
Barra menepati janjinya dengan memberi waktu bebas pada D4rkC0d3, para pria anggota D4rkC0d3 bahkan memilih untuk berjalan-jalan keliling kota Jakarta bersama Lief dan tentunya dengan pengawalan 4 orang pengawal Afkar. Sedangkan Nara lebih menghabiskan waktu bebasnya untuk bersantai di kamar dengan pakaian yang nyaman mengingat usia kehamilan Nara mulai memasuki bulan ke enam berdasarkan berat kedua janin. Afkar pun sibuk dengan melakukan analisa keuangan perusahaan Davis selama tiga tahun kebelakang, Afkar melakukan ini untuk berjaga-jaga bila seandainya Davis meminta bantuan Fajrin terkait investasi.
Berkali-kali Afkar menggelengkan kepala melihat setiap halaman laporan keuangan perusahaan Davis yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
“ bagaimana dia bisa menjalankan perusahaan dengan keuangan seperti ini “ gumam Afkar yang mulai kesal dengan apa yang dia lihat di layar Tablet.
Kekesalan Afkar tidak berhenti sampai di situ saja, banyak hal yang membuat Afkar memutuskan bahwa keuangan perusahaan Davis mengalami kehancuran secara perlahan-lahan dari dalam. Meski pun banyak para investor yang berinvestasi tapi bila para petinggi perusahaan tetap bertindak semaunya, maka perusahaan itu akan jatuh secara perlahan-lahan.
Disaat Afkar kesal dan tidak bisa menemukan sisi baik pada perusahaan Davis, Barra masuk dengan sangat antusias.
“ kenapa mukamu seperti itu.... apa ada yang tidak beres? “ ucap Barra saat melihat Afkar hampir saja membanting Tablet yang dia pegang.
“ ada apa kemari.... kalau tidak membawa berita penting sebaiknya menjauh dariku “ ucap Afkar dengan suara dingin.
Barra tersenyum dan langsung mendekati Afkar, Barra menunjukkan semua surat elektronik dari Nanwei.
“ baca ini “ ucap Barra sambil membuka surat elektronik dari Nanwei.
Afkar membacanya dengan wajah serius, sesekali Afkar mengerutkan kulit dahi atau pun kulit di antara kedua alisnya.
“ kapan Nanwei menerima berita ini? “ tanya Afkar heran.
Barra mengambil alih kembali Tablet yang Afkar pegang.
“ sebelum aku menunjukkan ini padamu.... aku sudah menghubungi Nanwei dan dia sudah menceritakan semua..... sekarang menurutmu bagaimana.... apa Nara sanggup mengingat kompetisi kemarin membuat kedua janin kalian bergerak ke bawah? “ ucapan Barra membuat Afkar menyandarkan punggungnya dengan kasar di sandaran sofa.
Afkar terdiam seperti memikirkan sesuatu, membuat Barra sedikit kuatir bila Nara tidak bisa melanjutkan kompetisi. Afkar meraih ponselnya dan mengetik sesuatu, beberapa detik kemudian Afkar memperlihatkan sebuah gambar di ponselnya pada Barra.
“ kalau bawa ini di kompetisi boleh tidak? “ pertanyaan Afkar membuat Barra heran.
__ADS_1
“ kompetisi kemarin.... Nara duduk di bawah.... hampir setengah waktu peretasan dia duduk di lantai dan di akhir kompetisi dia kesusahan berdiri.... kalau di kompetisi berikutnya penyelanggara mengizinkan membawa ini..... dia bisa tetap berada di posisi sekarang.... tidak perlu bertukar posisi lagi antara scaryrobot starsiv dan Neptunia. “ penjelasan Afkar membuat Barra mengangguk anggukan kepala.
Barra terdiam sesaat dan mencoba menghubungi Nanwei, Afkar mengalihkan otaknya pada pergerakan harga saham Rosenkrantz dan beberapa perusahaan pesaingnya dari pada pembelajari keuangan perusahaan Davis. beberapa menit kemudian Barra kembali mendekati Afkar.
“ bisa.... Nanwei bilang selama perlengkapan itu tidak melanggar aturan..... peserta boleh memakainya “ ucap Barra santai.
Mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing, tiba-tiba ponsel Afkar berdering. Afkar mengeluarkan ponselnya dan melihat ada beberapa email yang masuk. Afkar membuka salah satu email yang masuk, perlahan-lahan kulit di antara kedua alis dan di dahinya berkerut membuat Barra heran.
“ siapa? Kenapa? apa ada masalah dengan perusahaan? Apa kau akan kembali ke Oslo? Bagaimana dengan Nara? “ tanya Barra penasaran.
Afkar tidak bisa menjawab pertanyaan Barra yang beruntun seperti kereta api, Afkar memijat pelipisnya yang mulai terasa sakit.
