
Suasana peluncuran Escape Room semakin malam semakin ramai, banyak para gamers yang mencoba mengalahkan skor Deniz. Sampai detik ini skor Deniz belum ada yang mengalahkan bahkan Zehed seorang penggila game bergenre petualangan dan pertarungan pun masih belum bisa mengalahkan skor Deniz.
Afkar duduk satu meja dengan Murat dan para rekan bisnisnya, mereka membicarakan langkah selanjutnya untuk pengembangan Escape Roon dan tentunya juga untuk kemajuan Kant Software. Tanpa Afkar sadari saat kakak beradik Yilmaz bergantian mencoba memainkan Escape Room, Nara berjalan keluar dari ballroom dan menuju balkon yang menyajikan pemandangan malam kota Istanbul sisi eropa. Gemerlap lampu-lampu gedung yang menyala dan pemandangan selat Bosphorus di malam hari dengan beberapa gemerlap lampu kapal pesiar yang melewati selat Bosphorus menambah keindahan kota Istanbul sisi eropa di malam hari.
Nara memilih duduk di sebuah kursi menikmati pemandangan malam kota Istanbul sisi Eropa, udara terasa sejuk karena saat ini suhu udara berada di dua puluh tiga derajat celcius. Nara menarik dalam-dalam udara yang terasa sejuk membuatnya membelai perutnya dan tersenyum bahagia. Saat Nara menikmati pemandangan malam kota Istanbul, seseorang mendekatinya.
“Assalamualaikum” salam orang tersebut tapi Nara masih tidak menjawab salam itu.
Nara berpikir bahwa salam itu di tujukan bukan untuknya tapi pada seseorang yang berada di kursi yang tak jauh darinya duduk.
“Assalamualaikum, Nara" salam orang itu dan kali ini Nara membalas salam tersebut karena dengan jelas menyebutkan namanya.
“wa'alaikumsalam kak ubet” balas Nara sambil membelai perutnya berkali-kali.
Tentu saja Nara masih mengenal suara Ubet karena pertemuan terakhir mereka Ubet bercerita banyak tentang project di kantor barunya jadi Nara dapat mengingat dengan jelas suara Ubet.
“kita bertemu lagi" ucap Ubet mencoba memulai pembicaraan dengan Nara.
Ubet mencoba untuk duduk di sebelah Nara, tapi secara refleks Nara berdiri dari kursi. Masih ada rasa kuatir bila Ubet akan mencoba memegang tangannya sekali lagi, meskipun saat ini Nara sudah memakai sarung tangan tapi tetap terasa aneh dan tidak nyaman bila harus bersentuhan dengan pria yang tidak halal baginya.
“silahkan kakak duduk" ucap Nara saat melihat Ubet hendak berdiri.
Tapi tetap saja Ubet berdiri dan mencoba memperpendek jaraknya dengan Nara, membuat Nara bergeser ke kanan menjaga jarak dengan Ubet minimal satu setengah meter. Saat Nara menggeser posisi berdirinya, Ubet ikut bergeser juga karena memang Ubet ingin memperpendek jaraknya dengan Nara.
__ADS_1
“kak.... cukup kakak berdiri disitu saja.... tidak baik bila kakak bersikap seperti ini.” Ucap Nara sambil memberi isyarat tangan agar Ubet berhenti memperpendek jarak mereka.
“maaf..... aku kira kamu sudah memaafkan aku.... karena terakhir kali kita bertemu aku bisa duduk satu meja dan berbicara santai denganmu" ucap Ubet yang sedikit kecewa dengan permintaan Nara untuk menjaga jarak tapi tetap melangkah pelan mendekati Nara.
Afkar mencari keberadaan Nara di meja tempat dia meninggalkan Nara dengan kakak beradik Yilmaz tapi tidak mendapati sosok istrinya. Afkar mulai tidak tenang dan mengedarkan seluruh pandangan ke sekeliling ruangan saat melihat ke arah balkon, Afkar melihat Nara sedang berdiri dan bergeser sedikit ke kanan seperti berusaha menjaga jarak pada seseorang. Afkar berjalan mendekati pintu yang menghubungkan ballroom dan balkom, Afkar terkejut melihat Ubet yang bergerak mendekati Nara tapi Nara tetap berusaha menjaga jarak dengan bergeser lebih ke kanan. Afkar hanya memperhatikan mereka tidak berusaha mendekati Nara, Afkar ingin tahu seberapa kuat Nara menghadapi masalah dan tidak selalu menghindari masalah. Afkar dapat mendengar dengan jelas apa yang Nara dan Ubet bicarakan.
“Nara sudah memaafkan kakak..... tapi bukan berarti Nara melupakan apa yang sudah kakak lakukan..... karena apa yang sudah kakak lakukan adalah salah satu bentuk pelecehan bagi Nara” jelas Nara sambil menggenggam erat tangan kirinya dengan tangan kanan dan bergeser sedikit ke kanan karena Ubet masih saja berusaha mendekatinya.
