
"Jadi kamu kenapa?" tanya Nara begitu Yura dan Arkan kembali ke rumah.
"Anemia Bu, cuma perlu pola istirahat dan pola makan yang teratur, pasti besok lusa juga pulih!" sahut Nara mencoba terlihat baik-baik saja.
"Ya sudah, kamu istirahat saja gih, nanti kalau makan siangnya sudah siap, kami bangunkan kamu!" suruh Nara.
"Gak usah, aku bisa bantuin sedikit-sedikit kok!" kata Yura kekeh.
"Huh, susah banget dibilangin! Ayo, lo adalah orang pertama yang boleh menempati kamar tamu di rumah gue ini!" Arkan memaksa, malah dia menarik tangan Yura dengan paksa. Bagaimana dengan Alana? Jangan tanya lagi bagaimana perasaannya sekarang.
Nara sendiri tak begitu peka kalau gadis yang sedang berdiri di sampingnya saat ini begitu terluka dengan keakraban alami yang terjalin antara putranya dan Han Yura. Tapi Alana bisa apa? Dia tak mungkin protes secara langsung, dia harus bertahan, dia harus menekan emosinya jika ingin merangsak masuk ke dalam hati seorang Arkana.
'Tahan Alana! Kamu gak bisa bertindak secara frontal! kamu harus ikuti permainan halus si Yura! jangan tergesa-gesa!' batinnya.
Arkan sudah sampai di lantai atas, di kamar tamu tepatnya. Ya, harus Yura akui kalau rumah Arkan ini begitu nyaman dan menyenangkan. Cat dinding berwarna putih bersih begitu menenangkan jiwanya yang lelah.
"Istirahat lah!" kata Arkan lalu dia menutup pintu kamarnya, dia membiarkan Yura sendirian di dalam kamar itu. Akhirnya Yura merasa lelah dan ngantuk, dia pun menepi di atas tempat tidur nyaman itu, saat kepalanya bertemu bantal empuk di atasnya, dalam hitungan menit Yura akhirnya bisa menepikan lelah yang membelenggunya.
Arkan kembali pada hati lainnya yang tengah menggila kepadanya itu. Arkan hampiri Alana. Aah, saking fokusnya dengan Yura, dia sampai mengabaikan kehadiran Alana. Sebenarnya Arkan tak ingin peduli tapi ya dia bukan raja tega.
"Kasihan Yura, dia memang memiliki jiwa sosial yang luar biasa besar! Tapi ya begitu, dia malah melupakan kondisi kesehatannya sendiri!" kata Nara begitu Arkan ada di sekitarnya.
"Dia itu keras kepala!" cibirnya.
"Anggap dia sebagai adikmu Arkan, kasihan kan saat ini dia sendirian di Jakarta ini!" kata Nara, Arkan berbisik dalam hati, 'lebih dari itu Ma, dia akan menjadi memantumu kelak'.
"Heum!"
"Kamu juga ya Alana, anggap dia sebagai teman atau bahkan adikmu sendiri juga," kata Nara pada Alana.
"Iya Ma," sahutnya.
Awww, tiba-tiba Alana menjerit. Tak sengaja tangannya teriris, hari ini mereka memang masak banyak hidangan sampai Alana merasa kewalahan karena sejak tadi membantu di dapur dan alhasil jari lentiknya pun sampai teriris pisau.
"Astaga, hati-hati sayang! Arkan, bantu Alana dong, jarinya keiris tuh!" Kata Nara panik.
Arkan mendekat lalu menghisap darah di jari Alana sampai Alana stuck dan rasa cintanya semakin, semakin dan semakin bertambah lagi. Walau sebenarnya Arkan lakukan itu atas dasar kemanusiaan tapi Alana menganggap kalau itu adalah sebuah perhatian yang begitu besar.
"Ayo aku obati!" kata Arkan lalu menarik Alana untuk menjauh dari area dapur.
