Mysweet Savage Boss

Mysweet Savage Boss
Chill out


__ADS_3

Nara duduk sendiri di tepi kolam di belakang rumah, banyak sekali yang dia pikirkan, begitu banyak yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Nara sedang membayangkan bagaimana kalau hubungannya bersama Azka akan berakhir setelah ini.


'Siapa yang bisa menghentikan Kalyla?' batinnya, dia berpikir selama Kalyla masih bersikeras dengan obsesinya, maka prahara tak akan surut begitu saja.


Tap..tap..tap..


Ibu datang menghampiri dengan segelas minuman, ibu segera duduk di samping menantunya yang sedang dilanda dilema besar saat ini. Ibu tidak menyalahkan Nara dalam kekacauan yang terjadi, dia tak mempermasalahkan kebersamaan Nara dan Yuki, dia tahu kalau saat ini Nara tak punya tempat berlindung.


"Nara..." ucap ibu lalu menatap Nara dan wajah sendunya, ibu tahu betul bagaimana hancurnya hati Nara saat ini.


"Ibu gak tahu awalnya seperti apa, tapi...tolong maafkan Azka ya," kata Ibu kemudian dia juga menarik tangan Nara dan menggenggamnya.


"Azka gak mungkin melakukannya dalam keadaan sadar! kamu tahu, ibu gak pernah lihat dia menjadi se-dewasa saat dia bersama kamu! kamu sudah merubahnya dan ibu yakin kamu benar-benar berarti dan berharga untuknya!" lanjut ibu dan masih menggenggam tangan Nara dengan erat.


"Tapi, Kalyla...." Nara menahan kalimatnya, setiap ingat Kalyla hatinya kembali sesak.


"Lupakan dia! pikirkan Arkan!" sahut ibu.


"Tapi bu, Kalyla gak akan berhenti sampai dia dapatkan Azka!" ungkap Nara.


"Gak! ibu pastikan itu gak akan pernah terjadi! nanti ibu akan bicara sama Kalyla ya..."


"Tapi...tapi Azka juga lebih percaya Kalyla saat ini, untuk apa aku teruskan kalau Azka lebih percaya orang lain dari istrinya sendiri," Nara ungkapkan unek-uneknya, dia merasa nyaman bicara pada ibu, dan ibu senang karena Nara tak hanya diam dan memendam masalahnya sendiri.


"Itu sebabnya kalian harus bicara berdua saja, dari hati ke hati! saling mendengarkan dan saling memahami satu sama lain!"


Nara senang karena ibu sangat pengertian padanya, dia mencoba kembali percaya kalau masalahnya ini akan segera berakhir dengan dukungan ibu dan keluarga besar Azka.


"Kalau perlu, kalian ambil liburan ke luar kota untuk beberapa hari bedua saja! Arkan, biar ibu yang jaga!" sarankan ibu, Nara hanya tersenyum.


"Oh iya, bahkan dulu kalian belum sempat honeymoon kan?" goda ibu, Nara hanya tersenyum dan tersipu malu.

__ADS_1


'Dulu, mana ada terpikirkan honeymoon, awalnya kan kita hanya pura-pura sampai membuat Kalyla cemburu! huh...semuanya selesai! konyol! aku berhasil membuat Kalyla cemburu dan menggila, heh...' kenang Nara dalam hatinya, dia hanya tertawa getir mengingat masa lalunya.


"Nah, sebentar lagi kan Azka libur paruh musim, kalian harus segera merencanakan honeymoon kalian yang sempat tertunda, kalau perlu ke luar negri!" goda ibu lagi.


"Gak usah bu,"


"Pokoknya harus! nanti ibu atur semuanya, tiket pesawat sama akomodasinya biar ibu yang atur, anggap saja itu sebagai kado pernikahan kalian dari ibu yang dulu gak sempat ibu berikan,"


"M...baiklah," setujui Nara, ibu tampak senang karena Nara mulai membuka hatinya. Ibu sangat tidak ingin rumah tangga anak semata wayangnya itu hancur begitu saja, walaupun pada awalnya ibu agak skeptis pada Nara tapi saat ini dia benar-benar menyayangi Nara dengan sepenuh hatinya.


***


Latihan rutin hari ini, banyak yang bertanya perihal kondisi wajah Yuki yang terluka dan sedikit lebam, Azka tak banyak bicara, dia kembali pada Azka di era debut, Azka yang diam dan sedikit introvert. Yuki menjawab pertanyaan teman-temannya dengan jawabannya sendiri, dia tak mengatakan apapun soal masalahnya bersama Azka.


