
“ Mr. Fredrik 10% og hans to yngre søstre hver 3% de resterende 4% Mr. Larson selger til publikum .... Mr. Holger 10% og hans to yngre søstre hver eier 5% og ønsker ikke å innta noen posisjon i Rosenkrantz forskjellig fra de to Mr. Fredriks yngre bror ..... mens Mr. Kalle er 10% .... de resterende 10% av Oswinns eierandeler, og Mr. Oswinn har solgt den lenge før Mr. Kalle har erstattet Mr. Oswinn ... og resten tilhører Mr. Erhan som også betyr at det tilhører Mr. Afkar. (tuan Fredrik 10% dan kedua adiknya masing-masing 3% sisanya 4% tuan Larson jual pada publik.... tuan Holger 10% dan kedua adik perempuannya masing-masing memiliki 5% dan tidak mau menduduki posisi apa pun di Rosenkrantz berbeda dengan kedua adik tuan Fredrik..... sedangkan tuan Kalle 10%.... sisa 10% dari saham kepemilikan tuan Oswinn, dan tuan Oswinn sudah menjualnya jauh sebelum tuan Kalle menggantikan posisi tuan Oswinn... dan untuk selebihnya milik tuan besar Erhan yang juga berarti milik tuan Afkar.) “ penjelasan Lief sudah cukup menguatkan dugaan Afkar.
Sekali lagi Afkar memikirkan beberapa kemungkinan yang berkaitan antara pria itu saham dan Nara.
“ aksjen som onkel Oswinn solgte .... vet du hvem som kjøpte aksjen (saham yang uncle Oswinn jual.... apakah kamu tahu siapa yang membeli saham itu)? “ tanya Afkar mulai curiga.
Lief berpikir keras menjawab pertanyaan Afkar tapi Lief tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan Afkar.
“ du vet ikke, eller du skjuler noe for meg (kamu tidak tahu atau kamu menyembunyikan sesuatu dariku)? “ tanya Afkar selidik.
“ Jeg vet ikke sir .... 10% eierandelen i Mr. Oswinn som ble solgt er ingen steder å finne ..... Jeg har søkt i regjeringsarkivene, men jeg fant ikke hvem som kjøpte Mr. Oswinns 10% innsats, hvor mye den var verdt og for hva som kommer fra salget av aksjene. (saya tidak tahu tuan.... saham 10% tuan Oswinn yang terjual tidak ada catatannya dimana pun..... saya sudah mencari tahu hingga ke arsip pemerintah tapi saya tidak menemukan siapa pembeli 10% saham tuan Oswinn, berapa nilainya dan untuk apa hasil penjualan saham tersebut.) “ jawab Lief jujur.
Afkar terdiam dan berpikir keras bagaimana mencari tahu transaksi saham tersebut pasti ada seseorang yang dengan sengaja menyembunyikan transaksi kepemilikan saham itu. Afkar berdiri dan berjalan cepat menuju lift.
“ ta opp filen (bawa berkas itu ke atas) “ teriak Afkar ya ya udah berdiri di depan lift.
Afkar keluar lift dengan buru-buru dan mencari keberadaan Nara, memandang setiap ruang simulasi yang hanya berupa sekat kaca dua arah. Bertanya pada setiap manager yang berpapasan dengannya juga setiap pemain yang menyapanya. Afkar mencoba menghubungi Nara tapi tidak ada jawaban tapi sayup-sayup Afkar mendengar nada dering ponsel Nara, Afkar mencoba mencari tahu posisi ponsel Nara dengan berjalan kesana kemari untuk beberapa menit. Yang akhirnya menemukan dimana ponsel Nara berada tapi Afkar tidak melihat Nara.
“ ponselnya disini.... tapi sayang kemana? “ gumam Afkar bingung.
Saat Afkar kebingungan mencari Nara seorang manager menghampirinya.
“ Du leter etter Neptunia ... hun er i spillerens sovesal .... jeg så henne be tidligere (kamu mencari Neptunia... dia ada di dorm pemain.... tadi aku melihatnya sedang berdoa) “ ucap ubnix.
Afkar segera turun ke lantai dua dan membuka setiap dorm pemain. Saat Afkar membuka dorm yang biasa di pakai kakak beradik Yilmaz beristirahat, Afkar bernafas lega dan berjalan pelan duduk di ranjang single bed milik starsiv. Afkar menunggu Nara hingga selesai murojaah.