"Kamu tunggu di ruang tengah saja sayang, ini biar Mama dan Bi Marni yang selesaikan!" kata Nara, Alana hanya mengangguk lalu tersenyum. Dia kelihatan sangat senang.
"Den Arkan itu sepertinya sedang dilema ya Non," ucap Bi Marni tiba-tiba, Nara hanya mengerutkan dahinya.
"Dilema kenapa bi?" tanya Nara.
"Yang saya lihat, Den Arkan itu sedang kebingunan memilih antara Neng Yura atau Neng Alana! Huh, asuhan Bibi udah gede ternyata, sudah banyak yang antri buat jadi pacarnya, hihi!" tutur Bi Ija membuat Nara tertawa mendengarnya, dia juga menyadari kalau putranya itu sudah besar, sudah dikelilingi gadis-gadis manis di sekitarnya.
"Aaah sepertinya Yura menganggap Arkan seperti Kakaknya sendiri Bi, sepertinya dia mendukung hubungan Alana dan Arkan!" sangkal Nara.
"Semoga seperti itu, jangan sampai ada hati yang terluka ya Bu, duuuh, gemas rasanya menyaksikan interaksi manis mereka!"
Nara hanya tersenyum mendengar asumsi Bi Marni. Nara harap juga begitu, Nara tahu betul kalau Alana begitu mengharapkan Arkan dan Nara harap Yura hanya menganggap Arkan seperti Kakaknya saja seperti Nara menganggap Yura sebagai anaknya sendiri.
Arkan membawa Alana ke salah satu sudut rumah dekat jendela besar yang langsung berhadapan langsung ke taman samping rumahnya yang asri itu. Lengkap sudah pemandangan indah Alana, hal itu dapat mengobati rasa kecewanya beberapa saat lalu.
"Kamu anggap si Yura sebagai adik kamu sendiri kan? Bukan sebagai yang lainnya?" tanya Alana.
"Kamu maunya begitu kan?" tanya balik Arkan sembari dia rekatkan plester di jari Alana yang luka.
"Ya, lebih baik begitu kan?"
"Heum!"
"Papa Mama kamu juga kelihatannya udah sayang banget sama si Yura, aku harap mereka juga menganggap si Yura sebagai anak mereka sendiri, gak lebih!" harap Alana begitu blak-blakan membuat Arkan tampak seperti seorang anak lelaki paling plin-plan saat ini.
"Dia itu orang baik! Mudah sekali buat bisa sayang sama dia!"
"Baik?"
"Ya, semua orang tahu hal itu!"
"Huh, semoga di akhir kompetisi kamu benar-benar bisa menetapkan hatimu buat aku Ar! Kamu sudah menarik ulurnya, kamu sudah membuatku menunggu cukup lama!"
__ADS_1
Arkan tatap Alana lamat-lamat. Sial, Arkan memang terlanjur membuat gadis manis itu menunggu begitu lama. Jika nanti dia berikan jawaban mengecewakan, entah bagiamana hancurnya perasaan Alana. Arkan sungguh sangat menyesal ada di posisi ini.
Dan setelah berkutat di dapur berjam-jam, Nara dan Bi Marni sudah menyelesaikan sajian makan siang spesial ini.
Banyak sekali hidangan yang tersaji di meja makan kecil Arkan.
"Kamu harusnya pilih meja makan yang lebih besar Ar!" kata Nara agak mengomel, Arkan memang memilih furniture-furniturenya sendiri.
"Heum!" sahutnya enteng.
"Bangunkan Yura, dia harus makan banyak!" kata Nara sementara tangannya tetap sibuk menata hidangan.
"Biar aku aja yang bangunkan!" kata Alana sigap. Dia tak ingin ada lagi interaksi apapun antara Yura dan Arkan.
"Oke, tolong ya Alana," kata Nara, dengan senang hati Alana bergegas ke lantai atas rumah Arkan. Dia mengagumi setiap detailnya walau sederhana tapi Alana harap dia lah yang kelak menjadi penghuni rumah ini, pelengkap kehidupan sempurna Arkana.
