
Pukul 18.00 waktu Oslo atau 1 jam sebelum Magrib, Afkar dan Nara mengantar Fajrin ke bandara dan tentunya Lief yang menyetir. Ines dan empat orang pengawal seperti biasa mengiringi mobil Afkar dari depan dan belakang karena ada Nara. Perjalanan ke bandara memakan waktu kurang lebih 40 menit.
Nara duduk di belakang dengan Afkar dan Fajrin di samping Lief, saat keluar dari pintu pagar rumah Fajrin melihat sosok yang mencurigakan berada di sebuah mobil yang tidak begitu jauh dari rumah Afkar. Fajrin mengamati sosok yang duduk di belakang kemudi mobil yang mencurigakan itu, Fajrin mengamati dan benar saja mobil itu mengikuti mereka. Fajrin tidak tenang dan mengeluarkan ponselnya.
“ dik.... pindah duduk “ pinta Fajrin tiba-tiba.
“ Nara duduk depan?... tidak mau “ ucap Nara cemberut.
Fajrin menarik nafas panjang gemas mendengar suara penolakan Nara, Fajrin mendorong lutut kiri Nara untuk bergeser sedikit ke Afkar.
“ sempit kak.... “ gerutu Nara.
Karena Fajrin masih saja mendorong lutut kiri Nara hingga Nara menaikkan paha kanannya ke pangkuan Afkar.
“ naik sana “ ucap Fajrin tegas dan membuat Nara akhirnya duduk di pangkuan Afkar dan menghadap jendela membelakangi Fajrin.
“ menyebalkan “ ucap Nara pelan tapi terdengar jelas bagi ketiga pria di mobil ini.
Afkar tersenyum membelai punggung Nara dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menepuk paha kiri menenangkan Nara.
“ bilang saja suka.... pakai drama segala “ ucap Fajrin dan membuat Nara menempelkan kepalanya ke bahu kanan Afkar.
Afkar tersenyum setiap kali Fajrin menggoda Nara.
“ ini “ Fajrin menunjukkan foto pada Afkar.
“ apa ini “ Afkar bingung dengan foto yang Fajrin tunjukkan.
Fajrin memperbesar foto tersebut dan terlihat jelas sosok yang dia maksud, dengan isyarat tangan Fajrin menunjuk ke belakang. Afkar mengerutkan kulit di antara kedua alisnya dan melihat ke belakang.
“ di dalam mobil pengawal? “ tanya Afkar heran.
“ di belakangnya lagi “ ucap Fajrin pelan.
“ kirim foto-foto itu ke ponselku “ ucap Afkar sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana sebelah kiri.
__ADS_1
“ aku sudah memberi tahu Ines dan para pengawal yang lain dan mereka sudah mengkonfirmasi kalau orang ini dan orang yang di dalam mobil yang mengikuti kita adalah orang yang sama, tapi Ines dan para pengawal tidak bisa bertindak lebih kalau orang itu tidak bertindak. orang itu hanya mengawasi membuntuti kemana saja.... pergi “ ucapan Fajrin terhenti dan menunjuk Nara dengan jari telunjuk kanannya.
Membuat Afkar melihat Nara dengan tatapan mulai kuatir.
“ orang ini beberapa kali aku melihat di data yang Nara kumpulkan “ ucapan Fajrin membuat Afkar kembali mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.
“ kamu yakin? “ Fajrin menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Afkar.
“ aku kirim semua foto ini ke ponsel kamu “ ucap Fajrin dan memilih foto-foto dengan sosok mencurigakan tersebut.
Sampai di bandara seorang petugas bandara yang bertugas untuk Sundth Air sudah menunggu kedatangan Lief dan yang lain. Afkar, Nara juga yang lain ikut mengantar Fajrin ke private lounge hingga jadwal keberangkatan.
“ finne informasjon om denne personen (cari info tentang orang ini) “ bisik Afkar pada Lief sambil tangan kanannya menggenggam erat tangan Nara.
Lief melihat layar ponsel Afkar dan seketika membulatkan kedua matanya, Afkar heran dengan respon Lief.
“ du kjenner ham (kamu mengenalnya)? “ tanya Afkar curiga.
Lief terdiam tidak berani mengatakan.
Setelah menunggu selama dua puluh menit, akhirnya Fajrin berjalan mengikuti langkah kaki seorang kru Sundth Air yang sudah sangat mengenal Afkar dan Lief.