“ kenapa mereka semua mengontakku..... kompetisi itu pula yang mereka bahas..... apa hubungannya denganku..... jangan-jangan..... “ gumam Afkar dalam hati.
Belum selesai keraguan Afkar, tiba-tiba masuk satu pesan yang membuat Afkar membulatkan kedua matanya. Dengan sedikit ragu Afkar menekan notifikasi pesan tersebut saat pesan itu terbuka, seketika Afkar tertunduk dan memijat tengkuknya.
“ kenapa? “ tanya Barra heran.
Nara yang sedang bersantai di kamar dengan hanya mengenakan pakaian santai setinggi lutut, melihat suami dan kakaknya berada di taman membuatnya ingin melihat.
“ mereka sedang apa? Tumben bicaranya di luar rumah..... “ gumam Nara yang sudah memperhatikan mereka.
Sesekali Nara mengerutkan kulit di antara kedua alisnya karena melihat Barra yang terlihat jelas sangat terkejut. Entah apa yang Afkar katakan tapi sangat membuat Barra terkejut, tidak percaya dan terlihat beberapa kali Barra memukul pahanya juga telapak tangannya saat Afkar memperlihatkan layar ponselnya.
“ pasti ada sesuatu yang mas Afkar sembunyikan..... “ gumam Nara dengan bibir sedikit cemberut.
Ingin rasanya Nara meretas ponsel Afkar tapi Nara takut kalau ketahuan Afkar.
Beberapa menit kemudian terlihat Barra membaca sesuatu di ponselnya membuat Barra menengadahkan kepala dan menepuk dahinya pelan, tanpa membuang waktu Barra segera mengetik sesuatu di ponselnya dan melangkah masuk kembali ke rumah. Saat Afkar melihat punggung Barra saat itu juga Afkar melihat Nara yang masih berdiri di jendela dan sedang menatapnya.
__ADS_1
“ sayang...... apa pun yang sayang hadapi nanti.... jangan pernah menyerah...... “ gumam Afkar dalam hati sambil tersenyum dan melambaikan tangan pada Nara.
Nara tersenyum membalas lambaian tangan Afkar dan memberikan isyarat tangan agar Afkar mendatanginya. Afkar tersenyum melihat isyarat tangan itu dan segera berlari kecil masuk ke dalam rumah, Barra yang melihat Afkar berlari kecil melewati dirinya menjadi heran.
“ kenapa lagi dia..... “ gumam Barra sambil melihat Afkar yang sudah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Barra mulai sibuk dengan laptopnya menyusun kegiatan apa saja yang harus D4rkC0d3 lakukan untuk meningkatkan stamina fisik dan otak mereka. Setelah mendengar penjelasan Afkar, Barra merasa bahwa masih banyak yang harus D4rkC0d3 pelajari untuk persiapan kompetisi di Moskow. Saat Barra sibuk dengan rencananya, tiba-tiba ponselnya berdering.
“ ada apa lagi “ ucap Barra pelan melihat layar ponsel yang ternyata Nanwei menghubunginya.
“ Hei Hva skjer (halo.... ada apa)? “ tanya Barra sambil mengetik.
“ ...... “ Barra memijat dahinya sekali mendengar berita dari Nanwei.
“ ja.... Jeg vet allerede..... han har allerede fortalt meg...... fikk du en epost fra konkurransekomiteen i Moskva? (iya.... aku sudah tahu..... dia sudah memberitahuku...... apa kamu sudah mendapatkan email dari panitia kompetisi di Moskow?) “ ucap Barra yang sudah menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
“ ..... “ Barra tersenyum lega.
Setidak-tidaknya satu kekuatirannya terselesaikan. Belum selesai rasa leganya tiba-tiba Nanwei memintanya menunggu sebentar tanpa menutup sambungan telepon.
“ ...... “ selama hampir dua menit Barra mendengarkan apa yang Nanwei baca.
“ seriously (serius...... ) “ ucap Barra terkejut juga tidak percaya.
“ ...... “ keterkejutannya hanya sesaat karena Nanwei kembali mengatakan sesuatu yang membuatnya menepuk dahi.
“ allerede på NSECs topp ti-liste, men lagets poengbevegelse vil fortsatt endres inntil en uke før konkurransen, og det er en mulighet for at D4rkC0d3 vil falle ut av listen... (sudah masuk daftar sepuluh besar NSEC tapi pergerakan point tim masih akan berubah sampai satu minggu sebelum kompetisi dan ada kemungkinan D4rkC0d3 akan keluar dari daftar itu.... ) “ ucap Barra memperjelas maksud Nanwei.
Kepala Barra semakin terasa pening, belum selesai rasa bimbangnya kembali ucapan Nanwei membuatnya sangat terkejut.
__ADS_1
“ hva..... skiftet igjen... så fort.... (apa..... bergeser lagi.... cepat sekali....) “ teriak Barra terkejut.