
Dengan berjalan kaki Nara menuju cafe melodi yang berjarak kurang lebih sepuluh menit dari hotel. Nara masuk dan menghampiri seorang pelayan cafe untuk menunjukkan meja yang kosong, pelayan tersebut memberi sebuah buku daftar menu serba coklat. Nara membuka-buka daftar menu tersebut dan menyebutkan beberapa menu dessert serta minuman yang dia pesan.
“special browni krep, cikolatali mus, findikli kurabïye tavasi, muzlu rulo krep, and sifa olsum.” Ucap Nara pada seorang pelayan dan membuat pelayan tersebut heran.
Nara mencoba mencari tahu file baru yang berada di direktori root pada ponselnya, tiba-tiba Afkar menghubungi.
“Assalamu'allaikum mas" salam Nara dengan suara riang.
“......”
“di melodi kahfe" jawab Nara sambil membuka-buka buku menu.
“......”
“ya..... berusaha berani jalan sendiri kesini..... dengan bantuan google maps" ucap Nara pelan.
“......”
“iya mas...... nanti kalau Marius sama morten sudah datang Nara makan yang lain..... sekarang Nara lagi ingin makan serba coklat" ucap Nara dengan suara senang.
Tanpa Nara sadari ada seseorang yang memperhatikannya tak jauh dari tempat dia duduk.
“......”
“iya mas...... mas juga jangan lupa makan sama sholat” ucap Nara mengingatkan Afkar.
“......”
“Wa'alaikumsalam mas" salam Nara dan memutus panggilan telepon.
Beberapa detik setelah Nara memutus panggilan, tampak sosok pria berdiri di dekatnya tapi Nara mengabaikannya dan kembali sibuk dengan file di direktori root.
“Assalamu'allaikum” salam sosok pria itu.
Nara hanya menjawab salam itu dalam hati saja, karena merasa bahwa di Istanbul ini Nara tidak mengenal siapa pun selain keluarga Afkar dan suara tadi bukan suara Marius atau pun Morten.
“Assalamu'allaikum” salam sosok pria itu sekali lagi.
__ADS_1
Nara mencoba melihat sedikit sosok pria yang berdiri di dekatnya, saat terlihat jelas wajah sosok pria itu Nara segera berdiri dari kursi sambil kembali menundukkan pandangannya dan melangkah sedikit belakang kursi yang tadi dia duduki.
“Astagfirullah.... kak ubet.... Wa'alaikumsalam “ ucap Nara dengan suara senang karena tidak menyangka akan bertemu dengan seniornya.
“Alhamdulillah.... ternyata dugaanku benar, bahwa wanita yang sedang telepon tadi adalah Febyanara Maharani adik tingkatku” ucap ubet bahagia.
“kakak kenapa ada disini?” tanya Nara heran.
“boleh kakak duduk?” tanya ubet membuat Nara sedikit kikuk dan bingung.
“oooo...... silahkan kak" jawab Nara sambil duduk kembali di kursinya.
Sedangkan ubet duduk tepat di depan Nara.
“kakak, sekarang kerja disini..... bukankah kakak dulu kerja di Seoul?” tanya Nara.
“iya.... tapi sudah empat bulan ini kakak kerja disini...... dan suasana kerja disini sangat menyenangkan dari pada sebelumnya" jelas ubet.
“ooooo..... begitu, kalau boleh tahu.... apa sekarang juga bekerja di bidang yang sama seperti waktu di seoul?” tanya Nara sedikit hati-hati, mengingat pesan Fajrin bahwa seorang wanita bila bertanya tentang pekerjaan pada seorang pria adalah hal yang sensitif.
“oooo.... begitu...... " ucap Nara singkat.
“mungkin kamu bisa apply juga di perusahaan tempat aku bekerja sekarang..... aku lihat perusahaan masih membutuhkan programmer handal seperti Nara” ucap ubet mencoba memuji Nara.
“Nara tidak sepintar kakak..... “ ucap Nara merendahkan diri.
Tanpa sepengetahuan Nara, dua kakak beradik yilmaz memperhatikannya. Beberapa detik kemudian saat seorang pelayan hendak mengantarkan pesanan Nara, Marius mengambil alih pesanan itu. Karena pelayan itu sangat mengenal Marius dan Morten jadi pelayan itu membiarkan apa yang dilakukkan Marius. Marius meletakkan semua pesanan Nara di hadapan Nara.
