
Begitulah Dara, seharusnya orang-orang mulai menyadari perilakunya ini bisa dikatakan sedikit menyimpang. Tapi sikapnya memang halus, dia bisa menyembunyikan fetisisme-nya dengan cukup baik.
Hari ini Dara ketemuan bersama Keyla. Ya, walau Keyla cukup sibuk tapi dia selalu punya waktu untuk orang-orang terdekatnya. Bahkan mereka juga menyempatkan diri untuk mengunjungi butik Alana.
Jadilah ketiga gadis cantik itu berbincang bersama di salah satu sudut ruang galeri butik Alana yang nyaman, kebetulan siang ini disana cukup sepi.
"Dulu kalian adik kelasku, sekarang kalian jadi teman-temanku, senang rasanya kita bisa duduk bersama seperti ini!" kata Alana sangat hangat. Mungkin Alana ingin bisa sedikit melupakan kisah cintanya bersama Arkan yang tak kunjung berkembang. Dan kehadiran Dara dan Keyla mampu mengalihkana fokusnya walau sebenarnya Keyla sendiri sedang berusaha merangsak masuk ke dalam kehidupan cintanya dan Arkan.
"Apa kabar Kak Alana, kamu ini selalu keren ... lihat! Bisnismu sejalan dengan passion-mu sejak dulu kak!" sanjung Dara.
"Ya, ini memang salah satu mimpi dari sekian mimpi sederhana yang aku miliki!" tukasnya.
"Mimpi lainnya apa Kak?" tanya Dara mencoba memancing, Alana malah diam.
"Arkan!" cetus Keyla, dan Alana jadi malu.
Ya, Keyla dan Dara pura-pura tak tahu kalau Arkan Alana belum memiliki hubungan apa-apa. Dan Alana juga tak menyadari kalau Keyla sedang berancang-ancang untuk merebut kesempatan.
"Maksudnya? Kak Alana dan Arkan udah lama pacaran, apa yang ditakutkan? Untuk menikah mungkin hanya tinggal menunggu beberapa tahun lagi!" kata Dara pura-pura simpati.
"Dia mau fokus di karir dulu! Apa kalian benar-benar menduga kalau kita berdua benar-benar pacaran?" tanya Alana mengajukan survei dadakan.
"Ya iya lah Kak, secara kalian tuh couple goals banget! Kalian serasi, sepadan, cocok ... m, apa lagi ya kata yang pantas kami sematkan untuk kedekatan kalian berdua!" goda Dara lagi, Alana cukup tersanjung dan dia mengamini kata-kata Dara barusan dalam hatinya.
"Pasangan yang sempurna!" timpali Keyla, walau dalam hati dia tak rela untuk mengatakannya.
"Huh, sempurna? Semoga!"
Keyla dan Dara saling berpandangan saat Alana sejenak menundukan kepalanya karena tak ingin menunjukan wajah kecewanya. Obrolan barusan cukup menyesakkan untuknya karena kenyataannya Arkan tak seperti yang orang-orang pikirkan.
"M, oh iya, gimana pengaruh hasil endorsement-ku Kak? Apa penjualan produk Kak Alana meningkat?" tanya Keyla cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, dia merasa tak enak membuat Alana tampak down karena obrolan tentang Arkan.
"Kamu memang influencer yang hebat, banyak pelanggan baru yang belanja offline maupun online! Makasih ya, bagaimana bisa aku membayarnya?"
"Aaah syukurlah, aku senang bisa bantu Kakak!"
"Makasih ya!"
"Aah iya, aku juga butuh beberapa outfit baru, pas pulang dari London aku gak terlalu bawa baju-bajuku!" kata Dara.
"Oh iya silakan, pilihlah! Ada harga spesial untuk tamu spesial!"
"Waah, makasih banyak Kak!"
Dara meninggalkan Keyla dan Alana berdua saja sedangkan ia memilih baju-baju yang tergantung dalam hanger.
"Apa dia benar-benar ngikutin kemanapun si Keita pergi?" bisik Alana agak mengumpat Dara di belakang, Keyla hanya tersenyum geli.
