NEPTUNIA (HubrETS Hackin")

NEPTUNIA (HubrETS Hackin")
BAB 210 HACKER PLAYGROUND (7)


__ADS_3

“ faen....jeg savnet dette.... (sial.... aku melewatkan ini.... ) “ umpat Morten dengan kesal karena dia melewatkan perhitungan Neptunia.


Jari jemari Morten sibuk mengetik sesuatu tapi sesaat sebelum menekan tombol enter, terlihat pesan dari Neptunia membuat Morten menghentikan pergerakkan jari jemarinya.


“ face to face with the duck (kita berhadapan langsung dengan the duck) “ ucapan pelan Morten membuat javex merinding.


Suhu ruang server yang berada di lima derajat sudah membuat javex kedinginan juga merinding, mendengar nama the duck semakin membuat javex merinding.


“ du må være forberedt på å lytte nøye til ordene mine, og når du teller tre, bør du umiddelbart koble fra kabelen som jeg nevnte, og når du teller **** koble den til porten jeg ringer til (kau harus bersiap-siap dengarkan ucapanku baik-baik dan dalam hitungan ke tiga kamu harus segera mencabut kabel yang aku sebut dan di hitungan ke enam tancapkan di port yang aku sebut) “ ucap Morten serius.


Javex menatap tajam lampu lampu kecil port yang berkedip berwarna hijau.


“ kabel tolv av og sett inn i port åtte (kabel 12 lepas dan masukkan ke port 8) “ javex menganggukan kepala dengan tegas.


Kedua mata Morten menatap layar laptop menunggu aba aba dari Neptunia.


Tangan kanan javex sudah memegang ujung kabel dengan label nomor 12, javex sudah bersiap mencabutnya dan menancapkan di port yang Morten sebut tadi.


“ en to tre fire fem siks (satu.... dua.... tiga.... empat.... lima.... enam) “ ucapan Morten membuat javex bergerak memindahkan kabel nomor 12.

__ADS_1


“ done “ ucap javex dengan yakin.


Morten memperhatikaan layar laptop dan jari jemarinya kembali sibuk di atas keyboard.


Sementara Marius dan dbuq sama-sama sibuk dengan laptop masing-masing, sesekali dbuq mau pun Marius memindahkan kabel ke port sesuai dengan aba-aba pesan yang mereka terima dari Neptunia. Marius dan dbuq bertanggung jawab pada server yang berbeda, meski pun mereka duduk di lantai dan berdekatan tapi tanggung jawab mereka berbeda-beda. Suhu ruang server yang dingin tidak mampu membuat mereka kedinginan karena otak dan tenaga mereka fokus pada keamanan server yang ada di depan mereka.


Sementara Nara yang lebih memilih meletakkan laptopnya di meja tapi membungkuk kembali seperti rukut semakin membuat Afkar tidak tenang begitu juga dengan Barra, otak Afkar sibuk memikirkan kemungkinan kesulitan yang Neptunia hadapi.


“ seharusnya server dia mati pelan-pelan.... kenapa tidak ada satu pun LED yang berubah warna “ gumam Nara dalam hati sambil memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


Di saat Nara sibuk mengetik tiba-tiba laptopnya menerima sebuah tanda peringatan, Nara segera memalingkan badan dan melihat satu persatu LED atau lampu kecil-kecil di servernya. Jantung Nara berdetak lebih cepat dari biasanya dan Nara mulai sedikit panik karena tidak menemukan satu pun LED yang berubah warnanya. Berkali kali Nara melihat layar laptop dan barisan LED di server C11 tapi tetap saja tidak menemukan satu pun LED yang berubah warnanya, bahkan tanda peringatan kembali muncul di layar laptopnya. Nara memejamkan mata berpikir keras apa yang sudah dia lewatkan, otaknya berpikir keras kedua tangannya mengepal erat. Hingga tanda peringatan kembali muncul di laptopnya untuk yang ketiga kalinya, dengan menarik nafas panjang Nara mulai kembali mengetik sesuatu.


