati!"


"Nah kan benar ...."


"Lhooo ...."


"Aku cuma nebak aja kok! Jadi benar kamu udah jawab dalam hati? Jadi apa jawabannya?"


"Aaah Kak Arkan mah suka mancing deh!"


"Ya udah tinggal jawab aja, kamu senang gak kalau pada akhirnya takdir kamu itu aku?"


Yura tersenyum, dan akhirnya dia menyerah, dia pun mengakuinya dengan sebuah anggukan kepala. Kebersamaan mereka selalu terasa manis dan hangat. Mungkinkah ini akan berjalan mulus sampai nanti? Sampai mereka melangkah ke jenjang selanjutnya?


Dan bagaimana dengan Keita?


6 jam lebih awal di kota London, ini masih pagi dan Keita masih menunggu jam kuliahnya dengan membaca beberapa buku di halaman kampus. Sejak putus dari Yura, dia benar-benar fokus pada pendidikannya. Dia tak pernah terpikir untuk mencari pengganti. Dan soal postingannya dengan seorang gadis bule beberapa waktu lalu, itu hanya caranya untuk meyakinkan orang-orang kalau dia sudah tak terluka lagi.


Dara datang dengan dua gelas kopi hangat, dia menghampiri pria yang dicintainya itu lalu duduk di sampingnya.


"Yang ini jangan diabaikan! Minumlah!" kata Dara lalu dia sodorkan kopi itu, Keita sejenak memicingkan matanya lalu, Heh, dia membalas kebaikan Dara dengan senyum kecut.


"Jangan dekati gue terus!" ucapnya lalu dia bangkit dan bersiap untuk pergi. Dia bereskan buku-bukunya tapi Dara menahan tangannya.


"Please Kei! Lihat aku sedikit aja! Aku sayang kamu lebih dari apapun!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca tapi Keita sama sekali tak peduli.


"Sebesar itu rasa sayang lo sampai membuat gue kehilangan cinta sejati gue?" tanyanya dengan nada sarkas.


"Karena aku lah takdir kamu! Kamu takdirku! Kita bisa memulainya! Aku bisa jadi lebih baik dari pada si Yura!"


"Gak! Gak ada yang bisa jadi seperti dia!" tegas Keita, tajam sekali sampai terasa menampar Dara. Harus dia akui kalau Keita masih sangat mencintai Yura, dan kenyataan itu begitu menyakitkan.


"Please Kei ...."


"Andai lo sadar, sebenarnya udah gak ada lagi maaf buat lo! Lo yang sudah menghancurkan semuanya! Jangankan menerima lo sebagai takdir, buat memaafkan lo aja gue masih butuh ribuan hari!" Kata-kata Keita semakin menusuk-nusuk nurani Dara. Tapi harus dia akui kalau Keita memang berhak marah seperti itu.


"Aku akan menebus semuanya Kei ...."


"Bisa! Lo bisa menebusnya!" kata Keita lagi, Dara menatapnya dengan penuh harap. Berharap dia bisa benar-benar bisa memaafkannya.


"Stay away from me! Lo bisa menebusnya dengan itu, jauhi gue!"


Jleb, kata-kata Keita sebelum dia benar-benar pergi benar-benar terasa menancap tepat di jantung hatinya. Tapi, Dara memang layak mendapatkan nestapa ini mengingat apa saja yang sudah dia lakukan pada Yura dan Keita selama ini.

__ADS_1


Dara hanya bisa menangisinya sendirian, menangis perih bersama cintanya yang selalu bertepuk sebelah tangan.


__ADS_2