"Bucin sejati!" sahut Keyla.
"Dia benar-benar gak nyerah ya, bahkan dari SMA! Salut sama perjuangannya! Bahkan sekarang kesempatannya terbuka lebar! Tunggu apa lagi?"
"Ya, si Kei sama si Yura emang udah berakhir tapi, kayaknya jalan si Dara gak akan mudah, entahlah, kita lihat saja sejauh mana perjuangannya! Semoga berbuah manis!"
"Semoga, masa kita-kita mau kalah sama cewek cupu kayak si Yura? Apa istimewanya dia? Aku jadi designer, kamu jadi entertainer dan Dara sedang mengejar study-nya di luar negeri! Terus si Yura? Siapa dia?" kata Alana congkak terdengar merendahkan Han Yura, Keyla menyetujui kata-kata sarkas Alana.
Mereka salah besar ....
Ya! Yura memang tak seperti mereka. Menikmati karir yang mereka sedang moncer. Tapi Yura tak pernah melihat kesuksesan mereka sebagai hambatan tak seperti mereka yang selalu iri dengan keberuntungan kecilnya.
Yura memang bukan gadis yang sempurna, tapi sosoknya sudah banyak membuat orang kagum tapi tak sedikit juga yang iri, seperti saat ini.
__ADS_1
Yura sedang membereskan pesanan pelanggannya dengan rapi dalam box yang cukup besar. Dia sangat semangat. Deretan toples yang menampung kookies- kookies lezat itu mampu menyejukan jiwa Yura yang kadang menjadi gersang setiap ingat kisah cintanya yang tak bisa berjalan mulus.
"Heum, bulan ini bisa nabung! Terima kasih Tuhan, walaupun urusanku yang lain tak berjalan mulus tapi Engkau telah melancarkan usaha kecilku ini!" Yura tak henti-hentinya mengucap syukur.
Yura benar-benar bekerja dari hati, walau lelah dia sendiri lah yang mengangantarkan pesanan para pelanggannya. Dia juga seperti sedang menekan beban pengeluarannya agar bisa lebih efektif.
Dia antar dengan mengendarai sepeda motornya, dari pintu ke pintu. Dia sangat ramah tanpa menunjukan rasa lelahnya sedikitpun. Dia tetap sunggingkan senyum terbaiknya walau rasa lelah juga tengah membelenggunya.
Yura selalu memegang teguh prinsip klasik 'usaha tak akan mengkhianti hasil'.
Saat dalam perjalanan Yura melihat giant banner tentang musim kompetisi liga basket yang sudah dimulai. Sontak pikirannya ingat pada Arkan. Saat pertandingan pertama dia tak hadir karena masih sangat segan dan kali ini Yura tak ingin kembali menjadi pecundang. Dia akan menonton, tak peduli walau nanti ada Keita yang juga pasti akan menonton di Tribun.
Dan memang benar, Keita hadir beserta Vano dan di sisi lainnya ada juga Dara dan Alana. Saat Yura datang memasuki gedung gor yang sudah cukup padat itu, dia bisa dengan mudah menemukan letak duduk Keita di tribun paling depan.
'Kak Keita! Aku sangat merindukan kamu! Kalau saja semua ini gak terjadi, pasti kita akan bisa bersama-sama duduk disana!' batin Yura dan sejenak dia puaskan matanya dengan memandangi punggung Keita yang tak menyadari kehadirannya. Yura putuskan untuk menjaga jarak, dan ternyata Dara yang lebih dulu melihat Yura.
Dara merasa harus menelpon Zahran, dan dia memang melakukannya dengan cepat, entah apa rencananya kali ini.
"Bentar ya Kak, aku ke belakang dulu!" izin Dara, Alana mengangguk sambil tersenyum dan Dara menepi mencari tempat yang agak sepi dan senyap. Dia menelpon Zahran di koridor penghubung pintu masuk gor dan deretan kursi tribun.
"Halo, Zahran! Lo kesini ya! Ke Arena Sunrise!" perintah Dara to the point.
"Emang kenapa? Tapi ada duitnya ya?" tanya Zahran dari balik speaker ponsel Dara.