Alana mencoba mencari kamar tamu, dan dia pikir dia sudah menemukannya. Disana hanya ada dua kamar dan salah satu kamar pasti kamar tamu. Perlahan Alana bukakan pintunya, dia dapati gadis sederhana itu tengah terlelap disana. Gadis yang belakangan membuatnya sangat ketakutan.
Tap ... tap ... tap, Alana berjalan mendekat. Sebelum benar-benar membangunkannya, Alana tatap wajah Yura untuk beberapa detik.
'Heh, harusnya kamu gak pernah ada di antara kami Han Yura! Sejak awal bertemu kamu sudah membuat aku takut!' batinnya.
"Hmm ... Yur! Han Yura!" gretak Alana lalu dia panggil-panggil nama Yura sembari sedikit menggoyahkan lengannya. Yura langsung terusik.
"Eh, Kak Alana ...." Yura setengah bangkit lalu dia kucek-kucek matanya.
"Makan siangnya sudah siap! Yang lain menunggu di bawah!" ucapnya tanpa aksen.
"Iya Kak, terima kasih sudah bangunkan aku!"
"Yura ...."
"Iya Kak ...."
"Bisa kan kalau kamu gak jadi duri di antara aku dan Arkan?" pinta Alana tiba-tiba membuat rasa kantuk Yura seketika hilang. Yura pikir Alana bersungguh-sungguh, kini Yura sadar kalau dirinya ternyata benar-benar mengganggu ketenangan Alana juga. Setelah Dara berlalu, kini dia harus menghadapi rasa cemburu Alana.
"Mungkin kamu cuma diam! Mungkin kamu berusaha menghindari Arkan, tapi Arkan selalu mencari kamu, iya kan?" tanyanya dengan mata berembun, wajahnya sangat memelas dan Yura tak tega melihatnya.
"Nggak kok Kak! Dia gak akan bisa berpaling dari Kakak, dia selalu bercerita tentang Kak Alana sama aku, Kakak gak usah cemburu sama aku ya?"
"Aku pikir gak akan ada yang lebih berarti buat dia selain Kak Alana!"
"Apa kamu sedang membual?"
Yura tak tahu lagi harus bagaimana, dia hanya bisa menerima nasib sebagai seseorang yang selalu dianggap sebagai duri dalam hubungan siapapun.
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu mendukung hubungan kalian Kak, tolong jangan ragukan aku!"
"Heh, benar-benar gak meyakinkan! Kebaikan hatimu ini cuma 'fake' kan? Ini adalah senjata kamu untuk menarik perhatian orang-orang! Klasik!" Itulah kata-kata terakhir yang Alana lontarkan sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Yura sendiri dan perasaan bersalahnya lagi.
fake? Masih saja banyak yang meragukan kebaikan dan ketulusan hatinya. Sakit memang tapi ini lah kenyataannya.
Yura tak ingin berlarut-larut, dia bangkit lalu pergi menuju kamar mandi.
Yura menatap dirinya di cermin di depan wastafel, Yura kadang menyesal menjadi seperti sekarang ini, tapi kemudian kata-kata mendiang Ayah terngiang kembali.
'Yang tahu niat baikmu itu benar atau hanya pura-pura hanya diri kamu sendiri! Jangan pedulikan orang lain, fokus lah dengan dirimu dan niat baikmu itu!'
"Yura nya mana?" tanya Nara yang sudah duduk di meja makan bersama Azka dan Arkan.
"Mungkin ke toilet dulu sebentar Ma," sahut Alana tetap bersikap manis seolah-olah dia membangunkan Yura dengan cara yang baik. Padahal dia baru saja membuat Yura sakit hati atas tuduhan tak mendasarnya.
"Oh, Bi ... ayo gabung sini aja!" ajak Nara pada Bi Marni yang masih sibuk membereskan dapur Arkan.
