
Yura bereskan pakaiannya ke dalam koper kecil, dia juga membereskan beberapa barang berharganya, dia hanya sedang mempersiapkan kepergiannya dari rumah yang penuh kenangan ini. Yura yakin kalau rumahnya ini tak akan bisa diselamatkan lagi, tunggakan Ibu sangat banyak dan Ibu pasti tak akan bisa melunasinya.
"Ayah, rumah kita akan segera disita! Bolehkan aku katakan sesuatu? Ayah sudah salah memilih pasangan hidup, lihat aku Ayah! Lihat anakmu ini!" gumam Yura yang masih belum bisa berhenti menangisi nasibnya.
Selesai packing, dia baringkan tubuh lelahnya, meringkuk perih di atas tempat tidurnya, bantalnya pun seketika basah karena buliran airmata tak kunjung berhenti keluar dari ujung matanya.
Yura menangis sampai benar-benar kelelahan, sampai dia terlelap dan ....
"Yura, anak ayah yang paling manis!"
Akhirnya mendiang Ayah hadir dalam mimpinya, bahkan memeluknya dengan sangat erat. Yura bisa merasakan kehangatannya walau hanya dalam mimpi.
"Ayaaah," panggilnya manja sekali.
"Jangan pernah merasa lelah, kamu sudah hampir sampai pada kebahagiaan!" bisik Ayah, bisikannya mengalun membuai Yura.
"Benarkah ayah?"
"Iya, kesabaranmu tak akan mengkhianatimu, percayalah!"
Yura tersenyum, dia tatap muka pucat sang ayah dengan mata berbinar-binar, lalu dia kukuhkan hatinya.
"Baiklah, aku akan selalu bersabar!" tekadnya.
"Anak baik!" kata Ayah lalu dia kencangkan dekapannya sampai Yura tenggelam di dalamnya, di dalam mimpi yang membuatnya tertidur nyenyak malam ini, mimpi yang membuatnya melupakan lagi kepedihan yang dia alami selama ini.
***
__ADS_1
"Anak-anak, buat tabel tentang beberapa jenis mikroba dan uraiannya ya! minimal buat 5 baris dan harus selesai di pertemuan kita selanjutnya!" kata Pak agus, guru biologi Yura sebelum dia beranjak dari dalam kelas, meninggalkan murid-muridnya yang sudah tak sabar ingin segera menikmati jam istirahat.
Alika menatap Yura dan mata-mata bengkaknya, dia tahu betapa beratnya beban yang sahabatnya pikul saat ini, ingin sekali dia membantu tapi Alika tak tahu harus berbuat apa.
"Yur," panggil Alika dengan mata berkaca-kaca, sebenarnya dia sudah tak tahan ingin memeluk Yura sejak tadi, sejak jam pelajaran masih berlangsung. Yura juga tak bisa berkonsentrasi, dan kini matanya kembali berembun.
"Aku harus bersabar sekali lagi Al," sahut Yura pelan, Alika langsung memeluknya dan menangis bersama, tak peduli walaupun sebagian teman-temannya yang masih bertahan di kelas memperhatikan keduanya.
"Kamu akan jadi orang sukses di kemudian hari, aku yakin itu Yur!" kata Alika yang tak bisa menahan lagi airmatanya, Yura mengangguk pasti lalu mengelus punggung Alika dengan lembut.
"Makasih banyak ya Al, kamu selalu bisa menguatkan aku!" ucapnya pelan.
"Aku disini buat kamu,"
Momen mengharukan itu malah membuat murid-murid lain merasa heran.
"Oke!" setujui Alika. Dia juga ingin menghibur sahabatnya, dia tak ingin semuanya berlarut-larut. Keduanya bangkit dan bersiap melangkah ke kantin sekolah.
Saat sampai di kantin, kebetulan tempat duduk Yura dan Alika berdekatan dengan bangku yang ditempati Tania dan teman-temannya. Tania tak pernah menunjukan kalau dirinya kenal dengan Yura karena dia merasa anti untuk sekedar mengenalkan Yura sebagai saudara tirinya pada teman-temannya.
