
Setelah senang-senang bersama, mereka pergi ke rumah keluarga Azka sore harinya. kebersamaan Azka dan Nara yang semakin mesra membuat Kalyla meradang lagi dan lagi.
Semua orang duduk di ruang keluarga kecuali Ayah yang masih sibuk kerja dikantor.
"m.. kamu udah baikkan?" tanya Nara pada Lyla.
"sudah merasa lebih baik.." sahut Lyla ringan.
"dipertandingan kemarin kamu kenapa? kok sunrise sampai kalah padahal lawannya gak terlalu diunggulkan?" tanya ibu memulai obrolan.
"mungkin Azka lagi gak enak badan, kakek juga lihat kemarin kamu lemes mainnya.." sahut kakek.
"nggak, menurut saya Azka lagi banyak pikiran, dia gak fokus, iyakan?" tanya Ibu lagi seperti sedang mengintrogasi.
"apa mungin karena kecapean habis nungguin aku semalaman?" tanya Kalyla mencoba memanas manasi Nara, tapi dia tak terpengaruh.
"entah lah Lyla, tante kira Azka ada masalah internal waktu itu, bisa kelihatan kok.."
"walaupun dituntut harus selalu dalam performa terbaik tapi Azka juga kan manusia yang bisa luput dari kesalahan.." kakek tetap membela Azka.
" ya, waktu itu aku emang tidak dalam kondisi yang baik.." sahut Azka datar.
"Nara, bagaimana usaha cafe mu?" tanya kakek pada Nara kali ini.
"lancar kek, sudah mulai rame lagi.." tukasnya.
"oh, syukurlah.. "
"Nara, jangan terlalu sibuk ya.. kamu juga harus perhatikan Azka dengan baik, jangan sampai kamu mempengaruhi profesionalitasnya..lihat kemarin, ibu kira dia memang ada masalah sama kamu sampai dia gak bisa bermain fokus.." Kata ibu selalu dengan Nada sinis pada Nara, Nara sudah pasrah dengan itu.
"dia sudah menjaga Azka dengan baik.." bela Azka.
"apa waktu itu kalian bertengkar karena Azka gak pulang kerumah ??" pertanyaan ibu semakin memojokan Nara.
"maaf ya kalau itu benar, aku gak ada maksud apa-apa kok. Azka sudah aku anggap seperti saudara sendiri, makanya aku berani minta dia buat jagain aku seharian.." kata Lyla memperjelas, Nara kesal.
"gak apa-apa aku tahu kok, kalian bersahabat sejak dulu.." sahut Nara mencoba tetap bersikap manis.
"syukur kalau kamu tahu.." timpal Ibu.
***
Nara pulang dengan rasa kesal, dia benar benar merasa kalau Ibu dan Lyla sudah memojokkannya.
sudah setengah perjalanan dan Nara masih tekuk wajahnya, dan Azka tahu itu.
"Kalyla itu sudah ibu anggap seperti anak sendiri.." kata Azka mencoba menetralkan hati Nara, tapi itu malah membuat Nara kesal.
"gue rasa lebih dari itu!" sahutnya ketus.
__ADS_1
"sabar ya.. suatu hari dia pasti sadar kalau lo itu menantu yang baik.." lanjut Azka lalu menggoda, tapi itu sama sekali tidak membuat Nara senang.
"sepertinya Ibu mau Kalyla yang jadi menantunya.. Dan sebentar lagi dia akan dapatkan itu!" gerutu Nara pelan tapi Azka bisa dengar itu.
Azka tidak menanggapinya lagi, dia sadar betul kalau dia tanggapi itu pasti akan terjadi pertengkaran.
***
Sampai besoknya mood Nara masih terganggu, dia tekuk wajahnya seharian ini, Lulu tahu pasti ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu.
Sembari melayani para pelanggan dia terus perhatikan Nara yang hanya diam dimeja kasir.
'gue harus apa? gimana cara mencuri hati ibu? sejauh ini gue bisa atasi Azka sampai dia membual gak henti-hentinya, huh.. Kalyla sepertinya udah punya tempat spesial dihatinya..' pikir Nara.