"Wah, anak mana yang bikin lo sampai bonyok begini? biar gue kasih pelajaran dia!" kata Pradit bersemangat, dia tak rela Yuki terluka seperti itu, dia hanya belum tahu kalau tersangka utamanya adalah Azka.


"Udahlah, gak usah dibahas lagi!" kata Yuki.


"Kalau ada apa-apa lagi, bilang-bilang dong sama kita...masa seorang Yuki kalah sih," lanjut Pradit, Yuki hanya tersenyum lalu sesekali melirik kearah Azka yang hanya diam.


"Dengarkan dia! jangan dengarkan kata-kata orang lain!" kata Yuki mencoba bersikap seperti seorang kakak untuk adiknya, Azka masih bersikap dingin.


"Masalah kalian akan selesai kalau kalian saling mendengarkan, sumpah! sejak awal gue gak pernah berniat mengganggu kebahagiaan kalian! gue gak mungkin membiarkan dia terpuruk seperti sekarang ini!" tambah Yuki, Azka belum bereaksi.


Kriiiiiing...kriiiiing...


Ponsel Azka berdering dan tentu saja itu dari Kalyla yang belakangan lebih sering memberi perhatian pada Azka yang tengah terluka.


"Gue harap lo pikirkan ini matang-matang! tinggalkan Kalyla! jangan dengar kata-katanya!" kata Yuki lalu dia membereskan tasnya.


"Lo mau menggantikan posisi gue?" tanya Azka akhirnya buka suara.

__ADS_1


"Percuma! gue gak akan pernah bisa menggantikan posisi lo di hati Nara! dia sangat membutuhkan lo saat ini!" sahut Yuki tegas.


Kriiiing...Kriiiing...


Ponselnya terus berdering, dan yang menghubunginya masih Kalyla...


"Katakan pada Kalyla, kalau lo akan setia sama anak dan istri lo! jangan masuk dalam permainannya!" kata Yuki lagi semakin membuat Azka yakin dengan pilihannya nanti.


"Permainan?"


"Dia udah merencanakan hal ini jauh-jauh hari, dan saat kalian ada dalam masalah, dia merangsak masuk dan memanfaatkannya sebaik mungkin, seperti sekarang ini, harusnya lo dengarkan Nara sejak awal!" ungkap Yuki, Azka hampir tak percaya dengan kenyataannya, ternyata Kalyla memang merencanakan semuanya dengan sempurna, Azka menyesal.


"Sorry...gue udah membuat luka di wajah lo dua kali!" kata Azka yang sepertinya sudah sadar dengan kekeliruannya selama ini.


"its okay!! gue cuma minta..jaga Nara dan Arkan sebaik mungkin! mereka sangat membutuhkan lo,"


Azka jadi malu karena selama ini sudah keliru pada Yuki, dia kini tahu Yuki tak pernah bermaksud membuat pernikahannya bersama Nara hancur.


"Thanks!" kata Azka pelan.


"Gue udah antar mereka ke rumah keluarga besar lo! cepat temui mereka!"


"Oke,"


Yuki pergi meninggalkan Azka yang akhirnya merasa lebih tenang sekarang, sejujurnya Azka malu pada Yuki yang dengan tulusnya membantu meredakan masalahnya, padahal selama ini Azka sudah banyak berprasangka buruk pada Yuki.


Kriiiiing...Kriiiiing...


Ponselnya kembali berdering untuk yang kesekian kalinya, Azka menolak panggilan dari Kalyla, mulai detik ini dia sudah memantapkan hatinya.


Azka segera bereskan ranselnya lalu dia sendiri segera pergi dari loker room itu.

__ADS_1


Kalyla yang menunggu di cafe biasa sampai meradang karena Azka kembali mengabaikannya. Dia tidak percaya dengan perubahan drastis Azka, baru saja dia merasa menang dan sore ini Azka malah kembali bersikap dingin padanya bahkan Azka menolak panggilan telphon darinya.


"Apa ini maksudnya???" desisnya kesal, lalu saat dia kembali mencoba menghubungi, Azka sudah mematikan telphonnya. Dan itu cukup menjadi pil pahit untuk Kalyla, Kalyla kesal! dia kesal bukan main.


__ADS_2