"Kemaren Papa baru beli mobil baru dong! Makanya gue belum bisa minta buat dibeliin ponsel baru, tapi gak apa lah, mobil itu juga penting buat gue, secara mobil yang lama udah kuno banget!" cerita salah satu temannya, Keyla, dia memang anak pejabat, tak heran kalau setiap hari dia memamerkan barang-barang baru yang dibeli keluarganya. Tania hanya menelan ludahnya sendiri, dia tampak kikuk di antara para anggota gengnya yang terkenal royal dan hedon.
Yura bisa menyimpulkan, hal ini lah yang membuat Ibu sampai terlilit hutang tapi dengan entengnya Ibu selalu menyalahkan Yura.
"Keren banget kamu key! By the way hari ini ada premier film baru, ada meet and greet juga sama artis-artisnya, ikut yuk, ikut! Yang mainkan aktor favorit gue!" sahutnya yang satunya, Dara. Dia juga putri seorang pengusaha.
"Boleh, boleh banget! gue sekalian mau nyari sneaker baru sih, tapi bentar ya, gue lagi nungguin transferan Papa nih!" sahut Keyla lalu mengotak atik layar ponselnya.
__ADS_1
"Santai aja, pake duit gue aja dulu! Lo ikut juga kan Tan? minggu kemarin lo gak ikut, masa sekarang gak ikut lagi sih, bestie macam apa kita ini?" tanya Dara, agak mendesak dan Tania kelihatan semakin kikuk.
"Gue juga lagi nunggu trasferan Ibu nih," dalihnya.
"Udahlah, tiket nonton, popcorn dan sebagainya biar gue yang bayar hari ini! Apaan sih kalian ini, cuma buat traktir kalian berdua aja mah enteng tauuu!" kata Dara songong, Tania kelihatan tak begitu bersemangat. Hari demi hari dia tak bisa tenang karena takut ketahuan kalau dia itu bukan seorang anak orang kaya seperti kedua temannya yang kaya beneran.
Yura tertegun, dia juga sedang membayangkan bagaimana nasib Tania andai suatu hari Keyla ataupun Dara mengetahui kehidupan Tania yang sebenarnya. Selama ini Tania selalu berbohong dan membual, Yura masih tak bisa membayangkannya. Apalagi kenyataannya sekarang rumah akan segera disita oleh pihak Bank.
Alika menabrakan kakinya ke keki Yura di kolong bangku. Alika memang sudah tahu semuanya, dan Yura hanya tersenyum miris. Sambil menikmati sepiring somay, Yura dan Alika hanya bisa mendengarkan obrolan heboh para seniornya itu.
"Eh, kapan Arkan cs main lagi?" tanya Dara mengganti topik pembicaraan.
"Besok! Siap jadi supporter heboh lagi?" tanya Keyla penuh semangat.
"Siap dong! Keren banget mereka, apalagi pas Keita lemparkan bola dari tengah lapangan, keren banget gak sih, gue harus dukung dia sampai nanti dia benar-benar jadi atlet profesional!" sahut Dara tak kalah semangat.
"Ciee, ciee!" goda Keyla dan Tania membuat Dara tersipu malu, tapi kemudian dia melirik kearah Yura yang duduk hanya terhalang satu meja saja darinya. Mukanya tiba-tiba berubah.
"Eh, itukan adik kelas yang lagi diissukan deket sama Keita?" bisik Dara lalu matanya menunjuk kearah Yura, Tania menatapnya benci.
"Oh, jadi yang itu? Beneran yang itu?" yakinkan Keyla dengan nada merendahkan.
"Kayaknya beneran yang itu! Menariknya dari sebelah mana sih? Kok dia biasa banget ya, tapi kok bisa-biasanya Keita tertarik sama dia?" gerutu Dara kesal, dia masih menandai Yura.
"Keita iseng kali, udahlah sist, gak usah cemas! Dia tuh kalah telak dibanding lo!" hibur Keyla yang juga memandang rendah pada Yura.
"Bener banget Dar, gak guna ngurusin cewek biasa kayak dia! Keita lagi sakit mata kali makanya dia gak bisa bedain yang highclass sama rakyat jelata, hahaha!" tanggapi Tania lalu dia tertawa puas, dan Dara maupun Keyla menyambut tawanya itu.
__ADS_1
Yura tak peduli, dia sudah biasa direndahkan seperti itu, dia hanya ingin menikmati makan siangnya.