NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 141 SUASANA HATI


__ADS_3

Mendapati Nara sedang murojaah dengan duduk bersila di lantai tanpa alas apa pun membuat hati Afkar terasa sakit, melihat sepasang sepatu dan kaus kaki yang tergeletak di bawah meja semakin membuat hati Afkar terasa sakit. Afkar menutup pelan pintu dorm dan duduk bersila di belakang Nara, tapi baru saja Afkar duduk tiba-tiba terdengar isak tangis Nara yang tertahan. Afkar heran juga bingung tidak tahu kenapa istrinya menangis, pelan-pelan memeluknya dari belakang. Membuat Nara terkejut untuk sesaat dan tiba-tiba tangisnya pelan-pelan terdengar, Afkar memeluknya dengan erat mencium puncak kepala Nara yang tidak tertutup niqab mau pun hijab.


“ apa mas ada salah?.... maaf kalau mas ada salah.... “ bisik Afkar berusaha menenangkan Nara.


Bukan meredakan tangis Nara tapi semakin membuat air mata Nara semakin deras membasahi pipi.


“ mas Afkar sudah bosan sama Nara “ kalimat sedih Nara membuat Afkar terkejut dan merubah posisi duduknya.


Afkar menangkup kedua pipi Nara yang basah dengan air mata, ibu jarinya berusaha menghapus air mata Nara.


“ sayang.... kenapa sayang bicara seperti itu.... “ ucap Afkar dengan kedua matanya yang mencari tahu kenapa Nara bisa mengatakan demikian.


“ mas Afkar sudah bosan sama Nara.... mas Afkar tidak suka kalau Nara manja “ ucap Nara dengan air mata yang masih mengalir.


“ sayang...... apa yang membuat sayang berpikir seperti itu tentang mas.... “ ucap Afkar berusaha menenangkan tangis Nara.


“ mas Afkar bosan menemani Nara diam di apartemen.... mas Afkar bosan dengan kemanjaan Nara “ tangis Nara semakin pecah.


Afkar memeluknya erat mendekap di dalam dadanya, Nara berusaha menjauhkan diri tapi Afkar menahannya dan membuat Nara semakin menangis.


“ sayang..... bagaimana mas bosan sama sayang.... mas cinta sama sayang, mas tidak akan pernah bosan sama sayang... “ ucapan Afkar bukan membuat tangis Nara bukan mereda tapi membuat Nara semakin menangis.


Afkar menarik nafas panjang kehabisan kata-kata untuk meredakan tangis Nara, tanpa Afkar sadari Nanwei mendengarkan dan merekam apa yang mereka ucapkan. Dengan bantuan software yang dia buat, Nanwei bisa mengerti apa yang mereka berdua bicarakan. Nanwei memberanikan diri mengetuk pintu dorm.

__ADS_1


“ sayang.... sudah ya nangisnya.... mas cinta sayang.... mas sayang sama sayang....” ucap Afkar sekali lagi mencoba menenangkan Nara dan mencium puncak kepala Nara berkali-kali.


Afkar masih belum mendengar suara ketukan pintu dan Nanwei sekali lagi mengetuk pintu sedikit lebih keras dari sebelumnya, membuat Afkar melihat ke arah pintu.


“ who (siapa)? “ suara keras Afkar membuat Nara memiliki kesempatan sedikit menjauhkan kepalanya dari dada Afkar.


“ kan du komme ut litt (bisakah kalian keluar sebentar) “ suara Nanwei membuat Afkar melepas pelukkannya dan mengangkat tubuh Nara untuk duduk di tepi ranjang single bed.


“ vent et øyeblikk (tunggu sebentar) “ suara keras Afkar sambil kedua tangannya meraih hijab dan niqab Nara yang tergeletak di meja.


Afkar menghapus air mata di kedua pipi Nara yang basah dengan air mata, memakaikan hijab dan membuat simpul niqab di belakang kepala Nara. Meski pun Nara masih terisak-isak, Afkar kembali meraih sarung tangan dan kaus kaki untuk dia pakaikan di tangan dan kaki Nara. Selesai menutupi semua kulit Nara, Afkar mengecup puncak kepala Nara dan membuka pintu menemui Nanwei.