Beberapa menit kemudian Nara selesai dan mendapati Afkar yang sudah berjongkok tepat di samping kirinya, Nara segera meraih tangan kanan dan mencium punggung tangan Afkar.
“ mas sudah sholat? “ tanya Nara singkat.
__ADS_1
Afkar hanya menjawab dengan mengecup dahi Nara.
“ sholat dulu.... Nara tunggu disini “ ucap Nara sambil membetulkan kain niqabnya.
Afkar tersenyum dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk wudhu dan mendirikan sholat. Selagi Afkar sholat Nara menunggu dengan duduk bersila tepat di belakang Afkar. Selesai Sholat dan berdoa Afkar menatap Nara dengan tatapan memuja.
“ kenapa melihat Nara seperti itu? “ tanya Nara heran.
Afkar tersenyum dan menangkup kedua pipi Nara.
“ bolehkah mas meminta tolong Black Riley? “ tanya Afkar dengan tersenyum membuat Nara membalas senyuman Nara dan memeluk leher Afkar.
“ gendong “ bisik Nara dan Afkar segera mengangkat tubuh Nara seperti mengangkat seekor panda.
“ tidak malu? “ tanya Afkar.
“ sampai ruangan simulasi “ Nara segera turun dari tubuh Afkar dan membuat Afkar tertawa terbahak-bahak.
Nara cemberut dan berjalan cepat menaiki tangga menuju ruang simulasi sementara Afkar masih saja tertawa mengingat reaksi Nara.
“ sudah berhenti tertawanya.... Nara harus mencari apa sekarang “ ucap Nara cemberut.
Afkar masih mengatur suaranya karena gemas melihat sikap Nara. Untuk beberapa menit Nara hanya diam cemberut menatap layar komputer. Akhirnya Afkar diam dari tawanya dan duduk di sebelah Nara.
“ bantu mas mencari informasi transaksi saham “ ucapan Afkar kali ini membuat Nara terkejut.
Nara paham betul kalau transaksi saham pasti melibatkan beberapa instansi pemerintah juga swasta dan itu berarti Nara harus mencari tahu di luar pemantauan sistem keamanan jaringan atau interpol kejahatan internet.
“ mas yakin dengan permintaan mas? “ tanya Nara meyakinkan Afkar.
__ADS_1
Afkar menganggukan kepala menjawab pertanyaan Nara.
“ Kalau Nara di cari EC3 bagaimana? “ seketika Afkar kaku mendengar pertanyaan Nara.
“ Kenapa menjadi rumit begini.... “ Afkar mulai frustasi dan bingung bagaimana mencari informasi transaksi saham tanpa sepengetahuan instansi terkait.
“ Mas..... apa ini ada hubungan dengan masalah mencucian uang di Rosenkrantz? “ tanya Nara ingin tahu.
“ sepertinya begitu..... tapi ini masih dugaan mas.... “ ucap Afkar sambil menyisir kasar rambutnya dengan tangan kanan.
Nara mengerutkan kulit di antara kedua alisnya seperti memikirkan sesuatu tapi Nara terlalu kuatir untuk mengatakan pada Afkar.
“ mmmm..... mas..... Nara sepertinya mengenal seseorang yang bekerja sebagai partner EC3...... kalau mas mau, Nara bisa melakukan kontak..... tapi.... “ ucapan Nara berhenti karena masih memikirkan bagaimana dan apa alasan menghubungi orang itu.
“ kenapa sayang....? “ tanya Afkar heran.
“ dia peretas bawah tanah.....” ucap Nara pelan tapi cukup membuat Afkar tertegun dengan ucapan Nara.
“ Apa sayang perlu sesuatu untuk kontak dengannya? “ Nara mengganggukan kepala dan berdiri.
“ sayang cari apa? “ tanta Afkar heran.
“ laptop Nara dan..... modem yang mas pakai waktu di Istanbul... “ Afkar heran dengan ucapan Nara.
Setelah menghubungkan laptop dengan modem internet Nara mulai masuk ke ruang pembicaraan mencari nama jaringan seseorang, selama hampir 10 menit Nara mencari nama jaringan peretas underground tapi tetap belum menemukan.
“ mas.... seperti dia sedang offline “ ucapan Nara membuat Afkar kecewa.
Afkar menarik nafas panjang dan menceritakan saham apa yang ingin dia cari, Nara mendengarkan tanpa menyela dan mencatat apa saja yang Afkar ingin tahu termasuk berapa nilai saham dan kapan kemungkinan transaksi itu terjadi.
__ADS_1