“please enjoy it (silahkan menikmati)" ucap Morten dan membuat Nara melihatnya sesaat.
“you’ve come. Why did you deliver my order....? aaa... i forgot you’re the owner of this cafe (kalian sudah datang? Kenapa kalian yang mengantar pesananku....? aaa... aku lupa kalian pemilik cafe ini)” ucap Nara yang sudah berdiri menghadap morten.
Marius dan Morten melihat ubet dengan tatapan tidak suka, aura seperti ini sangat Nara pahami dan sebelum menimbulkan kecurigaan tanpa alasan. Nara segera memperkenalkan mereka bertiga.
“Marius.... Morten.... Introduce this is senior Ubet...... he’s my senior when I was in college ( kenalkan ini kak ubet, kak ubet ini senior Nara sewaktu kuliah dulu)” Ucap Nara pada kedua kakak beradik yilmaz
“senior ubet, introduce this is my brother (kak ubet, kenalkan ini saudara Nara)" ucap Nara pada ubet dan membuat ubet melebarkan kedua matanya karena terkejut mendengar ucapan Nara.
__ADS_1
Ubet mencoba memahami ucapan Nara karena seingat ubet, Nara hanya tinggal berdua dengan kakak laki-lakinya dan tidak memiliki saudara yang lain. Marius dan Morten menjabat tangan Ubet bergantian dan memberi sedikit genggaman erat dan membuat ubet sedikit meringis.
“have a sit (ayo duduk)" pinta Nara pada mereka bertiga.
Marius dan Morten duduk di sisi kanan dan kiri dekat Nara sedangkan Ubet duduk di depan Nara. Marius dan Morten melihat Ubet dengan pandangan penuh curiga dan tanda tanya. Merasa bahwa kedua pria yang Nara kenal tidak suka dengan keberadaannya membuat ubet sedikit kikuk.
“kak ubet.... kalau boleh Nara tahu.... kakak sedang mengerjakan program apa di perusahaan yang sekarang?..... mengingat dulu kakak sangat pintar sekali pemprogramannya" puji Nara membuat ubet merasa tersanjung.
“sebenarnya games yang kami buat sudah jadi dan saat hendak kami perkenalkan game itu ke publik ternyata ada yang mendahului..... jadi kami batalkan dan sekarang kami sedang membuat rencana back up.” Jelas ubet sedikit kecewa.
“kok bisa....apa ada yang melakukan sabotase?” tanya Nara heran dan semakin membuat ubet sedih dan kecewa.
“kemungkinan seperti itu.... sekarang kami sedang mencari tahu semua itu.” Ucap ubet kecewa.
“game apa kak?” tanya Nara semakin ingin tahu.
Ubet mengetik sesuatu pada ponselnya dan menperlihatkan pada Nara, seketika kedua mata Nara membulat karena terkejut.
“ini..... game jelek ini....” ubet terkejut mendengar ucapan Nara.
“jelek?” tanya ubet semakin heran.
“iya..... banyak sekali hole dan worm..... ini ponsel Nara jadi lambat performansinya" ucap Nara jengkel sambil memperlihatkan layar ponselnya yang lambat dalam merespon sentuhan jari Nara.
Wajah ubet menjadi pias mendengar ucapan Nara dan menarik nafas panjang.
“sepertinya aku harus kembali bekerja..... kalau ada rezeki kita akan bertemu lagi. Assalamu'allaikum” ucap Ubet sambil berdiri dari kursi hendak melangkah pergi.
“Wa'alaikumsalam” balas Nara, Marius dan Morten bersamaan.
Setelah Ubet keluar dari cafe, kedua kakak bwradi yilmaz memandang Nara dengan tatapan penuh tanya.
“can you explain who is ubet, what is your relationship with ubet and what were you talking about earlier (bisa kakak ipar jelaskan siapa ubet, apa hubungan kakak ipar dengan ubet dan apa yang tadi kalian bicarakan)?” ucap Marius dengan tegas membuat Morten meneguk minuman coklat dingin yang ada di depannya.
“morten.... that’s mine (itu milikku)" ucap Nara terkejut saat melihat morten menghabiskan minuman yang dia pesan.
Morten hanya meringis mendengar ucapan Nara yang terdengar kesal, sedangkan Marius menepuk dahinya melihat tingkah morten yang di luar prediksinya.
__ADS_1