"Huh lo ini, duit! Duit! Duit aja yang dipikirin! Lo belum berhasil ya, makanya bayaran kedua lo belum bisa gue serahkan!"
"Ya udah, terus gue harus ngapain kalau udah sampai sana?"
"Samperin si Yura! Lo harus stand by di sisinya! Bertingkah lah seperti seorang pacar, lo ngerti kan? Kenapa gue harus jelaskan dari awal lagi! Skenarionya kan udah jelas, lo adalah pacarnya Han Yura saat ini!"
"Heum."
"Iya, tapi gue harap uangnya bisa gue dapat secepatnya! Gue lagi butuh banget Dar!"
"Iya iya, lakukan saja tugas lo dengan baik, uangnya akan segera sampai di tangan lo!"
Setelah obrolannya selesai, dia kembali menghampiri Alana yang mulai ikut bersorak karena Arkan dan teamnya sudah masuk ke dalam Arena. Ya, Arkan dengan seragam resminya sungguh terlihat sangat gagah dan keren. Tak salah kalau Alana semakin tak tahan untuk segera memilikinya.
Yura?
Dia tak fokus pada Arkan. Berkali-kali dia mencuri-curi pandang ke arah Keita walau dia tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Melihat sosok kekasih tercinta yang kini bersikap sangat sarkas kepadanya sungguh sangat menyakitkan. Hanya punggungnya saja yang bisa Yura lihat, tapi dia merasa cukup karena walau hanya dengan itu rasa rindunya bisa sedikit terobati.
Pertandingan sudah dimulai ....
PRIIIIT, pluit tanda play off babak pertama sudah berbunyi. Yura belum bisa melihat Arkan juga di tengah lapangan karena dia masih dicadangkan. Walau begitu Yura tetap ikut bangga sama seperti yang lainnya.
"Huh, ayo dong caoch, mainkan si Arkan! Kagak tahu apa kalau dia shooting guard andal pas di SMA dulu!" kata Vano heboh sendiri saat team Sunrise berkali-kali gagal melesatkan bola ke dalam keranjang.
"Harusnya si Arkan main di menit pertama!" sambung Keita yang juga tampak gemas karena pertandingan masih berlangsung lambat.
"Dan harusnya ada lo juga disana! Duet sama si Arkan! Gak tahu apa kalau lo ini team kapten yang udah membawa SMA Harapan Bangsa juara berkali-kali?"
"Tapi kompetisi terakhir kita kalah kan?"
"Tapi tetap jadi runner up! Itu udah sangat membanggakan ma-men!" sanjung Vano lalu merangkulnya.
"Iya, seharusnya gue gak ikuti permintaan Mami, andai gue tetap di Jakarta, mungkin gue gak mungkin kehilangan ...." Keita kembali tampak melow, Vano melirik dan dia tahu kalau Keita memang tak akan mudah untuk move on dari Yura.
"Please Let it go, Kei! Ini bukan akhir dari dunia lo kan?"
Keita hanya menjawab dengan meninggikan kedua alisnya kemudian ia tersenyum tapi getir sekali. Tak akan mudah memang merelakan gadis yang paling dia bangga-bangga kan mengkhianatinya selama setahun belakangan walau itu semua hanya drama.
__ADS_1
"Eh, itu si Alana sama si Dara!" tunjuk Vano saat melirik ke arah utara tribun. Dara melambaikan tangannya pada Keita yang menoleh, tapi Keita tak membalasnya. Dia masih sangat skeptis.
"Si Aneh!" cibirnya pelan lalu kembali fokus pada pertandingan.
"Heh, hati-hati lo jatuh cinta sama si Aneh!" goda Vano.
"No Way! Gue takut, jujur aja kadang gue masih sangat takut sama dia!" akui Keita.
"Hehe, iya sih ...."
Dan saat pertandingan sudah berlangsung hampir satu quarter full, Zahran akhirnya datang dan langsung bisa menemukan letak duduk Yura karena arahan Dara.
Bahkan Zahran menggoda Yura dengan mengagetkannya, menutup kedua mata Yura dari belakang dengan jari-jarinya sampai Yura terkaget.