“kamu masih mengingatnya? Aku kira kamu sudah melupakannya..... maaf bila perbuatanku yang dulu sudah membuatmu merasa bahwa aku melecehkan dirimu.... maaf bila semua ucapanku yang dulu membuatmu tidak nyaman berada di sekitarku" ucap Ubet tertunduk sambil memainkan ujung kaki kanannya.
“kak.... sekali lagi Nara katakan bahwa Nara sudah memaafkan kakak jauh sebelum kakak meminta maaf... itu semua masa lalu yang buruk dan pelajaran berharga bagi Nara..... jadi Nara mohon berhentilah mengucapkan kata 'maaf'. " Ucap Nara yang sudah melipat kedua tangannya di dada dari balik niqabnya dan bergeser sedikit ke kanan.
“setelah semua hal yang aku lalui dan tanpa sengaja bertemu kembali denganmu..... aku seperti memiliki harapan untuk kembali mendekatimu menyusun rencana, setelah satu tahun bekerja disini aku akan melamarmu seperti saran ayahku dulu..... bisakah kamu menungguku sampai aku kembali ke Jakarta.” Pertanyaan Ubet tidak membuat Nara terkejut.
“Nara tidak bisa melakukan itu kak.... Nara haram bagi kakak..... carilah wanita yang halal untuk kakak khitbah.” Ucapan Nara seketika membuat tubuh Ubet menegang tidak percaya dengan pendengarannya.
Afkar tersenyum mendengar ucapan Nara yang berani menolak Ubet, meskipun suara Nara terdengar biasa saja tapi kata ‘haram’ dan ‘halal’ cukup membuat Afkar bangga bahwa Nara sudah selangkah lebih berani menghadapi permasalah masa lalunya. Pikiran Ubet semakin campur aduk penuh dengan berbagai pertanyaan tentang Nara.
“maksud kamu apa?” tanya Ubet yang sudah merubah posisi berdirinya menghadap Nara yang masih menatap suasana malam kota Istanbul.
“Nara haram bagi kakak karena Nara sudah halal bagi pria lain selain mahram Nara.....” ucapan Nara yang terdengar biasa semakin membuat Ubet bertanya-tanya dan semakin meminta kejelasan.
“aku tidak paham maksudmu?” tanya Ubet sambil memijat tengkuknya tentu tidak dapat mencerna ucapan Nara dengan akal sehatnya.
__ADS_1
“Nara sudah menikah dan sekarang Nara sedang hamil sembilan minggu" ucap Nara singkat sambil menyentuh perutnya dari balik hijab.
Seketika kaki dan tubuh Ubet terasa lemas membuatnya meraih kursi dan terduduk diam menunduk, berkali-kali Ubet menggelengkan kepala mencoba menyangkal pengakuan Nara. Afkar tersenyum simpul mendengar ucapan Nara, Afkar merasa bahwa Nara sudah berhasil mengalahkan satu lagi trauma di masa lalunya.
“tidak mungkin..... mereka bilang kamu belum menikah bahkan mereka bilang belum ada yang melamarmu" ucap Ubet menyangkal pernyataan Nara.
“teman-teman angkatan kakak memang tidak ada yang tahu.... di kampus pun hanya beberapa orang yang tahu kalau Nara sudah menikah" penjelasan Nara semakin membuat tubuh Ubet terasa lemas.
“apa siska tahu kamu sudah menikah?” tanya Ubet memberanikan diri.
“siska melihat sendiri seorang pria mengucapkan kalimat ijab qabul di hadapan wali nikah Nara" ucap Nara yang sudah membalikkan badan dan mendapati Afkar melihatnya dengan menyungging senyum manis.
“siapa pria itu?” tanya Ubet dengan tertunduk sementara Nara sudah melangkah mendekati Afkar yang sudah merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Nara.
Nara segera memeluk dan menghirup wangi tubuh Afkar serta membisikan sesuatu.
“I love you" bisik Nara membuat Afkar mengeratkan pelukkannya.
Ubet berdiri dari kursi dan membalikkan badannya melihat Nara sedang memeluk pria yang sangat dia kenal, Afkar salah satu big bos Kant Software. Ubet menatap mereka berpelukan dengan wajah tidak percaya dan masih berusaha menyangkal semua kebenaran yang Nara ucapan. Afkar melangkah mendekati Ubet dengan melingkarkan tangan kirinya di pinggang Nara.
“kamu ingin tahu siapa pria yang sudah halal melakukan ini pada Nara" ucap Afkar sambil menarik tubuh Nara ke dalam pelukkannya hingga wajah Nara menempel tepat di dada bidang Afkar.
Afkar mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Ubet. Tubuh Ubet terasa kaku kedua tangan dan kakinya terasa dingin menatap Afkar tidak percaya bahwa big bos yang berada tepat di depannya saat ini adalah suami Nara.
__ADS_1