"Iya Non, sebentar lagi!"
Yura akhirnya turun, mencoba tetap tersenyum walau saat melihat ke arah Alana dia jadi merasa kikuk.
"Maafkan saya, saya harus cepat-cepat pulang!"
Yura malah bersiap untuk pergi, tak ada yang mengerti kenapa Yura putuskan untuk pulang begitu saja.
"Lho, makan siangnya baru mau dimulai lho Yur," kata Nara heran. Dan yang senang dengan keputusan mendadak Yura adalah Alana.
__ADS_1
"Ada urusan sangat penting Bu, mendadak sekali! Maaf ya, lain kali mungkin kita bisa makan bersama lagi!" dalih Yura mencoba meyakinkan Nara, Azka dan Arkan.
"Lhoo, gak bisa nunggu sebentar lagi? Kamu harus makan yang banyak looh," sesali Nara.
"Urusan ini sangat penting Bu, gak bisa ditunda lagi!"
"Ya sudah, Arkan bisa antar kamu dulu ke tempat tujuan kamu!" kata Azka.
"Gak! Gak Om, gak usah, terima kasih banyak! Kalian lanjutkan saja acara makan siangnya, saya pamit ya!"
Yura malah cepat-cepat beranjak, dia tak ingin Alana semakin memandangnya salah. Biarlah dia mengalah dan menjadi pihak yang selalu menepi, Yura benar-benar tak ingin menjadi duri seperti yang Alana sangkakan padanya.
"Kok Yura mendadak pergi sih?"
Arkan malah langsung mencurigai Alana, Arkan yakin kalau Alana telah mengatakan sesuatu yang membuat Yura ingin cepat-cepat pergi.
"M, tadi ... tadi sih kayaknya ada pelanggannya yang menelpon Tan, mungkin dia dapat banyak pesanan makanya pengen cepat-cepat pergi," Alana memberi alasan yang mungkin masih bisa masuk akal, Nara maupun Azka mungkin saja percaya tak sepertinya tidak dengan Arkan.
Yura lelah, benar-benar lelah. Drama percintaan rumitnya ini telah menyita banyak pikirannya. Banyak juga pihak yang menganggapnya sebagai pesaing, Yura tak ingin berlarut-larut, dia putuskan untuk menepi saja.
Yura tak cepat-cepat pulang ke rumah. Dia malah berjalan-jalan sendiri di sekitar kota tua. Menikmati siang menjelang sore yang masih cukup terik ini. Yura duduk di salah satu bangku yang tersedia. Menikmati anak-anak bermain riang di sekitarnya. Yura jadi ingat masa kecilnya yang indah, masa dimana dia tak punya beban pikiran seperti sekarang ini, hanya saat dia mulai beranjak remaja dia mulai tak bisa menikmati masa-masa indahnya itu.
"Kak Yura!" Tiba-tiba ada yang memanggil, suaranya seperti suara Chiyo. Yura menoleh ke arah sumber suara dan itu benar Chiyo dengan seorang wanita setengah baya yang juga turut melempar senyum santun ke arah Yura.
"Chiyo, ngapain kamu disini?" sapa Yura yang langsung terbangun dari duduknya dan menyambut kedatangan anak 10 tahun itu.
"Aku lagi jalan-jalan sama Bude, Bude ... ini Kak Yura!" Chiyo memperkenalkan keduanya, tiba-tiba wanita itu mendekat dan menatap Yura dengan mata berbinar-binar.
GAP, Bude-nya Chiyo juga tiba-tiba memeluk Yura dan tangisnya pecah. Yura tak mengerti apa yang terjadi.
"Jadi kamu nak? Kamu yang namanya Yura?" ujarnya dan ia masih memeluk Yura.
"I-iya Bu, saya Yura ...."
Bude melepas pelukannya lalu dia memegang kedua pipi Yura dengan kedua tangannya. Sorot matanya penuh dengan ucapan terima kasih yang akan segera terucap.
