
Yuki terlambat datang bergabung bersama team, dia terhanyut dalam obrolan bersama Nara. Orang-orang sampai heran karena selama ini Yuki adalah pemain paling disiplin.
Saat selesai latihan, Yuki dan Azka duduk berdekatan. Mereka duduk di tepi lapangan dengan tubuh penuh keringat yang malah membuat mereka tampak semakin sexy dan menggairahkan.
"Gak biasanya lo datang terlambat..." kata Azka.
"Tadi gue mampir ke cafe istri lo!" jawab Yuki datar, dan itu malah membuat Azka lumayan terhenyak. Dia curiga kalau Yuki sengaja datang kesana untuk menemui istrinya, padahal tadi mereka hanya kebetulan bertemu.
"Ngapain?"
"Ngopi lah!" jawab Yuki lagi singkat, membuat Azka cemburu.
"Lo tahu hari ini dia datang ke cafe?" Azka mulai belagak jadi seorang wartawan yang melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Gue gak tahu, gue cukup surprise tadi! istri lo makin manis aja ya..." Bahkan Yuki berani menggoda membuat Azka semakin terbakar, apalagi Azka tahu betul kalau selama ini Yuki sangat menginginkan Nara.
"Heh, lo ini..." cibirnya dengan senyum masam.
"Nanti kita ada kerjasama, lo jangan jealous ya, gue cuma mau bantu dia..."
Pernyataan Yuki semakin membuat Azka curiga, dia malah jadi tak bisa fokus melanjutkan latihannya. rasa takutnya kembali muncul mendengar kata-kata Yuki siang ini.
"Kerjasama apa?" tanya Azka lagi dan mukanya semakin masam.
"Gue akan bantu dia mempromosikan cafe nya, jangan salah faham! gue cuma mau bantu dia karena dia adalah istri dari teman gue sendiri!" kata Yuki lalu menepuk punggung Azka, walaupun Yuki mencoba menjelaskan maksud hatinya tapi tetap saja itu membuat Azka takut dan kesal.
"its okay.." tukas Azka berusaha terlihat biasa walau hatinya sudah sangat meradang.
Jika ditarik kebelakang, dulu Azka memang menyalip Yuki untuk mendapatkan Nara, jauh sebelum Azka benar-benar mencintai Nara, Yuki sudah lebih dulu memberikan perhatian tulusnya untuk Nara. Wajar saja jika saat ini Azka selalu dihantui perasaan takut akan kehilangan.
Azka tak sabar rasanya ingin segera menyelesaikan latihannya dan menjemput Nara ke cafenya. Dia ingin segera mencurahkan rasa cemasnya itu.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian...
Nara sudah mengunci cafenya rapat-rapat, Azka hanya menunggunya didepan kemudi. Setelah Lulu dan kedua pegawainya pergi Narapun masuk kedalam mobil. Wajahnya berseri-seri, dia senang hari ini karena Yuki bersedia bekerjasama dengannya. dan goodmood yang Nara tunjukan malah membuat Azka semakin curiga.
"Huh, udah lama gak ke cafe...rasanya cape banget seharian ini!" ujarnya lalu dia pasang safetybeltnya, Azka tak menyahut dia hanya diam lalu menyalakan mesin mobilnya dan segera tancap gas.
Sementara Azka diam dan fokus mengemudi dengan perasaan meradang, Nara malah tampak asyik berbalas pesan dengan seseorang. Azka curiga kalau istrinya itu sedang chating dengan Yuki dan hatinya semakin sesak.
"Hari ini kamu ketemu Yuki?" tanya Azka, sebenarnya dia tak tahan ingin membicarakan rasa curiganya itu tapi sejak tadi Nara bersikap cuek padanya malah dia tampak asyik sendirian dengan gawainya.
"Iya," jawabnya singkat dan masih fokus pada layar ponselnya.
"Janjian?" tanya Azka lagi, Nara malah gak dengar bahkan dia asyik senyum-senyum sendiri meyakinkan Azka kalau saat ini istrinya sedang berbalas pesan dengan Yuki. Dia kesal bukan main, dia memacu laju mobilnya dari 40km/jam ke 70km/jam sampai Nara shock karena Azka menginjak gasnya secara tiba-tiba.