"Iih, siapa ini?" tanya Yura masih terkaget-kaget.
Dan di momen itu, Dara langsung memberi pesan singkat pada Keita.
'Lihat ada apa di belakang!' itulah isi pesannya, karena spontan menoleh dan akhirnya Keita kini bisa melihat kemesraan rekaan Yura dan Zahran di belakangnya, terhalang oleh beberapa baris penonton tapi Keita bisa melihatnya dengan cukup jelas. Dia meradang? Sudah pasti! Tapi Keita tak ingin melihatnya lagi.
"Iiiiih kamu! Emang bener-bener nyebelin ya! Bisa gak berhenti gangguin aku!" omel Yura kesal sampai para penonton yang ada di sekitarnya melirik memperhatikan.
"Stt ... stt ... sayang, maaf deh maaf, gak akan ngagetin lagi!" kata Zahran sok manis membuatnya semakin muak.
Dara tersenyum puas, dia merasa sangat berhasil. Perbuatan jahatnya masih berjalan mulus. Alana ikut melirik ke arah Yura.
"Oh, jadi itu selingkuhan si Yura?" tanya Alana cukup kaget.
"Iya, jauh beda kan sama Keita?"
"Ya iya lah, dari penampilannya aja jelas jauh berbeda! Beda kelas!" kata Alana sembari merendahkan sosok Zahran.
"Ya, jelas beda!"
"Emang dasar bodoh si Yura! Heh, tapi ... syukur sih kalau ketahuan, jadikan si Kei gak dibodohi lama-lama sama si Yura!"
"Ya, setuju banget Kak!"
'Im so sorry Han Yura! Aku sudah menghancurkan citra baikmu! Tapi ini memang harus aku lakukan!' batin Dara.
Yura memajang muka jutek, dia sama sekali tak ingin berinteraksi apapun dengan Zahran. Apalagi saat ini di tribun sudah sangat banyak orang, orang-orang dekatnya. Yura yakin kalau hal ini sudah dirancang oleh Dara. Baru kali ini Yura memandang Dara dengan tatapan benci.
'Kamu keterlaluan banget Kak Dara! Lihat saja, Tuhan akan segera membalasmu!' bahkan Yura mulai tak tahan dan mendo'akan balasan yang setimpal untuk Dara. Yura sudah tak tahan dikendalikan seperti boneka. Dia tak tahan ditindas dan terus ditindas.
"Teman lo itu yang mana?" tanya Zahran berbasa-basi, Yura tak ingin menjawab, dia diam saja tak mempedulikan Zahran.
"Masih di bangku cadangan ya?"
Yura tetap diam dan tak ingin menjawab. Sudah cukup dia mengalah, Yura ingin segera lepas dari bayang-bayang kelicikan Dara.
"Huh, lo ini! Ayolah, cuma akting aja kok susah banget! Gue harus dapat uangnya minggu ini juga!" bisik Zahran.
Tapi kemudian Yura jadi ingat sosok anak kecil itu. Adik Zahran yang sakit itu. Yura sebenarnya merasa percaya tak percaya Zahran menggunakan uang dari Dara untuk pengobatan adiknya, tapi sekali lagi dia menjadi sangat penasaran.
"Kenapa kamu memberi pengobatan untuk adikmu itu dengan uang hasil menipu?" tanya Yura berbisik tajam ke arah Zahran, Zahran menoleh dan dia merasa sedikit tersentil.
"Terus gimana gue bisa dapat uang banyak dengan cepat? Kalian orang kaya mana tahu gimana rasanya ada di posisi gue!" jawab Zahran, kini dia kembali memperlihatkan sikap ketusnya. Mungkin dia sangat tidak suka dengan pertanyaan Yura.
"Seharusnya kamu gak lakukan ini!"
Zahran merenung, apa mungkin dia tersadar kalau apa yang dia lakukan ini memang salah. Dia mendapat uang untuk adiknya yang sakit dari hasil menghancurkan hubungan baik orang lain. Zahran tiba-tiba diam tak banyak bicara. Mungkinkah dia akan segera sadar?
__ADS_1