"udah selesai bengongnya?" Kata lulu yang sudah ada didekatnya.
"gue kesel.." gerutu Nara.
"kenapa?"
"m.. lo tahu Kalyla kan?"
"iya, yang waktu pernikahan lo jadi salah satu tamu undangankan?"
"iya, dia itu teman baik Azka dan udah cukup dekat dengan keluarganya, gue kesal karena dia cukup spesial buat ibu mertua gue.." cerita Nara.
"lo jealous? ya ampun, gitu aja sampai badmood seharian, biarin aja.. yang pentingkan lo udah dapat Azka.." Lulu malah mentertawakan, Nara makin kesal.
"gue heran akhir akhir ini lo sensitif banget sih?" sentil Lulu lagi, Nara juga sadar akhir-akhir ini dia jadi lebih cepat marah dan kesal.
'iya, kenapa ya?' batinnya.
Yuki datang lagi sore ini bahkan bersama Pradit dan Dimas, Ini sebuah kesenangan tersendiri untuk Lulu..
"selamat datang.." sapa Nara yang mencoba memperbaikki moodnya , dia ingin terlihat ramah didepan teman-teman Azka.
"hai.." sapa Dimas.
"padahal kita suka lewat kesini lho, gak tahu ternyata yang punya kamu.." kata pradit.
"silahkan duduk.." persilahkan Nara, merekapun duduk di pojok cafe.
"sebentar lagi Azka juga datang kok, katanya sekalian jemput kamu pulang.." kata pradit.
"oh.."
"kata Yuki, kopi disini enak.." kata Dimas.
"aah iya, m.. aku buatkan yang paling spesial ya buat kalian.."
__ADS_1
"oke.."
Nara beranjak ke dapur, Lulu ikuti langkahnya.
"Ya ampun Nara, mereka datang kesini.. gue bisa gak fokus nih.." kata Lulu excited.
"tarik nafas, keluarkan.. relax.. sana lo tunggu meja kasir, biar gue yang buatkan kopi buat mereka.."
"iya deh.."
Saat Lulu kembali dari dapur malahan sudah ada beberapa pengunjung yang minta tanda tangan pada ketiganya.
Tak lama kemudian Azka datang dan semakin memanjakan para pengunjung cafe yang tersisa.
setelah memastikan tak ada lagi pengunjung, Lulu langsung menutup cafe.
"lho.. udah mau tutup?" tanya pradit.
"nggak kok, masih satu jam lagi, tapi takutnya kayak tadi lagi jadi mengganggu kenyamanan kalian.." kata Lulu.
"oh.."
Nara datang dengan banyak sajian yang dia bawakan ke meja Azka dan teman-teman, Azka bangga melihat Nara seperti ini.
"Wah.. ini beneran kamu yang buat sendiri?" tanya dimas.
"iya, disini aku chefnya.." kata Nara.
"hebat..hebat, pantes aja sejak sama kamu Azka jarang ngajak makan bareng diluar.." goda dimas.
"semoga suka yaa.." kata Nara.
"duduk sini.." kata Azka lalu menarik tangan Nara dan menyuruhnya untuk duduk disampingnya.
Yuki tahu itu menyakitkan.
"mau beres-beres dulu kasian Lulu sama tania.."
"sini.." Azka bersikeras meminta Nara untuk duduk.
"lo ini ka, gak cukup apa Nara temenin lo di rumah.." goda Pradit.
"tau lo, mmm.. ini enak, enak benget.. serius deh.." kata Dimas yang kelihatan sangat menikmati makanan yang Nara buat.
"suapin.." pinta Azka sangat manja, ketiga temennya sampai bengong lihat kelakuan Azka yang tidak pernah dia tunjukan pada siapapun.
"ya ampun, apa setiap hari lo kayak gini?" tanya Pradit, Azka hanya tersenyum innocent dan tentu saja ini semua membuat Yuki terbakar.
Nara hanya memicingkan mata.
__ADS_1
Bersambung.