"Hey, jangan ngebut dong...jalanan rame tauuu..." kata Nara yang panik setengah mati karena Azka tak peduli dengan kata-katanya dan tetap mengebut.
"Sayaaaang..." Nara mencoba membujuk tapi Azka tetap gak peduli, hati Nara sangat deg-degan, dia tahu kalau marah Azka memang selalu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi seperti ini.
"Kamu kenapa?" tanya Nara, dia tatap Azka dan muka Azka merah padam.
"Ada masalah sama Sunrise?" tanya Nara yang malah innocent, dia gak sadar kalau Azka marah padanya, Azka memicingkan matanya dan Nara jadi takut.
"Tolong jangan marah dalam keadaan mengemudi begini, nanti kita bicarakan baik-baik ya..." kata Nara menenangkan, Azka belum bergeming.
"Please, jangan ngebut lagi yaaa..." bujuk Nara dan lampu sudah kembali hijau, Azka tidak peduli dia tetap memacu laju mobilnya dengan kecepatan tinggi.
'Huh...' Nara pasrah, dia hanya berharap dia akan sampai di rumah ibu dengan selamat. Percuma bicara pada Azka yang sedang marah, dia pasti tak akan mau mendengar apapun kalau hatinya sedang sesak.
5 menit kemudian mereka sampai, waktu yang di tempuh jadi 15 menit lebih cepat dari seharusnya. Azka langsung turun dari mobilnya tanpa mempedulikan Nara, Nara semakin heran. Dia hanya menduga-duga, dia berpikir kalau Azka ada masalah dengan team basketnya. Dia hanya belum tahu kalau saat ini azka merasa cemburu,curiga dan terabaikan.
'Huh, penyakit lamanya kumat!' gerutu Nara dalam hati lalu bergegas mengikuti langkah Azka. Dia sudah tidak sabar ingin menemui baby Arkan yang setengah hari ini jauh dari pelukannya.
__ADS_1
Saat Nara masuk, Azka sudah lebih dulu menggendong Arkan dan membawanya ke lantai atas menuju kamar masa mudanya. Nara masih bertanya-tanya kenapa Azka bersikap seperti itu.
"Dia anteng banget, kayaknya kalau ditinggal semalaman juga pasti Arkan gak akan rewel," kata ibu exited.
"Dia membawa kecerian seharian ini," kata Kakek yang juga terlihat bahagia karena bisa bermain dengan cicitnya.
"Dia mulai bisa berinteraksi lho...duh, gemes deh Arkan, gak sabar nunggu dia tumbuh besar..."
Nara hanya mendengarkan cerita-cerita menyenangkan dari Ibu dan kakek, dia hanya tersenyum menanggapinya. Pikirannya hanya tertuju pada Azka dan Arkan yang mungkin sudah berada di kamar Azka di lantai atas.
"Kalian nginep aja disini, yaaah... biarkan Arkan kerasan tinggal disini..." bujuk ibu.
"Iya, menginaplah disini malam ini!" tambah Kakek.
"Nanti bi Ija siapkan tempat tidur untuk Arkan..." tambah ibu penuh harap, Nara tidak mau mengecewakan ibu dan Kakek dia pun menganggukan kepala tanda setuju.
"Yes, ibu cari bi Ija dulu ya..."
Ibu beranjak mencari bi Ija.
"Kek, aku keatas dulu ya..." pamit Nara.
"Iya..."
Nara juga beranjak mencari keberadaan suami dan anaknya, Nara sudah yakin kalau keduanya ada didalam kamar Azka.
Ckttt, dia bukakan pintu dan dia mendapati dua pria yang sangat dia cintai sedang bermain bersama di atas kasur nyaman milik Azka di masa lalu. Nara berjalan mendekat...
Arkan tampak ceria berinteraksi dengan papanya, dan saat Nara sudah sampai di dekatnya Azka kembali memajang muka jutek.
"Papa mandi dulu yaaa..." kata Azka pamit dan tanpa menoleh kearah Nara sedikitpun dia langsung masuk ke kamar mandi. Nara semakin serba salah, tapi Nara memang sungguh sangat innocent, dia belum peka kalau saat ini Azka marah padanya. Nara belum tahu kalau saat ini Azka sungguh sangat terbakar api cemburu.
__ADS_1
Bersambung.