Saat ini Nara berpikir bahwa Saika sedang mencoba meretas Server C11 melalu server cabang yang tidak di jaga oleh tim D4rkC0d3. jari jemari Nara mengetik dengan cepat memeriksa satu persatu sistem keamanan server cabang yang tidak di jaga oleh tim D4rkC0d3, tiba tiba kedua matanya menyipit seperti menemukan sesuatu. Nara tersenyum tipis.


Nara mengetik sesuatu yang membuat javex segera meninggalkan Morten sendiri, javex berlari dengan cepat mencari gedung dengan server cabang sesuai pesan Nara. Javex berlari menerobos antrian para pekerja yang hendak keluar gedung karena waktu sudah mendekati jam pulang kerja. Terlalu lama menunggu lift, javex memutuskan menaiki tangga darurat menuju ruang server yang berada di lantai lima. Dengan nafas memburu javex berlari memasuk menuju ruang server mencari perangkat server yang Nara maksud.


Dua menit lagi kompetisi berakhir, javex sudah menemukan server yang Nara maksud dan dengan keras berusaha membaca satu persatu label yang menempel di ujung kabel.


“ semoga benar yang ini.... “ ucap Javex pelan sambil mengepalkan tangan kanannya tepat di ujung kabel.

__ADS_1


Dengan sekali tarik javex menarik kabel tersebut dan dua lampu kecil-kecil atau LED di server tersebut yang berwarna kuning seketika berubah menjadi hijau tapi tidak degan LED yang sudah berwarna merah.


Javex tertunduk lesu karena dia paham waktu kompetisi sudah berakhir. Javex terdiam menunggu Morten atau pun rekannya yang lain menjemput, raut wajah kecewa sedih terlihat jelas di wajah javex. Terduduk menyesali diri kenapa dirinya tidak berlari lebih cepat.


“ Hvis jeg kan løpe fortere og ikke er i tvil, blir det definitivt ikke slik (kalau aku bisa berlari lebih cepat dan tidak ragu pasti tidak akan begini) “ gumam javex merenung mencoba mengoreksi kesalahannya.


Setelah menunggu selama kurang lebih 5 menit, Marius datang bersama dbuq melihat javex duduk tertunduk membuat Marius tidak sanggup memanggilnya. Javex menatap sepatu Marius yang sudah berdiri di depannya.


“ la oss gå tilbake til hovedserveren ... konkurransen er over ... du har prøvd hardt .... (ayo kita kembali ke server utama.... kompetisi sudah berakhir.... kau sudah berusaha keras.... ) “ ucap Marius sambil mengulurkan tangan kanannya membantu javex berdiri.


Manager the duck bertepuk tangan sangat keras menyambut kemenangan the duck terutama Saika yang mampu mengalahkan Neptunia. Barra dan yang lainnya terlihat sedikit kecewa tapi Barra berusaha menutupi rasa kecewanya.


Afkar berdiri dan pelan-pelan bertepuk tangan hingga satu persatu para manager bertepuk tangan membuat seluruh ruangan riuh. Satu persatu anggota tim the duck muncul begitu juga dengan D4rkC0d3, Nara terdiam menatap layar laptop yang masih menyala. Apa yang menjadi fokus Nara membuat Nara tidak menyadari kehadiran rekan-rekannya hingga Marius membisikkan sesuatu.


“ du gjorde ditt beste....men de er bedre enn oss....dette er en verdifull lærdom for oss (kau sudah melakukan yang terbaik.... tapi mereka lebih baik dari kita.... ini pelajaran berharga buat kita) “ bisikan Marius membuat Nara memejamkan kedua matanya rapat-rapat.


Ingin rasanya Nara menangis karena sudah terlalu yakin sudah terlalu percaya diri dengan strateginya hingga tidak memikirkan strategi lainnya.


“ vi fikk endelig vinneren i denne ellevte sesongkonkurransen..... anda..... (akhirnya kita mendapatkan pemenang di kompetisi musim ke sebelas ini..... the duck..... ) “ ucap salah seorang juri.

__ADS_1


Tepuk tangan para manager dan para pendukung kembali memenuhi ruang kompetisi.


“ ada yang tidak beres dengan mereka.... “ gumam Afkar yang kedua matanya hanya tertuju pada Nara yang kembali fokus padaa layar laptopnya.


__ADS_2