
Pelan-pelan Nara susuri anak tangga..
Dia merasakan sesuatu, dia tahan langkahnya dan tangannya memegang erat teralis tangga, dia seperti menahan sakit.
tapi beberapa detik kemudian rasa itu hilang lagi.
'apa mungkin..' batinnya.
Dia lanjutkan langkahnya dengan hati-hati lalu dia duduk diruang tengah, dia nyalakan televisi dan segera menuju siaran langsung pertandingan Basket yang sore ini akan dilakoni oleh Azka dan Sunrise.
Baru beberapa menit Nara merasakan lagi rasa sakit itu, dia hanya menahan dan tidak mencoba membuat Bi Marni panik, Nara memang tidak ingin membuat siapapun panik.
'perkiraan dokter kan masih satu minggu lagi..' pikirnya disela-sela rasa sakit itu.
"non.. makan dulu ya.. dari tadi siang non belum makan lhoo.." kata Bi Marni membujuk, Nara hanya tersenyum, dia sedang menikmati rasa nyeri dipinggangnya.
"non.." kata Bi Marni, sepertinya dia bisa melihat rasa sakit Nara, dia segera duduk disamping Nara.
"apa non sudah merasakan kontraksi ?" tanya bi Marni panik, Nara hanya mengangguk.
"ya ampun, h.. gimana ya.. saya telphon den Azka ya.." kata Bi marni penuh kepanikan.
"jangan, bentar lagi dia playoff.. jangan ganggu fokusnya.." tahan Nara.
"tapi non.."
"kontraksinya masih jarang-jarang kok, kata dokter kalau masih pelan intensitasnya gak usah panik, atau mungkin ini bisa jadi hanya kontraksi palsu.." jelaskan Nara mencoba menenangkan bi Marni.
"tapi daripada ada apa-apa sebaiknya kita ke dokter aja, biar bibi yang antar.."
"saya mau nonton Azka dulu sebentar.."
Bi Marni hanya tersenyum mendengar itu.
"m.. ya sudah, kalau udah gak kuat jangan diam aja ya non, langsung bilang sama bibi.."
"iya.."
Bi Marni kembali kedapur, meninggalkan Nara yang lagi-lagi mengalami mulas berkala, dia lakukan prosedur ringan yang disarankan Dokternya. saat merasa sakit dia tarik nafas yang dalam lalu dia hembuskan dengan tenang.
Ditempat lain.
sesaat sebelum playoff, Azka merasa gelisah entah kenapa dia seperti itu, biasanya sebelum pertandingan dimulai dia sudah menyiapkan konsentrasi penuh.
Sepertinya rasa sakit yang Nara rasakan saat ini sampai pada batinnya dan dia jadi merasa resah.
__ADS_1
"lo baik-baik aja ??" tanya Budi yang melihat sikap aneh Azka sejak tadi, Azka hanya mengangguk dan dia kembali berusaha mengembalikan konsentrasinya.
Playoff sudah dimulai..
Nara mencoba menyemangati Azka lewat layar televisi walaupun sesekali dia terus merasakan kontraksi yang semakin intens.
"Bi..." panggil Nara yang mulai kepayahan.
"iya non.." kata Bi Marni yang sigap menghampiri.
"tolong bawakan tas besar yang udah saya siapin ya.. dikamar atas.." kata Nara yang kini meringis, sepertinya rasa sakitnya semakin mendesak.
"oh, iya iya.. kita ke rumah sakit sekarang ??" tanya Bi Marni panik.
"iya, saya udah pesan taxi.."
"iya.. iya non.."
Bi marni bergegas.
Pertandingan masih berlangsung.
Azka tak bermain seperti biasanya, dia banyak melakukan turnover dan dia juga belum memberikan point maksimal untuk teamnya. Azka benar-benar kehilangan fokus, dia terus memikirkan istrinya.
Azka tidak begitu peduli ,dia masih terus memikirkan Nara yang kini sudah sampai di rumahsakit.
Dokter sedang melakukan prosedur pemeriksaan.
"sepertinya estimasi saya keliru, bayimu siap lahir kedunia hari ini.." kata Dr. Eva dengan raut penuh kebahagiaan, Nara speechless, dia tidak menyangka kalau hari yang dia tunggu-tunggu akhirnya tiba juga.