"Bagaimana bisa saya berterima kasih padamu nak! Bagaimana?" ucapnya dan dia juga masih terisak. Yura mengerti, dia sangat mengerti, Yura ambil tangan Bude dari wajahnya lalu menggenggamnya dengan erat dan hangat.
"Jadi sekarang Chiyo tinggal sama Bude?" tanya Yura.
"Iya Kak Yura, Chiyo mau ikut Bude ke Jogja!" jawab Chiyo penuh suka cita dan Yura sangat senang melihatnya.
"Nak Yura, Bude gak pernah tahu kalau Chiyo sakit selama berbulan-bulan! Zahran gak memberi tahu saya, andai Bude tahu, pasti Bude sudah menjual semua sawah Bude untuk biaya perawatannya, tapi Zahran benar-benar gak ngasih Bude kabar!" tutur wanita gempal itu dengan diselingi isak tangis. Yura mengeratkan genggaman tangannya.
"Chiyo sudah sembuh, Bude gak usah cemas lagi!"
"Berkat kamu! Zahran sudah menceritakan semuanya! Nanti Bude transfer uangnya ya, uang yang sudah kamu keluarkan untuk merawat Chiyo!"
"Gak! Gak usah Bu, saya ikhlas kok, lagi pula, uang itu adalah uang sumbangan dari para teman dan kerabat saya! Saya senang bisa membantu Chiyo!"
"Ya ampun, ternyata ketulusanmu bukan cuma cerita saja Nak. Awalnya Bude gak percaya ada orang sebaik kamu!"
"Kak Yura ini baik banget Bude! Dia selalu temani aku kalau Kak Zahran lagi sibuk kerja!" celoteh Chiyo dan Yura semakin gemas.
"Iya, Kakak Yura juga cantik, sama cantiknya dengan hatinya!" sanjung Bude, Yura hanya tersipu. Setidaknya ada yang percaya dengan ketulusannya setelah tadi Alana menganggapnya sebagai orang yang fake.
"Jadi, Chiyo mau ikut ke tempat Bude?" tanya Yura.
"Iya, biar saya yang merawatnya disana! Biarlah Zahran bekerja disini dengan fokus untuk membayar hutang-hutangnya pada Bosnya. Bude mau bantu bayarin tapi dia juga menolak! Huh, anak bandel itu, ternyata dia sudah banyak berubah! Dia begitu peduli dan sayang pada adiknya ini!"
Yura tersenyum simpul, ya! Zahran, orang yang awalnya dia benci, yang dia kira adalah orang tak tahu malu dan orang gak ada akhlak, nyatanya dia adalah seorang Kakak yang begitu menyayangi adiknya. Yura senang bisa mengenalnya walau berawal dari sebuah kesalahan.
"Kak, aku akan merindukan Kakak!" ungkap Chiyo menambah haru suasana. Yura menurunkan badannya, lalu dia berjongkok di hadapan Chiyo.
"Kakak juga! Tapi, kamu disana gak boleh nakal ya? Kamu harus nurut sama Bude! Kamu juga gak boleh jajan sembarangan! Dan satu lagi, kamu harus belajar yang rajin!" ucap Yura seperti seorang Kakak yang berpesan pada adiknya. Bude sampai terharu menyaksikan momen itu.
"Siap! Aku akan jadi anak penurut!"
"Bagus!"
"Aku sayang Kak Yura!" Chiyo juga memeluk Yura dengan mudah, Yura dekap tubuh kurusnya penuh kasih sayang.
"Kakak juga!" ucapnya lalu dia usap-usap punggungnya penuh kasih sayang, sungguh pemandangan yang indah.
__ADS_1
Rasa galau Yura terobati dengan pelukan Chiyo saat ini. Walau tak sedikit juga yang benci pada dirinya tapi orang-orang yang menyayanginya dengan tulus lebih berarti dari apapun, Yura akan selalu memegang prinsip itu.