“ hva er det (ada apa) “ tanya Afkar sedikit kesal karena Nanwei mengganggunya.


“ Jeg vet ikke .... jeg er selv forvirret (entahlah.... aku sendiri bingung.) “ ucap Afkar lemas.


“ vi snakker på rommet mitt (kita bicarakan di ruanganku) “ ajak Nanwei dengan isyarat tangan agar mengajak Nara ke ruangannya.


Afkar menganggukan kepala dan masuk menemui Nara.


“ mas tidak paham kenapa sayang bisa berkata seperti. “ ucap Afkar yang sudah berlutut di hadapan Nara yang masing terisak.


“ Nanwei ingin kita berbicara di ruangannya “ ucap Afkar yang sudah berdiri dan mengulurkan kedua tangannya pada Nara.

__ADS_1


Nara berdiri tidak mengucap sepatah kata pun meraih tas kecil dan melangkah keluar dorm, Afkar mengikuti dan berusaha berjalan di samping Nara. Sampai di ruang kerja Nanwei, Afkar dan Nara duduk di sofa.


“ Fortell meg (ceritakan) “ singkat padat ucapan Nanwei membuat Afkar sekali lagi menarik nafas panjang.


Afkar sebenarnya berat menceritakan tapi saat ini posisinya hanya sebagai suami bukan pemimpin klub yang memiliki hak untuk mengetahui semua urusan para pemainnya bila suasana hati pemain mengganggu performansi pemain. Dan posisi pemimpin klub sudah Afkar serahkan pada Nanwei, Afkar melihat Nara yang tertunduk dan masih berusaha menghapus sisa air matanya.


Meski pun dengan berat hati pada akhirnya Afkar menceritakan bagaimana Nara bisa bersikap seperti ini, Afkar mulai menceritakan dari sebelum Nara mengunci pintu kamar hingga detik ini. Nanwei menarik nafas panjang mulai bisa memahami apa yang mungkin Nara rasakan.


“ hva gjorde han mens du var i leiligheten (apa saja yang dia lakukan selama kalian ada dalam apartemen)? “ tanya Nanwei serius.


Afkar menarik nafas panjang menceritakan keseharian Nara selama berada di dalam apartemen. Nanwei tersenyum tipis mulai bisa menangkap apa yang sebenarnya Nara inginkan.


“ GUN .... kona din vil bare slappe av i leiligheten .... kona vil bare at du skal følge henne .... det er alt ... det som er så vanskelig (GUN.... istrimu hanya ingin bersantai di apartemen.... istrimu hanya ingin kamu menemaninya.... itu saja... apa susahnya) “ ucap Nanwei santai.


“ hvor lenge vil det være sånn .... det er allerede den tredje dagen .... så når når de treningsmålet (sampai kapan seperti itu.... ini sudah hari ke 3.... kalau begitu terus kapan mereka akan mencapai target latihan) “ ucap Afkar tidak bisa menerima hasil kesimpulan Nanwei.


Nanwei berdiri mengambil laptopnya dan memperlihatkan grafik performansi latihan Neptunia hari ini pada Afkar.


“ se .... ytelsen opprettholdes fortsatt, det er ingen nedgang det minste ... og dette er gjeldende ytelseskart for D4rkC0d3 .... fortsatt stabilt ... fortsatt over målet du har satt. (lihat.... performansinya masih terjaga tidak ada penurunan sedikit pun... dan ini grafik performansi D4rkC0d3 saat ini.... masih stabil.... masih di atas target yang sudah kamu tetapkan.) " ucap Nanwei sambil memperlihatkan grafik performansi D4rkC0d3 pada Afkar.


Afkar melihat Nara yang masih tertunduk.


“ sayang..... apa sayang tidak bosan diam di dalam apartemen? “ suara pelan Afkar mencoba mencari tahu apa keinginan Nara saat ini.

__ADS_1


Nara menjawab pertanyaan Afkar dengan menggelengkan kepala, Afkar menarik nafas panjang melihat jawaban Nara.


__ADS_2