"oh.."
"tapi, sabar dulu ya.. baru pembukaan 6, kita tunggu beberapa jam lagi.." kata dr.eva.
"apa ?? masih beberapa jam lagi dok.."
."iya sayang.. nikmati saja prosesnya, kamu gak perlu cemas, posisi bayi sudah sangat sempurna, saya yakin kamu gak akan kesulitan nanti, siapkan saja tenaga ya.."
Nara makin gak kuat menahannya, FYI, masa pembukaan saat jelang persalinan itu cukup lama dan disaat itulah seorang ibu merasakan kontraksi yang luar biasa sakit, bahkan rasa sakitnya seperti dipatahkannya beberapa ruas tulang rusuk dalam waktu bersamaan.
ya begitulah, itulah istimewanya menjadi seorang wanita.
"Suami kamu sedang menjalani pertandingan ya??" tanya dokter mencoba membuat Nara relax , Nara hanya mengangguk, dan dia semakin meringis.
"aaaahhh.. kenapa sakit sekali dok, sekarang rasa sakitnya intens lho dok.. gak ada jeda.." rengek Nara seperti anak kecil, dia kelihatan sudah tak tahan lagi.
__ADS_1
"sabar ya.. mudah-mudahan saat nanti suamimu tiba saat kamu sudah siap untuk bersalin.."
"apa gak bisa sekarang aja.."
"sabar yaa.."
Nara gak mampu menahan lagi, ingin rasanya dia teriak tapi dia masih menahannya. dia jadi ingat sosok Ibu, dia kini tahu bagaimana perjuangan almarhum Ibunya dulu saat melahirkannya.
"coba kamu berdiri, dengan mengikuti gaya gravitasi mungkin bisa mempercepat proses pembukaan, ayo saya bantu.."
Dokter Eva membantu Nara berdiri walau kesulitan, dia menopang tubuh lemahnya, dia hanya berpegang pada besi ditepi ranjang untuk menguatkannya.
Diluar ada Bi Marni dan tak lama kemudian Ibu dan Ayah datang dengan perasaan senang dan mereka juga tampak panik.
"Gimana bi ??" tanya Ibu panik.
"didalam bu, gak tahu saya.." jawab Bi marni juga penuh kepanikan.
"duh.. mudah-mudahan lancar ya, apa Azka belum datang?" tanya Ibu lagi, Ayah terlihat lebih kalem tapi dalam hatinya sebenarnya dia berdoa dan resah, dia juga tak sabar menanti kelahiran cucu pertamanya.
"itu den Azka.."
Azka setengah berlari dikoridor, dia segera menghampiri orang-orang yang ada didepan ruangan dr.Eva.
"kenapa Bibi gak telphon saya dari tadi?" tanya Azka agak ketus.
"non Nara melarang saya, katanya takut ganggu konsentrasi den Azka.." jawab Bi Marni.
"udah.. udah, sebaiknya kamu masuk.. temani dia.." kata Ibu, Azka terlihat sangat deg-degan, ini adalah moment berharga untuknya.
Azka masuk, bahkan dia masih mengenakan kaos team, Nara senang Azka datang, saat itu rasa sakitnya semakin menjadi dan ingin rasanya dia mencurahkan rasa sakitnya itu.
"hai.. akhirnya anda datang juga.. anda hadir disaat yang sangat tepat.." sapa dokter, Azka hanya tersenyum lalu selebihnya dia masih merasa panik dan cemas.
Azka berdiri tepat dibelakang Nara yang masih menahan sakit. dia genggam tangan Nara yang masih mengepal memegangi besi diujung ranjangnya.
"sakiiiiiiit.." Nara meringis, Azka semakin menguatkan genggamannya.
"sabar ya.." bisiknya lembut.
"bayangkan saja, setelah ini kalian akan jadi orang tua, kalian akan jadi orang paling bahagia didunia sebentar lagi.." kata Dr.eva mencoba memberi motivasi, tapi tentu saja itu tidak mengurangi rasa sakit Nara.
Berapa lama lagi Nara akan merasakan sakitnya ?
Bersambung.
__ADS_1