
"Yuraaa ..."
Yura baru saja akan dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan, beberapa orang yang menungguinya sampai tak kuasa melihat Yura terbaring lemah di atas brankar dan dia sempat-sempatnya menyunggingkan senyum pada orang-orang.
Nara sampai tak kuasa lagi menahan airmatanya dan Azka segera memeluknya dengan erat. Dan selepas itu Nara langsung memicingkan matanya kearah wanita setengah baya yang terduduk di bench dengan tangis dan penyesalan, Nara menduga kalau dia adalah Ibu tiri Yura.
Terlebih Pak Ardi juga memberikan amplop hasil penggalangan dana tadi padanya.
"Semoga Yura cepat pulih ya, ini hasil pengumpulan Dana kami pagi ini!" kata Pak Ardi.
"Terimakasih banyak pak Ardi, terimakasih banyak semuanya." ucap Ibu di antara isak tangisnya.
"Terimakasih juga Bu Nara karena sudah berkontribusi besar bahkan menyempatkan diri untuk hadir disini!"
Nara hanya mengangguk dan matanya belum lepas dari sosok Ibu, Nara berjalan mendekat dan Ibu sampai risih saat melihat Nara berjalan ke arahnya dengan tatapan mata penuh curiga.
"Anda ibu sambungnya?" tanya Nara, Ibu hanya mengangguk pelan dan dia sama sekali tak berani mengangkat wajahnya.
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan Yura?" tanya Nara penuh emosi sampai orang-orang juga tak ada yang berani menyela pertanyaannya.
"Saya gak tahu, saya gak tahu, saya sudah mendapati Yura tergeletak di bawah tangga ...."
"Bohong!" sambar Nara dan keadaan mulai tegang.
"Katakan yang sebenarnya! Kalau anda gak bisa menjaganya, atau keberatan mengurusnya, serahkan dia pada saya! Saya akan menjaganya seperti anak saya sendiri!" ungkap Nara lumayan menarik atensi orang-orang, mereka sepertinya setuju dengan wacana Nara karena selama ini mereka tahu betapa Yura kesulitan tinggal bersama Ibu dan saudara tirinya.
__ADS_1
"Saya gak tahu bu, saya gak tahu!"
"Sayaang, tenanglah!" kata Azka yang mencoba menarik Nara dari dekat Ibu.
"Izinkan saya yang memasuki ruangannya untuk pertama kalinya," kata Nara dan dia mengambil langkah pertama mengikuti brankar Yura pergi meninggalkan Ibu dan beberapa tetangga di depan ruang ICU.
"Kami tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, pengusutan kasus ini memang kita serahkan pada keputusan Yura. Semoga apa yang Bu Dharma katakan benar kalau ini hanya kecelakaan personal tanpa melibatkan siapapun!" kata Pak Ardi mulai bicara serius, Ibu hanya menangis, dan sepertinya yang dia tangisi saat ini hanyalah ketakutannya saja. Ibu takut semuanya terungkap.
Nara sudah masuk ke ruangan Yura, Yura terkulai lemah dan hanya tersenyum menatap ke sekitarnya. Tak ada luka terbuka tapi bahayanya jika Yura harus sampai mengalami luka kepala bagian dalam.
"Anda keluarganya?" tanya Dokter pada Nara dan Azka.
"Ya, saya keluarganya, jadi apa yang terjadi dok?" jawab Nara penuh antusias, Yura terharu sekali dengan pengakuan Nara itu.
"Saat jatuh di dasar tangga, dia menopang tubuhnya yang jatuh dengan kakinya dari hasil ct scan ada tungkai betis sebelah kiri yang patah, tangan kiri juga terkilir, beruntung tak ada masalah dengan tulang ekor jadi ananda Yura terhindar dari resiko kelumpuhan!" infokan sang dokter dan Nara membayangkan betapa tragisnya apa yang Yura alami kemarin malam.
"Apa ada masalah dengan kepalanya?" tanya Azka kali ini.
"Sejauh ini melihat hasil ct scan tak ada yang mengkhawatirkan tapi kami akan terus melakukan pemeriksaan berkala, sejauh ini hanya saya bisa mendiagnosa trauma kecil saja di kepala,"
Nara maupun Azka tampak lega tapi tetap saja setiap melihat Yura terbaring lemah seperti itu dia merasa sangat sakit, sakit yang tak berdarah.
Sang Dokter pamit lalu beranjak meninggalkan Yura bersama kedua orang yang kini semakin sayang padanya.
"Yuraaa ...." Nara mendekat.
__ADS_1
Yura hanya menggerakan manik matanya.
"Apa yang terjadi?"
Yura menggelengkan kepalanya, dia masih agak kesulitan untuk bicara.
"Setelah ini, kamu ikut Lulu sama Yuki yaa ... mereka akan menjaga kamu dengan baik, kamu akan merasakan kasih sayang yang utuh dari mereka!" bujuk Nara, dia sudah tak tahan rasanya melihat keadaan Yura, dia ingin menyelamatkan Yura dari belenggu Ibu dan saudara tirinya.
Yura hanya tersenyum, entah apa arti senyumannya itu, dia tatap Nara dengan pandangan yang amat dalam.
'Ayaah, jangan cemas lagi, aku baru sadar kalau ternyata kata-kata Ayah itu selalu benar! Banyak malaikat pelindung yang senantiasa menjagaku, aku tak akan takut lagi,' batinnya dan matanya masih menatap lurus pada Nara.
Ckkttt
Tak lama ada yang datang dan itu Ibu, dia kelihatan sangat menyesal dan tentu saja dia sangat ketakutan, dia takut semuanya terbongkar.
"Yuraa," hampiri Ibu, mata Yura beralih pada Ibu yang berdiri di sisi lainnya.
"Setelah ini Ibu janji gak akan teledor lagi, Ibu gak akan mengabaikanmu lagi, ibu janji, cepat sembuh ya!" ucapnya, Yura tak merespon apapun, pandangan terhadap ibunya tampak kosong.
Nara muak sekali, dia yakin kalau airmata ibu adalah airmata palsu, dia sudah sangat yakin kalau semuanya ini ada sangkut pautnya dengan Ibunya.
"Saya gak tahu pasti apa yang terjadi, tapi setelah ini saya benar-benar akan mengambil alih hak asuh Yura." kata Nara tegas.
"Kalau memang Yura mau, saya izinkan tapi tolong jangan berprasangka buruk pada saya! Walau saya ini hanya ibu sambungnya, saya sangat menyayangi Yura sama seperti saya menyayangi anak saya sendiri!" dalihnya, dan ingin rasanya Nara melempar senyum kecut ke arah Ibu.
__ADS_1
"Baik! Kalau memang begitu, setelah pulih, Yura tak akan pulang ke rumah anda, saya akan langsung membawanya ke kediaman saya!"
Putuskan Nara, apakah benar Yura akan benar-benar ikut dengan Nara untuk kemudian diadopsi oleh Lulu dan Yuki?