“ dik.... kakak pulang dulu ya.... terima kasih souvenirnya..... Afkar jaga adikku satu-satunya.... aku pulang dulu.... Assalamualaikum “ ucap Fajrin dan Nara mencium punggung tangan kanan Fajrin.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Nara dan Afkar kompak.
Setelah tubuh Fajrin tidak terlihat, Afkar segera mengajak Nara kembali ke mobil untuk pulang. Sebelum masuk ke dalam mobil, Afkar mengedarkan pandangannya mencari mobil yang tadi Fajrin bicarakan. Afkar tersenyum tipis saat menemukan mobil tersebut dan segera masuk ke dalam mobil.
Afkar sengaja menempelkan kepala Nara di bahu kirinya dan menggenggam erat tangan kanan Nara, sesekali mencium punggung tangan kanan Nara.
“ Lief .... la oss se på den grå Citroen C4 Grand Picasso som fulgte bak følgebilen bak oss (Lief.... coba kamu perhatikan mobil Citroen C4 Grand Picasso warna abu-abu yang mengikuti di belakang mobil pengawal di belakang kita) “ ucap Afkar sambil meremas tangan Nara.
Lief terdengar seperti menghubungi seseorang.
“ kan du se nummerplaten til den grå Citroen C4 Grand Picasso bak deg (bisakah kalian melihat plat nomor Citroen C4 Grand Picasso warna abu-abu yang berada di belakang kalian) “ ucap Lief.
__ADS_1
“ kan bakkameraet på bilen få ansiktet hans tydelig (bisakah kamera belakang mobil kalian mendapat wajahnya dengan jelas)? “ ucap Lief
“ Det er riktig sir .... vaktene fikk bilskiltet og tok et bilde av sjåførens ansikt med det bakre kameraet (benar tuan.... pengawal sudah mendapatkan plat nomor dan mengambil gambar wajah pengemudi tersebut dengan kamera belakang) “ ucapan Lief membuat Afkar menarik nafas panjang.
“ Lief ..... Jeg tror på deg .... du kjenner ham (Lief..... aku percaya padamu.... kamu mengenalnya)? “ tanya Afkar dengan suara dingin.
“ Det er riktig sir ... han er fortsatt en av Rosenkrantzs etterkommere (benar tuan.... dia masih salah satu keturunan Rosenkrantz) “ ucap Lief lemas.
“ er du sikker? ..... hvorfor kjenner jeg ham ikke? ..... i morgen tidlig gir du detaljert informasjon om ham (kamu yakin?..... kenapa aku tidak mengenalnya?..... besok pagi berikan informasi detail tentang dia) “ perintah Afkar dengan suara dingin.
Sampai di depan pintu pagar rumah Afkar seorang pengawal membukanya dan saat mobil yang Afkar tumpangi melaju pelan, Afkar memperhatikan mobil yang mengikuti mereka berhenti tidak jauh dari rumahnya.
“ apa yang dia mau..... kalau dia keturunan Rosenkrantz kenapa aku selama ini tidak pernah mengenalnya “ gumam Afkar dalam hati.
Nara segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, Afkar mengikuti langkah kaki Nara. Di dalam kamar Nara sudah berganti dengan pakaian tidur celana pendek sepaha dan kaos lebar setinggi lutut.
“ sayang.... kamu tidak pakai hipster? “ Nara mengangkat kaos yanga dia pakai dan memperlihatkan celana pendek yang dia pakai.
“ opo.... mas kira tidak pakai “ Nara meringis mendengar ucapan Afkar.
Afkar berganti dengan pakaian santai sleeveless shirt dan celana pendek setinggi setengah paha, Afkar melangkah keluar membuat Nara bingung.
“ mas Afkar mau kemana? “ tanya Nara heran.
“ ke ruang kerja sebentar “ ucap Afkar sambil membuka pintu kamar.
Nara segera turun dari ranjang dan mengikuti Afkar dengan langkah pelan, Afkar tahu Nara mengikutinya saat kurang beberapa langkah di depan ruang kerja. Afkar menghentikan langkahnya dan membuat Nara menabrak punggung Afkar.
“ aduh.... kenapa berhenti? “ Afkar melihat kebelakang dan seketika menggendong Nara seperti panda.
Afkar mendudukan Nara di meja kerjanya.
“ diam disini sebentar “ ucap Afkar.
Afkar melangkah ke sebuah rak buku yang berada di belakang sofa dan mengambil sebuah buku tebal dengan sampul berwarna hitam dan merah.
__ADS_1